|
Agung Kurniawan (Leak) Agustus 2001 pengunjung ke
|
Dunia
Nyata dan Negeri Khayalan: Memahami Puisi
Baudelaire dalam Les Phares
dan Moesta Et Errabunda Baudelaire
adalah salah satu penyair Prancis terkenal pada abad IX. Karya besarnya adalah
kumpulan puisi yang berjudul Les Fleurs du
Mal (LFM). Baudelaire tak hanya
dikenal sebagai penyair yang menganut aliran romantisme, tetapi juga penyair
klasik dan sebagai seorang penyair modernis pertama (Baudiffier 1992:10). Dalam
hal inspirasi, Baudelaire terlihat banyak dipengaruhi romantisme. Hal itu
mungkin bisa dilihat dari bagaimana ia menggunakan bahasa dan memilih kata-kata
dalam karya-karyanya. Tetapi jika dilihat dari bentuk puisinya, dia masih
menggunakan model klasik, yaitu dengan rima yang teratur. LFM
diterbitkan pertama kali pada 1857. Pada penerbitan awalnya, LFM sempat dicekal
peredarannya bahkan Baudelauire dipenjara karena LFM dianggap sebagai suatu
karya yang terlalu seronok. Tetapi hal itu tidak menyebabkan Baudelaire berhenti
berkarya. LFM terbit kembali pada 1961 dengan jumlah puisi sekitar 129 pada
edisi yang kedua. Hingga kematiannya, Baudelaire terus berkarya dan menambahkan
karya-karyanya pada LFM. LFM
banyak mengangkat tema tentang tragedi manusia
yang mendua. Satu kepada Tuhan dan yang lain kepada setan. Kejemuan akan
kenyataan dunia (spleen ) dan harapan
akan kehidupan yang lebih nyaman dan tenang (ideal).
Selain itu Baudelaire juga mengangkat tema tentang cinta dan wanita yang mungkin
terinspirasi oleh hubungannya dengan
Jeanne Duval. Tema
lain yang juga menjadi inti dalam LFM adalah Correspondances,
bahwa segala sesuatu di dunia ini selalu
mempunyai hubungan dengan sesuatu yang lain yang ada di dunia lain yang
terkadang tidak terjangkau oleh akal manusia, wangi, warna, dan bunyi selalu
berpadu. Baudelaire
membagi LFM dalam beberapa bagian antara
lain: (1) Spleen et Ideal(SI), (2) Tableaux
Parisiens (TP), (3) Le Vin (LV),
(4) Fleurs Du Mal (FM), (5) Revolte
(R), dan (6) La Mort (LM). SI
merupakan bagian puisi yang paling
banyak dan paling kaya. Karena pada bagian inilah Baudelaire banyak meletakkan
puisi –puisinya dengan tema-tema di atas. Puisi-puisinya kebanyakan
menunjukkan kegelisahan, kejemuan akan hidup, dan gambaran-gambaran tentang
negri khayalan yang didambakannya . Dalam SI ini Baudelaire
mencoba melawan kejenuhannya dengan mengarahkan diri pada cinta dan puisi
dengan kondisi penyair dan misi yang seharusnya dimiliki penyair. Berikut
ini kita perhatikan Les Phares (LP) dan Moesta et Errabunda (ME)
yang merupakan puisi –puisi yang menjadi bagian SI. Dari kedua puisi tesebut
kita coba untuk menemukan pesan yang ingin disampaikan Baudelaire tentang negeri
khayalan yang diharapkannya dan tentang situasi dunia yang menjemukannya. Menurut
Baudiffier, Baudelaire mengajak para pencipta, dalam hal ini seni, untuk
menunjukkan perasaan mereka akan jaman dan
memahami gerakan sejarah di abad
ketika mereka hidup. Dan melalui LP sepertinya Budelaire mencoba mewujudkan
keinginan itu. Dia menyebutkan beberapa pelukis
besar dunia dan seperti memberi ulasan tentang masing-masing karya mereka
untuk menggambarkan kondisi manusia dalam satu masa ketika masing-masing pelukis
tersebut berkarya. Bait
pertama ,Rubens, suatu kondisi hidup yang seperti sungai kekhilafan dan kebun
kemalasan. Layaknya sungai dengan aliran air yang tak henti, demikianlah dunia
penuh dengan kekhilafan-kekhilafan yang tak akan pernah berhenti dan habis.Dan
kebun adalah tempat tanaman hidup ,berakar, berkembang dan berbuah. Demikian
juga dunia. Tempat kemalasan terus berkembang .Tapi, meskipun dunia adalah
tempat yang tidak baik , manusia tidak dapat menghindar. Sebab di dunialah
manusia harus hidup. Dan kehidupan itu terus berlangsung dan berubah-ubah tanpa henti Seperti halnya udara di angkasa
yang tak akan henti bergerak dan seperti laut yang terus bergolak. Bait
kedua. Leonard de Vinci. Melalui lukisannya Baudelaire mencoba menggambarkan
satu tempat yang miterius. Tempat
itu dilukiskan sebagai satu tempat yang dalam, jauh dari jangkauan manusia dan
suram. Dan di tempat itu mahkluk lain yaitu para malaikat hidup dan
masing-masing sepertinya menyimpan satu misteri atau rahasia tentang kehidupan.
Mungkin hal ini menujukan kepercayaan Baudelaire akan adanya satu tampat di luar
akal manusia . Bait
ketiga,Rembrandt. Dalam Petits Poemes en
Proses, bagian XLVIII- N’importe ou
hors du monde, Baudelaire pernah
menyatakan bahwa hidup ini seperti rumah sakit tempat masing-masing penyakit
mempunyai kenginan untuk berpindah dari satu tempat tidur ke tempat tidur
yang lain. Tempat satu masalah menimpa manusia yang satu ke manusia yang lain
Pada Bait ini kembali Baudelaire memilih kata rumah sakit
untuk memetamorkan kehidupan pada masaRembrandt. Menurut Baudelaire, hidup ini
penuh dengan kabar-kabar tentang peristiwa
yang terjadi, filsafat-filsafat. Dan di tengah banyak terjadinya
peristiwa-peristiwa itu , manusia
sudah tidak lagi memperdulikan agama atau kepercayaan.(agama atau kepercayaan
disimbolkan dengan salib besar.)Bahkan para kaum suci , orang-orang yang taat
dengan agama secara sadar atau tidak mengucapkan doa-doa yang seolah-olah mereka
lakukan dengan sungguh-sungguh tetapi yang sebenarnya tidak tulus bahkan berisi
hujatan kepada Tuhan. Baris ketiga dapat juga ditafsirkan bahwa agama hanya
menjadi kedok beberapa orang untuk membenarkan filsafat mereka. Bait
keempat. Pada bait ini sepertinya Baudelaire ingin mengungkapkan tentang satu
masa di mana orang –orang penganut agama Kristen sudah mulai berhubungan
dengan dewa-dewa. Bait
kelima. Coleres de Boxeur. Bait ini menggambarkan satu masa
ketika manusia hidup penuh dengan kesombongan-kesombongan duniawi.
Kebanggaan karena berhasil meraih kebahagiaan atau kemewahan yang didapatkan
dengan cara yang ditawarkan oleh setan Bait
keenam. Watteau. Pada bait ini Baudelaire meminjam lukisan Watteau yang banyak
sekali mengangkat tema tentang pesta atau pertemuan-pertemuan yang dihadiri oleh
para pria dan wanita dengan gaun pesta mereka. Mungkin Baudelaire ingin
memperlihatkan satu era ketika hidup seperti carnaval.
Yaitu satu pesta yang biasanya diadakan setelah perayaan keagamaan. Pesta-pesta
tersebut menjadi tempat untuk berpesta pora oleh orang-orang yang hadir seperti halnya kupu-kupu ketika berada
di alam yang indah.Tujuan meraka tak lebih dari sekedar mencari hiburan bagi
hati mereka yang kosong dan hampa.Dan kebahagian yang mereka dapatkan hanyalah
kebahagiaan semu dan sesaat. Bait
ketujuh. Goya. Hidup adalah seperti mimpi
buruk. Bahwa terkadang di dunia ini kita menemukan
hal-hal yang tidak dinalar oleh akal manusia.Ataupun hal-hal
mistik seperti acara pemujaan setan yang mungkin banyak terjadi pada masa
itu. Janin yang dikorbankan pada pertengahan sabat, anak-anak kecil yang
telanjang. Semua dilakukan untuk memuaskan setan. Mungkin hal ini menjadi
gambaran bahwa pada masa itu banyak manusia yang melakukan hal-hal untuk
mendapat pertolongan dari setan. Bait
ke delapan . Delacroix adalah pelukis favorit Baudelaire. Tak heran jika dia
mengikutkan juga Karya Delacroix pada puisinya ini. Lukisan –lukisan Delacroix
banyak yang merekam darah.Lukisan ini sepertinya dipakai Baudelaire untuk
mewakili satu masa di mana peperangan sedang terjadi di banyak tempat.Di
mana-mana terjadi pertumpahan darah. Suasana hidup menjadi meyedihkan, tidak
menyenangkan (sous un ciel chagrin).
Dan orang-orang tak lagi merasa asing dan takut karena desing peluru terdengar
seperti satu alunan musik.(Weber adalah seorang composer romantik dari Belanda). Pada
bait kesembilan dan kesepuluh, baudelaire mengatakan bahwa masing masing lukisan
yang dibuat oleh para pelukis dunia yang telah
disebutkan di atas menjadi gambaran tentang keadaan hidup manusia dan sebagai
suatu ungkapan perasan manusia( terikan, jeritan, sumpah serapah dst.) akan
dunia ini. Itulah kondisi dunia yang tak pernah tetap. Kondisi yang
diekspresikan melalui lukisan-lukisan itu,
seperti halnya gema yang terus diulang, menjadi satu karya yang akan
terus dipajang dan disaksikan oleh orang-orang yang tidak dapat menyaksikan
langsung apa yang telah terjadi dengan kehidupan sebelumnya.Dan semua ini
ditujukan pada manusia- manusia yang terlena dengan angan-angan mereka akan
kehidupan surgawi(bait 9 baris 4) dan bagi manusia yang kehilangan arah dalam
menjalani kehidupan mereka(bait 10, baris 4) Seperti halnya mercusuar sebagai
satu alat yang dipakai untuk menunjukan arah bagi para pelaut , Baudelaire
menilai bahwa karya-karya besar tersebut menjadi
satu alat yang membantu manusia untuk menunjukan arah hidup mereka. Dan ini
dilakukan dengan reflesi yang diharapkan dilakukan setelah mengerti akan pesan
yang disampaikan melalui lukisan. Sebab hidup akan tetap berjalan seperti dahulu,
pembunuhan akan tetap terjadi dan baru akan berhenti atas kehendak
Sang Pencipta (Bait 11). Puisi
ini menggambarkan satu tempat yang menjadi idaman. Satu tempat yang kondisinya
berlawanan dengan kondisi hidup di dunia Dalam
puisi ini Baudelaire banyak menggunakan tanda baca yang mengakibatkan pada
kalimat yang sama menimbulkan arti yang berbeda. Pada
bait pertama Baudelaire mengarahkan ucapan pada seseorang yang bernama Agatha,
tetapi pertanyaan itu dapat saja ditujukan pada dirinya sendiri. Dia bertanya
pernahkan satu saat hati kita merasa sepi dan rindu akan suasana lain. Suasana
yang berbeda dengan yang ada di dunia yang baginya najis,kotor,dan hina.dan
tempat yanglain itu dibayangkannya sebagai tempat seluas samudara, penuh dengan
hal- hal indah dan nyata. Tempat keindahan yang tidak semu yang suci dan
nikmat(seperti halnya sebuah keperawanan. Kerinduannya akan tempat itu
ditegaskannya kembali dengan mengulang kembali pertanyaan pada baris pertama. Pada
bait kedua Baudelaire menggambarkan tempat yang diidamkannya itu seperti laut
yang luas yang dapat memberikan perasaan tenang pada setiap orang yang sedang
berada di sana. Tempat kita dapat sejenak melupakan permasalahan hidup yang
membebani manusia. Perasaan tenang itu mungkin juga ditimbulkan oleh adanya
deburan ombak yang bergulung berbaur dengan desiran suara angin. Suara
itu menjadi seperti lagu nina bobok yang mengantarkan tidur manusia. Pada
bait ketiga Baudelaire semakin menunjukan kerinduannya akan tempat yang indah
itu dengan berulang kali memakai tanda-tanda seru.Burung Fregat adalah satu
jenis burung yang sering melakukan perjalanan jauh. Rupanya Baudelaire ingin
menunjukan keinginannya untuk pergi jauh dari bumi ini dengan meminta sang
burung untuk membawanya terbang. Dan layaknya kereta yang berjalan cepat,
demikian juga dia ingin dengan cepat dibawa pergi. Dan dalam kesedihan hatinya
dia ingin pergi dari situasi dunia yan gpenuh dengan penyesalan, kejahatan, dan
kesedihan.tapi pada baris terakhir Baudelaire sendiri ragu apakah kereta dan
burung Fregat dapat membawanya pergi dari dunia yang membuatnya jenu Kali
ini pada bait ke-4 Baudelaire sepertinya menyadari bahwa tempat yang menjadi
impiannya itu sangat jauh dan secara nyata dia menyebutkan bahwa tempat
idamannya itu adalah surga.Karena tempatnya yang jauh dari dunia yang kotor,
tidak indah maka tempat itu
tentunya merupakan tempat yang memiliki suasana dan kondisi yang sangat berbeda
dengan suasana di dunia. Tempat itu digambarkan sebagai tempat yang indah dengan langit yang selalu cerah di mana yang ada hanya cinta
dan kesenangan. Dan di tempat itu terdapat segala sesuatu yang dicintai memang
layak untuk dicintai. Tidak seperti di dunia dimana terkadang manusia mencintai
hal-hal yang sebenarnya tidak layak dicintai. Seperti kesenangan semu, harta
yang fana, gelar dll. Pada baris terakhir Baudelaire menunjukkan satu
kejengkelan ( ditunjukkan dengan tanda baca seru pada akhir kalimat) karena
dia sadar surga itu terletak jauh dengan jarak yang tak terhitung.
Pada
bait kelima Baudelaire menggambarkan surga sebagai satu tempat dengan cinta suci,
cinta yang biasanya dialami oleh kanak-kanak.pada baris keempat sepertinya
Baudelaire menyatakan bahwa keindahan tempat itu tidak sama dengan keindahan
yang dirasakan ketika mabuk. Pada
bait terakhir, Baudelaire menyatakan bahwa surga masih misteri baginya. Surga
itu menyimpan kesenangan-kesenangan yang sebetulnya
masih misterius. Baudelaire juga menyayangkan betapa jauhnya surga itu.
Lebih jauh dari India dan Cina, negara-negara yang pernah dikunjunginya. Dan dia
tidak tahu bagaimana cara dia untuk dapat mencapai tempat itu. Karena tempat itu
tidak medekat walaupun kondisi dunia sudah sangat menyedihkan, dan manusia
termasuk dirinya merasa sangat
menderita dengan kehidupan yang menjemukan. Tempat itu tak juga datang meskipun
sepertinya kata-kata yang dianggap doa sudah berulang kali diucapkan. Dan untuk
kesekian kali Baudelaire ragu akan gambarannya itu. Apakah tempat yang
dilukiskannya itu benar ada dan seandainya ada benarkah tempat itu seindah
tempat yang dibayangkannya. Puisi
ini selain dapat menggabarkan kondisi dunia lain yang ada di pikiran Baudelaire
, dapat juga dipakai untuk menunjukan gambaran Baudelaire tentang kondisi dunia
nyata dengan cara mengoposisikan beberepa kata tertentu. Misalnya ketiga
Baudelaire melukiskan tempat itu sebagai satu tempat yang wangi dan cerah (bait
4) maka dunia adlah tempat yang kotor dan suram. Kedua
puisi di atas merupakan sebagian puisi Baudelaire yang mengangkat tema kejemuan
manusia dan angan-angannya akan surgawi. ** |