home

buku tamu

 Agung Kurniawan (Leak)

Agustus 2001

pengunjung ke

Puisi -Puisi 
Yayan Sopyan

Endah Raharjo

James Clifford

Yayan Sopyan

 

Cerpen
Ikun Eska
Cerbung
Arini

Ide Cerita Untuk Arini

 

Gambar oleh Oblo

A R I N I

Episode 1: OMBAK PARANGTRITIS

 

            Angin sore membelai anak rambut Arini yang tergerai sebahu. Dibiarkannya rambutnya menari-nari bebas sebebas hatinya yang menerawang entah ke mana. Matanya menatap ombak yang berlari-lari mengejar pantai. Sesekali buih air laut menyentuh kulit halus kaki telanjangnya. Hem...mulai dingin. Diangkatnya celana jins merek Ferre yang dipakainya hingga sebatas lutut. Ombak ini makin besar saja. Tidak ingin pakaiannya basah kuyub, Arini mundur selangkah. Karena berurusan dengan ombak, Arini mesti rela untuk mundur. Tapi jangan tanya, untuk urusan yang lain, istilah mundur tidak ada dalam kamusnya.

Ombak parangtritis ini memang berkuasa menyeret , bahkan menelan siapa saja yang berani menentangnya. Hatinya bergidik setiap membaca berita tantang pantai Parangtritis yang kerap menelan korban. Meskipun demikian dia tidak ingin seperti ombak. Lihat saja perilaku ombak itu yang deburannya membahana, dari jauh berambisi dan rindu menggapai pantai, tetapi begitu sampai, pecah menjadi buih. Dan butiran-butiran pasir itu seolah begitu bijak untuk tidak menyerap semuanya. Masih ada yang tertinggal di permukaan yang lalu hanyut kembali bersama ombak.

            Sudah satu jam lebih Arini memandangi ombak laut Parangtritis yang penuh pesona dan nostalgia. Ingin dia berteriak sekeras mungkin seperti yang dilakukannya dulu bersama teman-teman teater di kampus ketika latihan vokal. Kemudian berlari-lari kecil sambil mengatur pernafasan sampai ke Parang Kusuma. Lalu berendam di Parang Wedang sambil merasakan hangatnya air yang kata neneknya dapat mengendorkan ketegangan sarafnya, melemaskan sendi otot juga menyembuhkan penyakit kulit.

Arini tersenyum sendiri ketika dia ingat kata-kata neneknya itu diulangnya untuk meyakinkan saudara sepupunya tentang khasiat berendam di Parang Wedang. Akson, sepupunya dari Jakarta itu tersenyum yang lebih tepat dibilang menyeringai sambil berkata: “Gile bener elu Rin, bisa-bisanya ngomong gitu kayak penjual jamu”. Arini waktu itu juga hanya ketawa saja dan asal menjawab, “Iya lho, Eyang memang bilang gitu...makanya kita coba aja”. Akhirnya mereka pun mencoba berendam selama dua jam di Parang Wedang, dan sejujurnya, mereka lebih merasakan pengaruh mitosnya dari pada pengujian manfaat seperti yang diharapkan.

            Ah, Akson...sepupunya itu memang konyol tapi kreatif. Ada saja ide gila yang dilontarkannya, termasuk mengibuli beberapa teman-teman cowok Arini yang dianggap tidak lolos kriteria cowok idaman calon pendamping Arini, dalam kaca mata keluarga. Yang pasti, Akson mampu mengubah senyum cowok-cowok yang lagi mendekati Arini menjadi terbatuk-batuk bahkan ada yang tersedak! Yah, itu peristiwa antara lima belas sampai sepuluh tahun yang lalu. Akson sering berlagak menjadi pacarnya kalau Arini sudah kerepotan menghadapi cowok-cowok yang lagi kegeeran dan kelewat ngebet. Akson juga yang selalu ingin tahu tentang puisi-puisi yang dikirim untuk Arini, yang Arini sendiri tak begitu menggubrisnya. Ada satu puisi yang dihapalnya, pernah dibaca Akson sesaat setelah diambilnya dari kotak pos di rumahnya, begini:

“Tahukah engkau,

bayangan tentang dirimu

tak henti mengusikku

kulihat wajahmu di  setiap khayalku,

kudengar suaramu dalam detak jantungku,

dan hasratku mengalir di seluruh nadiku,

ingin kutuliskan di seluruh tembok kraton..

Arini,

Aku...

Mencintaimu...!”

            Sungguh menjengkelkan karena Akson terbahak-bahak begitu selesai membacanya. Arini hanya bisa tersenyum kecut melihat polah Akson dan membayangkan orang yang mengiriminya puisi. “Hey...Rin, kalimat  pertamanya saja dia tanya...Tahukah engkau..., nah elu bisa aja njawab: nggak tahulah aku, kecuali sudah kau tulis kata cintamu di  seluruh tembok kraton!”

            Mengingat itu semua, Arini jadi kepingin ketemu Akson. Mereka merupakan saudara sepupu yang sangat dekat karena ayah Akson adalah kakak kandung dari Ibu Arini. Setelah lulus dari SMU 70 Jakarta, ayah Akson mengirimnya untuk kuliah di Yogyakarta saja, agar dekat dengan Eyangnya dan supaya belajar menjadi “orang Jawa”. Selepas dari Fisipol UGM, ayahnya mengirim Akson lagi, kali ini ke luar negeri agar belajar mandiri dan bertanggung jawab di negeri orang. Pilihannya kemudian adalah ke London untuk mengambil Master di bidang komunikasi.

            Dari e-mail terakhir yang diterimanya, Akson akan segera pulang ke Jakarta untuk memperkenalkan calon istrinya yang berkebangsaan Italia. Sepupunya itu sekarang sedang menghadapi masalah serius, karena belum pernah ada sejarah di keluarganya yang melakukan perkawinan campur. Neneknya pasti akan sangat syok kalau mengetahui cucunya mempunyai permasalahan serumit ini. Walaupun agak badung dan konyol, cucunya yang satu itu termasuk ringan kaki dan ringan tangan, artinya selalu ada di saat diperlukan.

            Arini membayangkan, bagimana tanggapan neneknya nanti kalau sudah diberitahu tentang Akson yang punya pacar berbeda suku bangsa, agama ras, dan golongan ? Menghadapi salah satu perbedaan saja nenek sering berkomentar, kalau yang berbeda itu masalah golongan masih bisa ditolerir, asal jangan  beda suku bangsa dan agama. Ibunya lain lagi penekanannya, terserah anak-anak mencari pasangan asal yang seiman.

            Duh, berat misiku. Arini mencoba mencari celah untuk merencanakan membicarakan masalah Akson, tapi jangan semata-mata, jangan sekonyong-konyong, dibikin saja seolah pembicaraan tahu-tahu mengalir ke arah itu tapi sasarannya kena. Nah, sasarannya adalah memberikan prinsip-prinsip yang akan dipegang Akson semoga bisa dimengerti, diterima dan dihargai oleh keluarganya. Allen Schiortino, gadis Italia yang bikin Akson kalang kabut itu temankerjanya di London, yang katanya sudah agak “nJawani”. Dalam kacamata Akson, beda latar belakang budaya sudah bukan masalah karena toh kebudayaan itu bisa dipelajari, tidak tergantung dari transmisi biologis atau pewarisan melalui unsur genetis. Sedangkan agama? Please, itu sangat menyentuh privacy. Bisa jadi orang beragama karena diajarkan orang tua, bisa jadi berdasar pengalaman dan perasaan khas yang lebih daripada atas pemikiran. Walaupun Allen dikenal Akson sangat rasional, tapi dia mendalami agama dan memiliki rasa ketergantungan yang mutlak. So, yang  ini harus sangat pelan dan hati-hati, dan Akson berjanji untuk mengatasi masalah ini sebijaksana mungkin dan dia berjanji untuk tidak berpaling keyakinannya.

            Wah, Akson yang punya masalah, kenapa aku yang jadi stres begini? Arini menuruti dirinya sendiri, karena sesungguhnya ia lebih takut mengeluarkan argumen menurut Akson di hadapan keluarganya ketimbang ketika harus mempertimbangkan argumennya ketika diuji proffesornya di Harfard University. Sekali lagi dilihatnya ombak besar Parang Tritis bergulung siap menelan siapa pun tanpa memprdulikan sara. Arini membenahi dirinya, menepuk pantat yang berlepotan pasir, membetulkan celana dan memakai sandal. Dilihatnya jam tangannya, hem... hampir meghrib, matahari sudah hampir tenggelam di balik bukit karang. Aku harus pulang, dan nanti sambil ngobrol dengan nenek dan ibunya, kuusahakan untuk menyerempet persoaalan misi dari Akson yang menunggu  dengan harap-harap cemas. Malam ini pokoknya harus kelar, target Arini untuk keluaraga di Yogya. Besok pagi dengan flight ke dua dia ke Jakarta untuk target Pak Dhenya, ortunya Akson. Yang penting dia sudah menjembatani, untuk selanjutnya terserah mereka dan pendekatan Akson sendiri dengan Allen tentunya.

            Selamat tinggal ombak Parang tritis, terima kasih sudah memberiku inspirasi, Arini sekali lagi melirik ke pantai sambil melenggang ke tempat parkir. Besok kalau pulang ke Yogya lagi akan kusempatkan melihatmu lagi. Akan kubangkitkan lagi sensitivitas yang selama ini agak mengendor. Yah, Arini termasuk orang yang beruntung karena begitu lulus dari FT Elektro UGM dengan predikat Cumlaude, dia bekerja di perusahaan Asing di Jakarta. Ketika krismon melanda Indonesia, dia yang bergaji dollar justru sangat diuntungkan, bahkan perusahaannya memberi kesempatan belajar di Harfard untuk meraih gelar MBA. Semua ini sangat membanggakan keluarganya, hanya saja mereka mengingatkan bahwa usianya hampir kepala tiga yang nota bene termasuk golongan p[erawan tua. Yah... kalau itu sih soal jodhoh yang waktunya hanya yang di atas yang punya otoritas. Arini yang dulu dikejar banyak cowok sampai bingung menolak, lain kondisinya dengan sekarang. Siapa yang tidak tertarik padanya yang cantik dan pintar, tapi sekaligus membuat orang segan untuk mendekati.

            Bagi Arini itu bukan masalah yang pelik. Dia tidak takut menjadi perawan tua, dia tidak iri melihat teman SMU-nya menggendong bayi mungil dan menggandeng balita. Dia tak perlu mencari pembenaran atas dirinya yang hingga kini belum menikah, juga tak perlumerekayasa makhluk seperti apa yang cocok berpasangan dengan Ir. Arini, MBA. Dia juga tidak takut dianggap kualat karena dulu sering menolak cowok yang mendekati, lalu sekarang dianggap terlalu memilih sehingga justru tidak terpilih. Tak usahlah itu, EGP ( emang gue pikirin) saja juga tidak, dibilang cuek juga tak terlalu cuek. Yah... yang penting mengalir sajalah, sensitivitasnya dijaga dan mengalir seperti air. Tapi bukan sebesar ombak Parang Tritis.................

 

 

 

Sambungan cerita ini menanti masukan Anda.

Menyumbang ide cerita

  

Yogyakarta, Medio 2001

 

 
Hosted by www.Geocities.ws

1