EDISI>>01-02-03-04-05-06-07-08-09-10-11-12-13-14-15-16-17-18-19-20-21-22-23-24-25-26-27-28-29- 30-31>>

::LIPUTAN::

::BACAAN PALING EKSOTIS::

::ARTIKEL::

MODUS#12

=> Isu Exo
=> Close Up
=> Intim
=> Gaya
=> Curhat
=> Potret
=> Jelajah
=> Bollystar
=> Exobolly
=> Terawang
=> Modus
=> Blitz
=> Gemar
=> Rona
Aturan
Langganan
Pesan CD
Pesan Bundel
Crew Redaksi
Saran Anda
Tarif Iklan

Diancam hukuman mati

MANTAN TENTARA JADI SNIPER

Oleh : Hendrik/berbagai sumber

Akhir tahun lalu, warga beberapa negara bagian Amerikan Serikat, seperti Washington DC, Maryland, Virginia, Alabama, Lousiana dan Colombia, dicekam rasa takut oleh sosok sniper yang telah merengguk banyak korban. Akhirnya FBI (Federal Bureau Investigation)  berhasil meringkus Yohanes Allen Muhammad (42), pelaku yang ternyata mantan anggota Angkatan Darat Amerika AS.

Aksi Allen menjadi teror menakutkan pasca tragedi hancurnya gedung World Trade Center (WTC), New York. Pria itu ditangkap setahun lalu ketika sedang mencoba membunuh Dean Harold Meyers. Veteran perang ini diringkus di pom bensin di kota Manassas.

Senin, 17 November 2003, di persidangan yang dipimpin Hakim Leroy F. Millette Jr, di Washington,  Jaksa Penuntut Richard Conway, menuding Allen telah membunuh sepuluh orang dan  meluaki enam orang. Dalam akdinya, dia dibantu pemuda bernama John Lee Malvo (18) yang disidangkan secara terpisah.

Malvo merupakan anak didik Allen. Mereka menjalankan aksi itu seperti mengemban misi. Itu terlihat dari sebagian besar korban adalah orang yang aktivitasnya dekat dengan penjulan minuman keras. Jaksa Penuntut juga menuduh mereka sengaja menjalankan aksinya untuk memeras pemerintah sebesar 10 juta dolar AS.

Kedua penembak jitu itu duduk di kursi terdakwa setelah penyidik dan jaksa percaya dengan uji balistik senjata api Bushmaster kaliber 223 yang ditemukan di mobil Chevrolet tahun 1990 milik Allen dan bukti-bukti kuat lainya yang ditemukan di Alabama, Georgia, Louisiana, dan Washington DC.

Di mobil Allen, ditemukan sebuah laptop milik korbannya, Paul Laruffa (55), pemilik rumah makan di Clinton. Selain membunuh Paul dan menggondol laptop, Allen juga menguras uang korban sebanyak tiga ribu dolar AS. Polisi juga menemukan peta berisi enam lokasi penembakan yang ditandai gambar tengkorak. Senjata pembunuh tersembunyi di jok belakang.

Menurut jaksa, Allen  telah berubah menjadi mesin pembunuh. “Tempat duduk belakang dibuat sedemikian rupa, sehingga dapat menyimpan senjata laras panjang. Di jendela mobil  dibuat lubang supaya mudah membidik korban,” ujar Conway.

Namun jaksa tidak dapat menunjukkan bukti langsung kalau Allen yang melakukan penembakan, tetapi menurutnya hal itu bukan berarti terdakwa tidak dapat disangka sebagai orang yang melakukan penembakan. Jaksa yakin berdasarkan hasil penyidikan FBI, Allen adalah pemimpin dari dua orang regu pembunuh. Allen berperan  sebagai figure orang tua  bagi Malvo, sebagai pengendali dan pelatih  remaja tersebut dalam melakukan kejahatan.

Proses peradilan berlangsung selama tiga minggu untuk mendengar keterangan para korban dan para saksi untuk menetapkan apakah Allen layak diganjar hukuman mati atau penjara seumur hidup. Keputusan itu akan diambil akhir Desember nanti. Menurut Jonathan Shapiro, pengacara Allen, pihak pengadilan harus mengambil keputusan jernih serta mempertimbangkan sosok ayah Allen sebagai orang dihormati banyak orang.

TEMBAK KEPALA--Dalam waktu bersamaan, John Lee Malvo (18) digiring ke ruang pengadilan yang dipimpin Hakim Marum Roush di Chesapeake. Pemuda itu telah membunuh analis FBI, Linda Fraklin di gudang rumah di geraja Chesapeake. Malvo bisa dihukum mati, seperti nasib Allen.

Craig Cooley, pengacara Malvo memberikan pembelaan, bahwa remaja ini mengindap gangguan dan telah ‘teracuni’ oleh doktrin dari  Allen sehingga berani melakukan perbuatan melanggar hukum.

Di dalam proses persidangan itu sempat terjadi polemik perlu tidaknya mendengar suara rekaman suami Linda, Willian Franklin di saluran panggilan darurat polisi 911, sebagai barang bukti. Rekaman itu berisi suara William yang meratap panik memberitahukan polisi tentang istrinya yang tertembak di kepala.

Akhirnya dewan juri dan hakim sepakat tidak mendengar rekaman di ruang sidang. Mereka sepakat mendengarnya di luar sidang sebab, hakim beranggapan bisa mengganggu jalannya persidangan. William mengaku terus teringat istrinya yang meninggal dengan simbahan darah dari kepala yang ditembus peluru senjata Malvo.

Seorang pensiunan yang diajukan  Jaksa Penuntut Paul Ebert sebagai saksi, memberikan kesaksiannya kalau dia melihat seorang perempuan terkulai dengan darah membanjiri bangku tempat korban tergeletak.

Untuk menguatkan tuntutannya, Paul Ebert, memperlihatkan beberapa foto hasil kejahatan yang dilakukan Allen dan Malvo. “Pria muda ini telah menjadi instrumen perusak dan pembunuh, hasil bentukan Allen,” tegas Ebert.  Tetapi tindakan Jaksa Penuntut itu dikecam oleh Cooley dan menganggap itu merupakan foto-foto yang  serampangan.

Jaksa Penuntut menghadirkan 17 orang saksi hari Senin. Hakim Roush menjelaskan persidangan akan diselesaikan sesuai dengan waktu yang telah ditetapkan. “Terdakwa akan disidangkan seadil-adilnya. Nanti saya akan melihat hukuman apa yang akan direkomendasikan oleh para juri,” terang Hakim Roush.

Jalannya  persidangan atas Molvo ini, kental dengan emosi dari proses persidangan Allen.  Craig Cooley, pengacara Malvo, telah menjelaskan kepada kliennya mengenai ancaman hukuman mati untuk Allen. Namun pembela itu menolak untuk berkementar tentang reaksi kliennya.

TEROR WARGA--Di Amerika Serikat, pembunuhan dengan senjata api sepertinya telah menjadi keniscayaan aksi kriminal. Angka korban yang terbunuh dan terluka mencapai angkat tertinggi, jika dibandingkan dengan negara lain.

Sebagai factor penyebab, lantaran hukum membolehkan pemilikan dan penjulan senjata api. Di penghujung  tahun ini, warga Amerika sedang meyoroti persidangan Yohanes Allen Muhammad dan John Lee Malvo yang didakwa melakukan aksi penembakan yang memakan korban puluhan orang.

Sebuah fase baru dialami Allen. Dia harus mempertanggungjawabkan perbuatannya. Persidangan atas dirinya yang dibuka Senin, 17 November lalu, oleh para korban dan keluarganya korban, beserta Jaksa Penuntut yakin sniper ini akan divonis mati. Dia dengan senapan berdaya tinggi telah beraksi secara acak membunuhi korbannya.

Sontak, meningkatnya korban pembunuhan dengan senjata api, menimbulkan ketakutan bagi warga kota. Mereka jadi takut beraktivitas di luar rumah, sampai-sampai aktivitas berolahraga pun terpaksa didalakukan di dalam rumah. Ketika sedang mengisi bahan bakar di pom bensin, orang menjadi was-was dan kerap melindungi kepala, karena takut menjadi sasaran peluru penembak jitu.

Para guru menjadi takut tampak di jendela ketika sedang mengajar. Apalagi menyusul ditemukan pesan tak bertuan di batang pohon di halaman rumah makan di Ashland, Virginia. Surat tulisan tangan itu, ditemukan tertancap di lokasi dekat yang menjadi tempat tertembak Jeffrey Hopper (37) pada tangga 19 Oktober tahun lalu.

Catatan tanpa nama itu berisi ancaman ‘Dimana pun dan kapan pun tidak ada jaminan rasa aman buat anak-anakmu’ demikian pesan yang menimbulkan rasa was-was. Selain itu, ditemukan selembar kartu tarot yang tertinggal di tempat peristiwa penembakan di luar sekolah yang melukai anak keturunan Iran, berusia 13 tahun. Kartu tarot tersebut diperkiran sebagai sebuah tanda peringatan yang berarti ‘panggil aku  Tuhan’.

Seorang kerabat korban yang bernama Robert, yakin dan merasa pantas Allen layak diganjar hukuman mati. “Aku katakan, aku berpikir begitu banyak kejahatan, namun ini perbuatan Allen adalah kejahatan yang kejam,” ungkap Robert.

Jaksa penuntut Richard Conway menegaskan, selama proses hukum berlangsung, mereka juga berusaha menghadirkan bukti dari pembunuhan dari berbagai negara bagian Amerika. “Allen telah mendemontrasikan suatu masa depan yang mengkhawatirkan yang memperlihatkan indikasi kejahatan pikiran orang jahat,” tegasnya.

Pembelaan yang muncul dan mengemuka di persidangan, bahwa bukti-bukti yang disodorkan Jaksa dianggap tidak dapat dijadikan fakta yang kuat untuk menjerat Allen. Pengacara Jonathan Shapiro dalam penutup pembelaan beragumen, Jaksa telah mempengaruhi para anggota dewan juri dengan foto-foto berdarah dan kesaksian yang memilukan sehingga mempengaruhi emosi mereka.

Ditegaskannya dalam proses pengadilan, Jaksa harus dapat membuktikan salah satu dari dua faktor itu untuk dijadikan rekomendasi  bagi dewan juri sebagai landasan memutuskan hukuman mati. Sebuah penyataan yang dianggap mendasar yang diajukan pembela kepada para saksi,

“Pernahkah kalian melihat terdakwa menembak seseorang? Jika dewan juri merekomendasikan putusan hukuman mati, Hakim bisa mengambil keputusan yang lebih ringan dengan putusan  hukuman seumur hidup tanpa hak bebas bersyarat,” Jonathan Shapiro berapi-api.*

*** 

DAFTAR KORBAN ALLEN – MALVO

Data kepolisian kota Tacoma tentang korban-korban duet Allen - Malvo. (16/02/02) Keenya (21), juru masak, terbunuh ketika membuka pintu rumahnya. (1-4/05/02) terjadi penembakan di Kuil Yahudi  Beth El Sinagoga. Tidak ada korban jiwa. (05/09/02) Paul Laruffa (55), terbunuh dengan enam tembakan di rumahnya di Kota Clinton. (14/09/02), Rupinter Oberoi (22), karyawan toko minuman keras di Silver Spring. (15/09/02) Muhammad Rashid, mengalami luka tembak di toko minuman keras di Branywine. (21/09/02), Waldemariam (41) terbunuh di toko minuman keras di luar kota Atlanta. (21/09/02) Claudine (52), tukang parkir, terbunuh di luar toko minuman keras di Montgomery, peluru juga melukai Kellie Adams (24). (23/09/02), Hong Im Ballenger (45), penjaga toko  kosmetik terbunuh karena melawan perampok. (02/10/02) terjadi tembakan di Aspen Hill, tidak ada korban. (02/09/02), James D. Martin (55) terbunuh di toko makanan di Wheaton. (03/10/02), James L Buchanan (39), terbunuh ketika sedang memotong rumput halaman dealer mobil di White Flinn. (03/10/02), Prem Kumar Walaker (54), sopir taksi terbunuh di pompa bensin di Rockville. (03/10/02), Sarah Ramos (34), terbunuh di luar kantor pos di  Silver Spring. (03/10/02), Lori Ann Lewis-Rivera (25), terbeunuh di pompa bensin di Kensington. (03/10/02), Pascal Charlot (72), terbunuh ketika sedang berdiri di jalanan di Washington DC. (04/10/02), Caroline Seawell (43), terluka di area parkir toko alat pertukangan di Frederickburg. (07/10/02),  warga Iran berusia 13 tahun   terluka di sekolahnya di Bowie. (09/10/02), Dean Harold Meyers (53), terbunuh di pompa bensi di Manassas. (11/10/02), Kenneth H. Bridges (53), terbunuh di pompa bensin di Fredericksburg. (14/10/02), Linda Franklin (47), terbunuh di Gereja di Virginia. (19/10/02), Jeffrey Hopper (37), terluka di luar rumah makan  di Ashland, Virginia. (22/10/02), Conrad Johnson (35), sopir bus terbunuh di Aspen Hill.*

=> Rilexo
=> Cerbung
=> Nojii
=> Cinexo
=> Etalase
=> Gaul
=> Kelambu
=> Exolusi
=> Amor
=> Mbak Dona
=> Horoskop
=> Poster
=>
Bintang Exo
Free Web Site Counter

hubungi redaksi - webmaster - pasang iklan
Copyright 2004 exotica23.tk (pt angkasa media utama) All Rights Reserved

Hosted by www.Geocities.ws

1