|
MENIKAHI ‘SUAMI BONEKA’
Perasaan marah pada diri sendiri, setelah memaksa
seorang pria tak bersalah menikahiku saat hamil, membawaku terjun ke
dunia yang sama sekali hitam. Menjadi wanita pemuas ranjang pria
hidung belang, berkeliaran di tempat-tempat hiburan malam, dan tidak
memperdulikan anak yang sudah lahir dari rahimku sendiri hingga ajal
menjemputnya.
Lima tahun yang lalu, tepatnya akhir tahun 1997 aku
berpacaran dengan seorang pria bernama Fahmi. Karena tidak mampu
menahan gejolak birahi yang meledak-ledak, kapan pun ada kesempatan
kami selalu melakukan apa yang seharusnya dihindari. Dan akhirnya
aku hamil yang membuatku kalang kabut. Celakanya lagi, pacar yang
selama ini kupuja-puja pergi begitu saja setelah mengetahui
kondisiku.
Sebagai
seorang gadis yang dibesarkan di kota kecil, tepatnya di Pekanbaru,
Riau, aku masih memiliki pemikiran yang cukup murni. Dalam kondisi
panik seperti itu, akal sehatku masih bermain. Aku tidak ingin
menggugurkan bayi di dalam kandunganku. Terlebih aku merasa, aku
melakukan perbuatan terkutuk itu atas dasar cinta dan kasih sayang.
Lalu, mengapa aku harus menggugurkannya.
Sampai akhirnya aku mendapat akal cukup jitu. Aku
harus bisa mendapatkan seorang pendamping baru sebelum keluargaku
mengetahuinya. Dan sungguh sangat menyenangkan ketika seorang pria
datang ke rumahku dan mengaku ingin mencari tempat tinggal.
Kebetulan, orang-tuaku memang mempunyai beberapa rumah untuk
dikontrakkan. Dia seorang pria yang tampan, bahkan lebih tampan
dibanding Fahmi.
Namanya Andi. Dia bekerja di sebuah perusahaan besar
di yang kantor pusatnya di Jakarta. Kebetulan saat itu dia
ditugaskan di Pekanbaru selama satu tahun. Waktu yang cukup panjang
untuk menyusun strategi, itu yang ada di dalam pikiran aku saat itu.
Dan benar saja, Andi sangat senang aku ajak bergaul. Bahkan bila
ingin bepergian ke suatu tempat yang dia belum tahu, dia selalu
meminta pertolonganku.
Mungkin karena Andi adalah pemuda yang tampan dan
memiliki jabatan cukup lumayan di perusahaannya, membuat kedua
orangtuaku sangat senang melihat kedekatanku dengannya. Dan jauh di
dalam lubuk hatiku, aku mulai menyukainya. Bukan saja karena
kelebihan-kelebihan yang dia miliki, melainkan juga karena
kedewasaan dan kelembutannya. Namun, yang membuat aku sangat bingung
adalah, meski kami kerap jalan berdua, tampaknya dia sama sekali
tidak berminat padaku.
KAWIN
SANDIWARA--Namun aku tidak hilang akal. Setelah dua bulan dia
tinggal di rumah kontrakan milik orangtuaku dan pada saat itu
perutku belum menunjukkan tanda-tanda kehamilan, suatu malam aku
meraung-raung di kamar. Tentu saja ulahku itu membuat keluargaku
bingung. Dan setelah berkali-kali mereka bertanya, barulah aku
mengatakan bahwa hubunganku dengan Andi sudah terlanjur jauh. “Lalu,”
teriak Ayahku dengan suara menggelegar.
Saat aku menjawab bahwa aku sedang hamil, Ayahku
langsung menampar wajahku. Namun rasa sakit tak kurasakan, karena
hal yang paling menyakitkan adalah saat ditinggal Fahmi dan saat
harus mengorbankan Andi, pria baik hati itu. Singkat kata, Ayahku
langsung mendatangi rumah kontrakan Andi dan menuntut dia
bertanggung-jawab. Seperti yang sudah kuduga, Andi bersikeras
mengatakan bahwa dia tidak pernah menyentuhku.
Sebaliknya, aku sangat mengenal watak Ayahku yang
keras. Dia tidak akan berhenti sebelum permintaannya diluluskan.
Berkali-kali Andi menemuiku dan menanyakan apa yang terjadi
sebenarnya, namun aku jawab dengan sikap membungkam. Akhirnya, di
hadapan keluargaku Andi mengatakan akan menikahiku dengan satu
syarat. Pada saat anakku lahir, harus ada tes darah untuk
membuktikan benar atau tidak dialah ayah bayi yang sedang kukandung
itu.
Saat itu timbul ketakutan yang teramat sangat di
dalam diriku, karena sebelum anak itu dilahirkan pun aku tahu pasti
Andi benar. Singkat cerita, kami menikah pada Februari 1998 dengan
pesta yang cukup meriah. Maklum, ayahku adalah seorang pengusaha
batako cukup yang cukup kaya. Sehari setelah melangsungkan
pernikahan, suami boneka itu meninggalkanku. Sebenarnya ada rasa
pedih yang bermain-main di relung kalbuku, karena bagaimana pun Andi
adalah pria yang sangat baik. Bahkan mungkin aku sudah mulai jatuh
cinta padanya.
Dan tampaknya Ayahku sudah
mulai menyadari bahwa yang salah sebenarnya bukan Andi, melainkan
putrinya sendiri. Diam-diam Ayah menanyakan hal itu padaku.
Bahasanya yang lemah lembut membuat pertahananku runtuh juga. Tidak
ada jalan lain selain memberitahu bahwa Andi tidak bersalah
melainkan akulah yang memulai malapetaka itu. Dan apa yang dikatakan
Ayahku sama sekali tidak terduga. Dia malah menyuruhku tetap
melahirkan anak itu dan nanti setelah lahir, dia akan menyerahkanya
kepada orang yang membutuhkan anak.
Aku panik, namun mungkin
itu adalah pilihan terbaik. Karena kata Ayahku, dia tidak ingin
nantinya dia malu dengan tuntutan Andi yang ingin tes darah. “Biar,
jangan pernah kau temui dia lagi. Dan setelah melahirkan nanti, kau
harus segera meninggalkan Pekanbaru. Kau harus pergi dari rumah dan
mencari penghasilan untuk dirimu sendiri,” ultimatum Ayahku.
Tentu saja keputusan itu
sangat berat untukku. Kalau hukumannya hanya meninggalkan rumah,
mungkin aku tidak akan terpukul, tetapi menyerahkan anakku kepada
orang lain, aku tidak sanggup membayangkannya. Namun apa dayaku,
saat itu aku belum siap hidup sendiri, terlebih dengan perut yang
mulai membesar. Aku masih harus bergantung kepada orangtuaku.
Balasannya adalah, aku harus rela kehilangan anakku. Dan, benar saja,
tepatnya Agustus 1998 aku melahirkan seorang bayi perempuan mungil
yang hanya bisa kutimang sesaat setelah dilahirkan. Selanjutnya, aku
tidak tahu kemana mereka membawanya.
Tak tahan harus berpisah
dengan bayi mungil yang belum sempat diberi nama itu, satu bulan
kemudian aku pergi dari rumah, menuju Batam. Dalam hati aku berpikir,
Batam cukup dekat dengan kampung halaman dan untuk mencari pekerjaan
di sana cukup mudah. Namun kenyataan yang kuhadapi tak seindah yang
ada di dalam bayangan. Bagaimana tidak, lapangan pekerjaan memang
banyak, tetapi tidak untukku. Karena aku tidak memiliki pengalaman
apa-apa kecuali pengalaman tidur di ranjang dengan Fahmi, pria
laknat itu.
PUTRIKU PERGI--Untuk pulang ke rumah atau
ke kota lain, aku tidak punya cukup bekal. Dan ketika ada seorang
teman kost mengajakku bekerja di sebuah rumah judi atau yang biasa
disebut orang amusement, aku langsung menerimanya. Sejak itulah aku
terbenam ke dunia yang sama sekali belum pernah ada di dalam
bayanganku. Suatu malam, tepatnya Oktober 1998 aku bertemu dengan
seorang penjudi, sebut saja namanya Raja yang tampak sangat baik.
Dia sangat royal memberi tips kepada wasit yang menjaga mejanya,
termasuk aku. Bila dia kebetulan main di meja yang kujaga, dalam
satu malam tak kurang Rp. 200 ribu bisa kubawa pulang.
Aku sangat senang ketika
dia mengajakku makan pagi saat amusement tutup. Nyatanya, dia tidak
hanya sekedar mengajakku makan, melainkan juga bertandang ke
rumahnya di kawasan Bengkong, Batam. Di sanalah dia melakukan
perbuatan yang sebenarnya juga kuharapkan itu. Setelah itu, apa yang
terjadi, dia memberiku uang Rp. 1 juta rupiah. Tentu saja aku
bingung dengan apa yang dilakukannya. “Lho, bukankah kau memang
biasa dibayar setelah melayani laki-laki,” tandasnya dengan wajah
tidak mengerti.
Hatiku pedih mengetahui
bahwa selama ini aku hanya dianggapnya pelacur. Ingin menangis,
rasanya aku tidak sanggup. Sudah terlalu banyak air mata yang
kutumpahkan. Saat ditinggal Fahmi, membohongi Andi, diusir Ayahku,
dan terutama saat kehilangan putriku yang kulahirkan dengan susah
payah. Dan saat itu yang ada di dalam hatiku hanya rasa marah karena
sudah begitu terhina. Aku merasa jadi alas kaki pria-pria yang
pernah dekat denganku, terutama Andi.
Hari berikutnya aku tidak
masuk kerja. Aku hanya berkeliaran dari satu kafe ke kafe lain dan
dari satu amusement ke amusement lain. Tujuanku hanya satu, menggoda
pria-pria yang tertarik dengan kemolekan tubuhku. Sasaranku bukan
hanya pria hidung belang lokal, tetapi juga apek-apek (kakek-kakek
bahasa China –red) yang kalau membayar wanita penjaja cinta dengan
dolar Singapura yang kursnya lumayan besar.
Dari penghasilan sebagai
wanita pemuas ranjang selama tiga tahun, sejak akhir tahun 1998
hingga awal tahun 2003, aku manfaatkan untuk mencicil rumah di
bilangan Nagoya. Aku berpikir dengan memiliki rumah dan uang banyak,
aku bisa mengambil kembali anakku dari tangan orang yang
mengadopsinya. Dan kini setelah begitu banyak pria yang kulayani,
aku ingin berhenti. Terlebih kini aku sudah memiliki modal cukup
untuk membuka usaha yang lebih baik.
Namun saat aku pulang ke
Pekanbaru, aku mendengar kabar yang membuatku menangis pedih. Anakku
yang ternyata diberi nama Dhira itu sudah berpulang ke pangkuan
Illahi. Dalam usia tiga tahun, Dhira meninggal karena panas tinggi.
Untungnya aku masih mengetahui di mana makamnya karena ibu angkatnya
ingin kami sekeluarga, terutama aku tidak lagi mengharapkan apa yang
sudah tidak bisa diharapkan.
Dalam diam, aku bersimpuh
di hadapan Tuhan, meminta ampun dan menyesali apa yang sudah
kulakukan selama ini. Dan kalau boleh berharap, aku juga ingin
bersimpuh di kaki Andi untuk memohon maafnya karena telah
menyebarkan fitnah untuknya. *diceritakan Anissa di Batam kepada
Rayu
|