Produk-line

BPR Umum

Perbarindo Sertifikasi Pegawai BPR

17/04/2012

Bank perkreditan rakyat (BPR) terus menunjukkan komitmen mengembangkan bisnis mereka sebagai bank mikro. Buktinya, selain mendongkrak kinerja, BPR juga meningkatkan kemampuan sumber daya manusia (SDM) mereka.

Salah satu caranya, kata Djoko Suyanto, Ketua Umum Persatuan BPR Indonesia (Perbarindo), Perbarindo melakukan sertifikasi pegawai level manajer dan kepala cabang. Jadi, sertifikasi bukan hanya untuk pemilik dan direksi seperti selama ini. "Untuk sementara, sertifikasi ke para staf ini hanya bersifat sukarela," ujarnya kepada KONTAN, Minggu (15/4).

Saat ini, Perbarindo tengah merancang kerangka ujian sertifikasi, dengan melibatkan Bank Indonesia (BI) dan Lembaga Sertifikasi Profesi Lembaga Keuangan Mikro Certif (LSP LKM Certif). Djoko berharap, modul ini meluncur semester II-2012 sehingga sertifikasi dapat berjalan dalam tahun ini.

Sementara, sertifikasi level direksi, sejauh ini, berjalan mulus karena bersifat wajib. Dari 1.690 BPR, ada sekitar 4.000 pengelola yang sudah mengantongi lisensi.

Hingga Februari 2012, industri bank mikro ini berhasil menghimpun dana pihak ketiga sebesar Rp 39,3 triliun atau naik 21,67% dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu senilai Rp 32,3 triliun. Deposito, atau dana mahal, masih mendominasi dengan kontribusi antara 70% - 75%.

Dari sisi kredit, Perbarindo sudah menyalurkan pembiayaan sebesar Rp 42,4 triliun atau bertumbuh 21,87% dibandingkan akhir Februari 2011 lalu. Sementara, total aset tembus hingga Rp 59,9 triliun atau melejit 27,59%.

Djoko memprediksi, sampai akhir tahun nanti, pihaknya bakal mencapai pertumbuhan sedikitnya 23% - 25%. "Optimisme itu berangkat dari tingginya permintaan kredit dari kalangan pelaku usaha mikro dan kecil," jelasnya.

:: Sumber :  http://keuangan.kontan.co.id/ ::

BI minta BPR tingkatkan Likuiditas

30/12/2011

Bank Indonesia berharap Bank Perkreditan Rakyat dapat meningkatkan likuiditas dana pihak ketiga melalui program linkage dengan bank-bank umum.

Direktur Direktorat Kredit, Bank Perkreditan Rakyat (BPR) dan Usaha Mikro Kecil dan Menengah UMKM Bank Indonesia (BI) Edy Setiadi juga mengungkapkan kredit BPR mencapai Rp40 triliun tumbuh 20,96% dari Rp33 triliun per Oktober 2011.

"Sementara itu dana pihak ketiga di BPR masih lebih rendah dibandingkan kreditnya, yaitu Rp36 triliun, tumbuh 21,31% dari Rp30 triliun Oktober tahun lalu," ujarnya, kemarin.

Oleh karena itu, lanjut Edy, BPR harus memanfaatkan program linkage dengan bank umum guna meningkatkan likuiditasnya. Menurutnya saat ini baru BPR di wilayah Jawa, Sumatera dan Bali yang sudah memanfaatkan program tersebut.

Dia mengungkapkan, kesulitan masuk ke dalam program linkage salah satunya disebabkan oleh persoalan kecocokan kinerja BPR dengan bank umum yang memiliki program linkage. BPR yang dinilai sehat oleh BI belum tentu lolos dalam persyaratan bank umum.

Edy mengungkapkan saat ini terdapat 54 bank umum dan 16 BPD yang memiliki pola linkage dengan BPR. Adapun terdapat 1.500 BPR yang terhitung 2 kali mendapatkan pinjaman likuiditas dari bank lain. (Bsi)

:: Sumber : http://www.bisnis.com ::

 

LPS Tetapkan Suku Bunga Penjaminan 5,5%

    15/05/2012

    Rapat Dewan Komisaris (RDK) Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) telah menetapkan tingkat bunga pejaminan simpanan dalam rupiah sebesar 5,5 persen. Angka tersebut sama dengan periode sebelumnya. Sementara itu untuk simpanan valuta asing ditetapkan 1 persen, sedangkan simpanan di Bank Pengkreditan Rakyat (BPR) 8 persen.

    "Dengan demikian tingkat bunga penjamin simpanan berlaku pada periode 15 Mei 2012 sampai dengan 14 September 2012," ujar Kepala Eksekutif LPS, Mirza Adityaswara dalam keterangan tertulisanya, Jumat 11 Mei 2012.

    Menurut Mirza, beberapa pertimbangan yang melandasi keputusan itu di antaranya adalah kondisi likuiditas perbankan yang masih cukup tinggi. Diindikasikan dari nilai penempatan perbankan di BI yang mencapai Rp471 triliun.

    Kemudian tren biaya dana melonggar, Mirza mengatakan terlihat dari data biaya dana rata-rata tertimbang (cost of fund) perbankan yang relatif rendah sepanjang Maret 2012 yang berada pada posisi 4,44 persen. "Cadangan devisa pada akhir April 2012 meningkat sebesar USD5,9 miliar dari USD110 miliar menjadi USD116,4 miliar," lanjut Mirza.

    Selain itu, kinerja perekonomian domestik yang relatif terkendali dengan tingkat inflasi yang masih berada dibawah target pemerintah. Pada ketentuan LPS, Mirza mengatakan apabila tingkat bunga simpanan yang diperjanjikan antara bank dengan nasabah penyimpan melebihi tingkat bunga wajar, maka simpanan nasabah dimaksud menjadi tidak dijamin.

    "Berkenaan dengan hal tersebut, bank diwajibkan untuk memberitahukan kepada nasabah penyimpan mengenai tingkat bunga wajar yang berlaku dengan menempatkan informasi mengenai tingkat bunga wajar pada tempat yang mudah diketahui oleh nasabah penyimpan," pungkasnya.

    :: Sumber : http://sindonews.com ::

 

BI Pertimbangkan BPR menjadi Peserta Kliring Nasional

    21/03/2012

    Untuk memperluas layanan kliring, Bank Indonesia (BI) berencana mengikutsertakan Bank Perkreditan Rakyat (BPR) dalam Sistem Kliring Nasional Bank Indonesia (SKNBI).

    Untuk itu, bank sentral Indonesia ini masih mengkaji model yang tepat untuk melibatkan BPR dalam layanan kliring. Salah satu pilihan yang menguat adalah, melibatkan bank umum yang berfungsi sebagai induk dari BPR dalam melakukan kliring.

    "Perlu ada kerjasama dengan salah satu bank umum sebagai bank induk. Nanti bank induk yang melakukan kliring," kata JF Sri Suparni, Deputi Direktur Direktorat Akuntasi dan Sistem Pembayaran Bank Indonesia, Jumat (24/2).

    Suparni mengungkapkan, BI akan melakukan uji coba keikutsertaan BPR dalam melakukan kliring melalui bank induk itu di salah satu daerah. Rencananya, uji coba tersebut akan dilakukan pada semester tahun ini juga.

    Sementara itu, Aloysius Donanto, Analis Madya Direktorat Akuntasi dan Sistem Pembayaran BI menambahkan, konsep bank induk itu sekarang sudah dalam tahap kajian BI. "Kami masih mengkaji mana yang paling cocok dan modelnya dapat berlaku secara umum," ujar Donanto.

    Seperti diketahui, BI saat sudah mendorong BPD menjalankan model bisnis bank pengayom (bank Apex) bagi BPR di wilayah BPD itu. Saat ini, sudah ada empat BPD yang menjadi bank Apex, yakni BPD Bank Nagari (Sumatera Barat), BPD Bank Jawa Timur, BPD Kepulauan Riau, dan BPD Kalimantan Selatan.

    :: Sumber : http://keuangan.kontan.co.id/ ::

 

Halaman :  1 2 3 Last ›

 

LogoLPSBIBank sahabat KonsumenAyo ke Bank

 

 
Untitled Document