|
Yayan Sopyan
MEMBAKAR
KORAN
Sebelum
habis kuteguk secangkir kopi,
kubakar lagi selembar koran pagi ini.
Untuk apa membaca, jika aksara-aksara tak jadi kata-kata.
Untuk apa kata-kata, jika ia tak punya kaki
untuk menapakkan badannya pada bau tanah yang murni.
Untuk apa melihat, jika yang tertera hanya ribuan titik hitam
yang mengaburkan gambar, yang menepiskan kesaksian.
Sebelum
jalan-jalan kembali macet dan berisik,
kubakar lagi selembar koran pagi ini.
Biarkan saja angin menerbangkan abunya ke langit,
mengantarkan harapan beribu orang kemana saja ia mau
seperti tak pedulinya bahasa yang lumpuh pada nasib nyata
denyut nadi si papa dan sahaya
Apa yang kau dapatkan dari selembar koran pagi ini?
Hanya pikiran-pikiran
hanya bunyi gemeretak sebuah syaraf di kepala
hanya harapan-harapan
hanya degup kencang dada
Mana
peristiwa?
Mana kejadian?
Tak dapat kusentuh wajahmu dan mereka
Tak dapat kau raba kulit mukaku pula
Selembar
koran hanya mengajariku bercuriga dan mendendam
sebelum usai sebuah malam
hanya meredam jerit perih luka
di kakiku sebelum kutahu cerita tentang sebongkah batu tajam.
Maka kubakar saja selembar koran pagi ini.
Bahasa
telah kehilangan matanya.
Kabarkan
padaku apa isi sebuah pena?
Jakarta, 1994
MANTRA
MELAWAN
kukembalikan
dukaku
darimu
padamu
kupulangkan
lukaku
darimu
padamu
kuhantarkan
nyeriku
darimu
padamu
yang
terbang menyerang
di kegelapan
segeralah pulang
sebelum aku dan matariku datang
sarungkanlah kuku jarimu
sebelum kasihku
luluhkan batumu
kukembalikan
apimu
darimu
padamu
kupulangkan
resahku
darimu
padamu
yang
merayap
mengendap mau menyergap
urungkan niatmu
karena aku
akan melawanmu
Jakarta, 15/8/2000
|