|
EdanE Bukan Eet dan
Ekoy
|
Edane adalah potret sebuah grup yang
memiliki kematangan bermusik: dalam penggarapan album maupun ketika
pentas di atas panggung. Pusat pesona grup terutama terletak pada
Zahedi Riza Sjahranie alias Eet
Sjahranie. Eet amat atraktif, memukau, dan edan... Beng
Beng, gitaris Pas bilang, jika kita ingin menyebut siapa |
 |
sebenarnya
gitaris rock Indonesia, Eet itulah orangnya. Edane semula dikenal sebagai singkatan dari Eet dan Ecky Lamoh.
Terbentuk tahun 1991, Edane terdiri atas Eet (gitar), Ecky (vokal), Iwan
Xaverius (bas), dan Fajar Satritama.
Setelah ikut mewarnai musik
Edane dalam album pertama The Beast (1992), Ecky cabut. Edane tak
berganti nama. Hari Batara atau lebih dikenal sebagai Ucok, masuk. Tapi
kemudian giliran Ucok yang cabut. Posisinya diambil alih oleh Trison,
mantan vokalis Roxx. Trison dipilih lewat seleksi ketat yang dilakukan
selama dua tahap, April silam.
Menurut Eet Sjahranie, gitaris Edane,
pergantian vokalis ini terjadi karena di antara personel mulai disadari
adanya ketidakseimbangan dalam hal memenuhi tuntutan musik Edane.
"Sebenarnya itu sudah disadari sejak pembuatan album Borneo. Kita
sudah memikirkan untuk membuat musik yang lebih luas dari sebelumnya.
Konsekuensi dari itu, kita tentunya membutuhkan personel yang bisa
memenuhi kapasitas itu," ungkap Eet.
Kendati demikian, lanjut Eet,
hubungan antara personel Edane dengan Ucok tetap baik. Karena Ucok sendiri
yang berinisiatif untuk mengundurkan diri. "Malah Ucok juga setuju dengan
audisi untuk vokalis baru."
Telah empat album mereka keluarkan The
Beast, Jabrik, Borneo dan 9299 (1999). Album 9299
(Aquarius) merupakan kompilasi lagu baru dan lagu lama. Tiga lagu baru
adalah Untuk Dunia yang menjadi lagu jago, Dengarkan Aku,
dan Rock On. Lagu lama yang masuk antara lain Jabrik, Ikuti
dan Borneo yang kaya unsur etnik Dayak. "Lagu-lagu tersebut kami
anggap bisa mewakili Edane," ucap Eet.
Proses penciptaan musik
Edane, tutur Eet dan Fajar, lebih banyak bertolak dari rif-rif yang
dimainkan di studio. "Rif-rif itu kemudian berkembang menjadi komposisi
dan akhirnya lagu," kata Fajar. Ini sebabnya penggarapan album Edane
selalu lama. Untuk satu album mereka bisa menghabiskan lebih dari seratus
shift, jumlah yang cukup banyak (bisa untuk membuat tiga album) bagi grup
lain. Namun, menurut Rudra, sound engineer album Edane, dengan proses
semacam itulah musik Edane sangat kaya akan warna dan detail.
Edane memainkan hard rock. Tapi Eet lebih suka menyebutnya rock
saja. Eet juga kerap diidentikkan dengan Eddie Van Halen, gitaris yang
mempengaruhinya. Dari sini muncul plesetan Edane sebenarnya adalah
singkatan dari Eet dan Eddie Van Halen. Pengidentikan itu, kata Eet,
"membuat saya tersanjung dan kesal. Tersanjung karena Van Halen adalah
nama besar. Kesal karena saya ingin menjadi diri saya sendiri, bukan orang
lain."
Sejak dirintis tahun 1991, manajemen Edane sudah berpindah
dari tangan ke tangan. Pertama ditangani Ali Akbar, kemudian pindah ke
Jimmy Doto, lalu ke Aci, dan pernah ditangani sendiri. Kini manajemen
Edane dipegang Danny Wijanarko, manajer GIGI. "Bagaimanapun saya tetap
berkonsentrasi di GIGI, tapi bukan berarti menomorduakan Edane," ujar
Danny.
DISKOGRAFI
The Beast
(1992) Jabrik Borneo 9299 (1999) |
|