...
Tuhan Menghentikan Hujan Badai
...
Tahun 1992, pas di hari jenasah Norman Edwin, salah satu pakar pendaki gunung Indonesia yang meninggal di gunung Acocancua, Argentina, tiba di Jakarta. Saat itu saya masih kuliah di Perbanas, Jakarta, sedangkan Saya tinggal di Bogor. Hari itu Saya kuliah jam 5 sore. Seperti biasa, Saya naik bus antar kota dan turun di Cawang arah terminal bus Cililitan, saat itu belum ada terminal bus Kampung Rambutan.
Beberapa saat setelah Saya naik bus kota jurusan Cililitan – Gambir yang lewat Kuningan, hujan mulai turun dengan derasnya, sangat deras, butiran airnya besar-besar. Langit gelap, angin bertiup dengan kencang sekali, disertai guntur. Pohon-pohon sepanjang jalan sampai miring dibuatnya.
Sejauh mata memandang hanya awan gelap, tak terlihat matahari sedikitpun.
Saya sempat tanya kepada seorang teman kuliah yang duduk disebelah Saya, apakah ia membawa paying. Dia menjawab “Iya, tapi kalau hujan seperti ini, percuma saja”.
Tak banyak yang saya dapat lakukan dalam hal ini. Saya mulai berdoa. Doa Saya singkat dan sederhana, “Tuhan, kalau Engkau mau Saya kuliah dengan basah kuyup, terjadilah menurut kehendakMu, tapi kalau Saya boleh memilih Saya mau kuliah dengan keadaan kering”. Kurang lebih seperti itu doa Saya. Saya berserah total kepada Tuhan.
Saya tidak tahu, bagaimana Saya bisa kuliah dengan keadaan kering. Tak terpikir dan tidak Saya pikirin. Logika Saya mengatakan kalau hujan bakal berlangsung lama, karena hujan tersebut baru saja mulai dan awanpun gelap dimana-mana. Sepertinya seluruh Jakarta gelap. Paling tidak itu yang mata Saya dapat lihat.
Sampai perempatan Kuningan hujan badai masih berlangsung, dan tak ada tanda-tanda untuk berhenti atau reda.
Satu halte sebelum Kampus, juga tak ada tanda-tanda untuk reda.
Pas bus tiba dihalte Kampus, hujan berhenti, tak setetes airpun turun dari langit, angin kencangpun berhenti. Tetapi langit masih gelap. Seperti tak saadar akan hujan sebelumnya, Saya berjalan menuju Kampus.
Saya jalan kegedung tempat Saya akan mengikuti kuliah. Kira-kira 5 menit. Saya sempat berbincang dengan seseorang diluar gedung.
Pas Saya tiba dikelas dan duduk dibangku, tiba-tiba hujan turun lagi dengan derasnya.
Saat itu Saya sadar, kalau Tuhan sudah menghentikan hujan buat Saya.
Hadirat Tuhan langsung terasa. Saya pindah duduk dibelakang dan menangis. “Siapa Saya Tuhan? Hingga Engkau hentikan hujan hanya supaya hambaMu ini tidak kebasahan saat kuliah.” Tak layak, hamba untuk menerimanya.
Rohku melihat Tuhan tersenyum manis, seperti seorang ayah terhadap anaknya. Dia memang menghentikan hujan untukku.
Lalu Firman Tuhan yang mengatakan bahwa kita, anak-anakNya seperti biji mataNya sendiri. We are the apple of HIS eyes.
Terpujilah Nama Tuhan!
Haleluyah!
-----------------------------------------------------
----------------------------------------------------- |