SISA-SISA PERCAKAPAN YANG TAK AKU TUNTASKAN
KARENA SATU DAN LAIN HAL
DALAM PERTEMUAN YANG SEMPURNA ITU

Ada sisa-sisa percakapan yang tidak aku tuntaskan karena satu dan lain hal dalam pertemuan itu. Bukan karena apa-apa, hanya tidak sempat saja. Sehingga ketika aku (selalu) katakan dalam tiap akhir pertemuan bahwa : kita simpan cerita untuk esok, atau : nanti kita buat lagi janji-janji, maka aku sebenarnya sungguh-sungguh serius. Waktu benar-benar menjadi sekat yang begitu sempit dan membuat sesak nafas. Bahkan aku yang kau bilang �masih tetap idealis�, selalu jengah jika harus dibatasi ketika masyuk dalam percakapan semenarik itu, baik oleh waktu ataupun kelelahan. Apalagi kau yang baru belajar untuk menjadi normatif (tersenyum). Kau boleh ikut tersebyum atau tertawa, atau tersindir dan tidak terima, tapi dijamin bahwa senyumanku sudah mendahului itu semua. Ha,...bolehlah aku ikut curang sedikit memanfaatkan teknologi ini.
Selain itu, dengan begini aku bisa bermonolog, berbicara dengan tulisanku sendiri. Berbicara seolah-olah kamu masih di depanku, mendengarkan semua omonganku tanpa bisa mengelak ataupun menanggapi, kecuali aku ingin kau mengelak dan menanggapi seperti keinginanku. Tak ada tawar-menawar, dalam hal ini kau harus setuju. (Dan kau tetap tak bisa apa-apa, haha....). Hanya satu hal yang bisa kau lakukan agar posisi tawarmu naik : buat monologmu sendiri (tertawa puas).
Jangan salahkan jika aku harus berbicara sendiri. Bukankah (kau tahu bahwa) aku memang tertutup. Bahkan menatap mata lawan bicaraku saja aku (seringkali) tak mampu. Toh kita semua juga punya kecenderungan berbicara sendiri atau bernyanyi dan bergaya di depan cermin di dalam kamar yang tertutup. Atau hanya aku saja? Sehingga aku memang gila. Kalau yang terakhir itu, sudah aku antisipasi : aku punya ahli terapi kejiwaan pribadi yang digaji negara, he....
Benarkah aku (masih) idealis? Apakah kamu (sudah) normatif?
Aku tak pernah memposisikan diriku sebagai �idealis�, sampai ketika sudah terlalu banyak orang yang mengatakan demikian. Sehingga pada saat itu aku sempat-sempatkan memikirkan tentang hal tersebut. Hasilnya : ya bolehlah orang bilang begitu, tapi kalau aku pikir semua itu bukan karena maksudku untuk idealis. Semua karena ketidaksengajaan. Ketidaksengajaan kultural dan sebagainya. Aku selalu terbiasa dengan target-target dalam perhitungan yang rinci tentang rencana-rencana, setidaknya aku harus punya deadline terhadap banyak hal. Perhitungan yang rinci muncul karena aku orang yang tertutup. Kalau dalam wawancara kerja ada pertanyaan : �Anda suka bekerja sama dalam sebuah tim?� Kalau aku harus jujur, aku cenderung untuk menjawab �tidak�. Aku lebih suka bekerja sendiri, percaya atau tidak. (apa kau sudah tahu sedari dulu?). Aku butuh waktu untuk mengkristalkan sebuah solusi, mengendapkan jawaban-jawaban, memberi pendapat. Inilah yang membuatku senang menulis dan berbicara sendiri � baik dalam tulisan atau dalam arti yang sebenarnya seperti orang gila.
Hasilnya adalah perincian rencana dengan bermacam perhitungan yang seringkali tidak realistis. Dqan aku bisa hidup dengannya. Bahkan dalam beberapa hal membuat sesuatunya lebih teratur. (walau dalam banyak hal masih banyak yang awut-awutan,...tapi entah dua bulan terakhir ini, hm...). Seorang teman pernah takjub dengan caraku menjilid tumpukan kertas setinggi setengah meter dalam beberapa bundel berdasarkan tema-tema tertentu. Temanku yang sama di lain pihak juga takjub dan tidak bisa menerima ketika suatu malam aku bepergian ke stasiun kereta dengan memakai kaus tipis plus celana pendek rombeng (bayangkan sebuah celana jins tipis yang butut aku potong sampai di atas lutut dengan potongan yang tidak rapi, sehingga benangnya berumbai-rumbai, dan sobek-sibek di bagian paha kanan dan kiri). Dan malam itu aku belum mandi. Jadi aku adalah gembel dengan sistem pengarsipan yang sangat rapi.
Aku memang selalu berusaha untuk berjalan �lurus-lurus saja� (untuk tidak mengatakan idealis), meminjam istilah temanku yang lain, yang dengan diplomatis tidak mengatakn aku idealis. Ceritanya, temanku ini mengungkapkan semacam lelucon � atau apa, aku lupa � yang untuk dapat tertawa menanggapinya kita harus dapat menerima konsep tentang kebohongan-kebohongan kecil yang disahkan. Padahal saat itu aku berpikir bahwa tidak mungkin untuk lelucon seremeh itu temanku ini bakal tega membohongiku, bahkan hanya sebiji jambu klutuk. Jadi bisa ditebak apa yang terjadi : aku bingung, lelucon itu jadi tidak lucu, dan temanku marah-marah : �Mbo kamu jangan sebegitu lurus dong.�
Mungkin terlalu berlebihan jika aku bilang bahwa temanku itu sudah keterlaluan karena membohongiku untuk kemudian memarahiku setelah itu. Malah itu justru mengesankan aku ini terlalu serius menghadapi pergaulan. Kau mungkin akan menyalahkanku karena tidak bisa membedakan mana yang harus diterima sebagai sesuatu yang serius, dan mana yang adalah bercanda. Kau bakal menasihatiku (atau tidak?) bahwa aku mesti lenturlah sedikit, apalah arti kebohongan dan trik-trik kecil dalam percakapan. Tapi justru di sinilah aku juga terpaksa mengakui kalau aku ini idealis (ugh, akhirnya). Karena aku tetap bersikeras: apa salahnya lurus-lurus saja. Aku terus terang jengah denga percakapan-percakapan yang menghabiskan energi, percakapan yang penuh dengan prasangka dan kepentingan. Manusia katanya makhluk politik, tapi aku tak suka konsep ini. Walaupun dengan mengatakan ini semua bukankah berarti aku juga berpolitik? Ya, tapi aku tidak setuju kalau hal itu lantas membuat kita mesti menyedot energi orang lain dengan segala cara termasuk dengan kebohongan dan trik-trik. Idealismeku muncul dari caraku memandang manusia : bahwa tiap orang punya sisi kemanusiaan yang rapuh, ringkih, penuh ketakutan-ketakutan dan kekhawatiran. Kalau kita menantang itu, kita akan mendapat perlawanan, dan bakal ada pihak yang hancur sama sekali. Lalu buat apa itu semua? Kenapa kita sedari awal tidak saling memanusiakan manusia, daripada memasang jebakan-jebakan yang didasari kepentingan.
Idealisme adalah kembalinya anak yang hilang bagiku. Dahulu, dahulu sekali, saat aku masih muda, aku sekaku-kakunya orang yang tidak aka pernah bisa kau bayangkan (kalau memang kau katakan aku terlalu kau ketika menghadapi lelucon tadi). Saat itu aku sama sekali tidak memberi ruang bagi kebohongan sekecil apapun dalam segala sesuatu. Aku pernah mengucilkan seorang teman (kalau bukan aku yang dikucilkan olehnya), hanya karena aku dibohongi. (perlukah aku membubuhi kata �hanya�?). namun lama-kelamaan aku melentur: �Yah, apa salahnya kebohongan-kebohongan kecil untuk sebuah tawa, untuk kesenangan, demi keakraban. Buat kesal temanmu, buat ia marah, kerjai dia, lalu tertawalah ketika mukanya sudah terlihat kesal dan marah dan terkerjai. Lalu katakan padanya bahwa kau hanya main-main dan dia tidak seharusnya kesal, marah dan merasa dikerjai. Kalau ternyata ia kesal, marah dan merasa dikerjai, maka katakanlah kepadanya dia terlalu kaku, terlalu serius, enggak gaul, dan suruh dia minta maaf (?).
Bagaimana menurutmu? Mungkin kau juga akan mengatakan mengerti dan pernah merasakan hal yang sama. Tapi bagiku ini lebih dari sekedar perasaan, ini adalah kebenaran yang aku anut. Kalau kau bilang bahwa tidak ada yang namanya benar dan salah yang sungguh-sungguh sejati, maka aku dalam banyak konteks setuju. Tapi ketika kita bicara tentang kebohongan-kebohongan dan kepentingan beserta trik-trik yang menganiaya orang lain, aku tahu pasti tentang benar dan salah. Dalam hal ini aku bukan idealis, aku hanya memanusiakan manusia.
Tapi entahlah, manusia bisa berubah. Lagipula aku hanya bercanda. : )
Hosted by www.Geocities.ws

1