Page 6 - al kasyfu wa tabyin
P. 6

5   al kasyfu wa tabyin



               Suatu hari ketika mereka melihat siksa Allah yang ditangguhkan kepada mereka selama

               di dunia, maka mereka analogikan dengan siksa akhirat.


               Sebagaimana  firman  Allah,  “Dan  mereka  mengatakan  kepada  diri  mereka  sendiri,
               “Mengapa  Allah  tidak  menyiksa  kita  atas  apa  yang  kita  katakan  itu?”,  Cukuplah  bagi

               mereka  neraka  jahanam  yang  akan  mereka  masuki.  Maka  neraka  itu  seburukburuk

               tempat kembali”.


               Mereka  juga  memandang  orang-orang  mukmin  sebagaj  Orang  yang  fakir.  Mereka
               memandangnya dengan pandangan hina seraya berkata, “Orang-orang semacam inikah

               di antargakita yang diberi anugerah oleh Allah?”. Dan mereka berkata, “Sekiranya al-

               Qur’an  itu  sesuatu  yang  baik,  tentu  mereka  tidak  pantas  mendahului  kami  (beriman)
               kepadanya”.


               Urutan qiyas yang diyakini dalam hati mereka dalam perkataannya; “Allah telah berbuat

               baik dengan memberi kenikmatan duniawi kepada kita, setiap kebaikan pasti disenangi
               dan setiap hal yang disenangi adalah bersifat baik’. Padahal bukan seperti itu, bahkan

               setiap yang baik belum tentu disenangi.


               Terkadang hal-hal yang (kelihatannya) baik justru dapat menjadi sebab kerusakan bagi

               dirinya sendiri, dalam arti lain yaitu istidraj. Prasangka yang seperti di atas merupakan
               ketertipuan yang sangat jelas bagi seorang hamba terhadap Allah SWT.



               Nabi SAW bersabda, “Sesungguhnya Allah melindungi hamba-Nya yang beriman dari
               kenikmatan dunia yang dicintainya sebagaimana kalian mencegah orang yang sakit dari

               suatu. makanan dan minuman padahal mereka menyukainya” (HR. Ahmad dan Hakim).


               Orang-orang yang mempunyai penglihatan hati saat berhadapan dengan (kemewahan)

               dunia, mereka akan bersedih hatinya. Sebaliknya, ketika mereka berhadapan dengan
               kesusahan, hati mereka justru senang. Mereka_berkata, “Selamat datang syiar orang-

               orang yang shalih”.
   1   2   3   4   5   6   7   8   9   10   11