|
Agung Kurniawan (Leak) Agustus 2001 pengunjung ke
|
RESENSI BUKU: ARAK-ARAKAN SENI PERTUNJUKAN DALAM
UPACARA TRADISIONAL DI MADURA
Yudiaryani Pengarang
: Dr. A.M. Hermien Kusmayati Penerbit
: Yayasan Untuk Indonesia dan
Lembaga Penelitian Institut
Seni Indonesia Yogyakarta Cetakan
: Pertama, Tahun 2000 Tebal
: .XIII, 112 Kelengkapan
: Sejumlah foto, denah upacara, dan peta Buku
berjudul Arak-arakan Seni Pertunjukan dalam Upacara Tradisional di Madura.
merupakan hasil penelitian dan menjadi bagian disertasi Dr. A.M. Hermien
Kusmayati. Buku ini sangat menarik dibaca oleh kalangan seniman, budayawan,
bahkan kalangan awam sekali pun. Menarik, karena akhir-akhir ini masyarakat kita
dibebani pemikiran tentang munculnya konflik antar etnis yang terjadi di
Kalimantan, Ambon, Irian, dan berbagai tempat yang luput dari pemberitaan.
Sampai saat ini kita tak mampu menyelesaikan konflik tersebut secara
komprehensif. Konflik antar etnis menguatkan asumsi bahwa selama ini telah
terjadi “penganaktirian” terhadap tradisi yang direpresentasikan melalui
budaya lokal. Budaya lokal dianggap tradisional dan tidak menunjang
proses pembangunan sehingga perlahan-lahan memasuki fase “hidup tidak mati pun
enggan.” Oleh sebab itu, saat reformasi bergulir dan muncul kecenderungan
budaya lokal mulai memperoleh ruang untuk berkembang, soliditas etnis atau
kelompok etnis justru timbul dan mulai berkembang. Hal itu membuktikan pula
bagaimana selama ini paradigma pembangunan mengacu pada kecenderungan
ekonomis-teknokratis dengan penghitungan untung-rugi
kapital dan melupakan pembangunan dan pendidikan terhadap nilai, estetika,
moral, dan kesenian. Akibatnya, batin menjadi kering dan kepekaan etika sosial
dalam diri manusia menghilang. Oleh sebab itu dibutuhkan usaha merepresentasikan
budaya tradisional yang tidak dipandang sebelah mata dan sekaligus menunjukkan
bahwa kebangkitannya tidak akan menimbulkan kecurigaan bagi mereka yang belum
mengenalnya. Untuk
itulah penelitian-penelitian semacam yang dilakukan Hermien Kusmayati ini sangat
bermanfaat untuk memahami apakah mungkin dalam nilai-nilai tradisi terdapat
keluhuran dan kearifan watak manusia? Mungkinkah nilai-nilai tersebut
dipertahankan sepanjang masa? Bagaimana cara menggali dan melestarikannya?
Melalui buku ini, Hermien Kusmayati akan membedahnya melalui
kegiatan budaya masyarakat Madura di Pulau Madura. Pulau
Madura terkenal dengan watak masyarakatnya yang keras, pemberani, sederhana,
perantau, dan kokoh memegang agama. Sebagai kelompok masyarakat yang fenomenal
di era reformasi ini, mereka memiliki berbagai identitas budaya lokal yang
sangat kuat dan tetap terpelihara. Alam
Madura yang relatif kering dan gersang menjadi
penyebab warga Madura dikenal sebagai pekerja keras. Lahan pertanian
dengan segala aspek penggarapannya sering menjadi awal pertengkaran antar warga,.
Pertengkaran tersebut terkadang berakhir dengan kematian. Mata pencaharian
sebagai seorang nelayan pun sering harus berhadapan dengan ganasnya ombak lautan. Tandusnya
lahan pertanian, ganasnya ombak di lautan, menyebabkan masyarakat mencari jalan
keluar untuk mencari sumber mata
pencaharian mereka. Namun demikian di samping
usaha yang berbentuk ekonomi,
masyarakat tetap mempertahankan adat istiadat warisan leluhur. Diantaranya
adalah tradisi menyelenggarakan bermacam upacara sebagai penolak
bahaya dan memudahkan pencarian rezek, semisal, upacara untuk memohon
hujan, ruwatan laut, ruwatan desa, pernikahan, nadar dan khitanan. Upacara
tersebut dilaksanakan dengan jalan prosesi atau arak-arakan. Arak-arakan
dilakukan dari suatu tempat menuju ke tempat lain yang berbeda atau dari suatu
tempat kembali ke tempat yang sama.
Nilai yang terkandung dalam arak-arakan adalah kesakralan atau
kekhidmatan suatu peristiwa. Arak-arakan
atau upacara merupakan pula
ungkapan kehendak bersama suatu masyarakat.
Pada saat masyarakat berada dalam bahaya-baik ekonomi, sosial,
politik-maka upacara dapat menjadi penyelamat. Ungkapan upacara tersebut
diwujudkan melalui media audio visual-gerak, suara, rupa-yang mengetengahkan
aspek-aspek estetis-koreografis seni.
Pada Bab II hingga Bab V, buku ini mendeskripsikan tentang proses
arak-arakan rokat tasè’ atau ruwatan laut, rokat disa atau
ruwatan desa, kamantan atau pernikahan, dan arak-arakan
khitanan dan kaul. Rokat
tasè’ atau ruwatan laut dilangsungkan agar nelayan dapat memperoleh hasil
laut yang mengembirakan serta dijauhkan dari bencana laut. Bahkan peluncuran
perahu baru dilakukan dengan arak-arakan. Rokat
disa atau ruwatan desa dilakukan
bertujuan untuk “imunisasi” seluruh isi desa
agar selamat dari berbagai kesulitan. Selain itu, arak-arakan ini sebagai
ucapan rasa syukur atas hasil yang diperoleh warga desa. Arak-arakan Kamantan
atau pernikahan berlangsung dari tempat mempelai laki-laki menuju ke tempat
mempelai perempuan. Arak-arakan diiringi oleh seluruh kerabat baik tua, muda
maupun anak-anak. Kegembiraan yang muncul dalam suasana tersebut menunjukkan
perayaan terhadap kesuburan, kelestarian, dan kesatuan antara alam dan makhluk
hidup. Arak-arakan
khitanan dan kaul menunjukkan adanya niatan untuk memperingati daur
kehidupan manusia dari mulai lahir hingga dewasa dengan masa transisi di
dalamnya. Kaul atau nadar pun diucapkan dalam suatu upacara sebagai tanda
keberhasilan terbebasnya manusia dari mara bahaya.
Arak-arakan sebagai bentuk ritual, dalam konteks sosiologis, menjadi
bentuk kebersamaan sekaligus saling ketergantungan antar warga masyarakat untuk
mencapai suatu tujuan. Bahkan bentuk ritual sudah menjadi bagian hidup
masyarakat. Bentuk ritual adalah penampilan kembali atau representation, atau
awal penampilan, dan peniruan kehidupan, tetapi yang selalu memiliki tujuan
akhir. Dan seperti yang diamati oleh Brandon (p.26)
bahwa bagi masyarakat di negara-negara Asia Tenggara, prosesi upacara
tidak sekedar bermakna mistis tetapi juga tontonan. Warga masyarakat terlibat
sebagai pengikut upacara sekaligus sebagai penonton, dan keduanya berlangsung
secara simultan tanpa mengganggu satu sama lain.
Arak-arakan di Madura dalam konteks seni pertunjukan
menjadi suatu “jembatan” antara kehidupan yang “sebenarnya”
dengan seni. Seperti yang dikatakan oleh RM Soedarsono (p.74) bahwa segi
rohaniah upacara harus dikedepankan melalui penampakan simbol-simbol yang
mengandung komponen seni pertunjukan. Simbol-simbol yang beragam ini menjadi
tempat bersandar bagi penonton untuk maksud dan keperluan tertentu. Sebaliknya
keindahan yang terwujud melalui komposisi simbol estetis yang dipertontonkan
pada penonton tidak semata bagi penonton “kasat mata” tetapi juga yang
“tidak kasat mata” yang berhubungan dengan upacara yang terselenggara.
Komposisi simbol estetis menjadi
suatu bentuk tontonan yang menyajikan aspek-aspek estetis di dalamnya, sehingga
tontonan tersebut dapat dinikmati oleh seluruh warga masyarakat tidak terkecuali
di luar komunitas penyelenggaranya. Maka komposisi simbol estetis dalam sebuah
upacara mampu mendasari suatu perwujudan yang disebut sebagai seni pertunjukan
(p.75).
Berbagai aspek seni pertunjukan dalam arak-arakan
terdiri dari gerak, suara, dan rupa. Ketiga aspek tersebut menjadi
pilihan ungkapan perasaan dan pkiran komunitas upacara tertentu di Pulau madura
sebagai suatu harapan akan kebutuhan praktis yang bersangkutpaut dengan
kehidupan sehari-hari. Para pelaku Dânggâ’ di dalam upacara
rokat tasè’ menggerak-gerakkan anggota badannya meniru gerakan
nelayan mendayung perahu atau menebar jaring jala. Gerak semacam ini disebut gesture.
Gesture ini
merupakan tiruan tetapi juga menunjukkan keindahan. Gesture juga
muncul pada ayunan lengan kaki dan tangan para pemain Saronèn saat mengiringi
mempelai dalam upacara kamantan.
Ayunan gerak para pemain Saronèn
yang membunyikan instrumen musik memperkuat suara musik. Demikian pula hentakan
gerak tangan para pemain Sandhur Lèng Lèng pada instrumen musik bambu yang
ditabuh memberi kesan tegas pada alat musik tersebut. Nyanyian yang disuarakan
para pelaku Haddrah pada upacara khitanan menjadi lebih ekspresif
ketika kepala mereka turut mengangguk-angguk atau anggota badan mereka
turut menghentak-hentak seiring dengan hentakan rebana di tangan.
Seiring dengan gerak, suara, dan rupa yang mereka tampilkan, upacara
tersebut dilakukan secara berpindah dari satu tempat satu
ke tempat yang lain dengan melakukan gerak-gerak tertentu. Jalan-jalan
perkampungan, tanah lapang, dan pantai merupakan area pertunjukan. Prosesi
komunitas upacara yang ditata sedemikian rupa menjadi tontonan yang menarik.
Bunyi-bunyian, ayunan kaki dan tangan, bentuk dan warna-warni sesaji, serta
sorak sorai anak-anak mengiringi pelaku upacara yang memanjang sampai tempat
upacara. Namun, keterbatasan dana dan pengetahuan untuk menata upacara ini
menjadi suatu seni pertunjukan menyebabkan upacara-upacara ini terkesan sangat
sederhana. Meskipun demikian arak-arakan berhasil
mempererat hubungan emosional antara pelaku dan penonton. Hal ini tampak ketika
penonton terlibat aktif dan bersemangat memberi tanggapan terhadap
jalannya upacara.
Arak-arakan adalah seni pertunjukan yang unik dan sederhana. Kehadirannya
tidak saja dibutuhkan oleh komunitasnya, tetapi juga dinantikan oleh warga
masyarakat yang lain. Upacara yang
dilatarbelakangi berbagai harapan dan kehendak ini
menyatu dengan kebutuhan akan tontonan
yang jarang dinikmati oleh warga setempat.
Sebagaimana telah dinyatakan sebelumnya bahwa buku Arak-arakan Seni
Pertunjukan dalam Upacara Tradisional di Madura ini memberikan pada pembaca
satu alternatif pendokumentasian bentuk upacara ritual dengan pendekatan seni
pertunjukan. Upacara yang menjadi suatu budaya lisan dicoba dikenalkan melalui
budaya tulis. Selama ini sangat jarang suatu fenomena ritual dimaknai melalui
pendekatan seni pertunjukan. Hermien Kusmayati telah mencoba melakukannya.
Sayangnya, secara eksplisit, buku ini tidak terlalu berbicara banyak tentang
makna kontekstual upacara di Pulau Madura, yaitu konteks yang ditafsirkan
kembali melalui teks pertunjukan. Namun sebagai satu penelitian deskriptif, buku
ini layak untuk dibaca agar kita mengetahui
kekayaan khasanah upacara sekaligus bentuk seni pertunjukan di Pulau
Madura. Dengan membaca bahkan mengembangkan penelitian semacam ini, maka akan
terkuaklah kekayaan idiom-idiom kebudayaan bangsa Indonesia. Dengan demikian
kita mampu mengenal dan memahami keberagaman budaya kita dan secara arif
menyikapi perbedaan-perbedaan idiom-idiom etnis di dalamnya. |