Halaman Jalur Pendakian |
Jalur Pendakian
Gunung Ungaran
---------------------------------------------------------------------------------------------------------
Gunung ini dapat didaki
dari Jimbaran - Ungaran, atau dari Taman Wisata Candi Gedung Songo -
Ambarawa. Gunung Ungaran terletak di sebelah Selatan - Barat Daya kota
Semarang dengan jarak sekitar 40 Km, tepatnya berada di kabupaten
Semarang. Gunung Ungaran termasuk gunung berapi type strato. Gunung
ini terdiri dari tiga buah gunung yakni Gunung Gendol, GunungBotak,
dan Gunung Ungaran. Puncak tertinggi Gunung Ungaran memiliki
ketinggian 2.050 mdpl. Untuk menuju puncak Gunung Ungaran ini
dibutuhkan waktu sekitar 5 jam dari candi Gedung Songo, atau sekitar 8
jam dari Jimbaran.
Gunung ini sangat istimewa yakni adanya panas bumi di sisi selatan dan
sisi utara gunung, juga di kaki gunung di sebelah timur. Panas
tertinggi berada di Gedongsongo dengan adanya uap panas dan kolam
bersuhu 86�C juga sumber mata air panas. Disebelah utara Gunung
Ungaran terdapat beberapa sumber air panas dengan suhu berkisar 48�C
and 53�C. Air panas yang terdapat di sebelah timur gunung memiliki
suhu yang hangat berkisar 42�C.
Panas yang dihasilkan di sekitar Gedungsongo ini berhubungan dengan
aktivitas termuda gunung berapi yang terjadi pada GunungUngaran, yakni
sejak adanya aliran lahar andesive di kawah di sebelah utara. Tidak
ada catatan mengenai sejarah letusan GunungUngaran. Beberapa kali
aktifitas letusan pernah terjadi di tengah-tengah gunung dekat puncak
Gunung Ungaran, sehingga membentuk gunung berapi.
Aktivitas fase termuda gunung berapi ini adalah berupa susunan
timbunan basalt dan batu andesit yang melingkar dengan garis tengah 19
Km yang memotong gunung berapi ungaran tua dan sedimen ketiga. Dua
generasi kubah Andesit telah terbentuk sejak adanya lapisan ke empat
di sekitar lingkaran patahan dan sisi-sisi gunung.
Berada di komplek Candi Gedong Songo di kaki Gunung Ungaran seperti
terlempar ke masa lalu dengan segala kekunoannya. Tujuh buah candi
berdiri membisu yang satu dengan lainnya terpisah sekitar 100 meter
terasa memancarkan aura kedamaian yang abadi.
Segarnya aroma getah pinus dan wangi mawar yang datang terbawa semilir
angin membuat kepala terasa ringan. Komplek Candi Gedong Songo memang
dikitari hamparan kebun bunga di kanan kirinya, mengingatkan pada
keindahan kahyangan tempat dewa-dewa bersemayam dalam cerita
pewayangan. Di kejauhan nampak hijaunya hutan pinus yang merayapi kaki
hingga puncak Gunung Ungaran.
Sesuai namanya komplek candi ini sebenarnya terdiri atas sembilan
candi, berderet dari bawah ke atas yang dihubungkan dengan jalan
setapak bersemen. Satu candi yang berada di puncak paling tinggi
disebut Puncak Nirwana. Sayang sekali dari sembilan candi dua
diantaranya sudah rusak hingga sekarang tinggal tujuh buah.
Komplek Candi Gedong Songo ini diperkirakan dibangun oleh Raja Sanjaya,
raja Mataram kuno pada sekitar abad 8 Masehi. Melihat langgam
arsitektur dan pendirinya yang beragama Hindu Candi Gedong Songo jelas
merupakan candi Hindu yang dibangun untuk tujuan pemujaan.
Berbagai patung dewa yang ada di sini seperti Syiwa Mahaguru, Syiwa
Mahadewa, Syiwa Mahakala, Durga mahesasuramardhani dan Ganesya makin
menegaskannya sebagai bangunan pemujaan umat Hindu. Juga ditemukan
Lingga dan Yoni yang merupakan ciri khas candi Hindu di Indonesia.
Setelah berabad-abad tak pernah disebut keberadaan Candi Gedong Songo
untuk pertama kali dilaporkan oleh Gubernur Jenderal Raffles pada
tahun 1740. Seorang arkeolog Belanda, Dr EB. Volger, selanjutnya
melakukan study dan diteruskan oleh beberapa arkeolog Indonesia.
Pemugaran candi dan penataan lingkungan secara menyeluruh dilakukan
oleh pemerintah Indonesia pada tahun 1972-1982.
Dilihat dari letaknya komplek Candi Gedong Songo termasuk istimewa
karena berada pada ketinggian sekitar 1000 meter dpl. Dari tempat ini
wisatawan yang berkunjung dapat menyaksikan kota Ambarawa dan genangan
air Rawapening dengan latar belakang gunung kembar Sumbing dan Sindoro
yang berdiri gagah di kejauhan.
Awal pendakian kita sudah di hadang oleh bukit yang sangat terjal dan
licin, dan pada musim panas banyak debunya. Pendaki harus berhati-hati
karena banyak batu-batu yang mudah longsor, sehingga sangat
membahayakan pendaki lainnya yang berada di bawah. Jalur ini sangat
curam sehingga akan menguras tenaga, dan memerlukan konsentrasi yang
tinggi. Sebagai pemanasan awal yang sangat melelahkan, sebaiknya kita
tidak terburu-buru dan lakukan istirahat bila kelelahan dan kehabisan
nafas. Ada beberapa batu besar pada lereng curam ini, sehingga pendaki
dapat beristirahat sambil menyaksikan pemandangan yang sangat indah ke
bawah bukit.
Setelah tiba di atas bukit, perjalanan dilanjutkan dengan mengelilingi
bukit. Bukit ini banyak ditumbuhi alang-alang dan pada siang hari
sangat panas dan berdebu. Beruntung sekali jalur sudah agak mendatar
meskipun ada beberapa tempat yang agak curam. Dari bukit ini kita bisa
menyaksikan kota Ambarawa, dan Rawapening.
Setelah melewati bukit alang-alang kita akan memasuki kawasan hutan
yang berada di suatu lembah yang dikelilingi oleh lereng-lereng terjal
yang berbentuk tapal kuda. Kawasan hutan yang tersembunyi ini banyak
di huni oleh burung-burung dan di puncak-puncak lereng banyak
ditumbuhi bunga Edelweis. Kita merasa seolah-olah berada di Taman Eden
yang hilang, suasana hening dan sejuk serta pemandangan yang sangat
indah memberi ketenangan batin bagi para Pendaki. Jalur di kawasan
hutan ini mendatar kemudian sedikit menurun setelah itu kembali jalur
menjadi terjal melalui akar-akar pohon, dan batu-batuan.
Setelah melewati dua buah bukit terjal yang di selingi dengan jalur
datar, pendaki akan bertemu dengan jalan yang bercabang, ambillah
jalur ke kiri karena jalur kanan buntu. Mendekati puncak gunung jalur
terasa sangat terjal dan sangat berbahaya, pendaki harus ekstra
hati-hati dan tetap menjaga stamina.
Sesampainya di atas bukit terdapat tempat yang cukup luas untuk
membuka tenda, di sini banyak terdapat pohon-pohon yang bisa digunakan
untuk berteduh dan berlindung dari hempasan angin yang bertiup kencang.
100 meter dari tempat ini kita akan sampai di puncak gunung Ungaran,
yakni suatu tempat terbuka yang tidak terlalu luas. Di sini terdapat
tugu peringatan yang berada di puncak gunung. Pemandangan dari puncak
gunung Ungaran ini sangat indah. Dari puncak Gunung Ungaran kita dapat
melihat Gunung Sumbing, Gunung Sundoro di sebelah barat daya.
Sedangkan di sebelah tenggara, kita melihat Gunung Telomoyo, Gunung
Merbabu, dan Gunung Merapi yang sejajar dengan Gunung Ungaran
membentuk satu garis kelurusan vulkanik Ungaran - Telomoyo - Merbabu -
Merapi . Kelurusan vulkanik Ungaran-Merapi tersebut merupakan sesar
mendatar yang berbentuk konkaf hingga sampai ke barat, dan
berangsur-angsur berkembang kegiatan vulkanisnya sepanjang sesar
mendatar dari arah utara ke selatan. Dapat diurut dari utara yaitu
Ungaran Tua berumur Pleistosen dan berakhir di selatan yaitu di Gunung
Merapi yang sangat aktif hingga saat ini.