EDISI>>01-02-03-04-05-06-07-08-09-10-11-12-13-14-15-16-17-18-19-20-21-22-23-24-25-26-27-28-29- 30-31>>

::LIPUTAN::

::BACAAN PALING EKSOTIS::

::ARTIKEL::

CLOSE UP #09

=> Isu Exo
=> Close Up
=> Intim
=> Gaya
=> Curhat
=> Potret
=> Jelajah
=> Bollystar
=> Exobolly
=> Terawang
=> Modus
=> Blitz
=> Gemar
=> Rona
Aturan
Langganan
Pesan CD
Pesan Bundel
Crew Redaksi
Saran Anda
Tarif Iklan
BELANDA NEGARA HOMOSEKS

Oleh : Rayu/berbagai sumber

Di beberapa negara timbul desakan agar pemerintahnya segera mengubah definisi tentang perkawinan dari beragam komunitas. Mereka beranggapan arti perkawinan bukan saja bersatunya pria dan wanita, melainkan bersatunya dua insan dalam kehidupan bersama.

Negara pertama yang melegalkan perkawinan sesama jenis adalah Belanda yang mengesahkan Undang-undang Perkawinan terbaru pada 1 April 2001. Perubahan itu terjadi  16 tahu kaum homseks memperjuangkan persamaan hak dalam pernikahan. Awal April itu, Catatan Sipil Amsterdam menikahkan tiga  pasangan gay dan sepasang lesbian. Tampil sebagai pegawai catatan sipil yang menikahkan mereka adalah Walikota Amsterdan, Job Cohen.

Sejak itu ada tiga bentuk hubungan resmi bagi pasangan hetero dan homoseks yang diakui Belanda, yaitu Marriage (pernikahan -red), Registered Partnership (pasangan resmi/tercatat -red) dan Living Together Contract (Kontrak Tinggal Bersama -red). Marriage dan Registered Partnership memiliki bentuk yang hampir sama dengan segala hak dan kewajibannya. Sementara Living Together Contract adalah sesuatu yang berbeda. 

Peristiwa sebagai moment bersejarah bagi kaum homoseks dunia. Henk Krol, tokoh pergerakan gay di Belanda yang juga Pemimpin Redaksi Gay Grant --majalah gay terbesar di dunia-- mengatakan, peraturan yang diterapkan bagi kaum homoseks yang ingin menikah di Belanda tidak terlalu berat.

Salah satunya yang wajib dipenuhi adalah bila ada dua pria warga negara asing yang berdomisili di Belanda dengan ijin tinggal minimal empat bulan, boleh melakukan pernikahan di sana. Menurut Henk Krol, Amsterdam merupakan kota toleransi terutama terhadap kaum minoritas. “Sejak lama Amsterdam sudah menjadi Gaycity,” ujarnya.

Langkah yang diambil Belanda ini mendapat sorotan. Ada yang pro, lebih banyak yang kontra, terutama negara-negara yang masih memegang teguh prinsip-prinsip keagamaan. Negara yang setuju antara lain Amerika dan Kanada. Maklum, di kedua negara tersebut hubungan sejenis bukan lagi hal tabu.

Uniknya,  negara yang menyusul sikap Belanda bukan Amerika atau Kanada, melainkan Belgia yang pada Maret 2002 lalu Senatnya menyetujui rancangan undang-undang (RUU) yang mengizinkan komunitas gay dan lesbian menikah di sana.

Berdasarkan ‘Koalisi Pelangi Belgia’ lahir aturan yang melarang pasangan gay mengadopsi anak lantaran tidak ada peran ibu di rumah tangga pasangan gay. Sementara pasangan lesbian boleh mengadopsi anak karena ada hak asuh bagi perempuan di dalam hubungan sejenis. Aturan itu disetujui 46 dari 61 anggota Senat Belgia.

Seperti dikutif  Ananova, Perdana Menteri Belgia, Guy Verhofstadt tahun lalu menyatakan, “Mentalitas telah berubah, tidak ada alasan lagi untuk menghalang-halangi pernikahan sejenis”. Negara ketiga yang mengekor adalah Kanada. Pada Rabu, 11 Juni 2003 lalu, Pengadilan Tinggi Ontario, Kanada menetapkan UU Pernikahan tersebut.

DITENTANG BUSH--Pada hari bersejarah itu dinikahkan empat pasangan sejenis, sementara ratusan pasangan lain menyusul. Sedangkan dua tahun sebelumnya, tepatnya tengah malam tanggal 31 Maret 2001 telah menikah Frank dan Peter, Dolf dan Gert, Ton dan Louis, serta Helene dan Anne-Marie secara resmi sebagai pasangan gay dan lesbian pertama di Belanda yang acaranya dihadiri dan diresmikan oleh Job Cohen, walikota Amsterdam saat itu.

Ribuan pasangan homoseks telah mendaftar dan bahkan mendapat persetujuan menikah sejak  ijin resmi dipublikasikan di Ontario, Kanada. Sebaliknya, di Amerika Serikat, pernikahan sejenis kurang mendapat dukungan di 50 negara bagian.

Tidak mustahil banyak warga Amerika yang ‘sakit’ akan berbondong-bondong ke Kanada untuk menikah. Hanya saja, keputusan pemerintah Kanada ditentang kelompok oposisi dari partai-partai konservatif yang beranggapan bahwa mengubah definisi pernikahan akan menjatuhkan prinsip dasar bangsa Kanada.

Keuskupan Gereja Anglican di Vancouver, Canada,  sendiri telah menyetujui untuk memberkati same-sex union (persatuan dua orang berjenis kelamin sama-red).

Seperti diberitakan Tempo (Jumat, 1 Agustus 2003), Vatikan turut melancarkan kampanye global menentang pernikahan kaum homoseks. Kampanye tersebut, menurut Tempo mengingatkan para politisi Katolik untuk menentang penyatuan jenis kelamin yang sama dalam ikatan pernikahan. Vatikan menganggap hal tersebut tidak bermoral.

Presiden Amerika Serikat, George Bush pun menegaskan, bahwa pernikahan merupakan bersatunya pria dan wanita. Dokumen Vatikan, Proposal Pertimbangan yang memberikan pengakuan hukum kepada kaum homoseks memaparkan rencana perlawanan untuk politikus.

Ini untuk persiapan bila berkonfrontasi dengan hukum ataupun perundang-undangan yang memberikan hak sama bagi pasangan homoseks untuk menikah. Selain melarang pasangan homoseks menikah, juga muncul keinginan kuat melarang pasangan gay mengadopsi anak.

Sikap menentang juga datang dari masyarakat Kristen di Vancouver, Kanada yang masih mempunyai kesadaran untuk ‘berteriak’ menentang pengesahan pernikahan sejenis. Itu terbukti, hari Sabtu (16/Agustus) lalu, sekitar sepuluh ribu orang memprotes keputusan pemerintah Kanada yang akan mengesahkan aturan pernikahan sejenis dan undang-undang barang siapa menghina, baik melalui ucapan atau tulisan, tentang kaum homoseksual akan dianggap kriminal dan bisa masuk penjara.

Pada pertengahan tahun 2001, di Jerman, pernikahan pasangan gay pertama digelar setelah dikeluarkannya undang-undang baru yang memperbolehkan pernikahan sejenis. Heinz Friedrich Harre menikahi pasangannya Reinhard Luechow di Hanover.

“Bagi pasangan homo dan lesbian di Jerman hal ini sebuah langkah maju setelah perjuangan panjang. Undang-undang ini akan membuat banyak orang gembira,” kata Volker Beck, salah seorang yang memperjuangkan diakuinya kaum gay.*

***

Wawan (31), Ketua IPOOS
LANGKAH GILA

Oleh : Rayu

Ketika ditemui di Cafe Jalan-Jalan Cafe pada Minggu (19/20), Wawan,  Ketua Ikatan Orang Orang Sehati (IPOOS), menyuarakan apa yang dia rasakan tentang perkawinan sejenis. Menurutnya, apa yang dilakukan Philip dan William adalah sesuatu yang sudah di luar akal sehat. “Kalau gue sendiri, sih nggak bakalan kawin kayak gitu. Gue juga masih memikirkan lingkungan, keluarga, juga agama,” ujar Wawan.

Misalkan dalam waktu dekat disusun UU yang mengatur tentang perkawinan sesama, pun dia tidak akan melakukan perbuatan yang dia anggapnya ‘gila’ itu. Lain hal bila dia bukan orang Indonesia. “Sekarang ini gue ibarat anak kecil yang kalau disuapin bisa makan. Kalau orangtua gue sekarang nyariin cewek untuk dinikahi, gue pasti nikah. Biar bisa ereksi, gue menghkayal main sama sejenis aja, dulu. Dengan begitu gue pasti bisa punya keturunan,” papar Wawan sambil tersenyum. *

***

Roni (32)
TIDAK AKAN MENIKAH

Oleh : Rayu

Romi yang diwawancarai Exo, Sabtu (18/10) di Sarinah, Thamrin, mengatakan tidak akan menikah dengan sejenis hanya untuk mendapat pengakuan. Meski seluruh keluarganya sudah mengetahui bahwa dia adalah seorang homoseksual, namun dia tidak ingin menyakiti lagi hati keluarganya dengan menikah. “Punya kelainan saja saya sudah menyakiti hati mereka, apa lagi sampai menikah,” ujarnya.

Roni yang menyadari kelainannya sejak masuk SMP ini mengaku tidak akan menikah dengan gay dan juga tidak bersedia menikah dengan wanita. “Bukannya saya  tidak pernah berkencan, tetapi tidak sesering yang diduga orang. Terus terang, sekarang pun saya nggak punya pacar,” ujar gay tampan asal Sumatera Barat ini. *

*** 

Uki (33), Tokoh Gay Yogyakarta
PATUT DIHARGAI

Oleh : Don

Uki yang juga penggiat Yayasan Pelangi merupakan salah seorang penentang paling keras dengan keputusan yang diambil Philip. Alasannya adalah karena kaum homoseksual Yogyakarta masih trauma dengan tragedi penggrebekan yang terjadi November 2000 lalu. “Itu sebabnya saya dan teman-teman yang tergabung di dalam Yayasan Pelangi menentang perkawinan itu. Takut peristiwa itu terulang,” papa Uki yang diwawancarai Exo di lantai III Kantor PKBI Yogyakarta.

Namun karena tekad Philip sudah bulat, Uki dan rekan-rekannya hanya bisa mengucapkan salut kepada pasangan tersebut. “Langkah Philip patut dihargai. Hanya kami, terutama saya, terus terang tidak berpikiran kalau sampai harus menikah seperti yang dilakukan Philip. Tapi kalau memang teman-teman sudah cocok dengan pasangannya, silahkan saja. Kami menghargai apa pun keputusan yang mereka ambil,” tandas Uki. *

*** 

PERJUANGAN PANJANG

Oleh : Rayu/GN

Dari waktu ke watku perjalanan kaum homoseksual dalam mencari indentitas diri masih terus berlangsung. Namun yang pasti istilah homoseksual diperkenalkan oleh seorang dokter keturunan Jerman-Hongaria, Dr. K.M. Kerbeny pada tahun 1869.

Tahun 1920 komunitas homoseksual mulai muncul di kota-kota besar di Hindia Belanda. Pada tahun 1969 di Indonesia muncul istilah ‘wadam’ sebagai pengganti kata ‘banci’. Namun pada tahun 1980, istilah tersebut diganti dengan ‘waria’ karena beberapa ulama di Indonesia memprotes karena nama tersebut sama dengan nama seorang Nabi.

Tahun 1969 organisasi wadam pertama dibuat dengan nama Himpunan Wadam Djakarta di bawah lindungan Gubernur DKI Jakarta, Ali Sadikin. Pada tahun yang sama di New York, Amerika Serikat terjadi huru hara Stonewall. Inilah persitiwa yang dianggap sebagai pergerakan pertama kaum homoseksual di dunia. Selanjutnya, pada 1978 International Lesbian and Gay Association berdiri di Dublin, Irlandia. Pada tahun 1981 ditemukan penyakit aneh yang belakangan diketahui dengan nama AIDS di kalangan homoseksual. Pada 1982 organisasi gay terbuka, Lamda Indonesia didirikan.

Menyusul pada tahun 1985 berdiri Persudaraan Gay Yogyakarta, tahun 1987 juga berdiri Kelompok Kerja Lesbian dan Gay Nusantara yang kemudian berganti nama menjadi Gaya Nusantara dan pada tahun 1988 Persaudaraan Gay Yogyakarta diteruskan menjadi Indonesian Gay Society (IGS). Pada 1989, Denmark menjadi negara pertama yang bisa mencatatkan kemitraan (registered partnership) dengan hak hampir sama dengan perkawinan.

Setelah itu tahun demi tahun hal yang menyangkut kehidupan kaum minoritas ini terus bergulir hingga beberapa negara di Eropa mengesahkan UU Perkawinan antar sesama jenis di antara pro dan kontranya yang beragam. Negara-negara tersebut di antaranya Belanda, Belgia, dan terakhir Swedia.*

=> Rilexo
=> Cerbung
=> Noji
=> cinexo
=> Etalase
=> Gaul
=> Kelambu
=> Exolusi
=> Amor
=> Mbak Dona
=> Horoskop
=> Poster
=>
Bintang Exo
Free Web Site Counter

hubungi redaksi - webmaster - pasang iklan
Copyright 2004 exotica23.tk (pt angkasa media utama) All Rights Reserved

Hosted by www.Geocities.ws

1