Page 40 - al kasyfu wa tabyin
P. 40
39 al kasyfu wa tabyin
Padahal sebenarnya mereka tidak tahu mengenai hal tersebut melainkan hanya tahu
redaksi dan definisinya saja, kalimat-kalimat yang mengandung makna yang tinggi itu
selalu diulang-ulangnya.
Ekspektasi mereka jelas sangat tinggi dari pada sekedar mengetahui para ulama
generasi awal dan kontemporer. Dia melihat para fukaha, para qari, ahli tafsir, ahli hadis,
dan berbagai golongan ulama dengan pandangan yang hina, apalagi terhadap orang
awam.
Sehingga hal tersebut bisa menjadikan seorang petani meninggalkan pekerjaannya,
tukang tenun meninggalkan tenunannya hanya untuk menemani mereka di suatu hari
tertentu.
Kalimat-kalimat palsu itu mereka pakai berulang-ulang seolah-olah ia berbicara tentang
wahyu dan rahasia-rahasia. Dengan hal itu pula ia menganggap hina semua orang dan
para ulama.
Ketika mereka bicara tentang budak: “Mereka itu harus diberi pekerjaan yang berat-
berat”. Juga bicara tentang ulama:
“Mereka itu telah terhalangi oleh suatu hadis”. Dia mengaku telah wushul kepada Allah
Yang Hag dan termasuk orang-orang yang dekat dengan-Nya padahal di sisi Allah
mereka sebenarnya adalah ahli maksiat dan munafik.
Sedangkan di sisi orang yang menjaga hatinya, mereka itu. termasuk golongan orang
picik dan bodoh yang tidak mempunyai ilmu, tidak bisa menjaga etika, dan tidak bisa
mengontrol hatinya malah memanjakan hawa nafsu dan bisanya hanya mengungkit-
ungkit sesuatu. Padahal jika ia mau menyibukkan diri dengan hal yang bermanfaat tentu
lebih baik baginya.
4. Golongan Keempat.

