EDISI>>01-02-03-04-05-06-07-08-09-10-11-12-13-14-15-16-17-18-19-20-21-22-23-24-25-26-27-28-29- 30-31>>

::LIPUTAN::

::BACAAN PALING EKSOTIS::

::ARTIKEL::

POTRET#12

=> Isu Exo
=> Close Up
=> Intim
=> Gaya
=> Curhat
=> Potret
=> Jelajah
=> Bollystar
=> Exobolly
=> Terawang
=> Modus
=> Blitz
=> Gemar
=> Rona
Aturan
Langganan
Pesan CD
Pesan Bundel
Crew Redaksi
Saran Anda
Tarif Iklan

Jual miras dan ‘daging mentah’

 ‘SEWA SELANGKANGAN’ BONGAS KAPURAN

Oleh : Noer

Meski dikelilingi pabrik kapur, dengan nuansa debu kapur, namun pelacuran di Bongas Ciparai, Majalengka Jawa Barat tak terusik. Malah areal yang berkedok warung minum pinggir jalan itu makin laris meski warga sekitar mulai gerah.

Matahari Selasa siang dua pekan lalu, teriknya sangat membakar kulit. Apalagi di lingkungan sepanjang Jalan Raya Cirebon KM 15, persisnya di Kampung Bongas Ciparai, Majalalengka atau orang terbiasa menyebut Kampung Bongas Kapuran, lantaran kawasan tersebut banyak terdapat pabrik kapur.

Semakin ‘panas’ dengan kehadiran berderet warung remang yang rata-rata menawarkan menu birahi. Uniknya, meskipun berada di pinggir jalan yang lumayan ramai, sepertinya warung remang tersebut tak terusik.

Warga sekitar yang mulai gerah dengan kiprah sekitar 20 warung itu sama sekali tak dihiraukan. Uniknya, hanya sekitar 200 meter dari kawasan ‘merah’ itu sedang didirikan sebuah Pondok Pesantren. Lagi-lagi, warung remang Bongas Kapuran tetap ‘aman’.

Sekilas melihat tampilan luar, mungkin yang nampak hanya warung biasa. Bahkan para wanitanya --rata-rata satu warung menyediakan tak kurang dari tiga wanita penghibur-- itu jarang sekali mejeng di teras atau di luar warung.

“Takut ada polisi,” jawab Santi (20) singkat. Tidak hanya itu. Bahkan untuk memajang minuman keras (miras), meskipun sebatas minuman berkadar alkohol ringan, warung remang disana tidak berani. Mereka cari aman dengan menyembunyikan minuman pembangkit emosi dan birahi itu di tempat tersembunyi.

Buktinya, ketika Exo memesannya, dalam waktu singkat pesanan miras datang. Ternyata mereka menyembunyikannya di dalam rumah yang tetap menyatu dengan warung. “Hampir semua tidak dipajang, sebab polisi sering datang,” lanjut Santi.

Ditambahkan hampir semua warung memiliki strategi yang sama. Bahkan miras yang disajikan tidak hanya berkadar alkohol ringan, namun miras yang notabene memabukkan seperti asoka, topi miring dan arak Cirebon. Menu lain, yakni ‘daging mentah’ alias layanan birahi.

“Kalau ndak ditawari minuman itu (miras-red) kasihan ibu --demikian Santi menyebut pemilik warung yang dinaungi-red. Ia dapat uangnya hanya dari minuman itu. Jadi kita mesti pandai-pandai membuat tamu yang kesini agar mau minum dulu,” terang Santi.

Kenapa cuma dari minuman itu? Usut punya usut, meskipun terjadinya ‘transaksi’ di warung mesum itu, namun untuk menyaluran hasrat birahi, tempatnya bukan di sana. “Kalau mau, tempatnya ada di belakang. Sewanya murah cuman lima belas ribu. Kita bisa sambil istirahat sampai malam. Yang mahal juga ada. Tuh, di ujung sana,” jawabnya sambil menunjuk tempat di belakang salah satu pabrik kapur.

Tempat yang dimaksud Santi adalah sebuah rumah sederhana berdinding bata yang mulai memutih lantaran tiap hari terkena debu pabrik kapur dan letaknya berada di belakang deretan warung remang itu.

SOK AKRAB--Setidaknya ada tiga rumah yang sekilas mirip rumah tinggal biasa, namun keberadaannya disewakan untuk ngejoss. Satu rumah sedikitnya memiliki 3-6 kamar dengan pintu triplek yang turut memutih.

Jika pabrik kapur yang mengelilingi warung itu sedang produksi, debunya terbang hingga masuk ke dalam kamar yang digunakan untuk ‘menimba’ birahi. Anehnya, tak sedikitpun para pemburu kenikmatan disana terganggu dengan debu yang berterbangan dan kadang membuat mata perih. Mereka terus ‘bertempur’ dibawah nuansa kapur.

Biasanya dengan gaya sok akrab, hingga tak segan-segan memanggil ‘papa’ pada tiap tamu yang datang, pelacur yang rata-rata berusia belasan itu akan menerapkan ‘sistem tempel’. Tujuannya agar tamunya tidak ‘lepas’.

Lantas bagaimana jika tamu yang datang tidak doyan miras. Ini lebih gila. Sebab wanita itu gantian yang akan minta miras. Rupanya mereka demen miras. Entah lantaran telah terbiasa atau takut aturan dari siempunya warung, faktanya ‘mengalir’ seperti itu. Setelah pengaruh alkohol mulai merasuk, ‘tugas terakhir’ adalah urusan ranjang.

Lantaran mematok ‘harga sewa’ selangkangan relatif murah dan pelacurnya masih muda, warung remang Bongas Kapuran tak pernah sepi. Tidak hanya para kuli pabrik kapur atau masyarakat sekitar yang butuh kepuasan sesaat, yang jadi konsumennya.

Para sopir yang terbiasa melintas di kawasan tersebut hobbi betul jajanan pelacur warung Bongas Kapuran. Mungkin lantaran itu semua yang membuat keberadaannya tetap langgeng. Hingga polisi dan masyarakat sekitar dibuat tekuk lutut.*

=> Rilexo
=> Cerbung
=> Nojii
=> Cinexo
=> Etalase
=> Gaul
=> Kelambu
=> Exolusi
=> Amor
=> Mbak Dona
=> Horoskop
=> Poster
=>
Bintang Exo
Free Web Site Counter

hubungi redaksi - webmaster - pasang iklan
Copyright 2004 exotica23.tk (pt angkasa media utama) All Rights Reserved

Hosted by www.Geocities.ws

1