Air
susu dibalas air tuba
PECANDU
LEXOTAN BANTAI TETANGGA
Oleh : Zul
Dengan
mata kepala sendiri, Tina menyaksikan suaminya dibantai
tetangga. Wanita beranak satu dan tengah hamil tua itu hanya bisa
meratap sedih mengiringi ‘hengkang’nya nyawa sang suami akibat
tikaman samurai dan keprukan batu.
Sekitar dua bulan lalu Untung Wahyudi (22) mengajak Dede Palaska
(27) dan keluarganya tinggal satu rumah di bedeng kontrakan di
kawasan Pedongkelan, Pulogadung, Jakarta Timur. Waktu itu, Untung
yang kerja serabutan merasa iba melihat Dede. Saat itu Dede dan
istrinya yang tengah menyusui anak mereka yang berusia enam bulan
sedang berteduh di emperan Gelanggang Remaja Kuningan, Jakarta
Selatan.
Ajakan itu mendapat sambutan hangat keluarga Dede. Mereka kemudian
tinggal berdekatan. Keluarga Untung di lantai bawah, Dede dan anak
istrinya di lantai atas rumah petak terbuat dari kayu dan seng itu.
Dua keluarga itu hidup rukun dan saling membantu. Jika Untung ada ‘proyek’,
dia sering mengajak Dede, begitu sebaliknya.
Hanya
saja dua kepala rumah tangga ini suka mabuk-mabukan. Kalau tidak
nenggak minuman keras, mereka biasa mengkonsumsi pil koplo sejenis
lexotan. Gara-gara lexotan itulah, akhirnya dua sekawan ini saling
tersinggung. Buntutnya, Dede naik pitam dan membantai Untung.
Perasaan sedih nampaknya
terus membayangi Tina (25), istri Untung. Bayangan suaminya dihabisi
secara keji oleh Dede di depan matanya sendiri terus mengusik
tidurnya. “Dede itu benar-benar orang yang tidak berprikemanusiaan,”
katanya pada Exo yang menemuinya Jumat siang (31/10) lalu.
Padahal, saat suaminya
sudah sekarat, ia sempat memohon dihadapan Dede agar tidak membunuh
suaminya. Alasannya, ia sedang mengandung tiga bulan dan anak
pertamanya butuh biaya dari Untung. Nampaknya Dede tak mau peduli
dan terus menghujamkan samurainya.
Kurang puas dengan
perbuatan sadisnya, untung keluar rumah dan mengambil sebuah batu.
Sejurus kemudian menghantam kepala Untung hingga tewas. Tina tak
mampu berbuat apa-apa.
Peristiwa naas itu berawal
pada Rabu, (29/10) sekitar pukul dua siang. Dede dan Untung saat itu,
berniat berangkat bersama dari kontrakannya. Dede saat itu, mengajak
Untung bekerja di kawasan Casablanca, Jakarta Selatan. Namun Untung
menolak ajakan itu.
Menjelang petang, Dede
pulang sendiri dalam keadaan mabuk. Tina yang sedang cemas menunggu
suaminya pulang tidak berani menanyakan kepada teman suaminya itu.
“Dede itu, kalau sedang mabuk suka ‘resek’. Saya gak berani
tanya sama dia,” kata Tina.
Sekitar pukul delapan
malam, Dede keluar rumah. Pria itu baru kembali sekitar pukul
sepuluh. Karena penasaran, Tina memberanikan diri menanyakan
keberadaan suaminya kepada Dede. Tapi sayang! Dede menjawab dengan
ketus. “Sudah, relakan saja, kalau sampai besok, belum pulang
berarti dia udah mati. Kalau nggak, cari aja ke Polsek,” kata Tina
menirukan jawaban Dede.
Melihat Dede tak
bersahabat, Tina langsung masuk rumah. Baru menjelang subuh (Kamis
30/10) Untung pulang. Menurut Tina, saat itu suaminya tampak sangat
lelah. Kepada istrinya Untung beralasan butuh istrirahat karena
kerja keras hingga malam hari di Stasiun Kereta Senen. “Biasa, dia
suka jadi kuli panggul di Senen,” terang Tina.
DIHANTAM BATU-- Esok
paginya, tiba-tiba Dede mendatangi kamar suaminya yang sedang tidur
lelap. Tini waktu itu, sempat memperingatkan Dede agar tidak
mengganggu suaminya. Tapi kelihatanya Dede tidak perduli. Ia terus
saja masuk kamar membangunkan suaminya sedang tidur pulas itu.
Saat bangun Untung
terlihat marah-marah. Pria itu tersinggung karena merasa ada orang
yang menginjak-injak kepalanya. “Siapa sih yang nginjak-injak kepala
gua tadi,” kata Tina menirukan ucapan suaminya. Ditanya seperti itu,
Tina diam saja. “Kamu ya yang injak kepala saya,” hardik Untung
kepada Tina.
Karena tidak melakukan
perbuatan itu, lalu Tina terpaksa memberitahu bahwa yang
membangunkannya adalah Dede. Mendengar itu, Untung menemui Dede di
kontrakannya. Tak lama kemusian mereka bertengkar hebat. Lalu
terdengar suara orang berkelahi. Saat itu kata Tina, suaminya tidak
membawa apa-apa. “Dia nyamperin Dede cuman pake kaos oblong doang,”
ungkap Tina.
Tak lama kemudian suaminya
turun dari rumah Dede dengan mulut bersimbah darah. Kata Tina, mulut
suaminya robek, karena dipukuli Dede. Saat itu Untung menyuruh Tina,
membeli plester pembalut luka di warung.
Ketika pulang, Dede dan
Untung berkelahi lagi. Dede saat itu membawa sebilah semurai
sepanjang satu meter. Disaksikan Tina, dengan buas dan sadis Dede
menghujamkan semurai itu, tepat di ulu hati Untung. Tak puas
menusuk perut Untung, Dede menghantam kepala kepala korban dengan
batu yang diambil di depan rumah.
Untung tersungkur di
lantai rumah kontrakan. Saat itu, Tina tidak bisa berbuat apa-apa.
Ia hanya bisa menangis dan memohon sambil merunduk kepalanya
dihadapan Dede. Namun, permohonan sia-sia. Permohonan Tina tidak
digubris.
Di saat genting itu, Tina
melihat Ipan (25) yang juga teman dekat suaminya. Nita Tina ingin
minta tolong langsung buyar lantaran tanpa diduga, Ipan juga ikut
menghajar suaminya dengan kursi kayu. Ipan sempat beberapa kali
menghajar tubuh korban dengan kursi.
Ketika Untung yang sudah
sekarat bergerak-gerak menahan sakit, Dede kembali menghantamkan
batu besar itu hingga korban tidak bergerak lagi. Mengetahui
korbannya tewas, Dede kabur. “Dia itu benar-benar kejam,” kata Tina
saat di temui Exc di kantor Mapolsek Pulogadung, Jumat (31/10) pekan
lalu.
Di hadapan petugas,
Tina sempat bersitegang dengan Dede yang mengaku sendirian
menghabisi nyawa temannya. “Suami saya dibunuh Dede dan Ipan,” kata
Tina. Namun, pernyataan Tina itu dibantah pelaku. “Saya sendiri yang
membunuh Untung,” kata Dede.
Penampilan Dede
terlihat biasa-biasa saja. “Saya membunuh karena membela diri,”
katanya. Saat itu, kata Dede ia sedang menggendong anaknya di depan
kontrakan yang disewanya. Tiba-tiba, Untung menghampiri dengan wajah
kesal tak bersahabat. “Kamu terlalu menginjak-injak kepala saya,”
kata Dede menirukan pernyataan Untung.
Tapi, Dede tak merasa berbuat itu meski mengaku telah membangunkan
Untung karena disuruh temannya yang mengajak main kartu. Namun,
Dede menolak, dengan alasan tak biasa main kartu. Karena mereka
kurang satu orang, akhirnya Dede memanggil Untung.
Lantaran Untung sedang tidur pulas dan dipangil tidak menjawab. Lalu
Dede membangunkannya dengan kaki. “Saya berbuat itu, karena tahu
Untung masih mabok lexotan. Saya nggak nginjak-injak kepalanya,
cuman disenggol pake kaki doang,” kata Dede.
Pemuda asal Lubuk Linggau, Sumatra Selatan ini, mengaku berprofesi
sehari-hari sebagai pedagang teh botol di Lapangan Banteng, Jakarta
Pusat. Pernyataan ini, berbeda dengan keterangan Tina Yang
mengatakan Dede itu tidak jelas pekerjaannya. Ia juga selalu bikin
masalah di lingkungan tempat tinggal mereka.
HANDUK
KUNING--Menurut
Kanit Reskrim, Polsek Pulogadung, IPTU. MA, Triza, pelaku membunuh
diduga karena korban tersinggung ketika pelaku membangunkannya.
Pelaku diduga terpengaruh pil lexotan yang biasa diminumnya. Pelaku
menghabisi nyawa korban, dengan cara menusuk perut, tepat di ulu
hati. Pelaku juga menghantam kepala korban dengan pecahan semen
beton. Setelah menghabisi korban, pelaku langsung melarikan diri.
Jajaran Polsek Pulogadung
berhasil menangkap pelaku ketika ia sedang main dingdong di Pasar
Senen, Jakarta Pusat pada Jumat ( 01/11), pukul dua siang.
Informasi itu di dapat dari penjelasan isteri korban.
Ketika dipergoki, pelaku
sempat menghindar. Namun, polisi berhasil menangkap tanpa perlawanan.
Polsek Pulogadung telah menyita barang bukti, berupa sebilah semurai
dan batu beton. Menurut Triza, pelaku bisa dijerat pasal 351 (3)
penganiayaan yang menyebabkan kematian dengan ancaman hukuman paling
lama tujuh tahun.
Ria (41), ibu kandung
korban mengaku sempat mimpi diberi handuk kuning dalam jumlah banyak.
Ternyata mimpi itu sebagai pertanda di rumah anknya dipasang
bendera kuning tanda kematian. Ria berjanji akan mengurus keluarga
Untung sesuai kemampuannya.*
>>>Baca
Juga :
INGIN CARI BERKAH MALAH JADI KORBAN...
>>>Baca Juga :
HABIS NYIMENG DIGARAP DI KAMAR MANDI... |