Jual miras dan ‘daging
mentah’
‘SEWA
SELANGKANGAN’ BONGAS KAPURAN
Oleh : Noer
Meski
dikelilingi pabrik kapur, dengan nuansa debu kapur, namun pelacuran
di Bongas Ciparai, Majalengka Jawa Barat tak terusik. Malah areal
yang berkedok warung minum pinggir jalan itu makin laris meski warga
sekitar mulai gerah.
Matahari Selasa siang dua
pekan lalu, teriknya sangat membakar kulit. Apalagi di lingkungan
sepanjang Jalan Raya Cirebon KM 15, persisnya di Kampung Bongas
Ciparai, Majalalengka atau orang terbiasa menyebut Kampung Bongas
Kapuran, lantaran kawasan tersebut banyak terdapat pabrik kapur.
Semakin ‘panas’ dengan
kehadiran berderet warung remang yang rata-rata menawarkan menu
birahi. Uniknya, meskipun berada di pinggir jalan yang lumayan ramai,
sepertinya warung remang tersebut tak terusik.
Warga sekitar yang mulai
gerah dengan kiprah sekitar 20 warung itu sama sekali tak dihiraukan.
Uniknya, hanya sekitar 200 meter dari kawasan ‘merah’ itu sedang
didirikan sebuah Pondok Pesantren. Lagi-lagi, warung remang Bongas
Kapuran tetap ‘aman’.
Sekilas melihat tampilan
luar, mungkin yang nampak hanya warung biasa. Bahkan para wanitanya
--rata-rata satu warung menyediakan tak kurang dari tiga wanita
penghibur-- itu jarang sekali mejeng di teras atau di luar warung.
“Takut ada polisi,” jawab
Santi (20) singkat. Tidak hanya itu. Bahkan untuk memajang minuman
keras (miras), meskipun sebatas minuman berkadar alkohol ringan,
warung remang disana tidak berani. Mereka cari aman dengan
menyembunyikan minuman pembangkit emosi dan birahi itu di tempat
tersembunyi.
Buktinya, ketika Exo
memesannya, dalam waktu singkat pesanan miras datang. Ternyata
mereka menyembunyikannya di dalam rumah yang tetap menyatu dengan
warung. “Hampir semua tidak dipajang, sebab polisi sering datang,”
lanjut Santi.
Ditambahkan hampir semua
warung memiliki strategi yang sama. Bahkan miras yang disajikan
tidak hanya berkadar alkohol ringan, namun miras yang notabene
memabukkan seperti asoka, topi miring dan arak Cirebon. Menu lain,
yakni ‘daging mentah’ alias layanan birahi.
“Kalau ndak ditawari
minuman itu (miras-red) kasihan ibu --demikian Santi menyebut
pemilik warung yang dinaungi-red. Ia dapat uangnya hanya dari
minuman itu. Jadi kita mesti pandai-pandai membuat tamu yang kesini
agar mau minum dulu,” terang Santi.
Kenapa cuma dari minuman
itu? Usut punya usut, meskipun terjadinya ‘transaksi’ di warung
mesum itu, namun untuk menyaluran hasrat birahi, tempatnya bukan di
sana. “Kalau mau, tempatnya ada di belakang. Sewanya murah cuman
lima belas ribu. Kita bisa sambil istirahat sampai malam. Yang mahal
juga ada. Tuh, di ujung sana,” jawabnya sambil menunjuk tempat di
belakang salah satu pabrik kapur.
Tempat yang dimaksud Santi
adalah sebuah rumah sederhana berdinding bata yang mulai memutih
lantaran tiap hari terkena debu pabrik kapur dan letaknya berada di
belakang deretan warung remang itu.
SOK
AKRAB-- Setidaknya
ada tiga rumah yang sekilas mirip rumah tinggal biasa, namun
keberadaannya disewakan untuk ngejoss. Satu rumah sedikitnya
memiliki 3-6 kamar dengan pintu triplek yang turut memutih.
Jika pabrik kapur yang
mengelilingi warung itu sedang produksi, debunya terbang hingga
masuk ke dalam kamar yang digunakan untuk ‘menimba’ birahi. Anehnya,
tak sedikitpun para pemburu kenikmatan disana terganggu dengan debu
yang berterbangan dan kadang membuat mata perih. Mereka terus
‘bertempur’ dibawah nuansa kapur.
Biasanya dengan gaya sok
akrab, hingga tak segan-segan memanggil ‘papa’ pada tiap tamu yang
datang, pelacur yang rata-rata berusia belasan itu akan menerapkan
‘sistem tempel’. Tujuannya agar tamunya tidak ‘lepas’.
Lantas bagaimana jika tamu
yang datang tidak doyan miras. Ini lebih gila. Sebab wanita itu
gantian yang akan minta miras. Rupanya mereka demen miras.
Entah lantaran telah terbiasa atau takut aturan dari siempunya
warung, faktanya ‘mengalir’ seperti itu. Setelah pengaruh alkohol
mulai merasuk, ‘tugas terakhir’ adalah urusan ranjang.
Lantaran mematok ‘harga
sewa’ selangkangan relatif murah dan pelacurnya masih muda, warung
remang Bongas Kapuran tak pernah sepi. Tidak hanya para kuli pabrik
kapur atau masyarakat sekitar yang butuh kepuasan sesaat, yang jadi
konsumennya.
Para sopir yang terbiasa
melintas di kawasan tersebut hobbi betul jajanan pelacur warung
Bongas Kapuran. Mungkin lantaran itu semua yang membuat
keberadaannya tetap langgeng. Hingga polisi dan masyarakat sekitar
dibuat tekuk lutut.*
|