Diancam hukuman mati
MANTAN
TENTARA JADI SNIPER
Oleh : Hendrik/berbagai sumber
Akhir tahun lalu, warga beberapa negara bagian Amerikan
Serikat, seperti Washington DC, Maryland, Virginia, Alabama,
Lousiana dan Colombia, dicekam rasa takut oleh sosok sniper yang
telah merengguk banyak korban. Akhirnya FBI (Federal Bureau
Investigation) berhasil meringkus Yohanes Allen Muhammad (42),
pelaku yang ternyata mantan anggota Angkatan Darat Amerika AS.
Aksi Allen menjadi teror
menakutkan pasca tragedi hancurnya gedung World Trade Center (WTC),
New York. Pria itu ditangkap setahun lalu ketika sedang mencoba
membunuh Dean Harold Meyers. Veteran perang ini diringkus di pom
bensin di kota Manassas.
Senin, 17 November 2003,
di persidangan yang dipimpin Hakim Leroy
F. Millette Jr, di Washington, Jaksa Penuntut Richard
Conway, menuding Allen telah membunuh sepuluh orang dan meluaki
enam orang. Dalam akdinya, dia dibantu pemuda bernama John Lee Malvo
(18) yang disidangkan secara terpisah.
Malvo merupakan anak didik
Allen. Mereka menjalankan aksi itu seperti mengemban misi. Itu
terlihat dari sebagian besar korban adalah orang yang aktivitasnya
dekat dengan penjulan minuman keras. Jaksa Penuntut juga menuduh
mereka sengaja menjalankan aksinya untuk memeras pemerintah sebesar
10 juta dolar AS.
Kedua penembak jitu itu
duduk di kursi terdakwa setelah penyidik dan jaksa percaya dengan
uji balistik senjata api Bushmaster kaliber 223 yang ditemukan di
mobil Chevrolet tahun 1990 milik Allen dan bukti-bukti kuat lainya
yang ditemukan di Alabama, Georgia, Louisiana, dan Washington DC.
Di mobil Allen, ditemukan
sebuah laptop milik korbannya, Paul Laruffa (55), pemilik rumah
makan di Clinton. Selain membunuh Paul dan menggondol laptop, Allen
juga menguras uang korban sebanyak tiga ribu dolar AS. Polisi juga
menemukan peta berisi enam lokasi penembakan yang ditandai gambar
tengkorak. Senjata pembunuh tersembunyi di jok belakang.
Menurut jaksa, Allen
telah berubah menjadi mesin pembunuh. “Tempat duduk belakang dibuat
sedemikian rupa, sehingga dapat menyimpan senjata laras panjang. Di
jendela mobil dibuat lubang supaya mudah membidik korban,” ujar
Conway.
Namun jaksa tidak dapat
menunjukkan bukti langsung kalau Allen yang melakukan penembakan,
tetapi menurutnya hal itu bukan berarti terdakwa tidak dapat
disangka sebagai orang yang melakukan penembakan. Jaksa yakin
berdasarkan hasil penyidikan FBI, Allen adalah pemimpin dari dua
orang regu pembunuh. Allen berperan sebagai figure orang tua bagi
Malvo, sebagai pengendali dan pelatih remaja tersebut dalam
melakukan kejahatan.
Proses peradilan
berlangsung selama tiga minggu untuk mendengar keterangan para
korban dan para saksi untuk menetapkan apakah Allen layak diganjar
hukuman mati atau penjara seumur hidup. Keputusan itu akan diambil
akhir Desember nanti. Menurut Jonathan
Shapiro, pengacara Allen, pihak pengadilan harus mengambil keputusan
jernih serta mempertimbangkan sosok ayah Allen sebagai orang
dihormati banyak orang.
TEMBAK
KEPALA-- Dalam
waktu bersamaan, John Lee Malvo (18) digiring ke ruang pengadilan
yang dipimpin Hakim Marum Roush di Chesapeake. Pemuda itu telah
membunuh analis FBI, Linda Fraklin di gudang rumah di geraja
Chesapeake. Malvo bisa dihukum mati, seperti nasib Allen.
Craig Cooley, pengacara
Malvo memberikan pembelaan, bahwa remaja ini mengindap gangguan dan
telah ‘teracuni’ oleh doktrin dari Allen sehingga berani melakukan
perbuatan melanggar hukum.
Di dalam proses
persidangan itu sempat terjadi polemik perlu tidaknya mendengar
suara rekaman suami Linda, Willian Franklin di saluran panggilan
darurat polisi 911, sebagai barang bukti. Rekaman itu berisi suara
William yang meratap panik memberitahukan polisi tentang istrinya
yang tertembak di kepala.
Akhirnya dewan juri dan
hakim sepakat tidak mendengar rekaman di ruang sidang. Mereka
sepakat mendengarnya di luar sidang sebab, hakim beranggapan bisa
mengganggu jalannya persidangan. William
mengaku terus teringat istrinya yang meninggal dengan simbahan darah
dari kepala yang ditembus peluru senjata Malvo.
Seorang
pensiunan yang diajukan Jaksa Penuntut Paul Ebert sebagai saksi,
memberikan kesaksiannya kalau dia melihat seorang perempuan terkulai
dengan darah membanjiri bangku tempat korban tergeletak.
Untuk
menguatkan tuntutannya, Paul Ebert, memperlihatkan beberapa foto
hasil kejahatan yang dilakukan Allen dan Malvo. “Pria muda ini telah
menjadi instrumen perusak dan pembunuh, hasil bentukan Allen,” tegas
Ebert. Tetapi tindakan Jaksa Penuntut itu dikecam oleh Cooley dan
menganggap itu merupakan foto-foto yang serampangan.
Jaksa Penuntut
menghadirkan 17 orang saksi hari Senin. Hakim Roush menjelaskan
persidangan akan diselesaikan sesuai dengan waktu yang telah
ditetapkan. “Terdakwa akan disidangkan seadil-adilnya. Nanti saya
akan melihat hukuman apa yang akan direkomendasikan oleh para juri,”
terang Hakim Roush.
Jalannya persidangan atas
Molvo ini, kental dengan emosi dari proses persidangan Allen. Craig
Cooley, pengacara Malvo, telah menjelaskan kepada kliennya mengenai
ancaman hukuman mati untuk Allen. Namun pembela itu menolak untuk
berkementar tentang reaksi kliennya.
TEROR
WARGA-- Di
Amerika Serikat, pembunuhan dengan senjata api sepertinya telah
menjadi keniscayaan aksi kriminal. Angka korban yang terbunuh dan
terluka mencapai angkat tertinggi, jika dibandingkan dengan negara
lain.
Sebagai factor penyebab,
lantaran hukum membolehkan pemilikan dan penjulan senjata api. Di
penghujung tahun ini, warga Amerika sedang meyoroti persidangan
Yohanes Allen Muhammad dan John Lee Malvo yang didakwa melakukan
aksi penembakan yang memakan korban puluhan orang.
Sebuah fase baru dialami
Allen. Dia harus mempertanggungjawabkan perbuatannya. Persidangan
atas dirinya yang dibuka Senin, 17 November lalu, oleh para korban
dan keluarganya korban, beserta Jaksa Penuntut yakin sniper ini akan
divonis mati. Dia dengan senapan berdaya tinggi telah beraksi secara
acak membunuhi korbannya.
Sontak, meningkatnya
korban pembunuhan dengan senjata api, menimbulkan ketakutan bagi
warga kota. Mereka jadi takut beraktivitas di luar rumah,
sampai-sampai aktivitas berolahraga pun terpaksa didalakukan di
dalam rumah. Ketika sedang mengisi bahan bakar di pom bensin, orang
menjadi was-was dan kerap melindungi kepala, karena takut menjadi
sasaran peluru penembak jitu.
Para guru menjadi takut
tampak di jendela ketika sedang mengajar. Apalagi menyusul ditemukan
pesan tak bertuan di batang pohon di halaman rumah makan di Ashland,
Virginia. Surat tulisan tangan itu, ditemukan tertancap di lokasi
dekat yang menjadi tempat tertembak Jeffrey Hopper (37) pada tangga
19 Oktober tahun lalu.
Catatan tanpa nama itu
berisi ancaman ‘Dimana pun dan kapan pun tidak ada jaminan rasa
aman buat anak-anakmu’ demikian pesan yang menimbulkan rasa
was-was. Selain itu, ditemukan selembar kartu tarot yang tertinggal
di tempat peristiwa penembakan di luar sekolah yang melukai anak
keturunan Iran, berusia 13 tahun. Kartu tarot tersebut diperkiran
sebagai sebuah tanda peringatan yang berarti ‘panggil aku Tuhan’.
Seorang kerabat korban
yang bernama Robert, yakin dan merasa pantas Allen layak diganjar
hukuman mati. “Aku katakan, aku berpikir begitu banyak kejahatan,
namun ini perbuatan Allen adalah kejahatan yang kejam,” ungkap
Robert.
Jaksa penuntut Richard
Conway menegaskan, selama proses hukum berlangsung, mereka juga
berusaha menghadirkan bukti dari pembunuhan dari berbagai negara
bagian Amerika. “Allen telah mendemontrasikan suatu masa depan yang
mengkhawatirkan yang memperlihatkan indikasi kejahatan pikiran orang
jahat,” tegasnya.
Pembelaan yang muncul dan
mengemuka di persidangan, bahwa bukti-bukti yang disodorkan Jaksa
dianggap tidak dapat dijadikan fakta yang kuat untuk menjerat Allen.
Pengacara Jonathan Shapiro dalam penutup pembelaan beragumen, Jaksa
telah mempengaruhi para anggota dewan juri dengan foto-foto berdarah
dan kesaksian yang memilukan sehingga mempengaruhi emosi mereka.
Ditegaskannya dalam proses
pengadilan, Jaksa harus dapat membuktikan salah satu dari dua faktor
itu untuk dijadikan rekomendasi bagi dewan juri sebagai landasan
memutuskan hukuman mati. Sebuah penyataan yang dianggap mendasar
yang diajukan pembela kepada para saksi,
“Pernahkah kalian melihat
terdakwa menembak seseorang? Jika dewan juri merekomendasikan
putusan hukuman mati, Hakim bisa mengambil keputusan yang lebih
ringan dengan putusan hukuman seumur hidup tanpa hak bebas
bersyarat,” Jonathan Shapiro berapi-api.*
***
DAFTAR
KORBAN ALLEN – MALVO
Data kepolisian kota Tacoma tentang
korban-korban duet Allen - Malvo.
(16/02/02) Keenya (21), juru masak, terbunuh ketika membuka pintu
rumahnya. (1-4/05/02) terjadi penembakan di Kuil Yahudi Beth
El Sinagoga. Tidak ada korban jiwa. (05/09/02) Paul Laruffa (55),
terbunuh dengan enam tembakan di rumahnya di Kota Clinton. (14/09/02),
Rupinter Oberoi (22), karyawan toko minuman keras di Silver Spring.
(15/09/02) Muhammad Rashid, mengalami luka tembak di toko minuman
keras di Branywine. (21/09/02), Waldemariam (41) terbunuh di toko
minuman keras di luar kota Atlanta. (21/09/02) Claudine (52), tukang
parkir, terbunuh di luar toko minuman keras di Montgomery, peluru
juga melukai Kellie Adams (24). (23/09/02), Hong Im Ballenger (45),
penjaga toko kosmetik terbunuh karena melawan perampok. (02/10/02)
terjadi tembakan di Aspen Hill, tidak ada korban. (02/09/02), James
D. Martin (55) terbunuh di toko makanan di Wheaton. (03/10/02),
James L Buchanan (39), terbunuh ketika sedang memotong rumput
halaman dealer mobil di White Flinn. (03/10/02), Prem Kumar Walaker
(54), sopir taksi terbunuh di pompa bensin di Rockville. (03/10/02),
Sarah Ramos (34), terbunuh di luar kantor pos di Silver Spring.
(03/10/02), Lori Ann Lewis-Rivera (25), terbeunuh di pompa bensin di
Kensington. (03/10/02), Pascal Charlot (72), terbunuh ketika sedang
berdiri di jalanan di Washington DC. (04/10/02), Caroline Seawell
(43), terluka di area parkir toko alat pertukangan di Frederickburg.
(07/10/02), warga Iran berusia 13 tahun terluka di sekolahnya di
Bowie. (09/10/02), Dean Harold Meyers (53), terbunuh di pompa bensi
di Manassas. (11/10/02), Kenneth H. Bridges (53), terbunuh di pompa
bensin di Fredericksburg. (14/10/02), Linda Franklin (47), terbunuh
di Gereja di Virginia. (19/10/02), Jeffrey Hopper (37),
terluka di luar rumah makan di Ashland, Virginia. (22/10/02),
Conrad Johnson (35), sopir bus terbunuh di Aspen Hill.*
|