|
Ingin
cari berkah malah jadi korban
ENAM
BULAN DISIKSA DAN DIPERKOSA
Oleh : Suwandono
Kebiadaban
M. Saebani (40), dukun gadungan asal Dukuh Bejen Bantul
sudah diluar batas. Pria beristri tiga yang mengaku spesialis
pesugihan itu menyekap Tugiyem (39) selama enam bulan. Selama dalam
penyekapan, korban dijadikan budak seksnya an dianiaya.
Tugiyem, ibu empat yang bersuamikan seorang buruh bangunan itu
semula berniat mencari jalan keluar masalah rumah tangganya yang
kusut. “Anak saya banyak padahal suami saya cuma kuli bangunan,”
tutur Tugiyem ketika ditemui Exo di rumahnya belum lama ini. Niatnya
semakin membulat hingga akhirnya terwujudlah sebuah warung kecil di
depan rumahnya.
Menginjak tahun pertama, usahanya masih jalan di tempat. Tahun kedua,
warungnya nyaris tidak ada pembeli. Tugiyem mulai putus asa. Karena
tidak ingin usahanya bangkrut, dia pun mencari jalan keluar dan
konsultasi ke beberapa rekannya
Tugiyem akhirnya mendapatkan alamat seorang dukun bernama Saebani di
Dukuh Bejen Bantul. Awal Januari lalu dia berangkat ke rumah Saebani
diantarkan anaknya, Wahyu (19). Setelah ngobrol basa-basi, Tugiyem
diajak masuk ke ruang praktek di belakang rumah.
Di
ruang berdinding bambu seluas 4 x 5 meter itu Tugiyem mulai
menceritakan masalahnya. Nampaknya kedatangan Tugiyem memang sudah
lama dinanti Saebani. “Waktu itu saya diminta untuk diruwat,” kenang
Tugiyem.
Biayanya sebesar Rp 140 ribu yang akan digunakan untuk membeli uga
rampe ritual peruwatan. Saebani juga meminta uang Rp 50 ribu sebagai
uang lelah. Setelah menyerahkan biaya, Tugiyem mulai bersiap-siap
pergi.
Ketika
hendak pamit mendadak tangannya dipegang Saebani. “Kamu tidak boleh
pulang sekarang,” kata Saebani dengan alasan acara ruwatan harus
dilakukan oleh Tugiyem sendiri selama 7 hari berturut-turut dalam
ruang prakteknya.
Karena
terdorong niat ingin lepas dari persoalan ekonomi, Tugiyem tak
berdaya menuruti perintah dukun itu. Setelah mengunci Tugiyem dalam
ruang praktek, Saebani lalu menemui Wahyu. Dengan alasan ibunya
harus menjalani laku spiritual, Wahyu disuruh pulang.
Sepeninggalan Wahyu, Saebani mulai menunjukkan kedok aslinya. “Saya
diancam akan dibunuh kalau berani melawan perintahnya,” tutur
Tugiyem. Ancaman Saebani ternyata bukan gertak sambal. Malam harinya,
Tugiyem dipaksa melayani birahi dukun itu di ruang praktek.
Menginjak hari ketiga, perilaku bejad Saebani mulai nampak. Saebani
yang biasanya bekerja menggenjot becak setiap harinya memaksa
istrinya, Tugirah untuk bekerja. Dia sendiri lebih suka tiduran,
makan, ngerokok sambil minta dipijiti Tugiyem.
Memang,
tidak setiap hari Tugirah memperoleh uang, Pada saat seperti itu
Tugirah dipaksa untuk mencari hutangan. “Kalau tidak dapat kami
berdua ditendang-tendang kaya hewan,” kata Tugiyem sambil
menunjukkan keningnya biru lebam.
Saebani juga berang bila masakan istrinya kurang enak. Pria itu
sering melempar piring kemuka istrinya. Sambil mengumpat dan
menendangi dua wanita malang itu. Selama berminggu-minggu praktis
Tugiyem tidak pernah keluar rumah. Bahkan untuk buang hajat saja
terpaksa menggunakan lubang kecil di pekarangan. Di sudut tanpa
koridor itu pula, Tugiyem mandi dan ganti pakaiannya. “Kalau sudah
seminggu saya baru nyuci pakaian, itupun pada malam hari,” tutur
Tugiyem.
Kekejaman Saebani semakin tidak terkendali bila Tugiyem meminta
keluar rumah. Sambil mengancam akan membunuh suami dan keempat
anaknya, Saebani menyiksa Tugiyem hingga nyaris pingsan.
UPAYA KABUR-- Satu
bulan dalam penyekapan, Tugiyem mulai berupaya melarikan diri.
Ketika pertama kali mau kabur, Saebani memergokinya. Kejadiannya,
malam itu, sekitar pukul 21.00 Wib, Tugiyem yang baru memijit
Saebani mencoba kabur melalui pintu belakang. Namun apes, ketika
membuka pintu, deritan pintu terdengar sampai Saebani.
Mengetahui tawanannya mau kabur, Saebani langsung melabrak. Aksi
kejar mengejar sempat terjadi hingga beberapa saat. Tugiyem berhasil
disergap. Serta merta Tugiyem langsung diseret masuk rumahnya. Malam
harinya, wanita itu nyaris tewas disiksa Saebani.Upaya pelarian itu
sempat diketahui warga. Namun ketika warga menanyakan hal itu,
Saebani berkilah bahwa korban adalah adiknya.
Pada
upaya pelarian berikutnya, Tugiyem sempat meminta tolong warga.
Namun lagi-lagi, warga mendapat jawaban yang sama. Saebani malah
mengancam akan menghabisi warga yang mencampuri urusan rumah
tangganya.
Upaya
pelarian Tugiyem akhirnya berhasil ketika hari Sabtu (19/9) lalu,
Saebani sedang keluar rumah untuk narik becak lagi. “Kamu berdua
jangan sekali-kali keluar kalau saya belum pulang,” ancam Saebani
sambil mengunci pintu dari luar.
DIBANTU ISTRI
PELAKU-- Tugiyem yang sudah nekad, segera bersiap-siap kabur. Dengan bantuan
Tugirah dia keluar melalui pintu samping. “Wis yu, saiki ayo
ndang mlayu (sudah, kita secepatny kabur-red),” kata Tugirah
sambil menggandeng tangan Tugiyem. Atas saran Tugirah, korban ke
Mapolsek Bantul untuk melaporkan kasus yang menimpanya.
Menerima pengaduan korban, aparat Reskrim Polsek Bantul segera
menerjunkan timnya. Tidak lama berselang, polisi yang mengintai
rumahnya akhirnya mendapati Saebani melenggang dengan becak menuju
rumahnya. Tanpa mengalami perlawanan, Saebani langsung dibekuk.
Dengan
isak tangis yang tiada henti-hentinya, Tugiyem bertutur tentang
kisah tragis yang menimpanya kepada Exo. “Tangan saya dipegang, lalu
muka saya dipukulinya,” kata Tugiyem sambil memeragakan penyiksaan
itu.
Menurut korban, Setiap anak atau suaminya bertanya, Saebani selalu
‘membungkam’ mulut mereka. “Kalau anak saya datang, dia bilang kalau
saya pergi melacur ke Parangtritis,” kata Tugiyem. Tercatat sudah 12
kali anaknya mencarinya ke rumah Saebani. Namun, setiap kali
keluarganya datang, Saebani selalu berhasil menyembunyikannya.
Tentang kebiadaban Saebani yang melebihi binatang ternyata sudah
dirasakan Tugirah sejak lama mereka menikah. Waktu itu, sekitar
tahun 1991, Saebani yang sudah bercerai tiga kali kembali menikah
dengan Tugirah. Dari pernikahan itu mereka mendapatkan dua.
Ikhwal
kelakuan kasar Saebani mulai kelihatan setelah mereka memiliki anak
pertama. “Bapake niku sampun biasa miloro kulo (Bapak itu
sudah menyakiti saya - red),” tutur Tugirah saat ditemui Exo di
rumahnya. Kelakuan kasar Saebani itu ternyata tidak hanya dilakukan
terhadap Tugirah namun juga pada istri pertama dan keduanya. “Istri
pertamanya juga minta cerai gara-gara perilaku kasar dia,” terang
Tugirah.
Namun
meski telah menerima perlakuan kasar, Tugirah mengaku hanya bisa
pasrah. Dia menyatakan tetap bersedia menerima suaminya setelah
bebas dari penjara, dengan syarat Saebani mau bertobat dan berjanji
tidak akan mengulangi lagi perbuatannya. “Sing wis yo wis, ojo
dibaleni maneh (yang sudah ya sudah, jangan diulangi lagi -
red),” tutur Tugirah.*
***
Bos Eddy, Ketua Paguyuban
Paranormal Indonesia
WASPADAI DUKUN PALSU
Oleh : Suwandono
Kasus
pelecehan seksual yang dilakukan dukun asal Yogyakarta ini tak urung
memancing reaksi sejumlah paranormal. Menurut Bos Eddy, tokoh dunia
perdukunan yang mengomandani organisasi PPI (Paguyuban Paranormal
Indonesia), Saebani dia bukan anggotanya.
PPI
memang sering dicatut oleh sejumlah orang untuk mengeruk keuntungan
pribadi. Hal tersebut terus terjadi diluar sepengetahuan
organisasinya. “Namun kalau terjadi kasus, kami yang kena getahnya,”
timpal Bos Eddy.
Untuk
mengantisipasi kejadian serupa, Bos Eddy menyarankan agar masyarakat
mempelajari modus operandi kawanan dukun palsu. “Yang paling penting,
tanya dulu ijin prakteknya,” tuturnya. Biasanya, paranormal yang
memiliki ijin resmi akan menaati kode etik paranormal.
Dalam
hal biaya, semestinya terjadi kesepakatan terlebih dulu antara si
pasien dengan paranormal. Hal lain yang perlu ditekankan adalah
tidak adanya unsur pemaksaan dalam hubungan kerjasama antara si
pasien dengan paranormal. “Kalau paranormal seperti itu laporkan
saja pada polisi,” tandas Bos Eddy.*
|