TELEPON

Sabtu, akhir pekan buat sebagian orang. Tapi aku harus tetap memaksakan diri membuat cerita di depan komputer. Kalau tidak begitu, tidak ada lagi kesempatan buat pengangguran ini untuk mendapatkan uang. Dan susahnya lagi, masih banyak pengangguran seperti aku yang berharap banyak dari imajinasi. Sehingga kerja menulis cerita adalah kerja dalam jagad ketidakpastian. Harganya tergantung kesempatan dan keberuntungan. Dan kita para penganggur harus berjibaku di dalamnya. Seperti juga yang sedang aku ketik hari Sabtu ini; Aku tak tahu apakah bisa diandalkan menunjang hidup seminggu ke depan.
Tempat dan tanggal sudah kuketik di bagian paling bawah. Kulemparkan punggungku ke sandaran kursi, sampai kepala ini mendongak. Ugh, ada beberapa titik di tulang belakang yang nyeri seperti terbakar. Aku harus banyak minum air putih. Kutatap layar komputer dari tempatku bersandar. Halaman lima dari lima halaman. Mmh, cukup kurasa. Dengan malas kuraih mouse lalu menggeser-gesernya. File�Print�All Page (s)�
�Ji, aku �ngeprint ya?� Telunjukku menggantung di atas mouse, siap meng�klik� OK.
�Ya udah, print aja. Tapi kalau yang ini jebol, kita ayam-bakaran ya, bosen tempe penyet terus.� Sayup-sayup suara Aji dari ruang TV.
�Beres!� Klik. Mesin cetak mulai menderit.
Satu, dua,�tepat lima lembar keluar dari mulut printer, langsung aku masukkan ke dalam amplop coklat. Kukenakan jaket dan ransel, kuraih lagi mouse,�Start�Shut Down�Windows is Shutting Down�It�s Now Safe to Turn Off your Computer.
�Ji, pulang dulu. Ini tolong ya, malam ini lewat KR kan?� Kuserahkan amplop coklat tadi.
�Oke, tapi janji lho. Ayam�ayam. Udah lama nih.�
�Siip, tanggung beres. Doain aja tembus.� Benar-benar aku butuh doamu �Ji. Kalau yang satu ini tidak diterima, kamu juga yang bakal kena getahnya; Urusan mulut dan perut untuk seminggu bakal kugantungkan pada kemurahan hatimu. Padahal entah sudah berapa rupiah investasi utangku ke Aji. Belum termasuk yang tidak dianggap utang. Malam ini aku harus berdoa.
Aku keluar dari pintu depan, ditelan udara sore yang kemerahan. Memang sudah kurencanakan dari awal; Aku harus sudah selesai sore hari, karena bagiku tak ada saat yang lebih tepat untuk menikmati matahari dibanding sore hari. Berjalan kaki dari rumah Aji ke kostku jadi menyenangkan. Lagi pula aku tak punya ongkos untuk naik angkutan. Kurogoh-rogoh kantung celana dan kemeja, hanya terkumpul sekeping logam ratusan dan dua buah logam limapuluhan, dan dari kantung jaket terselip selembar lagi uang ratusan. Sabtu sore, akhir pekan, uangku tinggal tiga ratus perak.
Trotoar yang sama kembali aku tapaki, seperti yang telah aku lakukan ribuan kali selama bertahun-tahun. Saat ini dengan suasana yang lain; Entah apa yang aku rasakan, mestinya aku bahagia punya kesempatan menikmati sore hari sambil berjalan kaki. Tapi dengan beban harus menjalani beberapa hari ke depan dengan uang tiga ratus perak dan sebukit harapan pada lima lembar tulisan yang nanti malam ditentukan nasibnya di ruang redaksi harian lokal bersama jutaan tulisan serupa. Hmm, entah apa yang kurasakan.
Sabtu sore di sebuah kota dengan langit kemerahan hampir gelap. Dengan puncak-puncak bangunan tua yang bercat putih dan lubang udaranya yang khas, dengan burung-burung gereja yang bersarang di bagian atasnya, beberapa di antaranya terbang mencicit mengambang di atas kota, dengan suasana temaram dan riuh rendah. Toko-toko dan kantor mulai tutup, sementara pedagang kaki lima dan gerobak yang menuju pasar malam di alun-alun kota mulai membuka dagangan.
Malam belum lagi tiba, sore hari belum sepenuhnya gelap, tapi di pusat kota, lampu warna-warni sudah mulai dinyalakan, berkelap-kelip di sudut alun-alun, di tiang-tiang lampu jalan, di menara-menara, di juntaian akar pohon beringin, di pinggiran atap bangunan. Taman-taman kota tetap ramai dengan sekumpulan orang, bercengkerama riuh rendah. Aku masih melangkah menuju pulang, menerobos kerumunan orang, melewati para pedagang, melangkahi dagangan yang mereka gelar di trotoar, menghindari anak-anak kecil yang berlarian.
Di atas bangku batu di bawah tiang lampu yang cahayanya masih kuning pudar, sepasang lelaki dan perempuan menebar serpihan roti ke arah burung-burung merpati di depannya. Mereka bicara, mereka tertawa-tawa, keduanya tergelak ketika seekor merpati hinggap mematuki serpihan roti di telapak tangan mereka. Lalu mereka berpelukan.
Ada kerinduan yang dalam ketika saat-saat seperti ini datang. Ada bagian dalam diriku yang sepertinya hilang. Aku tak tahu kenapa aku harus merasa sendirian. Tapi bukan salahku, aku memang tak pernah yakin dengan hubungan yang sedang aku jalani. Dia tak pernah membuatku merasa yakin. Dalam beberapa kesempatan aku malah merasa tidak ada guna di depannya. Entah apa yang dia rasakan. Apa memang baginya hubungan seperti ini yang diharapkan. Kalau memang begitu, aku sendiri tidak akan pusing memikirkannya. Sayangnya aku selalu ragu. Oh, kamu, apa yang sedang kau pikirkan saat aku terpaku di atas trotoar melihat matahari, melihat anak-anak kecil, melihat merpati-merpati, memikirkan kamu?
Kurasakan keping-keping logam dan lembaran uang yang dari tadi kugenggam. Kubuka genggamanku, tiga ratus perak, haruskah kutelepon dia? Kurasa tak ada salahnya. Aku tak mengharap apa-apa. Bagaimana jika ia tidak antusias seperti biasanya? Bagaimana jika ia mencari alasan untuk tidak bicara denganku? Bagaimana jika ia kembali mengesankan tidak butuh aku? Bagaimana jika �
Pasangan lelaki dan perempuan yang memberi makan burung merpati tadi telah berdiri dan berjalan ke arah alun-alun, bergandengan tangan dengan hangat dan riang. Tak kupungkiri aku benar-benar rindu.
Enam angka telah kutekan di dalam boks wartel.
�Hallo, ini kamu?�
�Iya, eh kamu, kok gak biasanya telepon aku sore-sore begini?�
�Kenapa? Kamu lagi gak pingin di telepon?�
�Eh, enggak, kamu kok gitu sih? Tapi kok tumben sore-sore, biasanya kan malam. Kamu kenapa sih, kok makin jarang telepon? Aku kangen nih.�
��
��
�Halo,�� Suaranya menunggu jawaban.
�Kamu kangen?� Alisku berkerut.
�Iya lah. Kamu masih sayang aku gak sih?�
�Dengan sepenuh hati dan tanpa keraguan.� Sepertinya keraguanku baru hilang beberapa saat yang lalu.
�Eh, nanti malam kamu telepon aku ya.�
�Iya iya. Boleh. Jam 9 ya?� Kataku.
�Jam 10 aja, biar teleponnya gak sibuk.�
�Oke deh, jam 10. Tunggu ya.�
Ceklek.
�Berapa Mba?�
�Dua ratus lima puluh.�
�Makasih.�
Aku kembali ke trotoar, sekarang dengan senyum mengembang di wajah, yang membuat pipiku membulat, mata terasa sipit. Ranselku bergoncang-goncang di punggung. Di sudut sebuah bangunan aku serahkan sisa logam lima puluhan pada pengemis tua. Dia berdoa untukku, doa yang panjang dan indah. Nanti malam jam 10 tepat aku akan menelepon, tak boleh ada yang menghalangi. Mmh,menelepon,�wartel,.. pulsa,�uang!! Ahh,�Aji, ijinkan aku mempercepat ketidakberdayaanku di awal minggu dengan memperbanyak utangku. Aku putar langkah kembali ke tempat Aji, menerobos kerumunan, menabrak anak-anak yang berlarian, melangkahi dagangan, membuka jalan di antara gerombolan merpati. Halo apa kabar burung-burung gereja? Bagaimana keadaanmu bangunan-bangunan tua? Alun-alun kota? Matahari senja? Dedaunan dan udara? Mmh, ada hawa kehangatan di alam raya!

***

Adzan Isya sudah habis ditelan udara ketika aku keluar dari kamar mandi. Handuk melilit di pinggang, wajahku tepat menghadap cermin. Butiran air dari rambut mengalir di dahi, turun ke alis, menetes pelan dari bulu mata menerpa ujung jari kaki. Aku usap keseluruhan wajah, meninggalkan titik-titik percikan air di cermin. Masih ada warna hitam di bawah mata di dalam cermin, lelah sekali wajahmu. Tidakkah kau pernah tidur? Tidak pernahkah kau sempatkan diri beristirahat? Apakah kamu merasa belum cukup melakukan segala sesuatu? Istirahatlah kau malam ini wahai wajah di cermin. Istirahatlah sejenak dan nikmati istirahatmu yang sejenak itu seperti kau belum pernah merasakan istirahat selama hidupmu yang penat. Singkirkan dulu beban harus makan untuk seminggu ke depan, lepaskan perasaan gundah dan tertekan dari tuntutan untuk cepat lulus kuliah, hilangkan prasangka-prasangka yang tak berkesudahan tentang hidup. Kesampingkan dulu perasaan kosong akan cinta, termasuk keraguan akan hubungan-hubungan yang kau alami saat ini, bahwa kau merasa terabaikan, bahwa kau penuh ketidakyakinan, bahwa kau sudah tak mengharap apa-apa, bahwa kau ternyata masih saja merasa kosong dan selalu penuh kerinduan. Istirahatlah, bersantailah, pergilah piknik ke ujung dunia, anggap utangmu sudah lunas semua.
Setetes air yang masih tersisa, meluncur ke dahi, angin malam lewat sekelebat menyisakan dingin yang mencekat, bersarang di bawah kulit. Aku harus cepat berpakaian.

***

Yah aku mungkin pernah punya keraguan, tapi toh aku selalu menempatkan keraguan di awal segala hubungan. Keraguan bagiku bagai kewaspadaan. Aku tak pernah yakin akan hubungan semacam ini. Mungkin karenanya aku jadi sering merasa sendiri, pun ketika ada seseorang di sampingku. Aku sempat ragu dengannya, seperti juga aku pernah ragu dengan yang pernah ada sebelum-sebelumnya.
Tapi kali ini keraguan itu sudah lumat berkat uang tiga ratus perak sore tadi. Masih terngiang kata-katanya di ujung telepon. Dia merindukan aku, dia merasa kehilangan aku. Oh, kenapa aku sempat meragukannya. Mungkin pernah dia mengesankan menjaga jarak denganku, salah satunya ketika aku tidak diperbolehkan dating ke tampatnya dengan alasan yang bagiku saat itu terdengar agak dibuat-buat. Masa aku harus percaya kalau ibunya tidak suka denganku, padahal aku sama sekali belum pernah bertemu langsung dengannya. Dari siapa ibunya tahu tentang aku dan kenapa harus tidak suka, aku tak pernah melakukan sesuatu yang buruk, aku tak pernah berkata jahat, dan aku rasa ia juga tak mungkin menjelek-jelekkan aku di depan ibunya. Adiknya yang masih SMP-pun kurasa juga tidak demikian. Dan aku belum menemukan kemungkinan alasan lain yang membuat ibunya tidak menyukaiku. Walaupun sampai sekarang aku juga masih menahan-nahan keinginan untuk datang ke rumahnya.
Kaus hitam bermerk CK sudah kukenakan, setelah sebelumnya sempat kusemprotkan parfum yang kebetulan merknya juga sama.
�Saat ini tak ada yang kurasakan sebagai masalah.� Kumasukkan kaki ke dalam celana jins yang terasa makin sempit, dengan agak kesusahan.
�Tak ada lagi masalah, karena kamu sudah berhasil meyakinkanku.� Kutarik resleting dan kupasang kancing di atasnya. Lalu kembali kupasang tampang di depan cermin.
�Mmh, sudah mandi, sudah rapi, sudah pakai parfum segala. Kok wajahmu masih kelihatan lelah sih?� Kutunjuk-tunjuk wajah di dalam cermin.
�Ganteng sih ganteng, cakep sih cakep, tapi lelah. Gak apa-apa, yang penting perasaan senang dan tenang. Tidak kusut� Kutarik sisir menata rambut ke belakang.
�Bunga? Mmh, kayaknya tepat kalau kapan-kapan aku kasih bunga. Dari dulu sebenarnya aku ingin memberi dia bunga, aku hanya belum menemukan alasan yang tepat. Sekarang sepertinya saat yang pas. Nanti deh kalau aku ketemu dia, berapa ya harga bunga? Hh, kok jadi ingat Aji?�
Pakaian sudah rapi, badan segar, perasaan riang, sudah lengkap semua. Awal yang baik mengawali malam hari.
Masih jam delapan. Dua jam lagi aku harus menelepon. Dan kurasa ini salah satu dua jam terpanjang yang bakal aku alami. Kubuka kamar, kuhirup dalam-dalam ke jantung udara malam yang basah.
�Aah, karbondiokasida ternyata bisa juga terasa segar.�
�Ngelindur lagi loe ya? Omongannya kok boros begitu?� Teman kamar sebelah kasih komentar. Kukira aku hanya mengucapkannya dalam hati. Sial!
�Loe gak nonton bola? Italia nih.� Undangnya.
�Mmh, boleh juga� Pikirku. Mungkin dua jam ini bakal terasa lebih cepat.
�Mana lawan mana nih?� Tanyaku sembari mengambil posisi. Tak lama aku sudah langsung hanyut dalam lapangan hijau di depan ata; Tegang, teriak, ikut kasih komentar, kadang juga memaki-maki, mulai dari memaki pemain, wasit, penonton, bahkan TV yang gambarnya sering kabur.

***

Jam sepuluh tepat, pas babak kedua habis. Langsung buyar sisa-sisa tontonan yang melekat di mata dan kepala. Telepon! Aku harus ke wartel. Akhirnya datang juga saat-saat ini. Saat melakukan sebuah telepon penting. Kuraih uang lima ribuan di atas meja, pinjaman dari Aji.
�Ugh, apa saja yang harus dibicarakan?� Pikirku  sambil berjalan menuju wartel terdekat.
�Ah, no matter, kamu ini kayak mau ngobrol sama orang baru kenal, what�s wrong with me? Santai�santai�tenang.� Langkahku jadi agak lambat.
�Layar neon box wartel kok mati?� Pikirku. Tulisan wartel yang melekat di neon box itu jadi tidak terlihat. Semakin dekat langkahku, baru sama sekali aku yakin kalau wartel ini ternyata sudah tutup.
:Ugh, alamat jogging malam nih.� Umpatku sambil memutar langkah menuju wartel lain yang jaraknya lumayan. Tapi untuk malam ini apa yang tidak bisa kulakukan. Aku tak mau membiarkan ada seseorang yang resah menunggu di ujung sana.
�Aku mesti bergegas.�
Tinggal sati belokan lagi, tidak jauh lagi, tak akan lama.
�Nah, neon box-nya terang.�
Dan memang wartel ini masih buka. Kamarnya ada tiga, dan semuanya kosong. Aku masuk di kamar nomor satu. Layar digital menunjukkan jam dua dua titik dua satu dua. Jam sepuluh lewat dua belas. Secepat angin, angka itu berubah jadi enam digit yang selama ini melekat di kepalaku.
�Tuut.� Terdengar nada panggil.
�Tuut.� Belum diangkat.
�Hm, harus bicara apa ya? Ugh, kok tambah gugup sih.�
�Tuut.� Masih belum diangkat.
�Tuut.�
�Ah, kok gak diangkat-angkat sih. Mungkin lagi ke WC.�
�Jeklek.� Aku tunggu sebentar tak masalah.
Layar digital kembali menunjukkan tanda waktu dua dua titik dua satu empat.
�Mmh,,�mmm��dududu�� Tak tahu lagu apa yang kudengungkan sambil menunggu.
�Ah, coba lagi.� Sekarang aku masuk kamar nomor dua. Enam angka yang sama kembali muncul.
�Tuut.�
�Mmh,..mm..mm..na..na..�
�Tuut.�
�Du..du..du..�
�Tuut.�
�Ah,�.�
�Tuut.�
�Tuut.�
�Tuut.� Berbunyi sampai ribuan kali. Jutaan kali. Miliaran kali. Aku tak tahu. Tubuhku tiba-tiba saja terasa sangat lelah. Aku merasa tua. Hidup ini rumit, berkelok-kelok, naik turun, berputar-putar, membuat letih. Malam tampak lebih gelap, mataku juga suram. Sampai di kost aku akan cuci muka, lalu tidur, aku mesti istirahat.
�Paling tidak aku punya bahan cerita baru. Apa kira-kira judulnya. Mmh,��TELEPON�! Yak, kurasa itu cukup!�



Yogyakarta, 2003

Hosted by www.Geocities.ws

1