PROPOSAL PENERBITAN MEDIA
DAN SEBAGAINYA

       Ada sekelumit ambisi yang terselip di sisa-sisa tahun ini. Awalnya dari perasaan bersalah pada diri sendiri, bahwa ternyata ada inspirasi dan aspirasi berbentuk tulisan yang secara teknis dan nalar --  bagaimanapun --  tidak bisa disalurkan ke media-media konvensional yang ada. Dan semoga itu menjadi rasa bersalah kepada kalian juga; bahwa kalian juga punya tulisan yang seperti itu, atau paling tidak punya sekelumit ambisi yang serupa.
Dari awal yang demikian, aku coba mencari alasan-alasan yang lebih praktis. Karena sekelumit ambisi tidak bisa tercapai hanya dengan modal perasaan, pun hingga berakhirnya sisa-sisa tahun ini. Sehingga perasaan tadi perlu dikaitkan dengan sesuatu yang bisa digunakan sebagai alasan yang lebih masuk akal untuk menerbitkan sebuah media. Dan hal itu kira-kira menjadi sebagai berikut :
. . . . .
       Bahwa sebuah persoalan tidak melulu harus dipandang dengan sudut pandang yang ilmiah dan sifatnya akademik sehingga sekaligus menjadi serius. Ia juga mestinya tidak boleh kaku dengan pembahasan yang penuh batasan-batasan di pinggirannya yang berupa kerangka teori dan prinsip berpikir yang jungkir balik. Yang pada tataran teknis  menurunkan istilah-istilah susah yang mesti dibaca lebih dari satu dua kali untuk memahaminya. Karena di sisi lain kita butuh bahasan yang ringan, yang ketika dibaca bisa berseliweran sendiri dalam imajinasi kita.
       Ketika membahas bintang, kita tidak membicarakan tentang jaraknya dari bumi, ukuran suhunya, tentang daya ledaknya ketika ia menjadi supernova yang kesemuanya perlu angka-angka dan sekaligus satuan. Tapi lebih kepada bahwa bintang adalah penghibur angkasa dengan gemerincing dan cekikikannya.
       Atau; bahwa ternyata bumi adalah datar ! Matahari  terbit dari timur ke barat untuk kemudian masuk ke bagian bawah bumi yang datar dan dari sanalah tanah menjadi subur dan menghasilkan pepohonan, untuk kemudian ia terbit lagi dari timur. Karena datar, maka sekali-kali kita bisa liburan ke ujung dunia meraih matahari atau sekedar duduk-duduk di pinggiran bumi.
      




       Sebuah persoalan tidak melulu harus dibahas secara ilmiah dan bersifat akademis jungkir balik, terlebih jika ia adalah persoalan yang romantis atau malah mistis. Dalam hal ini kita butuh sense of imaging, imajinasi yang bebas tentang suatu hal. Paling tidak kita bisa meraih satu solusi yang menenangkan dan memuaskan satu sisi diri kita yang haus akan romantisme dan bangunan-bangunan fiksi.
       Sekarang rasanya telah menjadi jelas kenapa aspirasi ini tidak bisa dicakup dalam media-media konvensional. Sehingga diperlukan sebuah alternatif media yang bisa menampungnya. Media yang tidak terikat oleh teknis redaksional penulisan. Media yang tidak terikat apapun kecuali kebebasan berimajinasi itu sendiri. Dus, media yang mecoba tampil berbeda dalam segala hal: penampilan penulisan hingga lay out. Sering muncul rasa iri terhadap tulisan yang berbunyi seperti ini: . . ." Kita ini memang orang-orang miskin, tapi sekaligus pada saat yang bersamaan -- Kaya!". satu baris kalimat yang menggambarkan kebebasan berekspresi, yang bagi media-media konvensional akan ditolak-tolak dengan alasan tidak ilmiah karena melanggar asas-asas logis: tidakmungkin orang miskin bisa sekaligus kaya. Di sinilah kita coba membuat media yang di dalamnya kita bangun logika-logika kita sendiri.
       Belum ada istilah khusus buat aku menyebut media seperti ini. Bagi sebagian dia adalah 'media alternatif' , bagi yang lain dia adalah 'media underground', dan bagi segelintir yang jauh lebih sedikit lebih suka menyebutnya sebagai 'jalan terakhir'. Terserahlah !
       Satu hal yang menjadi masalah besar untuk mewujudkan media ini adalah justru dalam mencari isi kepala-isi kepala yang sepaham. Yang memiliki kesadaran tentang kebebasan dalam hal berekspresi, sekaligus dalam beberapa hal lain yang bakal mendukung arah tema per tema. Yang terakhir ini terkait dengan konsep logika berpikir dari anda dan saya, termasuk di dalamnya field of experience dan frame of reference yang membentuknya. Tentang bagaimana itu akan mempengaruhi kemana arah media ini akan di bawa dalam konteks tema, bisa kita bicarakan kelak. Yang penting buatku sekarang: ikutlah denganku membangun fiksi, membuat berarti sisa tahun ini, memuaskan kehausan akan romantisme dan terutama membebaskan pilihanmu untuk ikut denganku.
       Dan kututup surat resmi ini dengan matra-mantra dari Schopenhauer : "ikutlah denganku.........ikutlah denganku.......ikutlah denganku...... . . .", kalau anda tetap keukeuh, setidaknya aku masih bisa onani!

Untuk sementara, halaman web inilah jalan belakang buatku
Faizal's Literature Property
cerita pendek
cerita panjang
esai, resensi dan tulisan lain
koleksi  buku
telepon
hukuman mati
sisa-sisa percakapan, ...
Kirim Komentar
apa hubungannya mangkok sama jurnal? hm,...
band indie bandung...
tulisan terbaru
cannery row,....
kata cinta yang terlambat
koleksi  foto
departemen pekerjaan umum
majalah info serpong
Hosted by www.Geocities.ws

1