SEPAKBOLA … OH PIALA DUNIA

CREDO ergo sum (saya percaya, maka saya ada), cogito ergo sum (saya mengerti, maka saya ada). Begitulah pendapat para filsuf tentang sepakbola. Permainan itu secara resmi disebut football. Sebagian mengeja dengan fotboll, fotbal, futbol, hingga fussball.

Football disebut soccer, terutama Inggris Raya dan Amerika. Masih dengan istilah-istilah yang mengacu pada akhiran "bol" atau "bal", permainan ini juga populer dengan nama voetbol, voetbal, dan futebol. Eh, lidah Skandinavia demen menyebut bolspil atau futbalovy. Football juga dilafatkan fudbalski. Italiano kesulitan mengeja football, soccer, futebol, voetbal, apalagi fudbalski. Mereka telanjur memahami kental dengan sebutan calcio.

Apapun istilah itu-football, fotboll, fotbal, futbol, fussball, voetbol, voetbal, futebol, bolspil, futbalovy, fudbalski, soccer, calcio-pecandu sepakbola di belahan bumi manapun percaya dan mengerti bahwa sepakbola adalah permainan 22 orang; menendang, menggiring, mengejar, merebut, melompat, menyundul, dan menangkap si kulit bundar. Bisa juga disebut bellum omnium contra omnes atau semua berperang (duel) dengan segala cara untuk mencapai kemenangan.

Permainan ini membuat orang gemas, penasaran, geregetan, dan decak kagum. Namanya saja permainan, tentu saja tidak terbelenggu keteraturan. Para pemain boleh melakukan apa saja selama dalam koridor peraturan permainan yang dilandasi sikap fair play. Betapa menjemukan jika satu tim dengan wakil satu orang hanya menendang bola melulu.

Sungguh gemas ketika seorang pemain cerdik menghindari tackling dari belakang, samping atau tabrakan dari depan. Footballer membuat geregetan ketika memamerkan skill tinggi dengan berbagai variasi teknik. Satu, dua, tiga, atau bahkan enam pemain sekaligus dilewati dengan begitu mudah. Ia meliuk-liuk, melompat, men-drible bola. Dalam jarak atau sudut tertentu, ia menendang si kulit bundar ke arah gawang. Tendangan itu pun dengan berbagai variasi arah-lurus, menyusur tanah, melengkung atau membentur lawan. Sasarannya jelas; ingin memasukkan bola ke dalam gawang berukuran lebar 7,32 meter dan tinggi 2,44 meter.

Penasaran? Tentu saja, jika kepiawaian seorang pemain atau dominasi satu tim tak kunjung menghasilkan kemenangan. Dominasi permainan satu tim atas tim lain membuat pecandu bola berdecak kagum. Bukan sekadar piawai menendang bola, taktis dalam gerakan, cerdik mengatur siasat, atau pamer skill di atas rata-rata, sehingga lawan dibuat tak berdaya, seorang bintang lapangan atau man of the match masih menghibur penonton dengan gerakan-gerakan yang hanya ada dalam pertunjukan akrobat.

Ada istilah hat. Ini sebuah taktik permainan berbasis sentuhan cepat oleh dua atau tiga orang dan satu pemain tetap sebagai pengendali bola. Pada detik terakhir, pemain membuat tendangan memutar atau malah membuat salto. Penguasaan teknik pemainan demikian di atas rata-rata ala drible, freekick, wallpass, interpass, backpass atau tendangan first time sekalipun. Anda benar. Pele adalah footballer pencetus teknik hat.

Istimewa

Tim-tim sepakbola semula terpaku pada pola atau formasi 1-2-3-5 (satu penjaga gawang, dua pemain belakang, tiga gelandang, dan lima penyerang). Dalam kurun satu hingga dua dasa warsa, pola itu berkembang menjadi formasi MW  (tiga pemain belakang, empat di tengah dan tiga penyerang). Ini pun tak berumur panjang. Berurutan muncul formasi-formasi baru seperti 4-4-2, 4-2-4, 4-3-3, 4-3-1-2, 4-2-3-1, 4-5-1, hingga pola yang disebut-sebut paling revolusioner, 3-5-2.

Sebuah tim atau dua kesebelasan memainkan satu formasi tertentu atau bisa jadi kedua-duanya saling mengubah pola sesuai perkembangan di lapangan. Prinsipnya, sebuah formasi permainan didasarkan pada keunggulan dan kelemahan satu tim atas tim lain. Bukan hal aneh jika satu tim atau dua tim yang saling bertanding berkali-kali mengubah-ubah formasi itu dalam satu atau banyak pertandingan. Tentu saja, sebuah tim mempunyai pola baku.

Sebuah tim disebut-sebut mempunyai keistimewaan jika sanggup menguasai satu atau lebih pola permainan itu hingga segala taktik atau strategi lawan tak sanggup menandingi. Namun, pola-pola dasar itu bertambah istimewa dengan berbagai gaya permainan lebih khas.

Sebutlah total football ala Belanda. Total football memperagakan permainan menyerang secara simultan bak gelombang air pasang. Satu, dua, enam, sepuluh pemain sekaligus, termasuk penjaga gawang, membuat pressing begitu solid secara terus-menerus. Memang tak ada aturan baku, tetapi semua pemain bergerak, berpindah atau mengambil posisi secara otomatis. Mereka jarang salah paham, apalagi sampai berbenturan satu dengan yang lain. Pendek kata, sepakbola ala total football bak pertunjukan orkestra.

Siapa bilang total football begitu ceroboh hanya menekan dan menyerang semata-mata? Dalam filosofi total football juga mewajibkan pertahanan tangguh. Dalam menyerang, total football mendorong seluruh pemain berfungsi maksimal. Namun, mereka otomatis menjadi defender. Striker adalah defender, defender juga striker.

Gaya ini menggarisbawahi prinsip menyerang adalah pertahanan paling valid. Dalam kondisi terburuk, total football mengajarkan man to man marking dan zona marking secara ketat. Pendek kata, lawan dibuat "tercekik" atau kehilangan keleluasaan dalam bergerak.

Masih ingat dengan tim Belanda pada Piala Dunia 1974 dan 1978? Kala itu Johan Cruyff adalah "komandan" pasukan total football Belanda. Mereka menggegerkan kancah persepakbolaan dunia.

Gaya samba tak kalah istimewa. Ia diilhami oleh kelenturan badan orang-orang Brasil yang pandai menari samba--meliuk-liuk, memutar badan, dan menggoyangkan pinggul penuh keceriaan. Orang bilang, Rio (Rio de Janeiro) adalah surga samba.

Jangan pernah melupakan Pele (nama asli Edson Arantes do Nascimento) atau Ronaldo (nama asli Ronaldinho Luiz Nazario de Lima). Mereka adalah bakat-bakat pemain samba yang mewakili generasi masing-masing. Berkat keahlian bermain ala samba, Pele membuat takjub dengan gol-gol akrobatik yang memberi gelar-gelar Piala Dunia.

Ronaldo? Ah, pecandu bola pasti tak berkedip manakala menatap gaya sambanya. Ia menciptakan gol dengan meliuk-liuk, melewati lima sampai enam pemain sekaligus; tipikal Amerika Latin. Ia justru mendekati (menantang) pemain belakang sebelum mencetak gol, bukan sebaliknya yakni berusaha menghindari adangan defender.

Gaya samba sering diidentikkan lebih invidual atas skill masing-masing pemain Brasil. Dalam kalkulasi tim atau satu kesebelasan, tim nasional Brasil mendapat daulat sepakbola jogo bonito. Sepakbola indah, begitulah. Bukan hal asing jika pemain-pemain Brasil menguasai skill tinggi, variasi teknik beragam, dan tentu saja menjaga trade mark gaya samba. Tidak aneh lagi dalam gaya jogo bonito mempertontonkan seni permainan sepakbola terindah.

Juga bukan hal ganjil jika pengagum jogo bonito tak mau tahu atas hasil akhir-kemenangan atau kekalahan Brasil-asal ia terpuaskan dengan gaya main sepakbola indah itu. Jogo bonito sebenarnya bak pisau bermata dua. Hanya karena ingin memuaskan publik dunia dengan sepakbola indah, Brasil sering kalah. Cukup adil jika Brasil tampil dalam performance terbaik, sehingga jogo bonito bermuara pada kemenangan.

Amerika Latin juga melahirkan gaya tango. Jika samba identik dengan kelenturan badan, tango unggul dalam gerakan kaki. Argentina-lah pencetus permainan sepakbola ala tango. Mereka cerdik melakukan ballpossession dengan keseimbangan wallpass, interpass, backpass, hingga drible kilat dengan meliuk-liuk. Fisolofi gaya tango bukan sekadar keeping bola, tetapi mengagungkan kelihaian mengolah bola dengan akurasi tinggi.

Masih ingat aksi-aksi Diego Armando Maradona? Ia membuat Inggris kehilangan muka pada perempat final Piala Dunia 1986. Enam pemain Union Jack, termasuk penjaga gawang Peter Shilton tak kuasa merebut bola Maradona. Si Boncel men-drible bola dari belakang garis tengah hingga menceploskan si kulit bundar ke gawang. Ia mampu menghindari tackle dari kiri, kanan, hingga tackle from behind sekali pun.

Salah satu raksasa sepakbola dunia, Jerman, mengglobalisasikan formasi 3-5-2. Namun, lebih khas lagi, tim Panser memukau publik dunia dengan gaya permainan ala staying power. Bukan rahasia umum jika pemain Jerman rata-rata dibekali dengan kekuatan fisik dan mental paling tangguh dibandingkan kesebelasan manapun. Mereka dibekali staying power dengan falsafah tak kenal menyerah hingga titik darah penghabisan.

Bagi tim lain, ketinggalan satu gol berarti terpukul, terpaut dua gol identik dengan masuk neraka, apalagi sampai tiga gol, sama artinya dengan kiamat! Tidak, dalam filosofi staying power menihilkan semua pesimisme seperti itu, kendati gawang Jerman telah kebobolan tiga gol sekali pun.

Pemain Jerman tak kenal lelah menutup setiap jengkal lapangan. Mereka seperti punya cadangan tenaga dan mental untuk membalikkan ketertinggalan menjadi keunggulan. Kolektifitas permainan Jerman seperti itu menjadi sempurna dengan libero Franz Beckenbauer kala menghentikan total football Belanda dengan maskot Johan Cruyff pada Piala Dunia 1974.

Inggris, yang sejak lama mengagung-agungkan diri sebagai penemu sepakbola, mempunyai gaya permainan khas, yaitu kick and rush. Bukan asal tendang dan lari kencang, kick and rush (tendang dan gasak) tentu diimbangi dengan timing yang tepat. Orang Inggris paling malas menyaksikan permainan sepakbola dengan kontrol bola berlama-lama. Mengapa? Karena hanya mengundang kesalahan.

Tipikal pemain Inggris, bahkan Inggris Raya-meliputi Inggris, Irlandia, Skotlandia-umumnya piawai memainkan passing akurat dengan kombinasi penguasaan bola daerah. Mereka punya penyerang-penyerang dengan lari kencang dan barisan defender maupun midfielder cerdik memanfaatkan lebar lapangan. Hal lain yang menonjol dalam gaya kick and rush, Inggris nyaris tak mengenal istilah mengatur tempo permainan. Pendek kata, bola di kaki berarti siap tendang ke gawang.

Pendekar sepakbola dunia lainnya, Italia, sungguh teruji dalam posisi tertekan. Mereka sering membiarkan atau malah memancing lawan terus menekan daerah pertahanannya. Dalam calcio memang dibekali kematangan catenaccio. Bukan berarti Italia malas menyerang. Namun, catenaccio memang sistem pertahanan gerendel, berlapis, dan membuat lawan kehabisan tenaga. Dalam detik itulah Italia melancarkan counter attack (serangan balik) kilat.

Artinya, filosofi catenaccio sebenarnya mengambil posisi terbalik. Jika samba, tango, staying power, kick and rush cenderung memperagakan gaya universal, yaitu mendominasi permainan dengan serangan, catenaccio justru bertahan untuk menyerang. Pemain-pemain Italia paling gemar "mencekik" lawan agar masuk daerah pertahanan, bosan tidak menemukan celah, kehabisan tenaga, hingga membuat kesalahan demi kesalahan. Pada saat lawan down, pemain-pemain Italia tinggal "menghabisi".

Legenda

Sepakbola ternyata bukan hanya tendang-menendang bola oleh 22 orang di lapangan. Piala Dunia pun tak sekadar mempertemukan tim-tim kuat dari berbagai penjuru dunia. Bagi segelintir pemain atau pelatih, kejuaraan sepakbola Piala Dunia adalah surga.

Aksi-aksi memukau bintang lapangan hijau, penampilan cemerlang kesebelasan kebanggaan, hingga strategi brilian para pelatih memang melahirkan legenda-legenda. Itulah surga pemain dan pelatih.

Muncul bintang-bintang sepanjang masa. Dari Piala Dunia I tahun 1930 hingga Piala Dunia tahun 1998 lahir bintang-bintang fenomenal seperti Giuseppe Meazza (Italia), Ferenc Puskas (Hongaria), Just Fontaine (Prancis), Garrincha, Jairzinho, Pele (Brasil), Johan Cruyff (Belanda), Gerd Muller, Franz Beckenbauer (Jerman), Diego Armando Maradona (Argentina), Bobby Charlton (Inggris), hingga Zinedine Zidane (Prancis).

Di balik gemerlap sang bintang itu juga disebut-sebut sosok ahli strategi. Franz Beckbenbauer sukses memimpin Jerman menjadi juara dunia tahun 1974, sekaligus dinobatkan sebagai pelatih/manajer brilian dengan merebut kampiun kedua kali pada Piala Dunia 1990. Mario Zagallo, tak cukup puas mengusung Jules Rimet dua kali, tahun 1958 dan 1962. Sebagai pelatih, ia menggenapi gelar pada Piala Dunia 1994.

Ferenc Puskas, Johan Cruyff, Rinus Michels rupanya tak beruntung. Mereka sama-sama diakui sebagai legenda persepakbolaan dunia, tetapi tak meraih gelar Piala Dunia.

Beckenbauer, pemain dan pelatih legendaris, kini populer dengan gelar Der Kaizer (Sang Kaisar). Gelar itu sebagai penghargaan atas pengabdian sempurna sebagai pemain dan pelatih sepakbola. Bobby Charlton dan Geoff Hurst, tulang punggung Inggris ketika merebut juara dunia 1966, mendapat gelar kebangsawanan dari Ratu Elizabeth.

Bayangkan kegembiraan pemain-pemain Arab Saudi. Dengan memastikan lolos ke putaran final Piala Dunia saja membuat keluarga kerajaan enteng merogoh kantong. Pangeran Faisal langsung memberi hadiah Rp200 juta setiap pemain plus mobil Mercedez Benz terbaru!

Bagaimana dengan Pele? Ia adalah bintangnya bintang. Sunday Times menulis, "Bagaimana Anda mengeja Pelé? H-E-B-A-T." Armando Nogueira, jurnalis Brasil, menulis, "Seandainya Pelé tidak dilahirkan sebagai seorang laki-laki, maka ia akan terlahir sebagai sebuah bola."

Carlos Drummond de Andrade, penyair Brasil, tanpa basa-basi juga memuji Pele setinggi langit. Apa katanya? "Melahirkan 1.000 gol seperti yang Pelé jaringkan tidaklah sesulit melahirkan seorang Pelé."

"Setelah gol kelima, saya ingin memberi hormat kepadanya," kata Sigge Parling, pemain belakang Swedia yang menempel Pelé sepanjang pertandingan final Piala Dunia 1958. Tarciso Burnigch, defender Italia yang juga menempel Pele pada final Piala Dunia 1970 menyebut, "Saya kira, ia toh terbuat dari kulit dan tulang seperti saya. Ternyata saya salah."

Apa kata Pele sendiri? "Pelé tidak akan punah."

Piala Dunia bukan hanya memberikan berkah bagi pemain atau pelatih legendaris. Masih ingat dengan Pablo Escobar? Malang benar defender Kolombia itu. Gara-gara membuat kesalahan dalam intercept bola dan berakibat gol bunuh diri, Kolombia kalah 1-2 dari AS pada Piala Dunia 1994. Sampai di Bogota, Kolombia, Escobar diberondong dengan senapan otomatis oleh Humberto Munoz Castro. Escobar tentu saja tewas.

Cuma setahun setelah suporter Kolombia mengibarkan bendera perdamaian, seorang pemain lagi tewas diganyang peluru. Bukan ditembak perusuh sepakbola, melainkan dihakimi oleh wasit. Isaac Mkhwetha, pemain berusia 20 tahun, adalah kapten tim kesebelasan lokal di Wallabies, Afrika Selatan (Afsel). Ia ditembak wasit Lebogang Petrus Mokgethi gara-gara memprotes keputusan wasit.

Bolamania

Apa pun orang berteori tentang sepakbola, terpenting adalah gol! Karena gol, pemain, pelatih, ofisial berjingkrak-jingkrak, saling berangkulan, memekik-mekik kegirangan, hingga membuat adegan tertentu sebagai ekspresi kepuasan. Soal kemenangan nomor dua, terpenting mencetak gol sebanyak mungkin.

Pendukung di tribun bertingkah lebih "gila". Mereka bersorak, menyambut gol dengan standing ovation dan memberi semangat ala mexican wave.

Ada kemenangan, kekalahan atau hasil imbang. Kemenangan membuat mabuk kepayang. Sebaliknya, kekalahan kadang mengundang vandalisme hingga holiganisme. Sederhana saja; menang berarti senang dan kalah berarti kecewa.

Henry Kissinger, mantan Menlu AS, adalah tokoh terkenal yang mengagumi permainan sepakbola sebagai olahraga sejati. Ia sering mengikuti tur pertandingan dan mencapai puncaknya pada Piala Dunia 1994 dengan menjadi ketua kehormatan (chairperson).

Alan Rothenberg, doktor di bidang hukum, gandrung dengan sepakbola sejak kanak-kanak. Ia adalah ketua kehormatan NBA, tetapi mempunyai klub sepakbola setelah tergila-gila dengan permainan ini selama 25 tahun. Karena kecintaannya, ia diangkat menjadi ketua panpel Piala Dunia 1994.

Bolamania jelas bukan monopoli rakyat jelata. Banyak pesohor atau tokoh publik jatuh hati terhadap sepakbola. Penyanyi Whitney Houston, Jon Bon Jovi, Queen, Scorpions, Tina Turner, hingga aktor peraih Oscar, Tom Hanks, adalah nama-nama pesohor dunia yang juga menggemari sepakbola.

Tahukah Jose Luis Chilavert? Ia penjaga gawang eksentrik seperti Jorge Kampos (Meksiko) atau Rene Higueta (Kolombia). Karena kecemerlangannya di lapangan hijau, ia berniat mencalonkan diri sebagai presiden Paraguay. Daniel Passarella, pelatih dan mantan pemain tim nasional Argentina, juga terjun ke politik dengan berbekal kemasyhuran selama bermain bola.

Pele, ah lagi-lagi Pele. Ia mengaku, "Saya menjadi menteri olahraga Brasil karena sepakbola." George Hagi, legenda Rumania, popularitasnya melebihi sang presiden. Maradona? Bagi warga kota Napoli, "Maradona adalah dewa kami."

Socrates, rela melepas baju doktor filsafat dan menjadi pemain brilian bagi Brasil. Miguel Mejia Baron, seorang dokter ahli saraf, menutup ruang praktek dan sukses menjadi pelatih tim nasional Meksiko.

Karena sepakbola, Ivan Zamorano lengket dengan model dan ratu kecantikan Daniela Campos. Oliver Bierhoff bertunangan dengan peragawati Klara Szalantzy, David Beckham dengan Victoria Adam (Posh Spice/Spice Girls), Fabien Barthez dengan Linda Evangelista, model top Kanada. Davor Suker pun digila-gilai Anna Garcia Obregon, presenter televisi Spanyol. Ronaldo putus dengan peragawati cantik Suzana Werner, tapi menggaet Milene Domiguez.

Ricky Martin? Dia malah menyanyikan lagu resmi Piala Dunia 1998: La Copa De La Vida atau Cup of Life (Piala Kehidupan).

Tu Y Yo!! Ale, Ale, Ale Go, Go, Gol! Ale, Ale, Ale Ariba Va!! El Mundo Esta De Pie Go, Go, Gol!! Ale, Ale, Ale

Elton John,  top singer asal Inggris. Di dunia musik, dia adalah peraih banyak penghargaan; Grammy dan Oscar. Kalau dalam dunia sepak-menyepak, Elton John jelas memenuhi klasifikasi pemain Hall of Fame. Dia dan sang ayah adalah fans Liverpool. Ketika kanak-kanak, sang ayah bilang, "Nak, ketika pergi tidur… bermimpilah dengan bola. Saat kamu bangun … bawalah bola ke dalam mimpimu." Sang ayah memang tak mampu mendirikan klub sepakbola hingga akhir hayatnya. Namun, bagi Elton John, kepemilikan sebuah klub sepakbola bukanlah impian. Dia membeli salah satu klub divisi dua Liga Inggris.

Adnan Kashogi, bagi negara-negara super power adalah tambang uang. Dialah pialang perdagangan senjata. Di mana peperangan bergolak, di situlah nama Kashogi disebut-sebut sebagai pemasok senjata. Kashogi secara tersirat mengakui bahwa sebagian kekayaannya yang berlimpah diinvestasikan ke klub-klub sepakbola di kawasan Teluk.

Muhammad Al Fayed, juragan pasar swalayan terbesar Inggris, Harrods, menyisihkan "sedikit" uang untuk membangun klub sepakbola, Fulham. Dia memang bukan perintis berdirinya klub itu, tetapi berkat kucuran uang berjuta-juta dolar, Fulham melejit pada kompetisi Piala FA dan membidik target baru: Divisi Utama Liga Inggris.

Jangan heran, bola pun menjadi kendaraan bisnis dan politik. Bukankah sejarah sepakbola Italia bergulir dengan embel-embel "sepakbola fasis Mussolini"? Pemilik AC Milan, Silvio Berlusconi pun mewarisi sepakbola bisnis dan politik. Setelah mencetak prestasi fenomenal dengan AC Milan, ia merebut hati massa dengan mendirikan partai Forza Italia. Ehm …, Berlusconi memenangkan pemilu dan menjadi perdana menteri. Bayangkan, Prime Minister Berlusconi menduduki singgasana kepemimpinan politik kenegaraan Italia itu sampai dua kali.

Roma, kata orang, adalah sarang sepakbola fasis. Sergio Cragnoti, menjadi cukong klub Lazio. Suporternya dipengaruhi gerakan neo-fasis bernama Movemento Sociale Italiano (MSI). Genoa, kota pelabuhan, merupakan sarang Ultras (suporter garis keras) Fossi dei Grifone. Sampdoria dengan Ultras Tito Cucchiarani. The Samp dicukongi keluarga konglomerat Paolo Mantovani. Sepakbola di kota ini didominasi kaum imigran.

Juventus didukung keluarga Agnelli, pemilik industri mobil Fiat, punya suporter sekitar tujuh juta di seantero dunia dan didukung 40 ribu suporter hidup-mati dari kampung Mirafiori. Torino didukung konglomerat Pozzo. Sepakbola di kota ini adalah sepakbola kaum marjinal (Torino) dan sepakbola kaum urban pekerja (Juve).

Raja oli, Massimo Moratti, menjadi pendekar klub kebanggaan kaum mapan (menengah ke atas) dengan ultras Irrudicibili, Internisti dan Brigate Nerazzurri. Dari kota inilah awal revolusi industri sepakbola di planet bumi.

Sepakbola bagi warga Napoli adalah permainan penuh fiksi, debat atau tipikal sepakbola orang pegunungan. Ketika kota ini dilanda bencana gunung (Visuiti) meletus, warganya mengatakan, "Bencana kedua bagi kami adalah letusan Diego Maradona." Raja kapal Achille Lauro menjadi godfather klub Napoli.

Fiorentina didirikan oleh aristrokrat dari keluarga bangsawan Tuscan, Luigi Ridolfi. Di kota ini pula lahir Metoda, sebuah formasi duel dalam sepakbola yang tak lazim, 2-3-5, diarsiteki pelatih Beppe Galluzzi. Kerusuhan penonton sering terjadi di sini, meskipun mereka dari kelas menengah, intelek, dan sebagian aristokrat. La Viola kini dibekingi Mario Cecchi Gori.

Asal-Usul Sepakbola

Inggris mengagung-agungkan diri sebagai penemu sepakbola. Karena itu Inggris membuat slogan Football Come Home (Sepakbola Kembali ke Tanah Leluhur) pada Euro 1996. Benar, jika sejarah sepakbola itu diawali pada akhir abad ke-19 saat Inggris meresmikan Football Association pada 8 Desember 1863.

Kenyataan, sepakbola adalah permainan yang terbentuk melalui proses panjang peradaban sejak sebelum Masehi. Era Mesir purba, misalnya, sudah mengenal bola dengan kain linen. Benda ini masih tersimpan di museum Inggris. Berbagai relif dinding di museum menunjukkan permainan bola juga dikenal dalam peradaban Yunani purba disebut episcuro. Sekitar abad kedua, episcuro hijrah ke Roma dan peradaban Romawi menyebutnya harpastum.

Julius Caesar suka permainan itu. Tapi Horatius dan Virgilius meremehkannya. Ovidius menyebut permainan itu brutal dan cenderung biadab. Sampai abad ke-9, para intelektual era Yunani-Romawi tak sudi menyebut-nyebut permainan bola. Tapi, sepakbola menjadi "kendaraan" politik kolonial Romawi dalam rangka meluaskan kekuasaan.

Di luar Eropa, Amerika Latin sudah mengenal bola sejak sebelum Masehi, terutama dalam peadaban Aztec. Di Tiongkok, permainan bola sudah dikenal sejak 206 SM, disebut tsu chu, dan tersimpan di dokumen militer setebal 25 bab, pada zaman Dinasti Han. Tsu berarti "menghantam bola dengan kaki''. Chu berarti "bola yang dibuat dari kulit dan diisi''. Juga diinformasikan, pada 50 SM sudah ada tim bola Tiongkok berlatih di Jepang.

Di Jepang, permainan bola dikenal sejak abad ke-8. Permainan itu disebut kemari; konon masih eksis sampai sekarang. Bola dari kulit kijang itu berisi udara. Kemari itu bersangkut-paut dengan iman dan adat. Pemainnya delapan orang, berpakaian adat, bola tak boleh jatuh ke tanah. Bola dianggap matahari. Jika ia jatuh, akan terjadi bencana.

Eropa daratan baru kenal bola pada tahun 1254 di Florence. Ia dianggap cikal bakal sepakbola modern. Permainan itu disebut calcio, sudah mengenal dua gawang dan jumlah pemain lima orang. Jumlah pemain meningkat jadi 11 orang. Saat itu sudah dikenal strategi permainan 1-2-3-5 yang mengambil alih strategi bertahan kavaleri. Strategi ini menjadi sistem sepakbola konvensional.

Permainan bola pada abad ke-13 dari Florence itu menjalar ke seluruh Eropa, termasuk Inggris. Khalayak antusias, tetapi di sisi lain memicu kerusuhan. Raja Edward II pada 1314 melarang calcio.

Larangan itu membuat sibuk para ahli pikir. Ditafsirkan, kaki itu di tempat rendah, pantas jika dilarang. Jadi yang rendah itu harus ditinggikan. Karena itu permainan bola bukan hanya di kaki, tetapi bola boleh disundul. Ini juga bikin heboh. Paling seru terjadi pada 1321. Akibatnya, ia juga dilarang!

Pada 1398 bola dilarang Raja Richard II. Para raja lain yang melarang adalah Edward III dan Henry IV. Patung Skotlandia bertahun 1457 dan 1491 mengabadikan larangan permainan bola itu.

Pada abad ke19, Inggris tampil sebagai pengolah sepakbola yang serius. Banyak klub sepakbola di lingkungan sekolah, sekalipun masih penuh kontroversi. Aturan main sepakbola amat beragam, hingga kerap kisruh. Maka usaha mencari kesepakatan aturan main dicetuskan pada 1843 di Universitas Cambridge. Mulai 1846, kesepakatan Cambridge dipakai secara meluas di Inggris. Sejarah bola di Inggris pun pada gilirannya memuncak dengan kelahiran Football Association pada 1863.

Jika diajarkan bahwa sepakbola berasal dari Inggris, semua kawasan jajahan Inggris patuh. Itulah mitos Inggris sebagai cikal bakal sepakbola.

Perhatian dunia kini tertuju ke Korea/Jepang yang siap menggelar Piala Dunia 2002. Inilah kejuaraan sepakbola Piala Dunia pertama di abad ke-21, pertama di dua negara, dan pertama di Asia. Sebanyak 29 negara telah lolos babak kualifikasi untuk mendampingi juara bertahan Prancis dan tuan rumah Jepang serta Korsel pada putaran final 31 Mei-30 Juni.

Piala Dunia 2002 mestinya menjadi ajang kompetisi sepakbola terbaik, terbesar, dan terpopuler. Sepakbola telah menjadi cabang olahraga mendunia. Menurut riset FIFA, terdapat 240 juta orang aktif bermain sepakbola. Lebih konkret lagi, satu dari 25 orang penduduk dunia bermain secara teratur. Statistik lain juga mengungkapkan bahwa sekitar 20 juta perempuan memainkan pertandingan ini. Selain itu terdapat 1,5 juta tim dan 300.000 klub di seluruh dunia.

Sejarah mencatat bahwa final Piala Dunia 1950 antara tuan rumah Brasil dan Uruguay masih memegang rekor jumlah penonton: 199.854 orang! Jumlah yang hingga kini belum terpecahkan. Ini membuktikan bahwa tak ada even paling populer dan menyedot perhatian penggemar sedemikian besar selain kejuaraan sepakbola Piala Dunia. Ingat Piala Dunia 1990? Seperempat penduduk dunia menyaksikan pertandingan antara Argentina dan Kamerun.

Kejuaraan sepakbola Piala Dunia bagi banyak orang seperti mengandung kekuatan magis. Ia asyik sebagai tontonan. Sepakbola sanggup "mengaduk-aduk" perasaan; senang, kecewa, puas, penasaran, bahkan mendorong pecandunya agresif dan cenderung brutal.

Mahmudiono Lamin

 


© 2002 LAMPUNGONLINE.COM --- DIVISI DESAIN MEDIA HARMONI PERKASA. ALL RIGHT RESERVED.

HASIL

PREDIKSI

ULASAN

BINTANG

JADWAL

REKOR

PESERTA

TROFI

LEGENDA

SEJARAH

MASKOT

HOME

VENUES

ANEKA

SPORT

 -

SELINGAN

 -

INVESTIGASI

 -

KRIMINAL

 -

BISNIS

 -

BLITZ

 -

AGENDA

 -

HUKUM

1
Hosted by www.Geocities.ws