|
SEPAKBOLA … OH PIALA DUNIA
CREDO ergo sum (saya percaya, maka saya ada), cogito ergo
sum (saya mengerti, maka saya ada). Begitulah pendapat para
filsuf tentang sepakbola. Permainan itu secara resmi
disebut football. Sebagian mengeja dengan fotboll, fotbal,
futbol, hingga fussball.
Football disebut soccer, terutama Inggris Raya dan Amerika.
Masih dengan istilah-istilah yang mengacu pada akhiran
"bol" atau "bal", permainan ini juga
populer dengan nama voetbol, voetbal, dan futebol. Eh, lidah
Skandinavia demen menyebut bolspil atau futbalovy. Football
juga dilafatkan fudbalski. Italiano kesulitan mengeja
football, soccer, futebol, voetbal, apalagi fudbalski. Mereka
telanjur memahami kental dengan sebutan calcio.
Apapun istilah itu-football, fotboll, fotbal, futbol,
fussball, voetbol, voetbal, futebol, bolspil, futbalovy,
fudbalski, soccer, calcio-pecandu sepakbola di belahan bumi
manapun percaya dan mengerti bahwa sepakbola adalah permainan
22 orang; menendang, menggiring, mengejar, merebut, melompat,
menyundul, dan menangkap si kulit bundar. Bisa juga disebut
bellum omnium contra omnes atau semua berperang (duel) dengan
segala cara untuk mencapai kemenangan.
Permainan ini membuat orang gemas, penasaran, geregetan,
dan decak kagum. Namanya saja permainan, tentu saja tidak
terbelenggu keteraturan. Para pemain boleh melakukan apa saja
selama dalam koridor peraturan permainan yang dilandasi sikap
fair play. Betapa menjemukan jika satu tim dengan wakil satu
orang hanya menendang bola melulu.
Sungguh gemas ketika seorang pemain cerdik menghindari
tackling dari belakang, samping atau tabrakan dari depan.
Footballer membuat geregetan ketika memamerkan skill tinggi
dengan berbagai variasi teknik. Satu, dua, tiga, atau bahkan
enam pemain sekaligus dilewati dengan begitu mudah. Ia
meliuk-liuk, melompat, men-drible bola. Dalam jarak atau sudut
tertentu, ia menendang si kulit bundar ke arah gawang.
Tendangan itu pun dengan berbagai variasi arah-lurus, menyusur
tanah, melengkung atau membentur lawan. Sasarannya jelas;
ingin memasukkan bola ke dalam gawang berukuran lebar 7,32
meter dan tinggi 2,44 meter.
Penasaran? Tentu saja, jika kepiawaian seorang pemain atau
dominasi satu tim tak kunjung menghasilkan kemenangan.
Dominasi permainan satu tim atas tim lain membuat pecandu bola
berdecak kagum. Bukan sekadar piawai menendang bola, taktis
dalam gerakan, cerdik mengatur siasat, atau pamer skill di
atas rata-rata, sehingga lawan dibuat tak berdaya, seorang
bintang lapangan atau man of the match masih menghibur
penonton dengan gerakan-gerakan yang hanya ada dalam
pertunjukan akrobat.
Ada istilah hat. Ini sebuah taktik permainan berbasis
sentuhan cepat oleh dua atau tiga orang dan satu pemain tetap
sebagai pengendali bola. Pada detik terakhir, pemain membuat
tendangan memutar atau malah membuat salto. Penguasaan teknik
pemainan demikian di atas rata-rata ala drible, freekick,
wallpass, interpass, backpass atau tendangan first time
sekalipun. Anda benar. Pele adalah footballer pencetus teknik
hat.
Istimewa
Tim-tim sepakbola semula terpaku pada pola atau formasi
1-2-3-5 (satu penjaga gawang, dua pemain belakang, tiga
gelandang, dan lima penyerang). Dalam kurun satu hingga dua
dasa warsa, pola itu berkembang menjadi formasi MW (tiga
pemain belakang, empat di tengah dan tiga penyerang). Ini pun
tak berumur panjang. Berurutan muncul formasi-formasi baru
seperti 4-4-2, 4-2-4, 4-3-3, 4-3-1-2, 4-2-3-1, 4-5-1, hingga
pola yang disebut-sebut paling revolusioner, 3-5-2.
Sebuah tim atau dua kesebelasan memainkan satu formasi
tertentu atau bisa jadi kedua-duanya saling mengubah pola
sesuai perkembangan di lapangan. Prinsipnya, sebuah formasi
permainan didasarkan pada keunggulan dan kelemahan satu tim
atas tim lain. Bukan hal aneh jika satu tim atau dua tim yang
saling bertanding berkali-kali mengubah-ubah formasi itu dalam
satu atau banyak pertandingan. Tentu saja, sebuah tim
mempunyai pola baku.
Sebuah tim disebut-sebut mempunyai keistimewaan jika
sanggup menguasai satu atau lebih pola permainan itu hingga
segala taktik atau strategi lawan tak sanggup menandingi.
Namun, pola-pola dasar itu bertambah istimewa dengan berbagai
gaya permainan lebih khas.
Sebutlah total football ala Belanda. Total football
memperagakan permainan menyerang secara simultan bak gelombang
air pasang. Satu, dua, enam, sepuluh pemain sekaligus,
termasuk penjaga gawang, membuat pressing begitu solid secara
terus-menerus. Memang tak ada aturan baku, tetapi semua pemain
bergerak, berpindah atau mengambil posisi secara otomatis.
Mereka jarang salah paham, apalagi sampai berbenturan satu
dengan yang lain. Pendek kata, sepakbola ala total football
bak pertunjukan orkestra.
Siapa bilang total football begitu ceroboh hanya menekan
dan menyerang semata-mata? Dalam filosofi total football juga
mewajibkan pertahanan tangguh. Dalam menyerang, total football
mendorong seluruh pemain berfungsi maksimal. Namun, mereka
otomatis menjadi defender. Striker adalah defender, defender
juga striker.
Gaya ini menggarisbawahi prinsip menyerang adalah
pertahanan paling valid. Dalam kondisi terburuk, total
football mengajarkan man to man marking dan zona marking
secara ketat. Pendek kata, lawan dibuat "tercekik"
atau kehilangan keleluasaan dalam bergerak.
Masih ingat dengan tim Belanda pada Piala Dunia 1974 dan
1978? Kala itu Johan Cruyff adalah "komandan"
pasukan total football Belanda. Mereka menggegerkan kancah
persepakbolaan dunia.
Gaya samba tak kalah istimewa. Ia diilhami oleh kelenturan
badan orang-orang Brasil yang pandai menari
samba--meliuk-liuk, memutar badan, dan menggoyangkan pinggul
penuh keceriaan. Orang bilang, Rio (Rio de Janeiro) adalah
surga samba.
Jangan pernah melupakan Pele (nama asli Edson Arantes do
Nascimento) atau Ronaldo (nama asli Ronaldinho Luiz Nazario de
Lima). Mereka adalah bakat-bakat pemain samba yang mewakili
generasi masing-masing. Berkat keahlian bermain ala samba,
Pele membuat takjub dengan gol-gol akrobatik yang memberi
gelar-gelar Piala Dunia.
Ronaldo? Ah, pecandu bola pasti tak berkedip manakala
menatap gaya sambanya. Ia menciptakan gol dengan meliuk-liuk,
melewati lima sampai enam pemain sekaligus; tipikal Amerika
Latin. Ia justru mendekati (menantang) pemain belakang sebelum
mencetak gol, bukan sebaliknya yakni berusaha menghindari
adangan defender.
Gaya samba sering diidentikkan lebih invidual atas skill
masing-masing pemain Brasil. Dalam kalkulasi tim atau satu
kesebelasan, tim nasional Brasil mendapat daulat sepakbola
jogo bonito. Sepakbola indah, begitulah. Bukan hal asing jika
pemain-pemain Brasil menguasai skill tinggi, variasi teknik
beragam, dan tentu saja menjaga trade mark gaya samba. Tidak
aneh lagi dalam gaya jogo bonito mempertontonkan seni
permainan sepakbola terindah.
Juga bukan hal ganjil jika pengagum jogo bonito tak mau
tahu atas hasil akhir-kemenangan atau kekalahan Brasil-asal ia
terpuaskan dengan gaya main sepakbola indah itu. Jogo bonito
sebenarnya bak pisau bermata dua. Hanya karena ingin memuaskan
publik dunia dengan sepakbola indah, Brasil sering kalah.
Cukup adil jika Brasil tampil dalam performance terbaik,
sehingga jogo bonito bermuara pada kemenangan.
Amerika Latin juga melahirkan gaya tango. Jika samba
identik dengan kelenturan badan, tango unggul dalam gerakan
kaki. Argentina-lah pencetus permainan sepakbola ala tango.
Mereka cerdik melakukan ballpossession dengan
keseimbangan wallpass, interpass, backpass, hingga drible kilat dengan
meliuk-liuk. Fisolofi gaya tango bukan sekadar keeping bola,
tetapi mengagungkan kelihaian mengolah bola dengan akurasi
tinggi.
Masih ingat aksi-aksi Diego Armando Maradona? Ia membuat
Inggris kehilangan muka pada perempat final Piala Dunia 1986.
Enam pemain Union Jack, termasuk penjaga gawang Peter Shilton
tak kuasa merebut bola Maradona. Si Boncel men-drible bola
dari belakang garis tengah hingga menceploskan si kulit bundar
ke gawang. Ia mampu menghindari tackle dari kiri, kanan,
hingga tackle from behind sekali pun.
Salah satu raksasa sepakbola dunia, Jerman,
mengglobalisasikan formasi 3-5-2. Namun, lebih khas lagi, tim
Panser memukau publik dunia dengan gaya permainan ala staying
power. Bukan rahasia umum jika pemain Jerman rata-rata
dibekali dengan kekuatan fisik dan mental paling tangguh
dibandingkan kesebelasan manapun. Mereka dibekali staying
power dengan falsafah tak kenal menyerah hingga titik darah
penghabisan.
Bagi tim lain, ketinggalan satu gol berarti terpukul,
terpaut dua gol identik dengan masuk neraka, apalagi sampai
tiga gol, sama artinya dengan kiamat! Tidak, dalam filosofi
staying power menihilkan semua pesimisme seperti itu, kendati
gawang Jerman telah kebobolan tiga gol sekali pun.
Pemain Jerman tak kenal lelah menutup setiap jengkal
lapangan. Mereka seperti punya cadangan tenaga dan mental
untuk membalikkan ketertinggalan menjadi keunggulan.
Kolektifitas permainan Jerman seperti itu menjadi sempurna
dengan libero Franz Beckenbauer kala menghentikan total
football Belanda dengan maskot Johan Cruyff pada Piala Dunia
1974.
Inggris, yang sejak lama mengagung-agungkan diri sebagai
penemu sepakbola, mempunyai gaya permainan khas, yaitu kick
and rush. Bukan asal tendang dan lari kencang, kick and rush
(tendang dan gasak) tentu diimbangi dengan timing yang tepat.
Orang Inggris paling malas menyaksikan permainan sepakbola
dengan kontrol bola berlama-lama. Mengapa? Karena hanya
mengundang kesalahan.
Tipikal pemain Inggris, bahkan Inggris Raya-meliputi
Inggris, Irlandia, Skotlandia-umumnya piawai memainkan passing
akurat dengan kombinasi penguasaan bola daerah. Mereka punya
penyerang-penyerang dengan lari kencang dan barisan defender
maupun midfielder cerdik memanfaatkan lebar lapangan. Hal lain
yang menonjol dalam gaya kick and rush, Inggris nyaris tak
mengenal istilah mengatur tempo permainan. Pendek kata, bola
di kaki berarti siap tendang ke gawang.
Pendekar sepakbola dunia lainnya, Italia, sungguh teruji
dalam posisi tertekan. Mereka sering membiarkan atau malah
memancing lawan terus menekan daerah pertahanannya. Dalam
calcio memang dibekali kematangan catenaccio. Bukan berarti
Italia malas menyerang. Namun, catenaccio memang sistem
pertahanan gerendel, berlapis, dan membuat lawan kehabisan
tenaga. Dalam detik itulah Italia melancarkan counter attack
(serangan balik) kilat.
Artinya, filosofi catenaccio sebenarnya mengambil posisi
terbalik. Jika samba, tango, staying power, kick and rush
cenderung memperagakan gaya universal, yaitu mendominasi
permainan dengan serangan, catenaccio justru bertahan untuk
menyerang. Pemain-pemain Italia paling gemar
"mencekik" lawan agar masuk daerah pertahanan, bosan
tidak menemukan celah, kehabisan tenaga, hingga membuat
kesalahan demi kesalahan. Pada saat lawan down, pemain-pemain
Italia tinggal "menghabisi".
Legenda
Sepakbola ternyata bukan hanya tendang-menendang bola oleh
22 orang di lapangan. Piala Dunia pun tak sekadar
mempertemukan tim-tim kuat dari berbagai penjuru dunia. Bagi
segelintir pemain atau pelatih, kejuaraan sepakbola Piala
Dunia adalah surga.
Aksi-aksi memukau bintang lapangan hijau, penampilan
cemerlang kesebelasan kebanggaan, hingga strategi brilian para
pelatih memang melahirkan legenda-legenda. Itulah surga pemain
dan pelatih.
Muncul bintang-bintang sepanjang masa. Dari Piala Dunia I
tahun 1930 hingga Piala Dunia tahun 1998 lahir bintang-bintang
fenomenal seperti Giuseppe Meazza (Italia), Ferenc Puskas
(Hongaria), Just Fontaine (Prancis), Garrincha, Jairzinho,
Pele (Brasil), Johan Cruyff (Belanda), Gerd Muller, Franz
Beckenbauer (Jerman), Diego Armando Maradona (Argentina),
Bobby Charlton (Inggris), hingga Zinedine Zidane (Prancis).
Di balik gemerlap sang bintang itu juga disebut-sebut sosok
ahli strategi. Franz Beckbenbauer sukses memimpin Jerman
menjadi juara dunia tahun 1974, sekaligus dinobatkan sebagai
pelatih/manajer brilian dengan merebut kampiun kedua kali pada
Piala Dunia 1990. Mario Zagallo, tak cukup puas mengusung
Jules Rimet dua kali, tahun 1958 dan 1962. Sebagai pelatih, ia
menggenapi gelar pada Piala Dunia 1994.
Ferenc Puskas, Johan Cruyff, Rinus Michels rupanya tak
beruntung. Mereka sama-sama diakui sebagai legenda
persepakbolaan dunia, tetapi tak meraih gelar Piala Dunia.
Beckenbauer, pemain dan pelatih legendaris, kini populer
dengan gelar Der Kaizer (Sang Kaisar). Gelar itu sebagai
penghargaan atas pengabdian sempurna sebagai pemain dan
pelatih sepakbola. Bobby Charlton dan Geoff Hurst, tulang
punggung Inggris ketika merebut juara dunia 1966, mendapat
gelar kebangsawanan dari Ratu Elizabeth.
Bayangkan kegembiraan pemain-pemain Arab Saudi. Dengan
memastikan lolos ke putaran final Piala Dunia saja membuat
keluarga kerajaan enteng merogoh kantong. Pangeran Faisal
langsung memberi hadiah Rp200 juta setiap pemain plus mobil
Mercedez Benz terbaru!
Bagaimana dengan Pele? Ia adalah bintangnya bintang. Sunday
Times menulis, "Bagaimana Anda mengeja Pelé?
H-E-B-A-T." Armando Nogueira, jurnalis Brasil, menulis,
"Seandainya Pelé tidak dilahirkan sebagai seorang
laki-laki, maka ia akan terlahir sebagai sebuah bola."
Carlos Drummond de Andrade, penyair Brasil, tanpa basa-basi
juga memuji Pele setinggi langit. Apa katanya?
"Melahirkan 1.000 gol seperti yang Pelé jaringkan
tidaklah sesulit melahirkan seorang Pelé."
"Setelah gol kelima, saya ingin memberi hormat
kepadanya," kata Sigge Parling, pemain belakang Swedia
yang menempel Pelé sepanjang pertandingan final Piala Dunia
1958. Tarciso Burnigch, defender Italia yang juga menempel
Pele pada final Piala Dunia 1970 menyebut, "Saya kira, ia
toh terbuat dari kulit dan tulang seperti saya. Ternyata saya
salah."
Apa kata Pele sendiri? "Pelé tidak akan punah."
Piala Dunia bukan hanya memberikan berkah bagi pemain atau
pelatih legendaris. Masih ingat dengan Pablo Escobar? Malang
benar defender Kolombia itu. Gara-gara membuat kesalahan dalam
intercept bola dan berakibat gol bunuh diri, Kolombia kalah
1-2 dari AS pada Piala Dunia 1994. Sampai di Bogota, Kolombia,
Escobar diberondong dengan senapan otomatis oleh Humberto
Munoz Castro. Escobar tentu saja tewas.
Cuma setahun setelah suporter Kolombia mengibarkan bendera
perdamaian, seorang pemain lagi tewas diganyang peluru. Bukan
ditembak perusuh sepakbola, melainkan dihakimi oleh wasit.
Isaac Mkhwetha, pemain berusia 20 tahun, adalah kapten tim
kesebelasan lokal di Wallabies, Afrika Selatan (Afsel). Ia
ditembak wasit Lebogang Petrus Mokgethi gara-gara memprotes
keputusan wasit.
Bolamania
Apa pun orang berteori tentang sepakbola, terpenting adalah
gol! Karena gol, pemain, pelatih, ofisial
berjingkrak-jingkrak, saling berangkulan, memekik-mekik
kegirangan, hingga membuat adegan tertentu sebagai ekspresi
kepuasan. Soal kemenangan nomor dua, terpenting mencetak gol
sebanyak mungkin.
Pendukung di tribun bertingkah lebih "gila".
Mereka bersorak, menyambut gol dengan standing ovation dan
memberi semangat ala mexican wave.
Ada kemenangan, kekalahan atau hasil imbang. Kemenangan
membuat mabuk kepayang. Sebaliknya, kekalahan kadang
mengundang vandalisme hingga holiganisme. Sederhana saja;
menang berarti senang dan kalah berarti kecewa.
Henry Kissinger, mantan Menlu AS, adalah tokoh terkenal
yang mengagumi permainan sepakbola sebagai olahraga sejati. Ia
sering mengikuti tur pertandingan dan mencapai puncaknya pada
Piala Dunia 1994 dengan menjadi ketua kehormatan
(chairperson).
Alan Rothenberg, doktor di bidang hukum, gandrung dengan
sepakbola sejak kanak-kanak. Ia adalah ketua kehormatan NBA,
tetapi mempunyai klub sepakbola setelah tergila-gila dengan
permainan ini selama 25 tahun. Karena kecintaannya, ia
diangkat menjadi ketua panpel Piala Dunia 1994.
Bolamania jelas bukan monopoli rakyat jelata. Banyak
pesohor atau tokoh publik jatuh hati terhadap sepakbola.
Penyanyi Whitney Houston, Jon Bon Jovi, Queen, Scorpions, Tina
Turner, hingga aktor peraih Oscar, Tom Hanks, adalah nama-nama
pesohor dunia yang juga menggemari sepakbola.
Tahukah Jose Luis Chilavert? Ia penjaga gawang eksentrik
seperti Jorge Kampos (Meksiko) atau Rene Higueta (Kolombia).
Karena kecemerlangannya di lapangan hijau, ia berniat
mencalonkan diri sebagai presiden Paraguay. Daniel Passarella,
pelatih dan mantan pemain tim nasional Argentina, juga terjun
ke politik dengan berbekal kemasyhuran selama bermain bola.
Pele, ah lagi-lagi Pele. Ia mengaku, "Saya menjadi
menteri olahraga Brasil karena sepakbola." George Hagi,
legenda Rumania, popularitasnya melebihi sang presiden.
Maradona? Bagi warga kota Napoli, "Maradona adalah dewa
kami."
Socrates, rela melepas baju doktor filsafat dan menjadi
pemain brilian bagi Brasil. Miguel Mejia Baron, seorang dokter
ahli saraf, menutup ruang praktek dan sukses menjadi pelatih
tim nasional Meksiko.
Karena sepakbola, Ivan Zamorano lengket dengan model dan
ratu kecantikan Daniela Campos. Oliver Bierhoff bertunangan
dengan peragawati Klara Szalantzy, David Beckham dengan
Victoria Adam (Posh Spice/Spice Girls), Fabien Barthez dengan
Linda Evangelista, model top Kanada. Davor Suker pun
digila-gilai Anna Garcia Obregon, presenter televisi Spanyol.
Ronaldo putus dengan peragawati cantik Suzana Werner, tapi
menggaet Milene Domiguez.
Ricky Martin? Dia malah menyanyikan lagu resmi Piala Dunia
1998: La Copa De La Vida atau Cup of Life (Piala Kehidupan).
Tu Y Yo!! Ale, Ale, Ale Go, Go, Gol! Ale, Ale, Ale Ariba
Va!! El Mundo Esta De Pie Go, Go, Gol!! Ale, Ale, Ale
Elton John, top singer asal Inggris. Di dunia musik,
dia adalah peraih banyak penghargaan; Grammy dan Oscar. Kalau
dalam dunia sepak-menyepak, Elton John jelas memenuhi
klasifikasi pemain Hall of Fame. Dia dan sang ayah adalah fans
Liverpool. Ketika kanak-kanak, sang ayah bilang, "Nak,
ketika pergi tidur… bermimpilah dengan bola. Saat kamu
bangun … bawalah bola ke dalam mimpimu." Sang ayah
memang tak mampu mendirikan klub sepakbola hingga akhir
hayatnya. Namun, bagi Elton John, kepemilikan sebuah klub
sepakbola bukanlah impian. Dia membeli salah satu klub divisi
dua Liga Inggris.
Adnan Kashogi, bagi negara-negara super power adalah
tambang uang. Dialah pialang perdagangan senjata. Di mana
peperangan bergolak, di situlah nama Kashogi disebut-sebut
sebagai pemasok senjata. Kashogi secara tersirat mengakui
bahwa sebagian kekayaannya yang berlimpah diinvestasikan ke
klub-klub sepakbola di kawasan Teluk.
Muhammad Al Fayed, juragan pasar swalayan terbesar Inggris,
Harrods, menyisihkan "sedikit" uang untuk membangun
klub sepakbola, Fulham. Dia memang bukan perintis berdirinya
klub itu, tetapi berkat kucuran uang berjuta-juta dolar,
Fulham melejit pada kompetisi Piala FA dan membidik target
baru: Divisi Utama Liga Inggris.
Jangan heran, bola pun menjadi kendaraan bisnis dan
politik. Bukankah sejarah sepakbola Italia bergulir dengan
embel-embel "sepakbola fasis Mussolini"? Pemilik AC
Milan, Silvio Berlusconi pun mewarisi sepakbola bisnis dan
politik. Setelah mencetak prestasi fenomenal dengan AC Milan,
ia merebut hati massa dengan mendirikan partai Forza Italia.
Ehm …, Berlusconi memenangkan pemilu dan menjadi perdana
menteri. Bayangkan, Prime Minister Berlusconi menduduki
singgasana kepemimpinan politik kenegaraan Italia itu sampai
dua kali.
Roma, kata orang, adalah sarang sepakbola fasis. Sergio
Cragnoti, menjadi cukong klub Lazio. Suporternya dipengaruhi
gerakan neo-fasis bernama Movemento Sociale Italiano (MSI).
Genoa, kota pelabuhan, merupakan sarang Ultras (suporter garis
keras) Fossi dei Grifone. Sampdoria dengan Ultras Tito
Cucchiarani. The Samp dicukongi keluarga konglomerat Paolo
Mantovani. Sepakbola di kota ini didominasi kaum imigran.
Juventus didukung keluarga Agnelli, pemilik industri mobil
Fiat, punya suporter sekitar tujuh juta di seantero dunia dan
didukung 40 ribu suporter hidup-mati dari kampung Mirafiori.
Torino didukung konglomerat Pozzo. Sepakbola di kota ini
adalah sepakbola kaum marjinal (Torino) dan sepakbola kaum
urban pekerja (Juve).
Raja oli, Massimo Moratti, menjadi pendekar klub kebanggaan
kaum mapan (menengah ke atas) dengan ultras Irrudicibili,
Internisti dan Brigate Nerazzurri. Dari kota inilah awal
revolusi industri sepakbola di planet bumi.
Sepakbola bagi warga Napoli adalah permainan penuh fiksi,
debat atau tipikal sepakbola orang pegunungan. Ketika kota ini
dilanda bencana gunung (Visuiti) meletus, warganya mengatakan,
"Bencana kedua bagi kami adalah letusan Diego
Maradona." Raja kapal Achille Lauro menjadi godfather
klub Napoli.
Fiorentina didirikan oleh aristrokrat dari keluarga
bangsawan Tuscan, Luigi Ridolfi. Di kota ini pula lahir
Metoda, sebuah formasi duel dalam sepakbola yang tak lazim,
2-3-5, diarsiteki pelatih Beppe Galluzzi. Kerusuhan penonton
sering terjadi di sini, meskipun mereka dari kelas menengah,
intelek, dan sebagian aristokrat. La Viola kini dibekingi
Mario Cecchi Gori.
Asal-Usul Sepakbola
Inggris mengagung-agungkan diri sebagai penemu sepakbola.
Karena itu Inggris membuat slogan Football Come Home
(Sepakbola Kembali ke Tanah Leluhur) pada Euro 1996. Benar,
jika sejarah sepakbola itu diawali pada akhir abad ke-19 saat
Inggris meresmikan Football Association pada 8 Desember 1863.
Kenyataan, sepakbola adalah permainan yang terbentuk
melalui proses panjang peradaban sejak sebelum Masehi. Era
Mesir purba, misalnya, sudah mengenal bola dengan kain linen.
Benda ini masih tersimpan di museum Inggris. Berbagai relif
dinding di museum menunjukkan permainan bola juga dikenal
dalam peradaban Yunani purba disebut episcuro. Sekitar abad
kedua, episcuro hijrah ke Roma dan peradaban Romawi
menyebutnya harpastum.
Julius Caesar suka permainan itu. Tapi Horatius dan
Virgilius meremehkannya. Ovidius menyebut permainan itu brutal
dan cenderung biadab. Sampai abad ke-9, para intelektual era
Yunani-Romawi tak sudi menyebut-nyebut permainan bola. Tapi,
sepakbola menjadi "kendaraan" politik kolonial
Romawi dalam rangka meluaskan kekuasaan.
Di luar Eropa, Amerika Latin sudah mengenal bola sejak
sebelum Masehi, terutama dalam peadaban Aztec. Di Tiongkok,
permainan bola sudah dikenal sejak 206 SM, disebut tsu chu,
dan tersimpan di dokumen militer setebal 25 bab, pada zaman
Dinasti Han. Tsu berarti "menghantam bola dengan kaki''.
Chu berarti "bola yang dibuat dari kulit dan diisi''.
Juga diinformasikan, pada 50 SM sudah ada tim bola Tiongkok
berlatih di Jepang.
Di Jepang, permainan bola dikenal sejak abad ke-8.
Permainan itu disebut kemari; konon masih eksis sampai
sekarang. Bola dari kulit kijang itu berisi udara. Kemari itu
bersangkut-paut dengan iman dan adat. Pemainnya delapan orang,
berpakaian adat, bola tak boleh jatuh ke tanah. Bola dianggap
matahari. Jika ia jatuh, akan terjadi bencana.
Eropa daratan baru kenal bola pada tahun 1254 di Florence.
Ia dianggap cikal bakal sepakbola modern. Permainan itu
disebut calcio, sudah mengenal dua gawang dan jumlah pemain
lima orang. Jumlah pemain meningkat jadi 11 orang. Saat itu
sudah dikenal strategi permainan 1-2-3-5 yang mengambil alih
strategi bertahan kavaleri. Strategi ini menjadi sistem
sepakbola konvensional.
Permainan bola pada abad ke-13 dari Florence itu menjalar
ke seluruh Eropa, termasuk Inggris. Khalayak antusias, tetapi
di sisi lain memicu kerusuhan. Raja Edward II pada 1314
melarang calcio.
Larangan itu membuat sibuk para ahli pikir. Ditafsirkan,
kaki itu di tempat rendah, pantas jika dilarang. Jadi yang
rendah itu harus ditinggikan. Karena itu permainan bola bukan
hanya di kaki, tetapi bola boleh disundul. Ini juga bikin heboh.
Paling seru terjadi pada 1321. Akibatnya, ia juga dilarang!
Pada 1398 bola dilarang Raja Richard II. Para raja lain
yang melarang adalah Edward III dan Henry IV. Patung
Skotlandia bertahun 1457 dan 1491 mengabadikan larangan
permainan bola itu.
Pada abad ke19, Inggris tampil sebagai pengolah sepakbola
yang serius. Banyak klub sepakbola di lingkungan sekolah,
sekalipun masih penuh kontroversi. Aturan main sepakbola amat
beragam, hingga kerap kisruh. Maka usaha mencari kesepakatan
aturan main dicetuskan pada 1843 di Universitas Cambridge.
Mulai 1846, kesepakatan Cambridge dipakai secara meluas di
Inggris. Sejarah bola di Inggris pun pada gilirannya memuncak
dengan kelahiran Football Association pada 1863.
Jika diajarkan bahwa sepakbola berasal dari Inggris, semua
kawasan jajahan Inggris patuh. Itulah mitos Inggris sebagai
cikal bakal sepakbola.
Perhatian dunia kini tertuju ke Korea/Jepang yang siap
menggelar Piala Dunia 2002. Inilah kejuaraan sepakbola Piala
Dunia pertama di abad ke-21, pertama di dua negara, dan
pertama di Asia. Sebanyak 29 negara telah lolos babak
kualifikasi untuk mendampingi juara bertahan Prancis dan tuan
rumah Jepang serta Korsel pada putaran final 31 Mei-30 Juni.
Piala Dunia 2002 mestinya menjadi ajang kompetisi sepakbola
terbaik, terbesar, dan terpopuler. Sepakbola telah menjadi
cabang olahraga mendunia. Menurut riset FIFA, terdapat 240
juta orang aktif bermain sepakbola. Lebih konkret lagi, satu
dari 25 orang penduduk dunia bermain secara teratur. Statistik
lain juga mengungkapkan bahwa sekitar 20 juta perempuan
memainkan pertandingan ini. Selain itu terdapat 1,5 juta tim
dan 300.000 klub di seluruh dunia.
Sejarah mencatat bahwa final Piala Dunia 1950 antara tuan
rumah Brasil dan Uruguay masih memegang rekor jumlah penonton:
199.854 orang! Jumlah yang hingga kini belum terpecahkan. Ini
membuktikan bahwa tak ada even paling populer dan menyedot
perhatian penggemar sedemikian besar selain kejuaraan
sepakbola Piala Dunia. Ingat Piala Dunia 1990? Seperempat
penduduk dunia menyaksikan pertandingan antara Argentina dan
Kamerun.
Kejuaraan sepakbola Piala Dunia bagi banyak orang seperti
mengandung kekuatan magis. Ia asyik sebagai tontonan.
Sepakbola sanggup "mengaduk-aduk" perasaan; senang,
kecewa, puas, penasaran, bahkan mendorong pecandunya agresif
dan cenderung brutal.
Mahmudiono Lamin
|