Page 9 - al kasyfu wa tabyin
P. 9
8 al kasyfu wa tabyin
Mereka juga tidak tahu bahwa Nabi Nuh hendak membawa anaknya ke dalam perahu
tetapi anaknya menolak. Sehingga Allah menenggelamkannya dengan keadaan yang
lebih mengenaskan ketimbang tenggelamnya kaum Nabi Nuh.
Sesungguhnya Nabi SAW meminta izin kepada Allah untuk menziarahi makam
ibundanya dan memintakan ampunan kepada-Nya; maka Allah mengizinkan untuk
menziarahinya tetapi tidak memberi izin untuk memintakan ampunan kepada-Nya.
Mereka lupa bahwa Allah berfirman, “Seseorang yang berdosa tidak akan memikul dosa
orang lain. Dan sesungguhnya usahanya itu kelak akan diperlihatkan (kepadanya)”.
Siapapun yang mengira bahwa ia akan selamat dari siksa sebab ketaatan ayahnya
adalah bagai orang yang bisa kenyang (tanpa makan) dan hilang dahaga sebab ayahnya
yang makan dan minum.
Takwa kepada Allah merupakan fardu ‘ain, sehingga ketakwaan anak tidak dapat diukur
dari ketakwaan orang tuanya. Sebagaimana firman Allah, “Pada hari itu manusia lari dari
saudaranya, dan ibu bapaknya, serta istri dan anakanaknya”. Kecuali ia mendapatkan
syafaat.
Mereka lupa terhadap ucapan Nabi SAW, “Orang yang pandai adalah yang menghisab
(mengevaluasi) dirinya sendiri serta beramal untuk kehidupan sesudah kematian.
Sedangkan orang yang lemah adalah yang dirinya mengikuti hawa nafsunya serta
berharap secara berlebihan terhadap Allah SWT”.
Dan firman Allah, “Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan orang-orang yang
berhijrah dan berjihad di jalan Allah, mereka itulah orang yang mengharapkan rahmat
Aliah. Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang”.

