EDISI>>01-02-03-04-05-06-07-08-09-10-11-12-13-14-15-16-17-18-19-20-21-22-23-24-25-26-27-28-29- 30-31>>

::LIPUTAN::

::BACAAN PALING EKSOTIS::

::ARTIKEL::

CURHAT #12

=> Isu Exo
=> Close Up
=> Intim
=> Gaya
=> Curhat
=> Potret
=> Jelajah
=> Bollystar
=> Exobolly
=> Terawang
=> Modus
=> Blitz
=> Gemar
=> Rona
Aturan
Langganan
Pesan CD
Pesan Bundel
Crew Redaksi
Saran Anda
Tarif Iklan

DEMI ANAK AKU SELINGKUH

Aku sangat bahagia bersuamikan Agung. Hanya satu kelemahannya, dia tidak mampu memberiku keturunan. Karena alasan itu aku ‘memohon’ benih dari pria lain hanya untuk menjaga keutuhan rumah tangga dan membuat suamiku bangga.

Sepuluh tahun lalu, aku memutuskan menikah dengan Agung. Kami sudah cukup lama berpacaran. Selain itu aku sudah mendapat pekerjaan yang baik setelah beberapa bulan menamatkan studi D3. Sebaliknya, Agung menduduki jabatan cukup bergengsi di perusahaan alat-alat berat di kawasan Cakung, Jakarta Timur.

Sebagai wanita normal aku ingin memiliki anak yang lahir dari rahimku sendiri. Benihnya, tentu dari suamiku. Masalahnya, memasuki usia empat tahun pernikahan kami, aku belum juga menunjukkan tanda-tanda kehamilan.

Perlu diketahui, aku terlahir dari keluarga besar. Aku anak kelima dari enam bersaudara. Keempat kakakku yang sudah menikah dan memiliki dua sampai tiga anak. Bahkan adikku yang baru satu tahun menikah saja sudah mengandung.

Kalau hanya aku yang merasakan penderitaan ini, mungkin tidak jadi masalah. Toh aku masih sanggup menahannya. Namun Ibuku, dia orang pertama yang sedih dengan kedukaan yang kurasakan. “Sebaiknya kau periksakan diri ke dokter. Kalau bisa ajak suamimu agar dia tidak kaget dengan apa yang akan kalian dengar dari dokter, nanti. Atau mungkin suamimu yang mandul,” ujar ibu.

Aku menganggap itulah saran paling baik yang pernah kudengar. Namun, jauh di dalam lubuk hati, ada ketakutan menghentak. Bila seandainya aku tidak bisa dibuahi, bisa saja Agung akan marah. Atau paling buruk, dia akan mencari wanita lain yang bisa memberinya keturunan.

Karena alasan itulah, diam-diam aku pergi ke dokter ahli kandungan untuk memeriksakan kondisiku. Dan jawabannya sungguh menggembirakan. Aku sehat dan bahkan bisa memiliki sepuluh anak bila aku mau.

Namun, saat aku ingin menyarankan Agung untuk memeriksakan diri, kata-kata itu hanya menggantung manis di dalam hatiku. Tak tega rasanya mengungkapkan hal itu pada pria yang sebenarnya sangat tampan dan sehat secara fisik itu.

Terlebih, Agung adalah seorang pria yang sangat percaya diri dan aku yakin dia akan tersinggung bila aku menyarakan agar dia memeriksakan diri ke dokter. Dan saat aku menyinggung soal anak, jawaban yang aku terima adalah senyuman.

Senyuman keyakinan bahwa saat ini memang Tuhan belum percaya kepada kami. “Percayalah, suatu saat kita akan mendapatkan anak-anak yang manis yang akan membuat rumah kita ini menjadi ramai,” jawabnya diselingi kecupan mesra di keningku.

Kemesraan dan penghiburan yang diberikan Agung membuatku tetap tidak tenang. Aku tetap berharap segera punya anak, apalagi Agung adalah putra tunggal.  Kondisi itu membawaku ke dunia khayal tiada akhir.

SELINGKUH PERTAMA--Berbulan-bulan aku menyimpan khayalan itu sendiri. Hingga awal tahun 1997 aku berjumpa seorang pria muda dan tampan di sebuah rumah makan siap saji. Siang itu aku sedang berbelanja dan karena belum makan, perut keronconganku tak mampu diajak kompromi. Saat itu seluruh meja sudah terisi dan saat kulihat di sebelah pria itu ada kursi kosong dan di depannya duduk dua orang wanita muda, aku minta ijin untuk duduk.

Dengan senyum ramah, pria yang belakangan kuketahui bernama Aldi itu mengangguk. Aku berpikir, dua orang gadis di depannya adalah rekannya, tetapi sepuluh menit kemudian, mereka pergi dan tinggal kami berdua. Entah siapa yang memulai lebih dulu, setelah selesai melahap seluruh makanan, kami terlibat pembicaraan yang sangat menyenangkan. Berkali-kali aku terbahak dengan guyonan yang dia lontarkan.

Sejak itu hubungan kami terus berlanjut. Entah itu melalui SMS atau berbicara langsung. Bahkan beberapa kali kami janjian berjumpa di tempat yang sama untuk sekedar makan siang. Entah mengapa aku bisa begitu menyukainya.

Aku juga tidak tahu apakah perasaanku bisa dikatakan sebagai jatuh hati. Namun yang jelas rasa sayangku terhadap Agung tetap tidak berubah. Di ranjang pun saat kami bercinta, aku tetap bergairah.

Hingga pada suatu hari aku bergitu tergetar saat dia memandang mataku. Terlebih ketika dengan mengatakan mulai tertarik padaku. Tentu saja aku kelabakan dengan apa yang dia ungkapkan. Karena sampai saat itu aku tidak pernah memberitahu bahwa aku sudah menikah. Namun, entah mengapa aku juga tidak menolak ketika dia membimbing tanganku ke dalam sedan mewah miliknya dan membawaku ke sebuah motel.

Siang itu pikiranku seperti tertutup halimun tebal yang membuatku tidak ingat, ada seorang pria tampan yang mencintaiku dan menunggu dengan sabar di rumah. Aku mendesah dalam rengkuhan dan permainan ranjangnya.

Aku begitu terlena ketika lidahnya bermain-main di seluruh tubuh dan milikku paling pribadi. Sungguh, aku seperti tidak ingin melepaskan keindahan itu. Namun, ketika nafas sudah berhenti menderu dan keringat mulai lenyap dari tubuhku, aku kembali teringat Agung.

Tanpa berkata sepatah pun aku segera mengenakan pakaianku. Dan tanpa meminta ijin pada Aldi yang tertidur mendengkur, aku keluar dari motel tidak terlalu mewah itu. Sesampai di rumah aku menghambur ke tempat tidur dan menumpahkan seluruh air mataku di sana.

Aku tidak mengerti dengan diriku sendiri mengapa sampai melakukan perbuatan terkutuk itu. Dan lebih parah lagi, aku memiliki seorang suami yang sangat baik dan tidak kurang suatu apa pun, mengapa aku sampai mengkhianatinya.

Aku tidak mengerti apa yang akan terjadi saat Agung mengetahui perbuatan tercela itu. Bahkan keluargaku pun pasti akan membenciku. Aku tersadar dari duka ketika mendengar ketukan di pintu kamar. Suara Agung yang lembut menyadarkan aku untuk segera berlari ke kamar mandi dan membasuh muka. Aku tidak akan memaafkan diriku sendiri bila Agung sampai tahu aku baru saja menangis karena kebodohan yang sudah kulakukan.

Agung curiga saat melihat mataku yang sembab. Untuk menenangkan perasaannya, aku menjawab bahwa aku memang menangis karena memimpikan seorang anak yang lahir dari rahimku sendiri. Dan kembali aku mendengar kata-kata manisnya untuk menghibur.

Saat itu, kembali air mataku hendak tumpah, namun segera kutahan. Aku langsung berjanji di dalam hati tidak akan menghubungi Aldi lagi sampai kapan pun. Setiap dia menghubungiku, aku langsung mematikan ponsel.

PUNYA ANAK--Tanpa kuduga, bulan berikutnya aku telat menstruasi. Awalnya aku sangat bahagia dan langsung memberitahu kabar gembira itu pada Agung. Sebaliknya Agung menjawab hal itu dengan senyum kebanggaan.

“Nah, inilah jawaban bagi orang yang sabar. Tetapi kita jangan terlalu senang dulu karena kita harus ke dokter untuk memastikan kebenarannya,” demikian jawaban Agung sambil mencium keningku.

Hari-hari berikutnya aku dikelilingi rasa khawatir yang teramat sangat. Entah mengapa aku sangat yakin bahwa janin yang ada di dalam kandunganku adalah milik Aldi. Saat dia lahir sembilan bulan kemudian, tepatnya bulan September 1997 aku melahirkan seorang putri cantik. Kelahirannya disambut dengan suka cita seluruh keluarga, terutama Agung. Matanya berbinar-binar ketika memandang wajah mungil tanpa dosa itu. Dan saat itulah diam-diam aku menangis.

Belum lagi ketika usianya menginjak dua bulan, keyakinanku kian bertambah. Aku hapal betul bagaimana bentuk hidung dan mata Aldi. Dan semua itu turun ke tipikal wajah anakku yang kami beri nama Dewi.

Hatiku begitu pedih setiap kali melihat Agung bercanda dan memanjakan Dewi. Bahkan apa pun yang dia lakukan seharian selalu berhubungan dengan Dewi. Di kantor dia selalu memikirkan Dewi. Saat berbelanja yang selalu dia cari adalah kebutuhan-kebutuhan untuk Dewi.

Sampai akhirnya aku sudah tidak tahan lagi. Setiap Agung berbicara tentang Dewi, aku sudah langsung meninggalkannya. Sampai-sampai dia mengatakan bahwa aku tidak menyayangi Dewi lagi. Sampai-sampai dia menganggap aku tidak pernah mengharapkan kehadiran Dewi. Selama ini aku hanya dianggap berpura-pura mengharapkan kehadiran anak. Padahal apa yang kulakukan adalah untuk membuat perasaanku tidak terlalu tertekan.

Dan hingga kini, hingga usia Dewi sudah menginjak sembilan tahun, aku masih sering menangis mengingat pengkhianatan yang sudah kulakukan. Pengkhianatan besar terhadap Agung, orangtua, dan terutama terhadap Dewi.

Aku tidak bisa membayangkan perasaannya bila sampai tahu bahwa yang selama ini dia anggap ayah adalah bukan pria yang menanam benih di dalam rahim ibunya. Aku tidak mampu membayangkan bila sampai dia bertanya di mana ayah kandungnya selama ini. *diceritakan oleh Anggia di Pondok Pinang kepada Rayu

=> Rilexo
=> Cerbung
=> Nojii
=> Cinexo
=> Etalase
=> Gaul
=> Kelambu
=> Exolusi
=> Amor
=> Mbak Dona
=> Horoskop
=> Poster
=>
Bintang Exo
Free Web Site Counter

hubungi redaksi - webmaster - pasang iklan
Copyright 2004 exotica23.tk (pt angkasa media utama) All Rights Reserved

Hosted by www.Geocities.ws

1