 |
Antara "Karma", Iron
Maiden dan Sikap Optimistis Cokelat Redaksi MusikMu.com
|
Dua
tahun absen merilis album, band Cokelat kembali menyapa
pencinta musik lokal. Rasa Baru, judul album terbaru mereka,
menghadirkan sepuluh nomor anyar yang cukup segar di
telinga. Salah satunya yang berjudul Karma, malah
terbilang sukses melambungkan nama band ini kembali ke posisi
terhormat tangga lagu Indonesia terfavorit di radio-radio
swasta terkemuka di Tanah Air.
Selain menawarkan warna
musik yang unik, di lagu tersebut Cokelat juga menawarkan
deretan lirik yang agak 'kasar'. Menurut grup yang kini
diperkuat Kikan (vokal), Edwin (gitar), Ronny (bas) dan Deden
(dram), pemilihan lirik di lagu Karma memang
disesuaikan dengan karakter musiknya.
"Seumur-umur,
kami belum pernah memainkan lagu seperti itu. Tiba-tiba, Edwin
menawarkan kami sebuah lagu yang cukup dahsyat. Kami mencoba
membuatkan lirik yang sesuai, namun akhirnya lirik yang
sekarang ini dinilai yang paling pantas," kata Ronny
menerangkan.
Edwin sendiri mengaku banyak terinspirasi
grup heavy metal asal Inggris, Iron
Maiden saat menciptakan Karma. "Kala itu, saya
sedang rajin-rajinnya mendengar Iron Maiden. Tiba-tiba, saya
ada ide membuat sebuah lagu. Hasilnya ya seperti bisa didengar
dalam Karma," kenang Edwin serius.
Namun, 'kekasaran' lirik
Karma sebenarnya masih terhitung manusiawi. Hanya,
banyak orang yang tidak berani memperlihatkannya di depan
umum. "Lagu ini menceritakan kepuasan seorang perempuan saat
melihat penderitaan lelaki yang pernah menyakitinya. Hal ini
sering sekali terjadi. Namun, banyak yang nggak
mengungkapkannya lewat kata-kata," cetus Kikan yang jadi
penulis lirik di lagu ini.
Selain Karma,
lagu-lagu Cokelat yang lain juga cukup menjanjikan.
Nomor-nomor kayak Luka Lama dan Jauh dinilai
banyak orang bisa jadi hit pendukung. "Memang sih, musiknya
jauh dari Karma. Namun, semua lagu di album kedua ini
bercerita tentang satu hal. Optimisme, bukan pesimisme seperti
di album perdana," ujar Deden menegaskan.(ryo)
Foto:
MusikMu Design |
|