Produk-line

Info Perbankan

2011, Laba Perbankan tembus Rp. 75,07 Triliun

21/02/2012

Laba bersih perbankan nasional sepanjang tahun 2011 tercatat menembus angka Rp 75,077 triliun atau menggelembung hingga 31% dibandingkan pengujung 2010 sebesar Rp 57,309 triliun. Kenaikan ini ditunjang kenaikan dari laba operasional maupun laba non operasional.

Berdasarkan Statistik Perbankan Indonesia (SPI) yang dikeluarkan Bank Indonesia (BI) edisi Desember 2011, laba operasional meningkat dari Rp 48,325 triliun pada 2010 menjadi Rp 56,457 triliun pada 2011. Adapun laba non-operasional tumbuh lebih tinggi, yakni dari Rp 27,730 triliun pada 2010 menjadi Rp 40.679 triliun pada 2011.
Kinerja umum perbankan nasional sepanjang 2011 juga tercatat baik. Tren peningkatan kredit masih berlanjut sejalan dengan aktivitas perekonomian yang meningkat.

Pertumbuhan dana pihak ketiga (DPK) pun tercatat tetap tinggi. Sampai dengan Desember 2011, DPK tumbuh 19,0% (yoy) menjadi Rp 2.785 triliun. Pertumbuhan DPK yang tetap tinggi tersebut terutama ditopang oleh deposito yang memiliki pangsa mencapai 46%. Pertumbuhan giro, tabungan dan deposito pada Desember 2011 masing-masing sebesar 21,8%, 22,5% dan 15,3% (yoy).

Pesatnya penyaluran kredit tahun lalu ikut menggerus CAR perbankan dari posisi 17,8% tahun 2010 menjadi 16,05% pada 2011.

:: Sumber : http://keuangan.kontan.co.id/ ::

BI diserbu Uang Palsu dari setoran Bank

10/11/2011

Jakarta - Bank Indonesia (BI) dalam empat bulan terakhir terus diserbu uang palsu yang berasal dari setoran uang masuk bank umum di Indonesia. Dalam sebulan BI rata-rata menemukan 500 pecahan uang palsu yang didominasi pecahan Rp 100.000 dan Rp 50.000. Uang itu terselip di antara uang yang disetorkan bank umum ke BI.
"Dalam empat bulan terakhir jumlahnya terus meningkat. Ini sangat memprihatinkan. Dalam sebulan rata-rata saat ini kita temukan 500 lembar uang palsu yang disetorkan dari bank umum ke BI," kata Kasir Muda Senior Bank Indonesia, Susilo Wiyono Hadi yang menangani pengelolaan uang masuk di Bank Indonesia, dalam perbincangan dengan peserta Orientasi Wartawan Ekonomi dan Bisnis dari NTB di kantornya, Mataram, Rabu (9/11/2011).

Meski tidak tiap hari, Susilo mengatakan kadang mereka menemukan 30 lembar uang palsu yang terselip di antara lembaran uang yang hendak disortir di ruang bawah tanah BI. Di ruang dengan penjagaan ekstra ketat itu, uang yang diterima dari bank umum yang masih layak edar dipisahkan dengan uang lusuh. Uang lusuh lalu dihancurkan. Dalam sehari, dua unit mesin milik BI menghancurkan 600 ribu lembar atau setara 600 brood (1 kemasan plastik transparan = 10 brood).

Secara terpisah, Kepala Biro Kebijakan Pengedaran Uang Bank Indonesia, Eko Yulianto mengatakan, peredaran uang palsu di Indonesia belum masuk tahap mengkhawatirkan. Ia mengatakan, saat ini dalam satu juta lembar uang, rata-rata hanya ditemukan tujuh lembar uang palsu.

Dibanding dengan beberapa negara lain di dunia, peredaran uang palsu di Indonesia masih terbilang sedikit. Di Amerika Serikat kata Eko, ditemukan 199 lembar per satu juta lembar, di Inggris sebanyak 299 lembar dari satu juta lembar dan secara kewilayahan di Eropa ditemukan 55 lembar per satu juta lembar uang kertas.

Temuan BI, saat ini uang palsu paling banyak beredar di Jawa Barat, Jawa Timur, Jabodetabek, Jawa Tengah, dan Lampung.

:: Sumber : http://finance.detik.com ::

 

APPI targetkan NPL tahun depan 1,2%

    30/12/2011

    JAKARTA. Pertumbuhan industri pembiayaan tahun ini memang pesat. Tapi sayang, tingginya rasio pembiayaan bermasalah alias non performing loan (NPL) membayangi industri multifinance, terutama pembiayaan otomotif.

    Data Asosiasi Perusahaan Pembiayaan Indonesia (APPI) memaparkan, NPL industri multifinance saat ini berada di kisaran 1,31%. Penyumbang terbesar NPL adalah pembiayaan konsumen, yang didominasi otomotif dengan tingkat NPL mencapai 1,8%. Ketua APPI Wiwie Kurnia berharap, rasio NPL tahun depan bisa ditekan lebih rendah lagi.

    "Kami berharap NPL turun menjadi 1,2% di tahun depan, dengan asumsi kondisi ekonomi Indonesia membaik," kata dia, belum lama ini. Untuk menekan NPL, Wiwie mengimbau seluruh multifinance segera melakukan perbaikan manajemen risiko.

    Beberapa perusahaan pembiayaan yang dihantam kenaikan NPL tahun ini adalah Oto Multiartha dan Summit Oto Finance. Keduanya merupakan anak usaha Sumitomo Corporation asal Jepang.

    Akibat tingginya NPL, mereka terpaksa mengerem pembiayaan tahun ini. Alhasil, pembiayaan tahun ini ditaksir Rp 18,3 triliun atau lebih rendah dari tahun lalu yang mencapai Rp 24,7 triliun. Per November 2011, pembiayaan yang sudah disalurkan sebesar Rp 16,9 triliun.

    Saat ini, posisi analisa umur piutang alias overdue untuk Oto yang membiayai mobil sebesar 1,2%. Sedangkan overdue Summit yang membiayai sepeda motor di kisaran 2,17%.

    Asal tahu saja, semakin besar overdue maka akan memperkecil keuntungan yang dikantongi perusahaan setelah dikurangi biaya operasional. "Target kami untuk overdue Oto di bawah 1%, sedangkan Summit diupayakan 1,5%," ujar Idham Cholid, Sekretaris Perusahaan Grup Oto kepada KONTAN, Rabu (28/12).

    Menurut dia, ada tiga langkah yang akan ditempuh Grup Oto untuk memperbaiki kualitas kredit di tahun depan. Pertama, memisahkan fungsi marketing dan kredit. Kedua, mengotimalkan call center untuk collection. Ketiga, membuat collection center yang bisa menangani beberapa cabang sekaligus.

    Sementara langkah yang ditempuh BFI Finance adalah mengedepankan proses kredit yang transparan . "Selain itu, struktur pembiayaan juga harus benar," timpal Cornelius Henry Kho, Direktur BFI.

    :: Sumber : http://keuangan.kontan.co.id ::


 

BI perkirakan kebutuhan uang tunai akhir tahun mencapai Rp. 48,4 Triliun

    28/12/2011

    JAKARTA. Bank Indonesia (BI) memproyeksikan kebutuhan dan persediaan uang selama Desember 2011 termasuk untuk kebutuhan Natal dan Tahun Baru sebesar Rp 48,4 triliun. Angka ini meningkat 14,1% dibandingkan dengan realisasi kebutuhan uang pada Desember 2010 sebesar Rp 42,4 triliun.

    Kepala Biro Humas BI Difi Johansyah mengungkapkan secara nasional persediaan uang tunai di BI pada akhir November 2011 sebesar Rp 144,9 triliun. Dana tersebut terdiri dari uang pecahan besar (UPB) senilai Rp 118,7 triliun dan uang pecahan kecil (UPK) senilai Rp 26,2 triliun.

    "Persediaan uang tersebut sangat mencukupi untuk memenuhi proyeksi kebutuhan uang pada saat Natal 2011 dan Tahun Baru 2012. Baik dari sisi jumlah total maupun jumlah per pecahan," kata Difi, Rabu (28/12).

    BI memperkirakan persediaan uang di BI secara nasional pasca Natal 2011 dan Tahun Baru 2012 sebesar Rp112,8 triliun. Jumlah ini masih mencukupi untuk memenuhi sekitar 3,9 bulan rata-rata outflow bulanan tahun 2012 sebesar Rp 28,3 triliun.
     

    :: Sumber :  http://keuangan.kontan.co.id/  ::

Halaman :  1 2 3 Last ›

 

LogoLPSBIBank sahabat KonsumenAyo ke Bank

 

 
Untitled Document