... Kesaksian Esther ...



.. tetapi barangsiapa melakukan yang benar, ia datang kepada terang, supaya menjadi nyata, bahwa perbuatan-perbuatannya dilakukan dalam Allah.
(Yoh 3:21)

Tidak ada seorangpun yang dapat datang kepada-Ku, jikalau ia tidak ditarik oleh Bapa yang mengutus Aku (Yoh 6:44)

Teman-teman sekalian,

Ini adalah cerita tentang bagaimana saya mendapatkan kedamaian yang benar. Saya dilahirkan di Amerika dari orang-tua Pakistan. Sebagai anak-anak, kami diajarkan bahwa hanya Islam agama yang benar dan kita diberkati karena kita mengetahui kebenaran ini. Orang Yahudi dan Kristen hanya menerima sebagian kebenaran, yang kemudian dirusak. Hindu tertipu dengan menyembah berhala kayu dan batu. Kami diajarkan tentang kehidupan nabi Muhammad dan kelima tiang Islam. Sebagai gadis kecil, saya paling tekun diantara saudara-saudara saya dan secara aktif membaca buku-buku tentang Muhammad dan Islam. Saya membagikan dan mempertahankan iman saya diantara teman-teman sekelas saya, sering kali hanya saya sendiri yang Muslim diantara murid-murid Kristen. Saya mengatakan kepada semua orang di kelas tentang bagaimana Cassius Clay melakukan konversi menjadi Islam dan menjadi Muhammad Ali. Saya membawa Quran dan buku-buku tentang Muhammad ketika saya melakukan perjalanan bersama orang-tua saya. Saya mencoba menyamai Muhammad dalam segala hal, dari kebiasaan makan dan minumnya sampai sembahyang ke arah Kabah. Saya sembahyang dan berpuasa semenjak usia 9 tahun, membaca Quran saya dari awal sampai akhir di bulan Ramadhan. Saya bahkan berdebat dengan murid kelas 3 Kristen, saya bertanya kepadanya bagaimana mungkin dia percaya bahwa Allah punya anak, dan bagaimana dia menyembah seseorang yang hanyalah seorang nabi?
Dia berkata kepada saya, "Baiklah, Saya mungkin tidak melihat Anda di Surga nanti!"
Saya menjawab, "Saya rasa tidak."

Walaupun saya melakukan semua usaha ini, saya selalu depresi, selalu murung dan rendah rasa percaya dirinya. Saya berpikir diri saya sangat buruk dan berdosa. Apapun yang saya lakukan, dari melakukan hal-hal baik sampai berpakaian dengan baik, saya selalu merasa kesepian seperti orang buangan. Tentunya, saya mempunyai teman; tetapi di dalam saya merasa sangat menderita. Setiap malam saya sering menangis sendiri, dan memohon kepada Allah dengan berlutut, Quran saya terbuka, mencoba mencari kedamaian melalui kata-katanya.

Sebaliknya, saya melihat Allah yang dingin dan jauh.

Kadang-kadang saya membayangkan tentang Surga seperti yang dijelaskan di Quran: berbaring di tempat tidur sutra dan mengenakan pakaian bagus dan perhiasan-perhiasan; minum air murni dari mata air; ditunggui oleh perawan-perawan ... baiklah, bagian itu tidak berarti banyak untuk saya. Saya ragu apakah Surga ini dapat memberikan saya kedamaian. Di tengah mimpi saya, realitas yang dingin menyentuh saya: saya tidak akan pernah pergi ke sana. Saya tidak akan pernah cukup baik. Saya membayangkan Neraka seperti yang dijelaskan di dalam Quran, dengan langit-langitnya meneteskan kuningan meleleh dan air mendidih.
Meskipun begitu, saya teruskan membaca Quran, berpuasa, dan berdoa. Dan ketika saya tumbuh dewasa, saya mulai mengerti lebih baik tentang Quran. Suatu hari, saya membaca Sura 4, Wanita-wanita di ruangan saya. Saya berumur 14 tahun pada saat itu. Saya membaca tentang warisan seorang istri dibandingkan dengan suami dan anak-anaknya. Saya membaca ijin yang Tuhan berikan kepada laki-laki untuk menikah dengan empat istri. Tidak ada yang baru sejauh ini; saya tahu bahwa ini dituliskan selama masa perang, ketika laki-laki mati meninggalkan istri-istri dan anak-anak mereka sebagai janda dan yatim. Tetapi bagian berikutnya mengejutkan saya untuk pertama kalinya:

"Untuk mereka yang kamu kuatir tidak taat, nasihati mereka dan tariklah mereka ke tempat tidur dan pukullah mereka" (Sura 4:34, Dawood)

Dengan terkejut, saya membaca dan membaca ulang bagian itu.
Saya berlari ke bawah ke bapak saya menunjukkan kepadanya bagian itu, sambil menangis. "Bagaimana mungkin Allah mengatakan ini?" "Bagaimana mungkin Dia memerintahkan laki-laki untuk memukul istri-istri mereka?"
Ayah saya tidak percaya akan apa yang dibacanya, dan tidak punya penjelasan tentang hal itu. Dia mengusap saya dengan tidak nyaman. Saya kembali ke lantai atas, bingung sekali. Entah bagaimana, saya menenangkan diri saya sendiri dan percaya bahwa suatu hari Allah akan menunjukkan alasan untuk hal ini kepada saya.

Waktu berjalan terus, saya menjadi semakin depresi dan kadang-kadang bahkan cenderung untuk bunuh diri. Kadang-kadang saya tidak dapat menemukan alasan untuk hidup. Untuk mengurangi rasa sakit, saya melibatkan diri saya dalam musik, politik, dan anak-anak laki-laki. (Tentu saja, saya menyembunyikan tentang anak laki-laki dari orang-tua saya). Saya sukses di SLTA sebagai seorang pemusik, tetapi saya merasa menderita di dalam hati saya karena saya merasa tidak akan pernah cukup baik. Saya semakin tertarik pada situasi di Timur- Tengah dan bahkan menulis sebuah artikel yang dipublikasikan di koran Muslim. Saya mempunyai pengalaman kegagalan dengan beberapa pemuda, berfantasi dicintai dan dihargai sebagai perempuan. Tetapi, tidak satupun skenarionya menjadi kenyataan. Saya berkencan dengan seorang pemuda, seorang Kristen, selama 3,5 tahun sampai akhir SLTA. Saya secara aktif meyakinkannya bahwa saya seorang Muslim dan tidak akan pernah menjadi Kristen. Dia tidak pernah berdebat dengan saya, hanya memperhatikan saja. Semua itu gagal memberikan saya apapun, hanya membebaskan saya sementara dari keputus-asaan. Ketika tiba waktunya untuk masuk ke Universitas, saya memutuskan untuk "memulai kembali" dan menemukan kebenaran tentang Tuhan.

Sambil membereskan barang-barang saya di ruang asrama universitas, saya memutuskan bahwa saya seharusnya mengambil kelas tentang Islam. Saya bertemu seorang pemudi Muslim di asrama saya, dan saya memberitahukannya perhatian saya pada Islam dan perempuan. Saya memberitahukan rencana saya untuk mengambil kelas-kelas yang berhubungan dengan hal tersebut. Tentunya, sebuah kelas ditawarkan pada semester pertama! Saya sangat bersemangat, percaya bahwa kekuatiran-kekuatiran saya akan segera terhenti. Setelah pelajaran dimulai, saya dengan senang membaca kutipan-kutipan dari Quran dan Hadis, karena saya familiar dengan wilayah ini. Bahkan lebih bersemangat ketika mempelajari kehidupan Muhammad dan sejarah awal mula Islam. Beberapa buku sumber ditulis oleh orang Inggris, dan sangat berat sebelah. Saya memutuskan untuk memfokuskan pada Hadis dan buku-buku sejarah yang ditulis oleh sarjana Muslim.

Semangat saya berubah menjadi keterkejutan ketika kelas terus berjalan. Saya membaca tentang perang-perang ofensif dan penaklukan-penaklukan berdarah yang dilakukan untuk menyebarkan Islam. Saya membuka halaman demi halaman untuk membaca perilaku Muslim terhadap "kafir," Kristen, dan Yahudi yang tidak mau memeluk Islam. Pembantaian masal Yahudi Qurayza paling mempengaruhi saya. Para pembaca, saya mendorong Anda untuk membaca sendiri catatan tentang perang ini (Ibn Hisham: The Prophet's Biography; vol 2 pages 40-41). Saya bergumul dalam hati saya, berpikir, "Tetapi Islam adalah damai! bagaimana ini mungkin terjadi?" Keterkejutan berubah menjadi kebingungan, dan kebingungan menjadi pengkhianatan sambil membaca lebih lanjut tentang kehidupan Muhammad. Meskipun saya mengetahui bahwa laki-laki dapat memiliki maksimum empat istri, saya tidak menyadari bahwa Muhammad mempunyai hak khusus, termasuk jumlah gundik yang tak terbatas.
Saya membaca tentang Aisha, pengantinnya yang berusia sembilan tahun. Saya juga mempelajari "kekurangan pikiran perempuan" seperti diceritakan oleh Al-Bukhari. Saya juga menemukan bahwa mayoritas penghuni neraka adalah perempuan, menurut sumber yang sama. Di manakah Muhammad yang diajarkan kepada saya: Nabi Suci, yang berpakaian putih dan menghormati ibunya. Suatu hari, saya tidak dapat terus membaca, karena saya tidak dapat menitikkan air mata saya yang terus mengalir. Saya mengumpulkan buku-buku saya, berpikir bahwa jika ini Allah, saya tidak akan menyembahnya. Tetapi itu hanya pikiran selintas. Saya tahu di dalam hati saya bahwa Allah ada. Hanya tidak dapat diungkapkan lewat Muhammad. Seraya meninggalkan perpustakaan hari itu, saya merasakan Allah melihat ke bawah dari atas sana. Saya merasakan kedamaian yang aneh ketika saya meninggalkan Islam hari itu ... sepertinya Tuhan sedang menunggu saya untuk menemukan siapakah Dia.

Saya memutuskan untuk mencari kebenaran di agama-agama lain. Di universitas yang besar, terdapat aneka jenis agama. Saya berbicara dengan penganut Hindu, Yahudi, dan Khatolik secara bersamaan, mencoba mengerti kepercayaan mereka dan mencari sesuatu yang masuk akal saya. Saya bahkan bertemu pemudi Budha yang melakukan konversi ke kepercayaan Ba'hai. Saya tertarik: Apa yang menyebabkan konversinya? Dia menjelaskan kepada saya tentang kehampaan agama Budha, dan bagaimana Ba'hais percaya bahwa semua agama pada saat tertentu telah diungkapkan oleh Tuhan tetapi dirusak oleh manusia. "Ini kelihatannya bagus," pikir saya. Saya setuju untuk mengunjungi Kuil Ba'hai dengannya dan saya mulai membaca tentang kepercayaan Ba'hai. Entah bagaimana ketika saya pergi ke pelayanan kuil, saya merasakan kekosongan. Kemudian saya mempelajari beberapa perumpamaan tentang nabi mereka, Bahaullah yang sangat mengganggu saya. Saya tahu bahwa kebenaran tidak berada di sana, dan saya mulai letih dan frustasi dalam pencarian saya.

Seorang teman Khatolik memberikan saya sebuah Alkitab. Saya mulai membacanya dari kitab Kejadian tetapi kemudian saya menjadi kecil hati karena panjangnya. Liburan Natal datang, jadi saya memutuskan membawanya bersama saya dan membacanya dalam liburan ke Pakistan. (Alkitab itu selalu ada pada saya, tetapi syukurlah, tidak ada seorang pun yang menemukannya. Saya tidak tahu apa konsekuensinya untuk kepemilikan Alkitab pada waktu itu di sana.) Pesawat kami melakukan transit di Saudi Arabia. Seraya pesawat ditarik ke terminal, saya mendapat pandangan sekilas lambang penerbangan Saudi Air: Dua pedang bermata satu, dan sebuah perisai. Saya ingat kata-kata Muhammad yang saya baca di kelas tentang Islam: "kekuasaan adalah dengan pedang." Saya melihat ketika prajurit-prajurit muda mengeledah pesawat untuk menemukan minuman keras dan narkotik.

Setelah sampai di Pakistan, saya tergerak oleh tulisan yang saya lihat di tembok-tembok kota, tertulis, "Oh Tuhan tunjukkanlah kepada kami mujizat- mujizatMu," dan "Insya Allan kami akan diselamatkan." Saya dibuat sedih dengan anak-anak jalanan, pengemis, dan penderita kusta, berbaris sepanjang jalan. Saya juga merasa tersentuh dengan kasih sayang keluarga jauh saya kepada saya. Saya tidak tahu apakah mereka telah mengetahui hal yang sebenarnya tentang Islam, dan jika ya, bagaimana mereka tetap percaya kepadanya. Paman saya berusaha menjelaskan kepada saya tentang hak-hak perempuan dalam Islam, tetapi saya tetap tidak yakin. Saya kembali (ke AS) dengan pengaruh kesedihan yang mendalam dan keputus-asaan negara saya. Saya mengembalikan Alkitab kepada teman saya.

Pada satu malam yang sudah larut, saya mengatakan kepada teman saya yang lain tentang depresi saya dan ketidak-mampuan saya untuk melihat arti kehidupan. Dia bertanya kepada saya apakah percaya kepada sesuatu. Saya berkata kepadanya bahwa saya percaya kepada Tuhan, nabi-nabi dan bahwa jika saya berbuat baik saya akan masuk Surga dan jika saya berbuat buruk saya akan masuk Neraka. Dia bertanya kepada saya "Baiklah, apakah kamu pada dasarnya berpikir bahwa kamu baik seumur hidupmu?" Saya menjawab bahwa saya tidak pernah membunuh seseorang atau berzinah.
Dia berkata, "Jadi tidak usah kuatir tentang hal itu! Kamu akan masuk Surga."
Jelas, saya sangat bingung. Saya bertanya padanya bagaimana mungkin itu terjadi, bagaimana saya dapat masuk Surga. Dia bertanya apakah saya pernah membaca Perjanjian Baru Saya menjawab belum. Dia bertanya apakah saya ingin membacanya, dan saya memang ingin. Ketika kami membuka kitab injil Matius, saya merasakan kedamaian yang sangat besar melingkupi saya - kedamaian yang sama yang saya dapatkan ketika saya meninggalkan perpustakaan dahulu.
Saya tahu bahwa jawabannya ada di dalam. Sekarang, saya tahu bahwa kedamaian ini adalah kedamaian yang dibicarakan di Surat Filipi : "Damai sejahtera Allah, yang melampaui segala akal, akan memelihara hati dan pikiranmu dalam Kristus Yesus." (Filipi 4:7)

Kami membaca dengan keras dua belas pasal kitab Matius. Saya sangat merasa sangat aman, seperti Tuhan sendiri berada di dalam ruangan bersama dengan saya, memegang saya. Firman Yesus memenuhi jiwa saya yang panas dan kering seperti air penyejuk. Dia bicara dengan otoritas yang luar biasa! Satu bagian meninggalkan kesan pada saya: ketika Kristus dicobai di gurun pasir oleh Setan. Setan menyuruh Yesus untuk menjatuhkan diri dari atas atap Bait Allah.
Yesus menjawab, "Jangan mencobai Tuhan Allahmu" (Matius 4:5-7)
Pada saat itulah saya mengerti: Yesus adalah Tuhan Allahmu! Tiba-tiba, banyak hal terlintas di dalam pikiran saya seperti, "Tuhan dapat melakukan apapun. Jika Dia mau turun ke Bumi dan menjadi manusia, Dia bisa!"
Inikah orang yang sama yang disebut Mesias di Quran, bayi yang bisa mengucapkan, "Saya hamba Allah" (Sura 19:32)? Saya pikir bukan.

Sejak malam itu, saya lapar membaca Alkitab. Saya membaca Alkitab setiap saat. Seorang teman dekat memberikan saya Alkitab. Saya meneliti setiap kalimat, setiap kata untuk mencoba mencari kesalahan di dalamnya. Saya membawa pertanyaan-pertanyaan saya ke beberapa teman sekelas yang saya tahu Kristen. Mereka menjawab saya sedapat mereka. Yang lebih penting dari jawaban mereka adalah kasih yang dinyatakan dalam diri mereke. Salah satu teman saya, Cathy, bahkan tidak mengetahui bahwa saya bukan Kristen. Karena saya memiliki Alkitab, dia menganggap bahwa saya Kristen. Suatu malam, saya sangat kuatir karena ujian yang akan diadakan esoknya. Saya meninggalkan pesan di pintunya, memintanya untuk mampir. Ketika dia datang ke ruangan saya, dan mendekati saya, berlutut di dekat kursi saya, dan meraih tangan saya.
Dia berkata, "Jangan Kuatir ... Dia mati untukmu."
Ketika dia mengatakan kata-kata itu, saya menangis di dalam hati saya. Saya belum pernah mendengar kata-kata itu sebelumnya dalam hidup saya. Seseorang mau mati untuk saya? Malam itu saya berpikir tentang kata-kata itu, yang memenuhi saya dengan kasih yang tidak pernah saya kenal.

Teman-teman Kristen saya mengatakan kepada saya acara yang akan datang, dimana seseorang bernama Cliffe Knechtle datang untuk berbicara di kampus. Mereka mendorong saya untuk mengikutinya, karena dia mengkhususkan diri dalam menjawab pertanyaan-pertanyaan tentang kekristenan. Setelah acara itu, teman saya memperkenalkan saya kepada Cliffe. Saya menceritakan kepadanya kisah hidup saya, bagaimana saya mencari kebenaran dan untuk jawaban-jawaban untuk hal-hal yang tidak saya mengerti. Dia duduk dengan saya selama satu setengah jam, hanya mendengarkan dan menjawab pertanyaan-pertanyaan saya. Dia sangat baik dan lembut dan jujur. Saya pulang kerumah pada malam itu, dengan semua jawaban yang saya perlukan. Saya hanya perlu membuat keputusan, percaya atau tidak.

Saya memutuskan saya mungkin dapat bertanya kepada seseorang - tetapi jika kekristenan itu nyata, Allah sendiri akan menunjukkan kepada saya. Suatu malam, sendiri di ruangan asrama saya, saya memutuskan untuk berdoa kepada Yesus untuk pertama kalinya. Dengan kaku saya berkata: "Yesus, saya tidak tahu siapa Engkau. Saya tidak tahu apakah Engkau Nabi; Saya tidak tahu apakah Engkau Tuhan. Saya tidak tahu apakah Engkau hidup atau mati. Tetapi jika Engkau hidup, dan jika Engkau Tuhan, tolong tunjukkan kepada saya."

Teman-temanku, Tuhan menjawab doa! "Mintalah, maka akan diberikan kepadamu; carilah, maka kamu akan mendapat; ketoklah, maka pintu akan dibukakan bagimu." (Matius 7:7).
Dua hari kemudian, saya menerima surat dari teman lama saya di SLTA - seorang atheis. Dalam surat ini, dia mengatakan bahwa dia telah menjadi Kristen!
Dia menulis: "Saya tidak tahu mengapa saya menulis ini. Yang saya tahu adalah bahwa saya harus mengatakan kepadamu untuk percaya kepada Tuhan Yesus dan kamu akan selamat!" Saya hampir terjatuh, kata-kata itu sangat mengejutkan saya. Kemudian, saya menyadari bahwa dia telah menulis surat ini persis pada saat saya berdoa - yang dinyatakan dengan perasaan mendesak, untuk mengatakan kepada seseorang, yang kebetulan adalah saya.

Pada April 1989, saya membuat keputusan untuk percaya dan memberikan hidup saya untuk Tuhan Yesus Kristus. Firman Tuhan berkata, "Karena sesaklah pintu dan sempitlah jalan yang menuju kepada kehidupan, dan sedikit orang yang mendapatinya" (Matius 7:14).
Mengerti tentang kepenuhan Kristus yang telah mati menebus dosa kita di kayu salib memerlukan waktu bertahun-tahun bagi saya, terutama karena saya dibesarkan untuk percaya pada konsep Muslim yang di sebut "neraca". Perkara yang benar adalah bahwa, sebagai seorang Muslim, saya tahu bahwa saya tidak akan masuk Surga. Tidak ada yang dapat masuk ke Surga tanpa tebusan darah Yesus Kristus. "Akulah jalan dan kebenaran dan hidup. Tidak ada seorangpun yang datang kepada Bapa, kalau tidak melalui Aku." (Yoh 14:6)

Teman-temanku, jika Anda menginginkan kedamaian, mintalah. Yesus berkata, "Damai sejahtera Kutinggalkan bagimu. Damai sejahtera-Ku Kuberikan kepadamu, dan apa yang Kuberikan tidak seperti yang diberikan oleh dunia kepadamu. Janganlah gelisah dan gentar hatimu." (Yoh 14:27).
Dia tidak akan pernah mengecewakan Anda.

-----------------------------------------------------

 Daftar Kesaksian
 

-----------------------------------------------------


Home For Moslem For Catholic Our Faith Articles Testimony Free eBooks Guest Book Links
Website ini adalah pengembangan dari website : http://www.geocities.com/pencarian5
By : Reza H
Without Copyright (2003-2005)
Dukungan tulisan dari Anda sangat diharapkan.., dengan satu maksud untuk memperluas kerajaan Sorga, Haleluya
Contact me : [email protected]...God Bless Us..
Hosted by www.Geocities.ws

1