|
DEMI ANAK AKU SELINGKUH
Aku
sangat bahagia bersuamikan Agung. Hanya satu
kelemahannya, dia tidak mampu memberiku keturunan. Karena alasan itu
aku ‘memohon’ benih dari pria lain hanya untuk menjaga keutuhan
rumah tangga dan membuat suamiku bangga.
Sepuluh tahun lalu, aku memutuskan menikah dengan
Agung. Kami sudah cukup lama berpacaran. Selain itu aku sudah
mendapat pekerjaan yang baik setelah beberapa bulan menamatkan studi
D3. Sebaliknya, Agung menduduki jabatan cukup bergengsi di
perusahaan alat-alat berat di kawasan Cakung, Jakarta Timur.
Sebagai wanita normal aku ingin memiliki anak yang
lahir dari rahimku sendiri. Benihnya, tentu dari suamiku. Masalahnya,
memasuki usia empat tahun pernikahan kami, aku belum juga
menunjukkan tanda-tanda kehamilan.
Perlu diketahui, aku terlahir dari keluarga besar.
Aku anak kelima dari enam bersaudara. Keempat kakakku yang sudah
menikah dan memiliki dua sampai tiga anak. Bahkan adikku yang baru
satu tahun menikah saja sudah mengandung.
Kalau hanya aku yang merasakan penderitaan ini,
mungkin tidak jadi masalah. Toh aku masih sanggup menahannya. Namun
Ibuku, dia orang pertama yang sedih dengan kedukaan yang kurasakan.
“Sebaiknya kau periksakan diri ke dokter. Kalau bisa ajak suamimu
agar dia tidak kaget dengan apa yang akan kalian dengar dari dokter,
nanti. Atau mungkin suamimu yang mandul,” ujar ibu.
Aku menganggap itulah saran paling baik yang pernah
kudengar. Namun, jauh di dalam lubuk hati, ada ketakutan menghentak.
Bila seandainya aku tidak bisa dibuahi, bisa saja Agung akan marah.
Atau paling buruk, dia akan mencari wanita lain yang bisa memberinya
keturunan.
Karena alasan itulah, diam-diam aku pergi ke dokter
ahli kandungan untuk memeriksakan kondisiku. Dan jawabannya sungguh
menggembirakan. Aku sehat dan bahkan bisa memiliki sepuluh anak bila
aku mau.
Namun, saat aku ingin menyarankan Agung untuk
memeriksakan diri, kata-kata itu hanya menggantung manis di dalam
hatiku. Tak tega rasanya mengungkapkan hal itu pada pria yang
sebenarnya sangat tampan dan sehat secara fisik itu.
Terlebih, Agung adalah seorang pria yang sangat
percaya diri dan aku yakin dia akan tersinggung bila aku menyarakan
agar dia memeriksakan diri ke dokter. Dan saat aku menyinggung soal
anak, jawaban yang aku terima adalah senyuman.
Senyuman keyakinan bahwa saat ini memang Tuhan belum
percaya kepada kami. “Percayalah, suatu saat kita akan mendapatkan
anak-anak yang manis yang akan membuat rumah kita ini menjadi ramai,”
jawabnya diselingi kecupan mesra di keningku.
Kemesraan dan penghiburan yang diberikan Agung
membuatku tetap tidak tenang. Aku tetap berharap segera punya anak,
apalagi Agung adalah putra tunggal. Kondisi itu membawaku ke dunia
khayal tiada akhir.
SELINGKUH PERTAMA--Berbulan-bulan aku menyimpan khayalan itu sendiri.
Hingga awal tahun 1997 aku berjumpa seorang pria muda dan tampan di
sebuah rumah makan siap saji. Siang itu aku sedang berbelanja dan
karena belum makan, perut keronconganku tak mampu diajak kompromi.
Saat itu seluruh meja sudah terisi dan saat kulihat di sebelah pria
itu ada kursi kosong dan di depannya duduk dua orang wanita muda,
aku minta ijin untuk duduk.
Dengan senyum ramah, pria yang belakangan kuketahui
bernama Aldi itu mengangguk. Aku berpikir, dua orang gadis di
depannya adalah rekannya, tetapi sepuluh menit kemudian, mereka
pergi dan tinggal kami berdua. Entah siapa yang memulai lebih dulu,
setelah selesai melahap seluruh makanan, kami terlibat pembicaraan
yang sangat menyenangkan. Berkali-kali aku terbahak dengan guyonan
yang dia lontarkan.
Sejak itu hubungan kami terus berlanjut. Entah itu
melalui SMS atau berbicara langsung. Bahkan beberapa kali kami
janjian berjumpa di tempat yang sama untuk sekedar makan siang.
Entah mengapa aku bisa begitu menyukainya.
Aku juga tidak tahu apakah perasaanku bisa dikatakan
sebagai jatuh hati. Namun yang jelas rasa sayangku terhadap Agung
tetap tidak berubah. Di ranjang pun saat kami bercinta, aku tetap
bergairah.
Hingga pada suatu hari aku bergitu tergetar saat dia
memandang mataku. Terlebih ketika dengan mengatakan mulai tertarik
padaku. Tentu saja aku kelabakan dengan apa yang dia ungkapkan.
Karena sampai saat itu aku tidak pernah memberitahu bahwa aku sudah
menikah. Namun, entah mengapa aku juga tidak menolak ketika dia
membimbing tanganku ke dalam sedan mewah miliknya dan membawaku ke
sebuah motel.
Siang itu pikiranku seperti tertutup halimun tebal
yang membuatku tidak ingat, ada seorang pria tampan yang mencintaiku
dan menunggu dengan sabar di rumah. Aku mendesah dalam rengkuhan dan
permainan ranjangnya.
Aku begitu terlena ketika lidahnya bermain-main di
seluruh tubuh dan milikku paling pribadi. Sungguh, aku seperti tidak
ingin melepaskan keindahan itu. Namun, ketika nafas sudah berhenti
menderu dan keringat mulai lenyap dari tubuhku, aku kembali teringat
Agung.
Tanpa berkata sepatah pun aku segera mengenakan
pakaianku. Dan tanpa meminta ijin pada Aldi yang tertidur mendengkur,
aku keluar dari motel tidak terlalu mewah itu. Sesampai di rumah aku
menghambur ke tempat tidur dan menumpahkan seluruh air mataku di
sana.
Aku tidak mengerti dengan diriku sendiri mengapa
sampai melakukan perbuatan terkutuk itu. Dan lebih parah lagi, aku
memiliki seorang suami yang sangat baik dan tidak kurang suatu apa
pun, mengapa aku sampai mengkhianatinya.
Aku tidak mengerti apa yang akan terjadi saat Agung
mengetahui perbuatan tercela itu. Bahkan keluargaku pun pasti akan
membenciku. Aku tersadar dari duka ketika mendengar ketukan di pintu
kamar. Suara Agung yang lembut menyadarkan aku untuk segera berlari
ke kamar mandi dan membasuh muka. Aku tidak akan memaafkan diriku
sendiri bila Agung sampai tahu aku baru saja menangis karena
kebodohan yang sudah kulakukan.
Agung curiga saat melihat mataku yang sembab. Untuk
menenangkan perasaannya, aku menjawab bahwa aku memang menangis
karena memimpikan seorang anak yang lahir dari rahimku sendiri. Dan
kembali aku mendengar kata-kata manisnya untuk menghibur.
Saat itu, kembali air mataku hendak tumpah, namun
segera kutahan. Aku langsung berjanji di dalam hati tidak akan
menghubungi Aldi lagi sampai kapan pun. Setiap dia menghubungiku,
aku langsung mematikan ponsel.
PUNYA ANAK--Tanpa kuduga, bulan berikutnya aku telat menstruasi.
Awalnya aku sangat bahagia dan langsung memberitahu kabar gembira
itu pada Agung. Sebaliknya Agung menjawab hal itu dengan senyum
kebanggaan.
“Nah, inilah jawaban bagi orang yang sabar. Tetapi
kita jangan terlalu senang dulu karena kita harus ke dokter untuk
memastikan kebenarannya,” demikian jawaban Agung sambil mencium
keningku.
Hari-hari berikutnya aku dikelilingi rasa khawatir
yang teramat sangat. Entah mengapa aku sangat yakin bahwa janin yang
ada di dalam kandunganku adalah milik Aldi. Saat dia lahir sembilan
bulan kemudian, tepatnya bulan September 1997 aku melahirkan seorang
putri cantik. Kelahirannya disambut dengan suka cita seluruh
keluarga, terutama Agung. Matanya berbinar-binar ketika memandang
wajah mungil tanpa dosa itu. Dan saat itulah diam-diam aku menangis.
Belum lagi ketika usianya menginjak dua bulan,
keyakinanku kian bertambah. Aku hapal betul bagaimana bentuk hidung
dan mata Aldi. Dan semua itu turun ke tipikal wajah anakku yang kami
beri nama Dewi.
Hatiku begitu pedih setiap kali melihat Agung
bercanda dan memanjakan Dewi. Bahkan apa pun yang dia lakukan
seharian selalu berhubungan dengan Dewi. Di kantor dia selalu
memikirkan Dewi. Saat berbelanja yang selalu dia cari adalah
kebutuhan-kebutuhan untuk Dewi.
Sampai akhirnya aku sudah tidak tahan lagi. Setiap
Agung berbicara tentang Dewi, aku sudah langsung meninggalkannya.
Sampai-sampai dia mengatakan bahwa aku tidak menyayangi Dewi lagi.
Sampai-sampai dia menganggap aku tidak pernah mengharapkan kehadiran
Dewi. Selama ini aku hanya dianggap berpura-pura mengharapkan
kehadiran anak. Padahal apa yang kulakukan adalah untuk membuat
perasaanku tidak terlalu tertekan.
Dan hingga kini, hingga usia Dewi sudah menginjak
sembilan tahun, aku masih sering menangis mengingat pengkhianatan
yang sudah kulakukan. Pengkhianatan besar terhadap Agung, orangtua,
dan terutama terhadap Dewi.
Aku tidak bisa membayangkan perasaannya bila sampai
tahu bahwa yang selama ini dia anggap ayah adalah bukan pria yang
menanam benih di dalam rahim ibunya. Aku tidak mampu membayangkan
bila sampai dia bertanya di mana ayah kandungnya selama ini. *diceritakan
oleh Anggia di Pondok Pinang kepada Rayu
|