KATA CINTA YANG TERLAMBAT

Enam nomor sudah kutekan, nada panggil terdengar jauh di ujung sana. Setelah tiga bulan akhirnya aku baru bisa menghubungi dia. Masalahnya sepele, catatan-catatanku hilang entah di mana. Bukan hanya nomor perempuan ini, tapi catatan-catatan penting lain, mulai dari nomor telepon teman-teman lama, teman-teman baru, sampai agenda-agenda penting dan janji-janji yang telanjur aku tulis di dalamnya. Sehingga tiga bulan ini habis waktuku, bukan hanya untuk mencari atatan-catatan tadi, tapi juga mereka-reka apa-apa yang masih aku ingat dari catatan-catatan itu, kalau-kalau ternyata catatan-catatan itu memang tidak mungkin lagi ditemukan. Dan kalau mau dihitung, usahaku mereka-reka banyak tercurah untuk menyusun enam angka yang kira-kira adalah nomor telepon perempuan ini. Sampai akhirnya setelah beberapa kali tidak yakin, beberapa kali salah sambung, atau malah terhubung dengan nomor yang belum terpasang, akhirnya aku mendapat kombinasi enam nomor yang aku sangat yakin adalah nomor dia.

***

Dunia itu mungkin tak seluas yang kita bayangkan, sehingga seseorang � siapapun dia � bisa kenal begitu saja dengan seseorang yang lain � siapapun dia � dari tiap penjuru bumi. Hubungan-hubungan ini pada gilirannya membentuk jalinan kusut yang tak ada lagi ujung-ujungnya. Seperti perempuan ini, saat itu, tiga bulan yang lalu, aku tahu-tahu sudah bicara berakrab-akrab dengannya tanpa kutahu pasti darimana aku bisa kenal dia. Tidak jelas lagi awal kita bisa berkenalan. Dia mungkin temannya kawanku, atau adiknya teman kawanku, atau temannya adik teman kawanku, atau memang dia dating begitu saja dari langit, aku tak tahu. Bukannya aku lupa, tapi sungguh aku tak tahu. Bukankah kita memang tak pernah tahu segala sesuatu yang bakal dating kepada kita, lantas kenapa kita harus tahu bagaimana segala sesuatu itu akhirnya muncul tepat di hadapan kita. Aku tak percaya keajaiban, tapi hidup memang sering tak terduga, bagiku itulah keajaiban yang sebenarnya.

Gelang tanganmu itu lho,�� Sungguh ini ucapan dia pertama kali bicara. Aku tidak langsung menjawab; tidak yakin apakah kalimat itu sudah benar-benar berhenti. Dan kalau sudah berhenti, apakah maksudnya bertanya, menyindir atau heran sama sekali. Aku harusnya bertanya: �Kenapa dengan gelang tanganku?� Tapi tidak kulakukan untuk memastikan segalanya.
�Gelang itu kan Cuma karet gelang biasa.� Benarlah secuil ketidakyakinanku; kalimat pertama belum berhenti, dan bisa berlanjut tanpa perlu tanggapan. Kalimat lanjutannya pun aku yakin masih bisa berlanjut dengan sendirinya. Tapi demi kesopanan �
�Kenapa memangnya?� Mungkin tidak terlalu sopan, tapi lumayanlah.
�Ya, gak apa-apa.� Mungkin dia menyesal dengan awal pembicaraan ini.
�Mm, ini kebiasaanku aja.� Kau ingin mencairkan suasana.
�Dulu itu, rambutku pernah panjang, dan setiap saat mesti sedia karet gelang, pun sampai aku botak sepertinya kebiasaan ini belum akan hilang. Mungkin nanti kalau ada yang kasih aku gelang beneran.� Jelasku panjang lebar berharap dia puas.
�Oh, begitu kan jelas.� Katanya sambil tersenyum. Tidak sia-sia juga penjelasanku. Aku pun tersenyum, membuat sebuah awal menjadi baik.

***

�Dia yang membuat aku berubah.� Yang dimaksudkan perempuan ini ialah mantan kekasihnya. Percakapan sudah berlangsung beberapa lama, ia bercerita banyak tentang segala hal.
�Dia yang mengajarkan aku bagaimana mesti bersikap, bagaimana harus memandang hidup, dan terutama bagaimana aku mesti n\bebas dari pengaruh obat-obatan itu.� Perempuan ini dulu pernah mengalami hidup yang keras dan kelam. Ia � dalam ceritanya � sempat menjadi pecandu obat terlarang, masuk dalam hidup gemerlap dan tenggelam dalam pergaulan bebas � aku tak tahu seberapa bebas. Hingga akhirnya perempuan ini bertemu dengan mantan kekasihnya itu.
�Dia yang membuat aku berubah.� Demikian perempuan ini mengulang kalimat itu berkali-kali. Seperti ingin membuat penegasan bahwa mantan kekasihnya itu adalah orang yang sangat berarti dalam hidupnya. Setiap mengulang kalimat itu, ia seperti hanyut dalam berbagai kenangan, sehingga kata-katanya bagaikan muncul dari bawah sadar, mirip igauan anak-anak kecil yang tertidur, seperti suara malaikat, murni tanpa tendensi, penuh kepolosan. Ditambah lagi kesan kehilangan dan kerinduan yang mendalam. Di mana lelaki yang sangat berarti itu kini, sehingga harus membuat perempuan yang demikian indah ini menyimpan segumpal kerinduan? Belum akan kutanyakan hal itu, karena perempuan ini demikian sendu dipenuhi kaharuan, yang membuatnya semakin indah. Aku tak mau membuyarkan pemandangan ini dengan sebuah pertanyaan yang paling mengganggu pikiranku sekalipun.
�Kenapa kau menatapku begitu?� aku malah bertanya lain.
�Tidak ada.� Jawabnya tidak memuaskan. Sungguh aku menangkap sesuatu dari pandangannya, pun ketika ia menjelaskan tidak ada apa-apa. Ada apa sebenarnya? Apa yang dipikirkannya tentang aku? Sungguh aku merasa tidak nyaman, namun bukan berarti aku tidak menikmati, malah jantungku makin berdebar.
�He,�kenapa sih?� Aku makin penasaran. Dia pasti menyimpan sesuatu.
�Ehm,�� Pandangannya menunduk seperti menghindari mataku, dia mulai menjelaskan.
�Kamu mengingatkan aku pada dia.� Katanya dengan wajah tertunduk. Aku agak terpana. Aku harus bagaimana? Sebenarnya aku tidak suka dengan jenis kesimpulan seperti ini. Aku tak suka kalau mesti disama-samakan dengan seseorang, lalu aku yang sebenarnya dikemanakan.
�Maksudku bukan ingin menyamakan kamu dengan dia.� Apa perempuan ini bisa membaca pikiranku, apa dia tahu saat aku menganggapnya indah. Aku agak malu. Tapi yang penting ralatnya itu.
�Tapi ada sesuatu yang membuatku ingat dengan dia, saat bicara dengamu. Aku belum yakin apa sesuatu itu, tapi ada perasaan entah apa.� Wajahnya tertunduk makin dalam. Mungkin pipinya memerah saat mengatakan itu, menyatakan sesuatu yang belum sepenuhnya diyakini atau takut untuk diyakini. Wahai perempuan, yakinkanlah dirimu, lawanlah ketakutanmu, aku yakin aku bisa paham. Tapi dia tak kunjung mau berterus-terang. Kenapa bukan aku yang memulai? Ah, tidak usah. Aku mengerti keengganannya; semua ini masih terlalu cepat. Untuk suatu hal yang penting, apalagi menyangkut perasaan, harus pelan-pelan agar lebih mendalam, sabar agak tidak berantakan.
�Eh, ayo ikut aku.� Suasana langsung berubah saat dia tiba-tiba menggamit tanganku dan menyeretku entah kemana.
�Lho, kemana.�
�Antar aku ke took, ada sesuatu yang ingin aku beli.� Katanya.
�Apa?�
�Gelang baru buat kamu��

***

�Di mana dia sekarang?� Tanyaku. Gelang baru warna hitam dengan simpul sederhana sudah membelit di tangan.
�Siapa?�
�Mantan kekasihmu�
�Dia mati.� Jawabnya tanpa ekspresi.
�Hh?� Aku terpana.
�Iya, kecelakaan motor. Dia mati di depan mataku.� Ucapannya tak berlanjut untuk berhenti sama sekali.
�Maaf.�
�Tak apa.�

Benar-benar maafku. Betapa tragis cara dia  menceritakan hidupnya. Dimulai dengan bagaimana ia sangat terikat dengan kekasihnya dan diakhiri dengan bahwa orang itu telah mati. Itupun harus aku tanyakan, seoalh bagian itu tidak terlalu penting � atau karena ia tak sanggup untuk sampai ke bagian itu. Sungguh maafku. Bagiku caranya bercerita membuat kesan tragis, tapi mungkin baginya, kenyataan bahkan lebih tragis.
Aku tak ingat lagi apa yang saat itu kita bicarakan. Pikiranku terlalu keras memikirkan betapa hidupnya penuh dengan peristiwa. Tak banyak dari kita yang bisa hidup dengan bermacam peristiwa. Beberapa orang terjebak pada hidup dengan rutinitas yang menjemukan. Menghadapi kejadian-kejadian serupa setiap hari sepanjang hidup mereka. Hidup lantas terbingkai dalam suasana yang membosankan. Tapi entah mereka ini termasuk beruntung atau tidak jika harus dibandingkan dengan perempuan di depanku. Dunianya berwarna, namun lebih banyak warna kelam dan kelabu. Mmh, dunia memang tak selalu menyajikan keindahan, dunia mungkin adil, tapi ia tak selalu bisa diharapkan membawa kenyamanan yang intens.
Yang aku ingat, bahwa saat itu kita masih saling menjaga perasaan masing-masing. Sampai akhir pembicaraan � yang aku tidak ingat kapan � kita masih menahan sesuatu yang mungkin kita sepakati dalam hati belum saatnya untuk diungkap. Ada perasaan bersalah juga memendam perasaan semacam itu, mungkin dia juga merasakan itu, tapi kita tak bisa apa-apa, entah kenapa. Kita berpisah dengan membawa sisa-sisa percakapan yang kita simpan untuk esok, beserta segala kemasygulan.

***

�Halo,�� Sapaan di ujung telepon membuyarkan kenangan tiga bulan yang lau. Nada panggil sudah hilang.
�Iya, halo,�ini kamu ya?� Aku tergagap tidak siap. Masih terbawa suasana ketika pertama kali bertemu dia. Perempuan yang suaranya masih aku kenal betul. Untung saja aku masih bisa mengurutkan nomor-nomor yang samara-samar aku ingat � walau agak lama. Kalau tidak, bagaimana dengan sisa-sisa percakapanku dengannya. Bagaimana dengan kemasygulan itu, bagaimana dengan perasaan yang terpendam. Hh, untungnya.
�Iya, kamu kenapa tidak pernah telepon aku?�
�Eh, iya, anu, bukuku, catatnku,�� Aku ingin merangkum semua dalam satu kalimat yang jelas. Tapi sulit. Tak ada kata yang bisa jelas.
�Aku kecewa.� Dia tak mau tahu ternyata. Dia kecewa. Sekecewa itu kah?
�Lho?�
�Iya, kamu terlambat.� Katanya.
�Lho!� Apa yang terlambat?
�Kamu tahu, aku sempat menyimpulkan sesuatu��
�Apa?� Apa yang dia simpulkan, dan apa yang terlambat?
�Aku cinta kamu. Tapi itu dulu, tiga bulan yang lalu.�
�Hh?�
���

Kembali, aku tak pernah tahu kapan percakapan itu berakhir. Tiba-tiba telepon sudah mendengung panjang sekali menyusuri kawat yang tak berujung, tanpa seoarang pun di seberang sana. Kepalaku pusing, dan langit seolah berputar di atasku. Kata cinta ternyata bisa menyakitkan juga, ketika ia datang agak terlambat.


Yogyakarta
Oktober 2003.
Hosted by www.Geocities.ws

1