Tingkatkan Layanan, 5 BPR urus izin pembukaan ATM
30/09/2011
Dalam meningkatkan layanan kepada nasabahnya, lima BPR siap mengekor enam BPR yang telah memiliki layanan ATM. Saat ini Bank Indonesia tengah memroses perizinan pembukaan ATM oleh lima BPR, yang jatidirinya tidak diungkapkan bank sentral. Paulus Yoga
Jakarta–Bank Indonesia (BI) menyatakan, lima Bank Perkreditan Rakyat (BPR) siap meluncurkan anjungan tunai mandiri (ATM) untuk melengkapi layanannya. Karena saat ini service excellence atau layanan prima bukan hanya hak bank-bank umum.
“Itu ada lima BPR yang minta izin buka ATM. Mereka ikut membuka ATM karena saat ini BPR tanpa ATM itu ibaratnya sayur tanpa garam,” tukas Kepala Biro Kebijakan dan Pengembangan Sistem Pembayaran BI Aribowo, saat ditemui wartawan di Kompleks Gedung BI, Jakarta, Jumat, 30 September 2011.
Ditanya lebih lanjut, Aribowo enggan mengungkapkan BPR mana saja yang akan menambah layanan ATM dalam bisnisnya. Namun, ia tidak membantah kalau kelima BPR tersebut termasuk dalam BPR beraset besar.
“Nah, ini nanti tergantung dari kesiapan bank dalam menyelesaikan sejumlah persyaratan dari BI. Kadang-kadang untuk menyelesaikan persyaratan tersebut memerlukan waktu yang cukup lama,” tuturnya.
Adapun beberapa persyaratan dari bank sentral tersebut di antaranya, izin usaha, standard operational procedure (SOP), hingga audit keamanan. Kalau sudah memenuhi persyaratan, maka BI akan mengeluarkan izin paling lama 45 hari kerja.
“Kami ada prosedur bahwa izin akan keluar dalam 45 hari kerja, yakni dari pengajuan sampai selesai, sepanjang persyaratan sudah dipenuhi sesuai peraturan,” tandas Aribowo.
Berdasarkan data BI, saat ini sudah enam BPR yang membuka layanan ATM, diantaranya BPR Eka Bumi Artha, BPR Karyajatnika Sadaya dan BPR Semoga Jaya Artha. Selain pembukaan ATM dari BPR, bank sentral juga tengah memroses izin pembukaan ATM dari PT Bank Chinatrust Indonesia, sedangkan untuk PT Bank ICBC Indonesia pembukaan ATM sudah bisa dilakukan pada tahun ini. (*)
Maret 2011 aset BPR capai Rp.47,60 Triliun
15/07/2011
NPL BPR masih di atas ketentuan BI sebesar 5%. Sampai akhir 2011, Perbarindo akan menurunkan NPL tersebut hingga di bawah 5%. Bagaimana caranya? Kristopo
Jakarta–Perkembangan Bank Perkreditan Rakyat (BPR) terus mengalami perkembangan positif. Hal ini dapat dilihat dari aset BPR yang mengalami peningkatan.
Hingga Maret 2011, aset BPR sekitar Rp47,60 triliun. Aset ini mengalami peningkatan sekitar 4,07% jika dibandingkan akhir Desember 2010 yang mencapai Rp45,74 triliun.
Namun, perkembangan aset yang baik ini tidak diimbangi non performing loan (NPL) yang baik. Sampai Maret 2011, NPL BPR sebesar 6,41%. Angka NPL ini masih di atas ketentuan Bank Indonesia (BI) sebesar 5%.
“Memang NPL BPR masih sebesar 6,41%, masih di atas ketentuan BI sebesar 5%. Namun, dalam tiga tahun terakhir ini NPL BPR selalu mengalami penurunan. Sehingga kualitas kredit kami termasuk baik,” kata Ketua Umum Perbarindo, Joko Suyanto, kepada Infobanknews.com, di sela-sela acara IBEX 2011, d Jakarta.
Joko menambahkan, ke depan NPL BPR akan terus diturunkan hingga di bawah 5%. Salah satu caranya akan mendapatkan kualitas kredit yang baik.
“Kami akan meningkatkan analisis kredit kami di masa depan, sehinggga kredit yang didapat memiliki kualitas yang baik,” jelasnya.
Dari sisi loan to deposite ratio (LDR), BPR termasuk besar. Sampai Maret 2011, LDR BPR sebesar 80%. LDR ini mengalami peningkatan dibandingkan Desember 2010 yang sebesar 79,02%.
“LDR BPR ini merupakan LDR terbesar diantara perbankan nasional. Karena BPR sangat fokus dalam memberikan kredit kepada UMKM,” katanya. (*)
:: Sumber : http://www.infobanknews.com ::