HUKUMAN MATI

Pintu selku dibuka mengeluarkan derit panjang yang mengema sepanjang koridor. Hukuman matiku akan segera dilakukan. Ruangan gelap berbayang terali besi. Temboknya berlumut, udara lembab, asap menggantung di bagian yang terang. Suara tetes air teratur sepanjang waktu selama berabad-abad, bergema pada tiap tetes hingga terdengar tetes berikutnya. Aku meringkuk di pojok yang paling gelap. Kepalaku tenggelam anatar kedua lutut.

Saat derit menyusul gemerincing kunci-kunci, aku tersentak. Malas kubuka mata, tipis mengatur cahaya yang menyorot. Cahaya itu sangat terang. Ia adalah lampu tembak di alun-alun kota pada suatu malam ketika ada karnaval. Lampu-lampu jekal-kelip di mana-mana. Pinggiran jalan penuh dengan penonton dan gerobak-gerobak, balon-balon, kertas warna-warni yang berkilau, teroompet-terompet, bendera-bendera kecil, umbul-umbul, kembang api sesekali merekah di langit; biru, merah , kuning, meletup, berdegum. Aku di junjung di pundak bapak,...semuanya bisa kulihat. Saat itu aku belum sekolah.

Sepanjang jalan, barisan karnaval bergantian antara mobil hias dan orang-orang berkostum, drum band, badut-badut yang meracau, tongkat dilempar ke udara, gadis sirkus yang berlompatan, penari-penari, burung-burung merpati, orang dengan semburan api, speaker-speaker Toa dari berbagai pojokan pekak membunyikan ocehan dan lagu-lagu. Penonton riuh, mengobrol, tertawa, berbisik, meneriakki penari, bertepuk tangan, membuka judi kecil-kecilan di trotoar, bersorak, membeli rokok atau tisu, berlarian sepanjang trotoar, menyelip di antara kerumunan.

Di pojok yang temaram seorang pria mendekati sosok perempuan. Perempuan itu mundur sedikit, tapi tak cukup cepat hingga pria tadi menggandeng tangannya. Seoarng pria yang lain datang mendorong pria yang pertama hingga terjerembab. Perempuan menutup mukanya. Pria yang terjerembab membabi buta menghujani pukulan ke arah lawannya. Tak ada yang peduli. Mereka bergumul, ada kilatan pisau. Mereka berhenti. Pria pertama melarikan diri meninggalkan lawannya yang tak bisa bangkit lagi. Perempuan berteriak histeris dan kembang api meledak di angkasa. Penonton bersorak, bertepuk tangan, gembira, tertawa, merokok, berlarian, meneriaki penari, berjudi. Aku melihat semuanya : penari, drum band, kembang api dan pria yang mati.
Rombongan karnaval menuju ke alun-alun kota, ke arah lampu tembak yang sangat terang. Cahayanya menyorot mataku, menyilaukan. Keriuhan hilang berganti tetes air yang menggantung di udara. Lampu senter itu memaksaku keluar dari sel. Hukuman matiku akan dilakukan.

Kami berjalan menyusuri lorong gelap yang panjang. Di ujung sana tampak terang dengan sebuah kursi besar menunggu. Perlahan aku digiring. Tanganku diborgol di depan. Kutoleh ke belakang,...orang-orang berseragam tanpa wajah. Bunyi sepatu mereka teratur menggema memenuhi lorong. Tak tok tak tok....

...suara sepatu itu terus mengiang. Aku berjalan di lorong yang putih terang. Di tanganku tak ada borgol, hanya keranjang buah-buahan dilapisi plastik transparan. Sepatu-sepatu berbunyi sepanjang lorong. Sepatu perawat dan karyawan berseragam putih bersih yang mondar-mandir membawa kertas-kertas, atau obat-obatan. Seoarng perawat mendorong kursi roda dengan wanita hamil di atasnya. Kereta beroda pembawa makanan lewat bergemuruh. Orang-orang berseragam putih dan biru muda berseliweran dengan tugasnya masing-masing. Di bangku-bangku di luar kamar, para penunggu dengan wajah lelah dan kantung mata yang biru menghitam, pakaian yang kusut. Sementara aku menuju ke ujung lorong, mencari sebuah pintu. Aster, begitu yang tertulis di bagian atas pintu, seperti yang aku baca bertahun-tahun selama ini sebelum aku memasuki pintu itu. Ibuku masih tergeletak di atas sprei putih. Selang-selang kecil serabutan di sana-sini. Terhubung infus, tabung oksigen dan mesin-mesin dengan tombol dan layar yang menampilkan garis-garis bercahaya,...aku tak tahu. Kuletakkan keranjang di atas meja tepat di sebelah kepala ibu. Di atas meja itu sudah ada keranjang yang persis dengan yang aku bawa. Keranjang buah itu aku bawa seminggu yang lalu tetap tak tersentuh sampai buahnya kecoklatan, layu.

Aku duduk diam di sana. Duduk diam karena ibu tak pernah membuka mata, walau ia belum mati. Peluru yang ada di kepala dan dadanya sudah dikeluarkan, tapi tak ada yang bisa memastikan apa yang akan terjadi padanya. Para biadab itu telah membuatnya terkapar selama bertahun-tahun. Tidak hidup, tapi juga belum mati. Seperti juga yang mereka lakukan pada ulu hatiku, ada satu peluru bersarang di sana. Tapi aku lebih beruntung dari ibu.

Maka di sinilah aku tiap sore, duduk diam selama tiga jam. Hanya diam untuk kemudian pergi membawa keranjang buah yang sudah layu, menggantinya dengan yang baru.
Maka sore ini setelah tiga jam aku berdiri membawa keranjang buah yang sudah layu, meninggalkan yang baru untuk kemudian melangkah pergi. Menyusuri lorong putih terang menuju pintu keluar, melewati orang-orang berseragam bersih dengan suara sepatunya.
Tak tok tak tok,...bergema memenuhi udara. Tanganku masih diborgol di depan. Lorong gelap itu masih panjang tak jua sampai di ujungnya yang terang dengan kursi besar yang siap memakanku.

Sepanjang lorong di kanan kirinya kami melewati sel-sel lain. Mereka mengawasiku, entah iba atau iri. Tatapan mata kosong yang tetap menyimpan kebuasan. Satu blok ini adalah mereka-mereka yang terlibat pembunuhan. Mata mereka dingin. Hingga saat salah satu histeris berteriak,...
�Bangsatt!!...Aku tak mau seperti dia!!� Ia berteriak sambil melempar tempat makanan serta perabot lain yang ada. Mukanya tegang.
�Aku gak mau mati seperti itu,...!� Ia bergerak ke arah terali besinya, lalu digoyang-goyangkan hingga bergemuruh. Mukanya ketakutan.
�Lagipula aku gak salah. Aku dijebak!! Kalian dengar?! Aku dijebak!!�
�Aku tidak bunuh siapa-siapa!! Aku tak mau mati!!�
Jeruji besinya bergoyang-goyang dengan dahsyat. Sesaat kemudian beberapa pria berseragam tanpa wajah merangsek ke dalam selnya. Aku dan pengiringku tetap berjalan tak terpengaruh. Sementara dari kamar sel tadi kudengar kegaduhan yang mengerikan. Suara barang-barang dibanting atau tertimpa tubuh yang terlempar. Suara pukulan-pukulan bertubi. Popor senapan yang terdengar menumbuk sesuatu. Pria yang tadi histeris mengerang mengampun-ampun, mengaduh. Perabotan masih gaduh beterbangan, seperti suara tembakan.

Suara tembakan entah darimana. Ada api di tengah jalan. Aku tak sempat memperhatikan apa-apa. Lari ketakutan tanpa arah. Beberapa kali aku jatuh ke aspal untuk langsung bangkit lagi. Teman-temanku berceceran lari kesana-kemari. Ada beberapa yang kulihat terjerembab jatuh untuk kemudian tidak bangkit lagi. Mereka berdarah-darah. Suasana kisruh, teriakan di mana-mana. Teriakan minta tolong, teriakan kesakitan.
�Jangan tembak,...jangan tembak!!� Serak suara yang verteriak. Padahal kami tidak melakukan apa-apa. Kami hanya berorasi, kami hanya membawa spanduk, kami berdiri dan bernyanyi. Tiba-tiba mereka menembak. Tentang lemparan batu sebelumnya, sungguh, kami tidak tahu. Itu bukan kami.

Aku akhirnya sampai di balik semak-semak jauh dari tembakan. Nafasku tipis, dadaku naik turun tersengal-sengal. Aku melihat barisan demonstran kocar-kacir tak ada bentuk. Banyak orang yang tergeletak. Pandanganku agak kabur karena tetes keringat yang mengalir di dahi masuk ke mata. Teman-temanku tergeletak di aspal. Mereka mati. Kepalanya sobek, darahnya membasahi jalanan. Matanya terbelalak. Ada mulut yang menganga. Tubuh-tubuh bergeletakan dengan warna merah mengalir dari bagian-bagian tubuhnya. Mereka yang tertangkap dipukuli, ditendang, dimaki-maki, untuk kemudian diseret, diangkut truk-truk besar. Bibir mereka sobek berdarah, hidungnya patah, kulit tangannya mengelupas terseret aspal. Teriakan histeris di mana-mana, tangisan, gemuruh suara kendaraan besar, letupan tembakan masih terdengar sesekali. Asap gas air mata masih tipis tersisa.
�DHARR!!� Letupan senjata terdengar dari kamar sel pria tadi. Ia tidak lagi bersuara. Sementara kami masih menyusuri lorong gelap ini dengan irama langkah yang tetap. Hukuman matiku sebentar lagi.

***

pintu kami didobrak, lalu mereka berteriak-teriak. Perampok-perampok itu berteriak-teriak membuat kami makin panik. Bapak, ibu dan dua saudaraku hanya bisa terkesiap pucat. Mereka bertopeng, bersenjata pistol dan senapan. Mereka menghancurkan perabotan, mendorong aku dan kedua saudaraku jatuh ke lantai. Mulut pistol diacungkan ke muka bapak. Ibu dipaksa menunjukkan tempat uang dan perhiasan. Ibu menangis ketakutan, gemetar, terpaku. Mereka terus memaksa ibu. Perampok membentak, ibu tambah ketakutan. Ia jatuh lemas ke lantai. Bapak berontak melihat itu. Mendorong pistol di depan mukanya lalu merangsek ke arah perampok yang membentak ibu. Mereka berdua bergumul. Tapi mereka terlalu banyak. Bapak ditembak oleh seorang yang berdiri bebas. Bapak mati, darah di dadanya. Ibu kalap melihat itu, langsung melempar benda-benda ke arah mereka. Mereka kembali menembak. Aku dan saudara-saudaraku mencoba melindungi ibu. Kami semua tertembak senjata-senjata perampok yang membabi buta. Ibu terjerembab berdarah di kepala dan di dadanya. Saudara-saudaraku membelalak dengan lubang peluru di mana-mana. Aku sendiri terasa perih tak terkira di bagian dada. Ulu hatiku tertembak. Saudara-saudaraku mati.

***

Kami sudah sampai di ujung lorong. Ruang itu remang-remang. Cahayanya redup seperti bulan bulat yang pucat. Bulan bulat yang terakhir aku lihat malam itu ketika menghunus pamanku, menghujam tubuhnya berkali-kali hingga tercabik. Malam ketika bukan sangat bulat di luar jendela.

***

Keluargaku mati, aku sebatang kara. Tak ada lagi yang bisa menjadi pegangan. Tak ada perlindungan. Seperti saat kita bergelegap hanyut di sungai yang deras. Tak ada yang bisa kupegang. Bahkan rumput pun tercerabut tak terpegang. Sementara kepalaku keluar tenggelam di arus air. Sampai saat seorang paman mengambilku. Rumahku dijualnya. Ia bilang itu untuk biaya masa depanku, untuk sekolah, kuliah dan biaya hidup. Ia berjanji akan merawatku dan menyediakan semuanya. Ia sendiri tak punya apa-apa. Rumahnya jauh di ujung semesta, hanya sepetak. Ia adalah seorang pensiunan. Entah pensiunan apa tidak jelas. Dalam usianya yang sudah setengah baya, ia belum dikaruniai anak. Sementara istrinya tidak banyak bicara. Kadang di kesendiriannya, kudapati ia menangis. Paman sering membentaknya, memarahinya karena hal-hal kecil. Sering juga ia dipukuli. Belakangan baru kutahu keluarga mereka memang sudah hancur. Makian dan bentakan paman kepada istrinya bukan lagi hal yang tidak wajar bagi para tetangganya. Mereka sudah biasa. Bahkan tidak jarang mereka melerai suami istri itu ketika paman sudah keterlaluan memukuli istrinya.

Ternyata pamanku ini bukan pensiunan seperti yang selalu dikatakannya. Ia tidak bekerja sama sekali. Pendapatan hanya datang dari hasil jerih payah sang istri mencucikan pakaian tetangga. Uang yang didapat kadang diambil semua oleh paman untuk berjudi dan membeli minuman keras.

Baru aku sadar kalau selama ini aku pun hanya dimanfaatkan. Hasil penjualan rumah sudah habis dalam waktu setahun ini hanya untuk modal berjudi. Sementara uang yang selama ini kusimpan dan kusembunyikan dari paman juga hampir habis untuk biaya perawatan ibu di rumah sakit. Sekarang ia mulai kehabisan harta. Dan bukan hanya istrinya, aku pun mulai jadi sasaran kemarahan-kemarahannya yang tidak beralasan. Tak jarang aku juga dipukul ketika mencoba membela istrinya yang deras menangis dengan pipi yang lebam terkena tamparan.

Sampai suatu malam, dimana bulan sangat bulat bersinar pucat di luar jendela, ia pulang dalam keadaan mabuk dan meracau tentang segala sesuatu. Mulai dari kekalahannya di meja judi malam ini � seperti malam-malam sebelumnya, lalu merembet kepada soal makin sulitnya kehidupan mereka karena uang yang habis. Ia melampiaskan kemarahannya pada istrinya. Ia menghardik wanita itu karena tidak bisa memberinya anak. Tidak bisa menyenangkan dirinya. Ia anggap istrinya Cuma biang masalah. Barang-barang mulai dibanting. Istrinya mulai menangis. Meja di ruang tengah didorong hingga terbalik. Istrinya histeris, mulai berteriak-teriak ketakutan. Barang-barang berserakan tumpah dari meja ke lantai. Paman mengambil balok kayu sebesar lengan ketika ia mulai tak tahan lagi dengan teriakan istrinya. Istrinya makin kalut, ketakutan. Aku keluar dari kamar tak mau tinggal diam. Paman sudah keterlaluan. Aku sendiri sudah tidak tahan dengan semua sikapnya selama ini. Aku terjang tubuhnya jatuh ke lantai. Balok kayu terlepas dari tangannya. Lalu kami bergumul dengan pukulan-pukulan. Tubuhnya sangat kuat untuk ukuran seorang yang sedang mabuk. Sampai saat tubuhku berada di bawah, aku tak bisa bergerak. Sementara ia terus memukul mukaku. Istrinya berteriak, menangis sambil bersandar di dinding dengan pucat. Di sebelahnya jendela terbuka menampilkan gelap langit malam dengan bulan bulat yang bersinar pucat. Tanganku meraih-raih, hingga menggapai sebuah gagang kayu kecil, yang ternyata adalah sebuah pisau yang terjatuh dari atas meja yang berantakan.
Sekarang tanganku memegang pisau itu. Terbayang semua yang telah dilakukan pamanku. Menghancurkan masa depanku, menghabiskan harta warisanku, emmaki, membentak, memukuli aku dan istrinya sendiri. Terbayang wajahnya yang kosong dengan mata yang buas ketika ia pulang malam dengan keadaan mabuk. Tangannya yang kasar dan berbulu dengan jari-jarai yang besar dan tebal selalu jadi momok yang menakutkan yang selalu menghujam mukaku dan istrinya.

Sekarang tanganku yang menghunus pisau terayun pelan ke tubuh yang menindihku. Dan jendela itu masih terbuka dengan bulan bulat yang bersinar pucat kemerahan.
Sebulan aku di penjara, ibuku mati. Sebuah keranjang dengan plastik transparan dan buah yang sudah hitam terletak di meja tepat di samping kepalanya ketika ia pergi. Tetap tak tersentuh.

***

Hukuman mati sudah di depan mata. Bentuknya adalah singgasana besi dengan kabel dimana-mana. Aku didudukkan di atasnya. Kepalaku disiram air sampai membasahi tubuh dan kursi. Orang-orang tanpa wajah mengelilingiku sambil menggumamkan doa-doa. Doa yang adalah rutinitas mereka. Lama-lama tidak mirip seperti doa, hanya gumaman panjang huruf �M�. Aku tak peduli. Aku tak butuh apapun untuk kematianku. Permintaan terakhir yang ditanyakan salah satu dari mereka aku telan bersama tetes-tetes air dari rambutku yang basah yang mengalir ke hidung lalu ke mulut. Aku tak minta apa-apa, aku hanya sedikit haus. Kematian telah menjadi pemandangan rutin dalam hidupku. Ia seperti menempel dalam segala fase yang kujalani. Mungkin aku inilah manusia di bawah naungan bintang hitam, bintang kelam, yang hidupnya berbayang kematian.
Dan pada titik ini aku merasa jenuh dengan apa yang kulihat. Tidak ada lagi yang membuatku merinding melihat kematian. Aku menyaksikan bahkan melakukan, dan sekarang aku ingin mencicipinya, sedikit saja. Dan tak ada apapun yang bisa menghalangiku mencicipi mati. Tidak doa-doa, tidak tangisan, tidak juga permintaan terakhir.
Kepalaku mengenakan topi besi dengan kabel-kabel, mataku ditutup. Seorang di antara petugas tanpa wajah meraih sebuah tungkai saklar yang berdiri ke atas. Ia menunggu aba-aba untuk menarik tungkai itu ke bawah. Sebuah anggukan dari petugas di pojok ruangan, dan tungkai itu turun ke bawah. Lampu yang temaram di ruangan itu agak meredup sesaat untuk kemudian normal kembali. Semua selesai, ada senyum tipis di mulutku yang sudah kaku. Tubuhku dilepaskan dari ikatan-ikatan kursi. Tapi ada yang aneh beberapa saat kemudian, senyum di mulutku tadi menghilang perlahan. Dan saat tubuhku sudah diangkat dengan sebuah kereta dorong, senyuman tadi sama sekali tidak ada, malah muka yang sudah mati itu tampak kecewa. Tubuh itu dikirim ke laboratorium rumah sakit, dan semua berakhir.

***

Ketika tungkai ditarik ke bawah, aku mengejan sangat hebat. Sebuah sentakan listrik seakan-akan membuat urat-urat di seluruh tubuhku ditarik keluar menembus kulit. Mulutku tak bisa berteriak. Lagipula semua sudah kupasrahkan. Dan kakiku terasa dingin lalu dinginnya merayap ke lutut dan terus ke perut, sampai aku melayang-layang di langit-langit ruangan meninggalkan tubuhku yang kaku. Perasaanku sangat tenang. Perasaan bebas tanpa beban yang tak pernah terbayangkan sebelumnya. Aku tersenyum bebas dan itu tergambar di jasadku. Sebuah senyum tipis. Aku melayang menembus langit-langit, melewati awan, mengatasi langit. Aku kini entah dimana di tempat yang sangat terang berwarna putih. Senyumanku masih lebar. Sampai saat kulihat sosok-sosok di kejauhan,...banyak sekali. Kudekati dan kuamati, ternyata...
Bapak, ibu dan dua saudaraku panik ketika perampok-perampok itu menyerbu mereka. Teman-teman kuliahku yang dulu mati sedang morat-marit dikejar petugas, tembakan berdesing di sana-sini meriuhkan suasana yang terang dan berwarna putih. Senyumku agak memudar,...sementara agak dikejauhan, pamanku duduk menggenggam botol dan sebuah pisau di atas meja.
Senyumku hilang tak bersisa. Aku kecewa.


Yogyakarta-Jakarta
Hosted by www.Geocities.ws

1