Dua minggu yang lalu seorang aktivis mahasiswa menyampaikan keluhan dan kegelisahan kepada
saya, perihal kurangnya minat mahasiswa terhadap aktivitas kemahasiswaan. Secara implisit
ia juga mengeluhkan proses pemilihan ketua lembaga yang hanya memunculkan calon tunggal
ketua Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) dan ketua Himpunan Mahasiswa. Padahal sebelumnya
banyak yang mendaftarkan diri, namun mengundurkan diri, entah kenapa ?
Singkat kata, ketika, saya bertemu dengan rekan aktivis tadi, ternyata banyak keluhan yang
saya terima. Dan saya pun baru tahu bahwa ia adalah salah Atu aktor provokasi untuk
menggulingkan dekan dan membuat manuver dalam mengabstainkan dalam pemilu Raya. Pasalnya
ia sangat kecewa terhadap kondisi lingkungan dimana ia berada, baik terhadap mahasiswa
pada umumnya dan khususnya terhadap Dekan, para pembantu Dekan, pihak Dosen dan tata usaha
yang dianggapnya tidak becus dalam memberikan pelayanan yang baik bagi kondusifitas
mahasiswa, apalagi menjadi motivator bagi kemajuan lembaga kemahasiswaan, sangat absurd
tegas teman tadi.
Sebagai mahasiswa yang sedikitnya pernah dan sedang berkecimpung di dunia kemahasiswaan,
saya merasa tertarik untuk mencoba menelusuri akar persoalan ini. Bahkan dalam benak ini
saya menduga ada yang sakit dalam sistem management dan sistem romantisme yang dibangun
dalam interaksi kampus. Jika, agaknya tidak berlebihan jika semua pihak melakukan sebuah
intropeksi dan sekaligus mereformasi sebagai arena evalausi terhadap perjalanan tersebut
diatas yang semakin membuka tabir semu dari sistem yang dibangun. Tabir ini muncul
kepermukaan akibat ketidakpuasan mahasiswa terhadap ketidak profesionalan sikap, pelayanan
dan akibat kebijakan yang diberikan. Terlebih lagi kerangka "otonomi fakultas"
dipasung oleh sebuah institusi "yayasan" yang secara otoriter dan close
management dengan gampangnya membolak-balikan kebijakan. Bahkan hal yang paling sensitif
seperti segala sesuatu yang menyangkut persoalan keuangan tidak pernah terinformasikan
secara jujur kepada mahasiswa. Pun selama ini mahasiswa tidak pernah tahu bahwa uang SPP
yang mereka bayarkan melewati tekanan-tekanan birokrasi administrasi (saat akan ujian
semester )meski krisis belum berlalu, hanya setengahnya saja di gunakan untuk sebuah
proses pendidikan. Yang lebih mengenaskan tatkala dipasungnya kreatifitas mahasiswa dengan
dalih macam-macam oleh pihak fakultas, sehingga tak berlebihan jika dalam sebua forum
Perhimpunan Pers Mahasiswa Indonesia (PPMI), salah seorang teman perguruan tinggi swasta
dari Yogya berseloroh, "sudahlah, bubarkan saja itu lembaga kemahasiswaan kalau
kondisinya seperti itu, masa untuk aktivitas seorang mahasiswa saja hanya dianggarkan Rp.
10.000 per tahun".
Menyoal pemasalahan diatas, barangkali perlu sebuah aufklarung untuk menggenjot
terciptanya reformasi total. Ini perlu untuk mengembalikan cita dan citra fakultas yang
mulai terpinggirkan dipentas nasional. Sebagai langkah awal bagaimana seluruh civitas
akademika mengiring mahasiswa pada "kran" akademik yang concern pada
persoalan-persoalan kebangsaan, ataupun untuk para dosen agar tidak terjebak konflik
personal karena gila jabatan, kedudukan yang semu, tanpa meninggalkan kesan terbaik dalam
masa-masa tugasnya. Maka alangkah baik dan pentingnya untuk dikritisi tentang perubahan
paradigma, dimana selama ini yang kerap terlihat pihak penguasa kampus dianggap lebih
menonjolkan jargon kekuasaannya daripada melihat tugas atau kepemimpinannya di kampus
sebagai sebuah simbol amanah mesti diaktualisasikan kearah proses "penyadaran"
dan pemberdayaan. Maka tidaklah heran, jika wacana yang muncul tiap kali mengerucut pada
"gugatan" seberapa jauh kontribusi civitas akademika fisip Unpas baik dalam
bentuk pemikiran ataupun aksi kongkrit terhadap proses penyadaran dan pemberdayaan
masyarakat kampus.
Secara logis, bagaimana mungkin kampus akan kondusif dalam mengaktualisasikan proses
penyadaran dan pemberdayaan, kalau secara personal civitas akademika kampus tidak
mempunyai niat dan itikad baik untuk itu, apalagi belum terbangunnya sebuak kesadaran dan
keberdayaan tadi, karena bagaimanapun sebuah tanggung jawab moral terhadap mahasiswa mesti
berangkat dari moralitas yang sehat pada kita semua.
Pada persoalan lain yang sangat klasik adalah budaya nepotisme yang mengkultur dan
menjadikan tenaga-tenaga pengajar pasif dan takut terhadap "budaya restu".
Akibatnya, legal saja jika terjadi pengangkatan sanak- saudara, teman atau rekan pada
jabatan publik tanpa memandang jasa, kapasitas intelektual, maupun konsekuensinya pada
kesejahteraan publik, padahal keberhasilan sebuah institusi apapun sangat ditentukan pada
profesionalisme yang sesuai dengan bidang ilmu yang dipunyai, namun entah apa alasannya
falsafah kekeluargaan begitu melekat sebagai budaya manut yang bergandengan dengan kondisi
riil, kebutuhan ekonomi secara "malu-malu". Sebagai konsekuensi logisnya adalah
mahasiswa yang hanya dijadikan sebagai konsumen saja dan akhirnya menjadi korban sejarah
ketika gelar kesarjanaannya tidak mampu memecahkan persoalan-persoalan yang dihadapinya.
(Penulis ; Aktivis Forum Studi CDS 14 Bandung).
. |