| CANNERY ROW
KEUTUHAN YANG TAK PERNAH SAMPAI Bagaimana bisa puisi dan kebusukan dan kebisingan yang menjengkelkan � cahaya, nada, kebiasaan dan mimpi � dihidupkan?...ketika kau mengumpulkan binatang-binatang laut, ada beberapa cacing ceper yang begitu lembut dimana mereka hampir tak mungkin ditangkap seluruhnya, karena mereka akan hancur dan sobek hanya dengan disentuh. Kau harus membiarkan mereka keluar dan merangkak atas kehendak mereka sendiri menuju pisau belati yang kau julurkan dan kemudian angkat mereka perlahan-lahan ke dalam botol berisi air laut. Dan barangkali seperti itulah cara menulis buku ini � membuka halaman demi halaman dan biarkan cerita-ceritanya merangkak sekehendak hati mereka.� Pernahkah Anda membeca paragraph itu di suatu tempat? Atau ingatkah Anda akan paragraf yang mungkin pernah Anda baca itu? Ini tentang novel berjudul Cannery Row. Tak usah repot-repot mencari terjemahan ideal dari judul novel itu, karena ia � memiliki terjemahan yang ideal atau tidak � ternyata adalah nama daerah di Monterey California. Dan bicara masalah terjemahan, jangan hiraukan bagaimana hasil terjemahan novel ini. Anggaplah ia cacing-cacing ceper yang rapuh, yang tetap bisa kita nikmati dengan ketekunan. Mengapa pilihan paragraf itu yang aku kutip? Aku hanya sekedar terpesona (dan setuju) dengan semangat yang dibawa kalimat-kalimat itu. Semangat akan keterhanyutan, semangat akan kesabaran. Keterhanyutan yang berasal dari kesabaran kita untuk membaca dengan (tidak) harus teliti sampai habis sebuah tulisan, untuk kemudian menyadari bahwa kita benar-benar terhanyut dan menjadi sedih ketika halaman terakhir sudah kita tutup. Semangat yang sama ketika Muhammad ber-Iqra. Bedanya, kita butuh mencari ketertarikan lain untuk membaca selain menyepi di gua dengan beban sejarah masa depan. Yang kita butuhkan adalah segelas air laut dan sebuah pisau belati. Bahwa yang membuat sebuah cerita menjadi menarik adalah (aku pernah mengajukan ini pada beberapa orang teman, dan beberapa dari mereka mengiyakan,�cukupkah?). Pertama, Klimaks! Siapa yang tidak kenal dengan makhluk ini. Kalau Anda pernah bersenggama, Anda pasti mengerti. Kalau Anda pernah onani atau masturbasi, Anda pasti paham. Atau setidaknya Anda tentu pernah buang air besar bukan? Yah, semacam itulah. Kedua, Kejutan! Seperti kembang api yang berwarna-warni, seperti kecupan di pipi dari seseorang yang kita dambakan, seperti memasukkan kelingking kita ke lubang stop kontak, seperti tertangkap basah ketika mengutil di swalayan, seperti menjilat baterai 12 volt, bertabrakan di lorong kampus dengan si�dia�, terjatuh ke dalam lubang trotoar, suspense! Ketiga, akhir yang tak terduga. Semacam kejutan, tapi hanya di akhir cerita. Konsekuensinya, pembaca dipaksa untuk ikut menduga-duga. Ukuran berhasil tidaknya sebuah cerita dengan unsur ini adalah jika dugaan pembaca tidak tepat. Yang terakhir � favoritku � adalah unsur keterhanyutan dalam sebuah tulisan. Ia tidak harus punya klimaks, ia tidak mesti ada kejutannya, ia juga tidak memiliki akhir yang tak terduga, namun justru itu semua yang mengokohkan unsur keterhanyutan tadi. Seakan tidak ada yang istimewa ketika membaca tulisan fiksi seperti ini. Seolah sekedar menikmati kisah non fiksi, documenter atau kehidupan kita sehari-hari. Kadang tidak runtut, berantakan, tidak punya pola, tidak ada fokus konflik. Ya bolehlah kalau kadang ia juga bermain lewat karakter penokohannya yang kuat, tapi aku juga punya teman yang lucu, ada yang pemarah, ada yang ambisius, ada yang introvert, mungkin juga skhizofrenia, lalu apa lagi yang bisa dibanggakan dari tulisan dengan unsur itu, kecuali bahwa ia tak lebih dari apa yang juga kita alami sehari-hari, walau dengan tokoh berbeda, latar yang berbeda, baik tempat, waktu dan kecenderungan personalnya. Perbedaan itulah yang membatasi sehingga kita tidak bisa begitu saja membiarkan tulisan semacam itu diapresiasikan dalam kehidupan kita. Walau kita jengah, kitalah yang harus masuk dalam kecenderungan cerita, meski tidak ada yang bisa menjamin kalau kita bakal bosan dan bergumam�ugh! Atau gumaman yang lebih analitis: �Hm,�ya ya ya, aku tahu rasanya�, �Aku pernah mengalaminya�, �Memang saat-saat yang sulit�, �Aku setuju dengan itu�, �Apa yang akan kau lakukan setelah itu?�, �Oh,�kalau aku dulu begini��, �Kenapa aku tidak pernah memikirkannya?� Monterey-nya California, Slemannya Yogya atau bagian manapun di bumi ini tetap punya persoalan-persoalan klise yang tetap jadi persoalan. Percakapan-percakapan sepele yang walaupun mengganggu, tetap membuat kita berpikir akan sesuatu, apapun itu. Dan seringkali tanpa disadari hal itu selalu kita alami. Siapa sangka itu bakal membuat orang terhanyut. Harta karun ada di pekarangan rumah kita sendiri, katanya. Konsekuensi yang ganjil namun wajar: mengomentari diri kita sendiri sambil sesekali menertawainya. Menertawai sekelompok orang di Monterey California sama dengan menertawai diri kita sendiri, karena mereka juga adalah orang-orang di sekitar kita, mereka adalah kita. Adakah kau pernah mendengar teater absurd � atau bukan? � yang mementaskan sebuah �kenyataan� secara wajar seperti apa adanya yang terjadi sehari-hari. Sehingga ketika penonton tertawa, maka niscaya mereka telah menertawakan diri mereka sendiri. Ketidakteraturannya lah yang membuatnya rapuh, dan karenanya kita tidak bisa secara keras memaksa untuk menatanya. Yang bisa kita lakukan hanya membaca secara apa adanya. Tidak ada satu pun kejutan mungkin, tapi di akhir tulisan, teka-teki yang berserakan itu akan menggumpal menjadi sebuah keseluruhan yang utuh, menggambarkan secara jelas kehidupan Cannery Row sesungguhnya. Saat itulah, kesabaran kita membaca akan dibayar tunai dengan rasa kehilangan, bahkan terhadap tokoh paling menyebalkan sekalipun. Mereka tidak peduli ketika kita selesai membaca, hidup tetap berjalan di Cannery Row. Sementara bagi kita, akan sangat sulit meletakkan kembali buku itu di tempatnya, karena walaupun cerita telah usai, kita ternyata baru saja mulai memahami mereka secara utuh. Kalaupun kita buka lagi dari awal, percuma. Yang lebih nikmat adalah mencari lagi keluarga besar lain yang akan mengantar kita kembali kepada keterhanyutan. Walaupun aku yakin kita tidak akan pernah sampai, karena yang kita temui nanti kurasa hanya sebuah pengulangan, sebatas dejavu! |
||