Halaman Jalur Pendakian |
Jalur Pendakian
Gunung Muriya
---------------------------------------------------------------------------------------------------------
BAGI pendaki gunung,
tidak terlalu sulit menggapai puncak Gunung Muria yang berketinggian
1.602 meter di atas permukaan laut (dpl), bila dibanding mendaki
Gunung Merbabu (3.142 m dpl), Gunung Slamet (3.428 m dpl), atau gunung
lain di Pulau Jawa. Karena, Gunung Muria merupakan gunung yang "pendek".
Akan tetapi, bagi masyarakat biasa tetap tidak dapat dengan mudah
mendaki Gunung Muria. Karena itu, Gubernur Jawa Tengah (Jateng)
Mardiyanto memberikan dana Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD)
Jateng untuk membangun jalan tembus membelah Gunung Muria.
Jalan tembus itu mulai digarap sejak awal April lalu dari Desa Tempur,
Kecamatan Keling, Kabupaten Jepara, dengan dana Rp 1,2 miliar menuju
Desa Rahtawu, Kecamatan Gebog, Kabupaten Kudus. Sejumlah alat berat
disertai puluhan tenaga kerja, mengepras batu dan cadas di Desa Tempur.
Sedangkan dari arah Desa Medani, Kecamatan Cluwak, Kabupaten Pati.
Jalur untuk menuju ke
puncak Gunung Muria Bisa di ambil Dari
Di puncak Gunung Rahtawu (1.522 meter dpl), satu dari tiga puncak
Gunung Muria, Balai Arkeologi Nasional (BAN) menemukan prasasti
Rahtawu tahun 1990. Dari prasasti itulah Prof Dr Gunadi menyimpulkan,
seputar Gunung Rahtawu pernah dijadikan permukiman di abad kelima atau
keenam.
Penemuan itu memperkuat temuan Prof Dr Hasan Ambari tahun 1978 yang
meneliti padang oro-oro gabug Bukit Begawan. Di tempat ini ditemukan
berbagai perabot rumah tangga dari tanah liat, membuktikan pernah
dihuni manusia.
Mengingat luasnya padang ilalang tersebut, diduga kuat tempat itu
merupakan lokasi Kerajaan Rahtawun. Namun, penemuan dan penelitian ini
tak ada kelanjutannya sama sekali.
Di puncak Gunung Rahtawu, tepatnya di puncak songo likur, dijumpai
empat arca terdiri dari arca Betara Guru, Narada, Togog, dan Wisnu,
yang menempati lahan 10 x 12 meter. Tempat ini bisa ditempuh dari dua
arah dengan waktu sekitar dua-tiga jam dari Dukuh Semliro. Namun
sebagian besar berupa jalan setapak. Bahkan sekitar 700 meter
menjelang puncak songo likur, tidak ada jalan sama sekali. Hanya
berupa sulur dan kayu gelondongan yang berfungsi sebagai pengganti
jalan.