|
Bunglon Band Debutan
EMI Indonesia
|
Inilah Bunglon, band lokal pertama yang
dirilis EMI Indonesia. Mereka baru mengeluarkan debut albumnya
Biru yang diproduseri Bongky dan Ully. Perhatikan deh, mulai
dari pemberian. judul album yang terinspirasi dari warna
favorit bersama sampai penempatan judul lagu yang kompak. Di side A |
 |
adalah lagu bersuku kata satu,
sedangkan side B bersuku kata dua (kecuali Dunia) menjadi
salah satu hal yang unik dari band satu ini. ''Wah...kami nggak
sengaja lho.
Malah baru tahu sekarang ha...ha...!'' kata
Bunglon. Formasi band yang terdiri atas Fadia (vokal), Derry (keyboard)GrasRock,
Kice (gitar), dan Eko (bass) ini tidak memiliki pemain dram tetap. Mereka
memilih untuk memakai additional dramer antara lain Gutomo (S.O.G),
Ciling (Flower), dan Ully. ''Dulu, sebelum rekaman, kami punya dramer,
tetapi berhalangan karena mau sekolah. Udah gitu, kami udah dekat dengan
kontrak. Untuk mengejar kontrak itu, lebih baik kami bikin berempat aja.
Lagipula kami sudah solid berempat,'' jelas Bunglon yang baru terbentuk 1
tahun.
Mereka sudah mengantisipasi bagaimana misalnya terjadi
bentrokan waktu. Apalagi sebagai band baru, S.O.G. juga sedang membina
karier. ''Untuk rekaman, kami memang memakai Gutomo dan Ciling. Tapi untuk
manggung, kami sudah siapkan dramer sendiri. Kita juga sering pakai Ciling
yang masih teman sendiri,'' ujar Derry dan Kice kompak.
Ketika
rekaman, para dramer itu diberi garis besar musiknya saja, pengembangan
selanjutnya terserah masing-masing. Begitulah kebebasan yang diberikan
Bunglon untuk para additionalnya.
Biru digarap selama 7
bulan on/off untuk menghasilkan 10 lagu pop yang bernuansa acid jazz,
fusion, retro, samba, dan classic disco sekaligus. Lagu-lagu itu dibalut
beat medium hampir di seluruh lagu. ''Kami tertarik dengan musik yang
dimainkan antara laian oleh Brand New Heavies, Incognito, Brazillian, Joni
Mitchell, James Taylor Quartet, dan Corduroy,'' ungkap Bunglon yang banyak
memakai efek wah dan sound bass yang vintage.
Liriknya kebanyakan
bertema cinta yang diungkapkan dalam kata-kata yang simpel sehingga mudah
dinikmati. Progresi kord mereka yang cenderung tidak menyulitkan, misalnya
progresi kord yang sama di bagian verse dan reff, serta harmoni yang
easy listening melengkapi musik mereka secara keseluruhan. ''Setiap
bikin lagu, selalu mengalir begitu saja. Sistem kami nge-jam.
Kadang-kadang malah bikin lagu di studio,'' kata Fadia yang range suaranya
sopran ini.
Selain lagu-lagu baru ciptaan sendiri, Bunglon juga
menyelipkan sebuah lagu lama tahun 80-an milik Chaseiro berjudul
Kau yang di-remake dengan kemasan musik sekarang. ''Kami senang
lagunya karena bagus. Selain itu kami juga ingin mencoba me-recycle
lagu-lagu lama supaya nanti pendengar sekarang kenal,'' kata Derry.
''Lagu itu hits di zamannya. Orang dari masa itu bisa menikmatinya
kembali, orang masa sekarang juga bisa menikmati. Sekaligus sebagai
penghormatan kepada musisi senior,'' lanjut Kice dan Eko.
Merasa
sebagai band baru yang harus belajar terutama pada musisi-musisi senior,
aransemen mereka masih didukung oleh kedua produser serta Indra Qadarsih.
''Meskipun disebutkan aransemen oleh Bongky dan Ully, tapi mereka tidak
terlibat sepenuhnya dalam hal aransemen ini. Mereka memberi
masukan-masukan,'' jelas Bunglon yang menganggap produser mereka ini lebih
berpengalaman.
Bagaimana pengalaman kerja di studio, Bunglon?
''Sebulan pertama, kami heboh! Saking hebohnya sampai sakit ha...ha....
Tapi bulan-bulan berikutnya sudah biasa,'' kenang Bunglon yang berambisi
musiknya diterima secara luas, ingin terus eksis serta berharap industri
musik di Indonesia bisa lebih meningkat. ''Dalam berkarya, kami masih
harus menyiapkan dua album lagi,'' ujar Kice menutup pembicaraan.
Diskografi:
Biru
(1999)
|