EDISI>>01-02-03-04-05-06-07-08-09-10-11-12-13-14-15-16-17-18-19-20-21-22-23-24-25-26-27-28-29- 30-31>>

::LIPUTAN::

::BACAAN PALING EKSOTIS::

::ARTIKEL::

CURHAT #11

=> Isu Exo
=> Close Up
=> Intim
=> Gaya
=> Curhat
=> Potret
=> Jelajah
=> Bollystar
=> Exobolly
=> Terawang
=> Modus
=> Blitz
=> Gemar
=> Rona
Aturan
Langganan
Pesan CD
Pesan Bundel
Crew Redaksi
Saran Anda
Tarif Iklan

MENIKAHI ‘SUAMI BONEKA’

Perasaan marah pada diri sendiri, setelah memaksa seorang pria tak bersalah menikahiku saat hamil, membawaku terjun ke dunia yang sama sekali hitam. Menjadi wanita pemuas ranjang pria hidung belang, berkeliaran di tempat-tempat hiburan malam, dan tidak memperdulikan anak yang sudah lahir dari rahimku sendiri hingga ajal menjemputnya.

Lima tahun yang lalu, tepatnya akhir tahun 1997 aku berpacaran dengan seorang pria bernama Fahmi. Karena tidak mampu menahan gejolak birahi yang meledak-ledak, kapan pun ada kesempatan kami selalu melakukan apa yang seharusnya dihindari. Dan akhirnya aku hamil yang membuatku kalang kabut. Celakanya lagi, pacar yang selama ini kupuja-puja pergi begitu saja setelah mengetahui kondisiku.

Sebagai seorang gadis yang dibesarkan di kota kecil, tepatnya di Pekanbaru, Riau, aku masih memiliki pemikiran yang cukup murni. Dalam kondisi panik seperti itu, akal sehatku masih bermain. Aku tidak ingin menggugurkan bayi di dalam kandunganku. Terlebih aku merasa, aku melakukan perbuatan terkutuk itu atas dasar cinta dan kasih sayang. Lalu, mengapa aku harus menggugurkannya.

Sampai akhirnya aku mendapat akal cukup jitu. Aku harus bisa mendapatkan seorang pendamping baru sebelum keluargaku mengetahuinya. Dan sungguh sangat menyenangkan ketika seorang pria datang ke rumahku dan mengaku ingin mencari tempat tinggal. Kebetulan, orang-tuaku memang mempunyai beberapa rumah untuk dikontrakkan. Dia seorang pria yang tampan, bahkan lebih tampan dibanding Fahmi.

Namanya Andi. Dia bekerja di sebuah perusahaan besar di yang kantor pusatnya di Jakarta. Kebetulan saat itu dia ditugaskan di Pekanbaru selama satu tahun. Waktu yang cukup panjang untuk menyusun strategi, itu yang ada di dalam pikiran aku saat itu. Dan benar saja, Andi sangat senang aku ajak bergaul. Bahkan bila ingin bepergian ke suatu tempat yang dia belum tahu, dia selalu meminta pertolonganku.

Mungkin karena Andi adalah pemuda yang tampan dan memiliki jabatan cukup lumayan di perusahaannya, membuat kedua orangtuaku sangat senang melihat kedekatanku dengannya. Dan jauh di dalam lubuk hatiku, aku mulai menyukainya. Bukan saja karena kelebihan-kelebihan yang dia miliki, melainkan juga karena kedewasaan dan kelembutannya. Namun, yang membuat aku sangat bingung adalah, meski kami kerap jalan berdua, tampaknya dia sama sekali tidak berminat padaku.

KAWIN SANDIWARA--Namun aku tidak hilang akal. Setelah dua bulan dia tinggal di rumah kontrakan milik orangtuaku dan pada saat itu perutku belum menunjukkan tanda-tanda kehamilan, suatu malam aku meraung-raung di kamar. Tentu saja ulahku itu membuat keluargaku bingung. Dan setelah berkali-kali mereka bertanya, barulah aku mengatakan bahwa hubunganku dengan Andi sudah terlanjur jauh. “Lalu,” teriak Ayahku dengan suara menggelegar.

Saat aku menjawab bahwa aku sedang hamil, Ayahku langsung menampar wajahku. Namun rasa sakit tak kurasakan, karena hal yang paling menyakitkan adalah saat ditinggal Fahmi dan saat harus mengorbankan Andi, pria baik hati itu. Singkat kata, Ayahku langsung mendatangi rumah kontrakan Andi dan menuntut dia bertanggung-jawab. Seperti yang sudah kuduga, Andi bersikeras mengatakan bahwa dia tidak pernah menyentuhku.

Sebaliknya, aku sangat mengenal watak Ayahku yang keras. Dia tidak akan berhenti sebelum permintaannya diluluskan. Berkali-kali Andi menemuiku dan menanyakan apa yang terjadi sebenarnya, namun aku jawab dengan sikap membungkam. Akhirnya, di hadapan keluargaku Andi mengatakan akan menikahiku dengan satu syarat. Pada saat anakku lahir, harus ada tes darah untuk membuktikan benar atau tidak dialah ayah bayi yang sedang kukandung itu.

Saat itu timbul ketakutan yang teramat sangat di dalam diriku, karena sebelum anak itu dilahirkan pun aku tahu pasti Andi benar. Singkat cerita, kami menikah pada Februari 1998 dengan pesta yang cukup meriah. Maklum, ayahku adalah seorang pengusaha batako cukup yang cukup kaya. Sehari setelah melangsungkan pernikahan, suami boneka itu meninggalkanku. Sebenarnya ada rasa pedih yang bermain-main di relung kalbuku, karena bagaimana pun Andi adalah pria yang sangat baik. Bahkan mungkin aku sudah mulai jatuh cinta padanya.

Dan tampaknya Ayahku sudah mulai menyadari bahwa yang salah sebenarnya bukan Andi, melainkan putrinya sendiri. Diam-diam Ayah menanyakan hal itu padaku. Bahasanya yang lemah lembut membuat pertahananku runtuh juga. Tidak ada jalan lain selain memberitahu bahwa Andi tidak bersalah melainkan akulah yang memulai malapetaka itu. Dan apa yang dikatakan Ayahku sama sekali tidak terduga. Dia malah menyuruhku tetap melahirkan anak itu dan nanti setelah lahir, dia akan menyerahkanya kepada orang yang membutuhkan anak.

Aku panik, namun mungkin itu adalah pilihan terbaik. Karena kata Ayahku, dia tidak ingin nantinya dia malu dengan tuntutan Andi yang ingin tes darah. “Biar, jangan pernah kau temui dia lagi. Dan setelah melahirkan nanti, kau harus segera meninggalkan Pekanbaru. Kau harus pergi dari rumah dan mencari penghasilan untuk dirimu sendiri,” ultimatum Ayahku.

Tentu saja keputusan itu sangat berat untukku. Kalau hukumannya hanya meninggalkan rumah, mungkin aku tidak akan terpukul, tetapi menyerahkan anakku kepada orang lain, aku tidak sanggup membayangkannya. Namun apa dayaku, saat itu aku belum siap hidup sendiri, terlebih dengan perut yang mulai membesar.  Aku masih harus bergantung kepada orangtuaku. Balasannya adalah, aku harus rela kehilangan anakku. Dan, benar saja, tepatnya Agustus 1998 aku melahirkan seorang bayi perempuan mungil yang hanya bisa kutimang sesaat setelah dilahirkan. Selanjutnya, aku tidak tahu kemana mereka membawanya.

Tak tahan harus berpisah dengan bayi mungil yang belum sempat diberi nama itu, satu bulan kemudian aku pergi dari rumah, menuju Batam. Dalam hati aku berpikir, Batam cukup dekat dengan kampung halaman dan untuk mencari pekerjaan di sana cukup mudah. Namun kenyataan yang kuhadapi tak seindah yang ada di dalam bayangan. Bagaimana tidak, lapangan pekerjaan memang banyak, tetapi tidak untukku.  Karena aku tidak memiliki pengalaman apa-apa kecuali pengalaman tidur di ranjang dengan Fahmi, pria laknat itu.

PUTRIKU PERGI--Untuk pulang ke rumah atau ke kota lain, aku tidak punya cukup bekal. Dan ketika ada seorang teman kost mengajakku bekerja di sebuah rumah judi atau yang biasa disebut orang amusement, aku langsung menerimanya. Sejak itulah aku terbenam ke dunia yang sama sekali belum pernah ada di dalam bayanganku. Suatu malam, tepatnya Oktober 1998 aku bertemu dengan seorang penjudi, sebut saja namanya Raja yang tampak sangat baik. Dia sangat royal memberi tips kepada wasit yang menjaga mejanya, termasuk aku. Bila dia kebetulan main di meja yang kujaga, dalam satu malam tak kurang Rp. 200 ribu bisa kubawa pulang.

Aku sangat senang ketika dia mengajakku makan pagi saat amusement tutup. Nyatanya, dia tidak hanya sekedar mengajakku makan, melainkan juga bertandang ke rumahnya di kawasan Bengkong, Batam. Di sanalah dia melakukan perbuatan yang sebenarnya juga kuharapkan itu. Setelah itu, apa yang terjadi, dia memberiku uang Rp. 1 juta rupiah. Tentu saja aku bingung dengan apa yang dilakukannya. “Lho, bukankah kau memang biasa dibayar setelah melayani laki-laki,” tandasnya dengan wajah tidak mengerti.

Hatiku pedih mengetahui bahwa selama ini aku hanya dianggapnya pelacur. Ingin menangis, rasanya aku tidak sanggup. Sudah terlalu banyak air mata yang kutumpahkan. Saat ditinggal Fahmi, membohongi Andi, diusir Ayahku, dan terutama saat kehilangan putriku yang kulahirkan dengan susah payah. Dan saat itu yang ada di dalam hatiku hanya rasa marah karena sudah begitu terhina. Aku merasa jadi alas kaki pria-pria yang pernah dekat denganku, terutama Andi.

Hari berikutnya aku tidak masuk kerja. Aku hanya berkeliaran dari satu kafe ke kafe lain dan dari satu amusement ke amusement lain. Tujuanku hanya satu, menggoda pria-pria yang tertarik dengan kemolekan tubuhku. Sasaranku bukan hanya pria hidung belang lokal, tetapi juga apek-apek (kakek-kakek bahasa China –red) yang kalau membayar wanita penjaja cinta dengan dolar Singapura yang kursnya lumayan besar.

Dari penghasilan sebagai wanita pemuas ranjang selama tiga tahun, sejak akhir tahun 1998 hingga awal tahun 2003, aku manfaatkan untuk mencicil rumah di bilangan Nagoya. Aku berpikir dengan memiliki rumah dan uang banyak, aku bisa mengambil kembali anakku dari tangan orang yang mengadopsinya. Dan kini setelah begitu banyak pria yang kulayani, aku ingin berhenti. Terlebih kini aku sudah memiliki modal cukup untuk membuka usaha yang lebih baik.

Namun saat aku pulang ke Pekanbaru, aku mendengar kabar yang membuatku menangis pedih. Anakku yang ternyata diberi nama Dhira itu sudah berpulang ke pangkuan Illahi. Dalam usia tiga tahun, Dhira meninggal karena panas tinggi. Untungnya aku masih mengetahui di mana makamnya karena ibu angkatnya ingin kami sekeluarga, terutama aku tidak lagi mengharapkan apa yang sudah tidak bisa diharapkan.

Dalam diam, aku bersimpuh di hadapan Tuhan, meminta ampun dan menyesali apa yang sudah kulakukan selama ini. Dan kalau boleh berharap, aku juga ingin bersimpuh di kaki Andi untuk memohon maafnya karena telah menyebarkan fitnah untuknya. *diceritakan Anissa di Batam kepada Rayu

=> Rilexo
=> Cerbung
=> Noji
=> Cinexo
=> Etalase
=> Gaul
=> Kelambu
=> Exolusi
=> Amor
=> Mbak Dona
=> Horoskop
=> Poster
=>
Bintang Exo
Free Web Site Counter

hubungi redaksi - webmaster - pasang iklan
Copyright 2004 exotica23.tk (pt angkasa media utama) All Rights Reserved

Hosted by www.Geocities.ws

1