home

buku tamu

 Agung Kurniawan (Leak)

Agustus 2001

pengunjung ke

Puisi -Puisi 
Yayan Sopyan

Endah Raharjo

James Clifford

Yayan Sopyan

 

Cerpen
Ikun Eska
Cerbung
Arini

Ide Cerita Untuk Arini

 

Gambar oleh Oblo

cerpen ikun eska 

Percakapan Senja Hari (1)

Akhirnya.

Tiga bulan setelah selamatan seribu hari meninggalnya suami janda itu, mereka menikah dengan sebuah resepsi yang tak terlalu meriah. Mereka hanya mengundang beberapa tetangga di kompleks perumahan itu, beberapa kerabat si janda, beberapa kerabat almarhum suami janda itu, beberapa relasi dan teman sekantor kedua mempelai, dan keluarga si mempelai pria.

Orang, para tamu, begitu terpesona dengan biografi percintaan mereka:

Di tahun 85, keduanya adalah peserta Mapram di Institut Ilmu Budaya Timur. Malam terlalu larut ketika Mapram selesai dan gadis itu menggaris boulevard kampus dengan kecemasannya yang tanpa rembulan. Dan si lelaki melangkah ringan mendahului tanpa pretensi untuk menolong.

"Hei, apakah kita bisa jalan bersama?" tahan si perempuan.

Dan   perjalanan   beberapa  blok  dari  kampus   itu   tanpa percakapan.  Hanya,  hari berikutnya mereka  bertemu.  Seterusnya berteman.  Tanpa  sebuah aklamasi, mereka  akhirnya  tokh  sering merasa saling kehilangan bila masing-masing terpaksa  pulang  ke kota asal.

Di tahun 91, mereka bersepakat untuk menaruh harapan di  kota M.  Entah apa yang terjadi kemudian, di tahun 92,  perempuan  itu menikah  dengan seorang duda tanpa anak yang bersedia memberikan bantuan dana untuk berdirinya sebuah koperasi yang  beranggotakan anak-anak  jalanan.  Tahun 93 suami-istri  itu  mempunyai  bocah lelaki. Dan tahun 94 terpaksa perempuan itu menjalankan  beberapa usaha  yang  ditinggalkan  almarhum  suaminya.  Entah   bagaimana pertemuannya,  di tahun 97 keduanya menikah tanpa sebuah  resepsi yang  tak  terlalu  meriah:  Mereka  hanya  mengundang   beberapa tetangga di kompleks perumahan itu, beberapa kerabat  si  janda, beberapa  kerabat almarhum suami janda itu, beberapa  relasi  dan teman sekantor kedua mempelai, dan keluarga si mempelai pria.

***

Dan.

Malam itu.

Tak  ada yang melelahkan dari sebuah resepsi perkawinan  yang mahal.  Semua  yang  bekerja adalah uang.  Mereka  hanya  tinggal datang ke hotel dan segalanya telah diatur oleh seorang manejer. Sesuatu yang murah, apalagi ditambah bonus menginap satu malam di VIP room. Maka tak ada kelelahan, ketika berdua, di atas ranjang, mereka  berpelukan dan saling mencium dan mulai mencopot  pakaian mereka.

Tapi  inilah yang dikatakan si istri ketika si  lelaki  mulai memanas detak jantungnya.

"Aku  tidak  mau melakukan inter-course.  Aku  takut.  Banyak cerita  mengatakan tentang kesakitan itu dalam melakukan  pertama kali."

"Lalu bagaimana kita bisa punya anak tanpa melakukan itu?"

"Disuntikkan! Tentu ada dokter yang bisa menolong kita."

"Tapi, akhirnya kau juga harus melahirkan."

"Apa kau tidak mau membiayai operasi cesar untuk anak kita?"

***

Anak itu berlari di antara rumput. Senja jingga dari  beranda rumah  mereka.  Sepasang  suami-istri baru  itu  memandang  tanpa percakapan. Entah apa yang mereka lamunkan. Mungkin ingatan  pada ucapan beberapa tamu di hari kemarin:

"Cinta  sejati memang selalu akan dipertemukan.  Entah  kapan waktunya."

“Bersyukurlah  mereka  yang  mendapatkan  orang  yang   setia menunggu tanpa batas waktu."

“Cinta memang jujur. Ia tak pernah peduli pada status."

Dan  entah ucapan apa lagi. Tak semua sanjungan, atau  ucapan bahagia  yang  semacam  iri  itu diingat  keduanya.  Mereka   di pelaminan hanya mengumbar senyum dengan sesekali berucap; Terima-kasih!

("Ah,  ini  jadi seperti cerita cinta  yang  simpatik"  bisik seorang  tamu  sambil menyusupkan sedikit sop  di  bibirnya  yang menyala.

"Ya,  ketulusan  cinta mereka sungguh sangat bikin  iri  yang tahu.  Lihatlah,  bagaimana cara lelaki menyuapkan es  krim  pada anak itu!" bisik yang lain)

Di  pelaminan, si lelaki memang menggendong anak  itu  persis seperti  menggendong  anaknya sendiri. Anak itu  pun  begitu  tak peduli.  Sambil  memeluk  bahu bapaknya yang  baru,  ia  menerima suapan-suapan  es krim itu. Dan anak itu, kini, dalam senja  yang memberat  ke  biru ke ungu terus saja bermain rumputan  di  bawah pandangan kedua orang tuanya dari beranda.

"Bagaimana kabar dokter Rizki?" tiba-tiba si lelaki menyela.

"Entahlah."

Lalu keduanya diam lagi. Senja masih ungu.

.***

. Senja  masih  ungu mengertap di jendela lantai  empat  klinik dokter itu sebelum tirai jendela ditarik. Perempuan itu duduk  di depan meja. Menunggu.

"Sebelum  saya  dibius, saya ingin  membuang  sendiri  sperma itu!"

Dokter itu melangkah menuju boks pendingin khusus. Membukanya pelan dan mengambil tabung.

"Tanpa alat pendingin itu. Sperma ini hanya bertahan beberapa menit." jelas dokter itu.

"Ya. Tapi saya ingin yang pasti" jawab perempuan itu.

Ia  bangkit  dari duduknya. Membuka  jendela.  Dan  membuang. Entah kenapa ia tak berfikir akan melayang kemana tabung itu.  Ia hanya  melihatnya  sebentar bagaimana dalam  garis  tipis  cahaya senja yang ungu, tabung itu melayang jatuh.

"Nah, sekarang kerjakan tugas anda!" perintah perempuan itu.

"Ini  sesuatu yang tidak terlalu sakit. Anda minta bius  yang bagaimana?"

"Terserah dokter!"

"Baiklah. Setelah bius ini saya suntikkan, bayangkanlah kawan anda itu! Saya pilihkan sebuah tamasya dari pembiusan ini."

Dan perempuan itu, entah bagaimana, begitu semenit  pembiusan berlalu, ia terdengar mengerang lembut ketika si dokter  mengelus dadanya.

***

Lalu  perempuan  itu  menggigit bibir.  Dan  tersenyum  kecil tertahan.

"Kenapa?" tanya si lelaki.

"Aku membayangkanmu waktu penyuntikkan itu!" jawabnya.

Senja  telah  menghitam. Angin santer. Lelaki  itu  turun  ke halaman. Membujuk sebentar bocah itu lalu menggendongnya masuk ke dalam.  Di belakangnya, perempuan itu mengikut  sambil  berpegang pada pinggang. 

 

Petikkan Bulan itu

"Tanah ini masih cukup untuk sebuah kolam renang kecil!"

Hening.

"Kau tak mendengarku?"

Wajah di belakang koran itu menoleh sebentar.

"Jika  malam-malam purnama seperti ini, wajah bulan itu  akan berenang-renang di permukaannya. Ah, pasti tabunganku cukup untuk membangunnya. Kalau kamu tak setuju."

Dari dalam muncul dua bocah berkejaran. Yang di depan tertawa kegirangan.  Yang  di  belakang merengek  kesal.  Mereka  berlari sampai ke taman. Satu terjerat rumput. Terbanting. Dan  menangis. Perempuan itu buru-buru memondongnya.

"Makanya, jangan kejar-kejaran malam hari!"

Di bawanya bocah itu ke beranda. Di pangkunya duduknya.

"Lihat  bulan  itu!  Bundar seperti matamu.  Tapi  dia  tidak menangis. Dia bercahaya!" hibur perempuan itu.

Bocah yang satunya menyusup di pangkuan bapaknya.

"Pa, petikkan bulan itu!"

Wajah lelaki itu terkesiap.

Di  langit  bulan  sunyi  dengan  wajahnya  yang  abadi. Menyeringai.

***

Ia  seperti  mendengar  lagi permintaan  itu.  Tubuhnya  yang tergolek,  berselimut.  Telanjang. Matanya  meletas  ke   langit terbingkai  jendela  kamar hotel di lantai  empat.  Ia  tiba-tiba ingin pergi ke balkon dan memandang ke luar.

“Ah, bagaimana kalau ada orang yang melihat?" batinnya tampak ragu.

Tapi  melangkah juga ia ke sana. Dan dari beranda itu,  kolam renang  membiru  dalam  kilatan wajah bulan  yang  hampir  bulat. Beberapa  bule,  dalam  senja yang ranum  masih  saja  berkongkow dengan  bikini di sana. Juga beberapa perawan muda  pribumi  yang entah apa yang mereka suka terus saja mencangkung di bibir  kolam renang itu sejak petang menyusut pelan-pelan.

"Ma, petikkan bulan itu!"

Ia seperti mendengar lagi permintaan itu: Juga sebuah  danau, tenda  dom  dan  angin gunung. Sebuah liburan  yang  selalu  coba diusirnya.  Tapi selalu tak pernah bisa: Bocah yang terapung  dan menggelembung,  dan  vonis  dokter; "Rahim  anda  tak  lagi  bisa berfungsi!"

Lalu  ia  mencoba merelakan suaminya mencari istri  lagi.  Ia mencoba suntuk dengan pekerjaannya. Ia mencoba bagaimana membunuh waktu   dengan  apa  saja.  Tapi rumah  besar  itu  terus saja menyiksanya.  Lebih lagi setelah suaminya pindah  rumah, beranak dan beranak lagi. Ia pernah juga belajar memiliki anak itu.  Tapi perasaannya selalu  memberontak  dan  kekecewaan  lebih   keras memukul-mukul dadanya.

"Ma, petikkan bulan itu!"

Rengek yang gembira.

Terbersit kemudian pertanyaan apa yang terjadi seandainya  ia melompat  ke dalam kolam renang itu. Mungkin sampai. Mungkin  tak sampai.  Ia  masih berpegang pada pagar beranda.  Angin  sedikit dingin terasa  pada  kulitnya yang  telanjang.  Ia  menengok  ke belakang  pada  pintu. Jika mengambil ancang-ancang  dari  dalam, memasang meja kecil itu sebagai tolakan, ia meyakini, pagar  yang sebatas  pinggang itu  pasti bisa dilewatinya. Ia  melongok  ke bawah.  Mencoba  menaksir jarak bibir bangunan hotel  itu dengan kolam. Tak lebih dari empat atau lima meter. Garis lengkung  yang tercipta dari lompatan tubuhnya yang ringan tipis, pastilah  akan melebihi garis antara tepi bangunan dan bibir kolam.

Kalau tak sampai.

"Neraka  ini  tokh  telah kupunya di  sini!"  ia  memantapkan niatnya. "Itu pun kalau neraka itu ada!"

Ia  hampir  berbalik ketika dua tangan  menerpa  bahunya  dan serangkai  ciuman bertubi-tubi menjejaki  punggungnya,  menjejaki tengkuk lehernya.

"Kau  tidak ingin membersihkan diri?" tanya lelaki itu  dalam desis.

Ia  diam  saja.  Matanya melihat  tubuh  yang  meloncat  dari menara, suara air tersibak, dan percikan macam ledakan.

"Kau yakin, orang-orang tak melihat dirimu telanjang  berdiri di  sini?"  

Tangan  laki-laki  itu kini melingkar di  pinggangnya.  Nafas yang  terasa  di samping telinganya menghangat.  Ia  melihat  air kolam  yang  sejenak menggelombang itu mulai  tenang.  Dan  wajah bulan  nampak  nyungsep  di dasarnya. Bibir  itu  mulai mengulum telinganya.  Semakin  panas. Ia mulai  memejamkan  matanya.  Lalu berbalik. Mendekapnya erat. Dan mendorong masuk.

***

Di luar bulan sunyi dengan wajahnya yang abadi. Menyeringai. 

3. Percakapan Senja Hari (2)

"Kenapa  kita mesti ketemu?" bisiknya membuka  percakapan kami. Ada rasa kecewa dalam pertanyaannya yang  lirih,  yang sepertinya ditujukan untuk dirinya sendiri itu.

Aku  masih  diam. Di dalam pikiranku sempat  juga  muncul pertanyaan serupa itu.....ah, kurungan-kurungan, kotak-kotak, sampai kapankah sekat-sekat ini terus dipertahankan?

"Kenapa  kita mesti ketemu?" ulangnya untuk dirinya  sendiri.

"Mungkin  agar  kita sedikit bertambah  dewasa!"  jawabku sedikit ngawur, sedikit menyesal tapi juga kesal.

"Apa yang akan kita lakukan?" ratapnya.

"Apa rencanamu?" bingungku menjawab.

"Aku tak tahu. Aku bingung!"

"Kadang aku berfikir untuk bunuh diri saja!"

Ia menatapku tajam-tajam. Menanya.

"Tapi  otakku senantiasa mengatakan itu sebagai  tindakan konyol dan ketak-beranian kita melawan nasib sendiri"  lanjutku.

"Kadang  aku berfikir untuk lari saja!" matanya  sungguh-sungguh menatapku.

"Maksudmu?"

"Kita abaikan orang-orang di belakang kita" jelasnya.

"Lalu..."

"Kita urusi diri kita. Masa bodoh dengan orang lain!"

"Tapi siapa mesti mengesyahkannya?"

"Itulah masalahnya" lenguhnya bingung.

"Ah,  bukankah kita telah masa bodoh dengan orang  lain?" putusku,  "Baiknya  kita lakukan saja,  peduli  setan  dengan mereka!"

* * *

"Aku isi!" katanya.

"Isi?"

Ia  mengangguk. Ada senyum dalam bibirnya.  Matanya  yang kanak-kanak berbinar.

"Kenapa kau bengong?" lanjutnya.

"Apa yang harus kita lakukan?"

"Maksudmu?"

"Dengan kenyataan ini!"

"Kau mau lari dari tanggung-jawab?" tanyanya curiga.

"Bukan itu, tapi siapa yang akan mengesyahkannya?"

Ia diam. Kami berfikir sendiri-sendiri.

"Bagaimana dengan orang-tuamu? Sudah kau beri tahu?"

Ia menggeleng matanya menerawang jauh.

"Kau juga harus beritahu orang-tuamu!" desisnya.

"Kau  yakin kenekatan kita mampu memaksa  orang-tua  kita mengijinkan semuanya?"

Ia bengong dengan kesangsianku.

"Inilah ketak-sukaanku memiliki orang-tua. Mereka terlalu ingin  memaksakan kehendaknya, terlalu  ingin  turut  campur segala urusan anaknya dan berlagak paling ngerti dan  pinter!" keluhnya, lalu diam sesaat.

”Aparencanamu?"tanyanyakemudian.

"Kau?"

"Yang jelas aku tak ingin membunuhnya?"

Aku melihat kesungguhan pada matanya.

"Kau?" katanya ganti bertanya.

"Pergilah  kalau  kau ingin  pergi!"  lanjutnya  menjawab diamku.

Aku terpana oleh keikhlasannya.

"Kita  katakan  pada orang-tua kita. Apapun  kata  mereka jangan rubah apa yang telah kita sepakati, dan terbaik menurut kita ketika kita sampai pada kesimpulan!"

Ia tersenyum oleh kata-kataku.

* * *

"Bagaimana?"

"Kau?"

Ia mengangkat bahu.

Aku tersenyum.

"Lalu?"

"Mereka inginkan aku aborsi!"

"Lalu?"

Ia mengelus perutnya. Lembut. Penuh kasih.

"Orang-tuamu?" tanyanya tak menjawab pertanyaanku.

"Mereka  mau  menerimamu dengan syarat kamu  masuk  agama kami!"

Ia melotot.

"Tapi aku tak menyetujuinya!"

Ia tersenyum.

Lalu kami sembahyang dengan ciuman.

* * *

Beberapa bulan kemudian, di ruang tunggu kamar  bersalin, aku  memandang  bulan dan  bintang-bintang  dalam  cerlangnya. Sedang  di dalam ruang bersalin, ia menyebut Tuhannya  dalam perjuangannya. Dan aku menyebut Tuhanku dalam doaku.

Dan....

"Oh, my God!" dokter itu terpana setelah menyaksikan  doa agamaku untuk anakku berbeda dengan doa agama ibu anakku untuk bayinya.

"Kami berbeda agama!" jelasku.

Dokter itu masih melongo.

"Dan  kami tidak menikah karena tidak ada  yang  bersedia menikahkannya!" lanjutku.

Dokter itu memandangi bayi kami. Ada rasa iba dalam tatap matanya. Lalu pergi.

Ibu anakku tersenyum melihat polah dokter itu.

"Kita berdoa!" ajakku.

Lalu  kugenggam  tangannya dan kuletakkan  di  dada  bayi kami.

"Anakku,  telah  kudengar pesan  Tuhanku  dalam  tangismu bahwa Ia senantiasa lebih tahu dari manusia yang merasa paling tahu, orang-orang yang esok akan menyebutmu anak-jadah. Jangan kau  musuhi mereka anakku, karena itu akan membutakan  matamu. Biarkan mereka berkata-kata atas nama Tuhannya tentangmu, asal jangan  goyahkan keyakinanmu bahwa  adamu  adalah  ayat-Nya!" batinku mendoa.

Di luar kudengar senja di berangkatkan waktu.

 

 
Hosted by www.Geocities.ws

1