sperma
muncrat di atas Perut
KULI
BANGUNAN GAGAHI ANAK TETANGGA
Oleh : Budi
Baru tiga hari pisah dari istri,
seorang kuli bangunan tergiur melihat kemontokan bocah anak tetangga.
Korban dikelabui dan diseret ke semak belukar. Pria tak kuat menahan
birahi itu menuntaskan hasratnya di atas perut korban.
Dalam kesehariannya,
Samsudin (22) berprofesi sebagai kuli bangunan. Akhir bulan
September lalu, warga Pamulang, Tangerang ini mendapatkan order
merenovasi rumah di Jalan Rambutan RT 04/06, Kampung Baru, Pancoran
Mas, Depok.
Lantaran cukup jauh dari
rumahnya, Samsudin terpaksa menginap di tempat kerjanya. Sesuai
perjanjian, dia dapat honor setiap minggu, pria itu memutuskan
pulang ke rumah setelah dapat gaji mingguan. Namun baru tiga hari
bekerja, dia tak kuat menahan amuk birahi.
Hasrat lelakinya itu
dituntaskan dengan memperkosa seorang bocah yang tinggal tak jauh
dari tempatnya bekerja. Kedoknya terbongkar setelah Melati (10) –nama
disamarkan--, korban perkosaan itu mengaku terus terang pada Yusup
(46), orang tuanya.
Kisah bejat itu berawal
ketika Rabu siang (01/10) lalu. Kala itu waktu baru menunjukkan
pukul 12.30 Wib, Samsudin baru saja istirahat siang. Usai makan
siang, sambil menikmati mangga muda, dia istirahat di depan rumah
yang sedang direnovasinya. Tiba-tiba matanya tertuju pada Melati
yang tengah main sendirian tidak jauh dari tempatnya.
Meskipun baru bekerja di
tempat itu, namun Samsudin sudah akrab dengan keluarga Melati.
Maklum, rumah tinggal Melati tak jauh dari tempatnya berkerja.
Sesekali, dia sempat ngobrol dengan Yusup, terkadang juga dia mampir
ke rumah orang tua Melati.
Entah setan mana yang
melintas, tiba-tiba libido Samsudin meninggi tatkala melihat Melati.
Sejurus kemudian ia beranjak menghampiri bocah itu. Dalihnya minta
diambilkan garam dapur untuk makan mangga muda.
Yusup, saat itu tak
menaruh curiga terhadap keakraban Samsudin dengan putrinya tersebut.
Dia hanya berpikir, rasa kasih sayang Samsudin itu layaknya orang
tua terhadap anak.
Setelah mendapatkan garam
pemberian Melati, kuli bangunan itu pun kembali menikmati potongan
mangga muda sambil menerawang memikirkan sang istri yang sudah tiga
hari ditinggalkannya. Otaknya terus diputar. Akhirnya dia tersenyum,
seperti mendapatkan jalan keluar.
Samsudin beranjak dari
tempat duduknya dan menghampiri gadis yang baru duduk di klas empat
SD ini. Suasana siang itu terlihat lumayan sepi. Tanpa banyak cing-cong,
tiba-tiba Samsudin menarik tubuh Melati. Sejurus kemudian pria itu
langsung memangku calon korbannya dan membawanya ke semak belukar di
samping rumah yang sedang direnovasinya.
Mulanya Melati hanya diam
saat digendong Samsudin. Namun ketika sampai di semak-semak, dia
mulai meronta. Apalagi setengah memaksa Samsudin membuka celana
dalamnya. Bocah malang itu menjerit. Namun dengan sigap mulut
mungilnya dibekap Samsudin.
Dengan beringas, Samsudin
menggerayangi ‘isi’ di balik celana dalam korban. Karena tenaga yang
kalah jauh itulah akhirnya Melati hanya bisa pasrah sambil terus
berusaha meronta.
Samsudin yang sudah
terlanjur nafsu, kemudian menciumi pipi, tubuh, serta kemaluan
Melati. Setelah puas menciumi, dia langsung memperkosa korban. Baru
setengah jalan, tanda-tanda orgasme mulai nampak.
Merasa sadar spermanya
akan keluar, Samsudin segera mencabut penisnya. Akhirnya sperma pria
itu muncrat di perut korban yang tidak mengerti apa yang baru saja
terjadi. Merasa puas, Samsudin segera menyuruh Melati pergi sambil
memberikan ancaman dengan pisau agar korban tidak melaporkan hal ini
kepada siapapun. “Awas kamu kalau memberi tahu pada orang-orang,
akan saya bunuh,” ujar Samsudin saat itu.
Agar lebih aman, Samsudin
merayu gadis malang itu dengan memberikan uang Rp. 3000,-. maksudnya
agar korban mau tutup mulut. Tapi ternyata, harapannya nihil.
Setelah lepas dari tangan Samsudin, Melati berlari sambil menangis.
Sesampainya di rumah, dia menceritakan kejadian yang baru dialaminya
pada ayahnya.
Mendengar cerita anaknya,
Yusup selaku orang tua langsung naik pitam. Tanpa pikir panjang, ia
langsung mendatangi Samsudin. Awalnya, pelaku tak mengakui
perbuatannya, walau bogem mentah dari Yusup telah beberapa kali
mendarat di wajahnya.
Keributan Yusup vs
Samsudin menarik perhatian warga. Beramai-ramai mereka mendatangi
arah pertengkaran itu. Samsudin akhirnya jadi sansak hidup. Salah
seorang warga menyarankan agar urusan tersebut diselesaikan di rumah
ketua RW setempat. Setelah mendapat diinterograsi ketua RW dan
beberapa warga, akhirnya Samsudin mau mengakui perbuatannya.
“Sebelumnya kami telah
membawa Melati ke rumah sakit untuk dilakukan visum, agar semuanya
jelas. Ternyata, dari hasil visum, semua itu bisa dibuktikan, dia
pun tak bisa mengelak,” ujar Yusup menjelaskan.
Akhirnya, Samsudin di
gelandang ke Polsek Pancoran Mas Depok, guna pengusutan lebih lanjut.
Untuk mempertanggung jawabkan perbuatannya, laki-laki asal Pondok
Cabe Ilir, Pamulang ini kini mendekam di dalam penjara.
Dalam pengakuannya kepada
Exo yang menemuinya Sabtu siang (04/10), dirinya melakukan hal
tersebut karena merasa tak kuat menahan hawa nafsu yang menyerangnya.
Namun dia juga mengaku khilaf, telah melampiaskan urusan bawah perut
tersebut kepada bocah anak tetangga.
Akibat ulah bejatnya, ia
merasa malu pada istri dan keluarganya. Hingga kini ia sama sekali
belum memberitahuakan kabar tentang keberadaannya pada istrinya.
”Saya betul-betul malu. Makanya, saya belum memberitahu istri dan
keluarga saya,” katanya lagi sambil menundukan kepalanya.
AKP Antonius Sudjito, Kapolsek Pancoran Mas, Depok yang ditemui Exo
Sabtu (04/10), membenarkan kejadian tersebut. Menurutnya dalam
pemeriksaannya tersangka mengakui semua perbuatannya.
Ditambahkan bahwa berdasarkan hasil visum dari pihak rumah sakit,
selaput dara korban belum mengalami kerusakan. Hanya pada bagian
bibir kemaluannya saja yang mengalami lecet. “Karena, berdasarkan
pengakuan tersangka pun, dia belum memasukan seluruh alat kelaminnya,
jadi baru setengah sudah KO,” kata Antonius sambil tersenyum.
Untuk mempertanggung jawabkan semua perbuatannya itu, menurutnya
Samsudin bisa dikenakan pasal 295 KUHP, tentang perkosaan, dengan
ancaman hukuman maksimal 7 tahun penjara.
Saryono, Ketua RW 06 , Kampung Baru, Pancoran Mas Depok, terlihat
geram. Menurutnya Samsudin adalah orang tak tahu diri. Baru tiga
malam bekerja di wilayahnya, sudah membuat aib.
Yang membuat Saryono lebih geram lagi, sebelumnya tidak ada laporan
yang menyebutkan bahwa Samsudin akan tinggal sementara di
lingkungannya. “Bagaimana saya tidak kesal, boro-boro untuk
menghargai jabatan saya, eh ini malah bikin ulah,”terang Saryono
kesal.
Menurut Saryono, selama 1 tahun kepemimpinannya di RW 06,
lingkungannya selalu aman. “Selama saya menjabat RW, baru ada dua
kasus seperti ini, dan semua pelakunya adalah pendatang,”tambahnya
lagi.
Jika sudah begini, Saryono merasa mempunyai beban moral yang harus
ditanggungnya, terhadap warga yang mengalami hal seperti itu.”Muka
saya mau di taruh dimana ? biar bagaimanapun saya merasa malu karena
kondisi lingkungan yang dicemari oleh aib-aib yang justru dilakukan
oleh para pendatang,”kata Saryono.*
***
Melati (10)
DIANCAM
PISAU
Oleh : Budi
Keluguan yang terpancar di wajah Melati berubah murung
ketika dirinya mendapat perlakuan yang biadab dari Samsudin. Dengan
polos pula, dia menceritakan peristiwa yang menimpanya kepada Exo
saat ditemui Jumat sore (3/10), di rumahnya, Jalan Rambutan RT
04/06, Kampung Baru, Pancoran Mas Depok.
Menurutnya setelah
membawakan garam yang diminta Samsudin, dirinya digendong dan
langsung dibawa ke semak belukar yang lokasinya tak begitu jauh dari
rumahnya.
Keadaan sekitar kebetulan
sedang sepi, hingga tak satupun warga yang melihat aksi bejad dari
Samsudin. Meski PuMelati sudah berusaha meronta, tapi karena
tenaganya kalah jauh, akhirnya dia hanya bisa pasrah.
“Melati takut, soalnya dia
ngancam pake pisau,” terang Melati. Namun lantaran sakit pada bagian
kemaluannya, akhirnya ia menceritakan kejadian tersebut pada ayahnya.
Kini korban mengaku sangat
ketakutan jika bertemu dengan pria yang tidak dikenal. Bahkan gadis
kecil itu tidak mau sekolah lagi.*
***
M. Yusup (46)
MERASA PUAS
Oleh : Budi
Hingga kini, Yusup masih merasa
bingung dengan masa depan anak bungsunya itu. Yusup mengaku sudah
tak tahu harus berbuat apa, agar mental Melatirinya tidak terganggu.
“Setelah peristiwa itu, pasti ia masih syok, untuk menjaga agar
jiwanya tidak goncang, saya selalu memberikan nasehat kepadanya,”
kata Yusup.
Ketika ditanya apakah dirinya memiliki rasa dendam terhadap Samsudin,
Yusup tak mau berkomentar. Menurutnya, dia telah merasa puas karena
kasus tersebut telah ditangani pihak berwajib. Namun yang dia
takutkan justru ancaman dari Samsudin yang akan membunuh Melatirinya.
“Saya malah takut, setelah dia keluar dari penjara akan membunuh
anak saya. Soalnya, sebelum tertangkap ia sempat mengancam akan
membunuh Melati kalau membongkar semuanya,” sambung Yusup dengan
mimik yang sedikit khawatir.
Namun begitu, dirinya merasa tenang dengan dukungan dari warga
terutama ketua RW, yang akan menjamin bahwa Samsudin, tidak akan
berbuat hal seperti yang dikhawatirkannya. Bahkan untuk masuk ke
wilayahnya, jika keluar dari penjara nanti, Samsudin belum tentu
berani.*
|