SALJU DI MUSIM PANAS by MUHAMMAD CHAIDIR
“Anakku….terima kasih ya Tuhan,” Rama berkata sambil
menggendong anaknya yang baru saja lahir. “Kamu sekarang
sudah menjadi seorang Ayah,” sahut istrinya. Dengan
bangganya sang Ayah membawa anaknya, karena telah
mendapatkan keturunan laki-laki yang diberi nama Andrian.
Setelah sekitar 10 tahun berlalu, sang Ayah pun mendapatkan
pekerjaan yang tetap sebagai anggota DPRD setelah melalui
beberapa tahap penyeleksian.
“Memang benar ya Bu, anak itu membawa berkah, sekarang Bapak
dapat pekerjaan yang tetap,” kata Rama sambil tersenyum
bahagia dan duduk santai bersama istrinya.
Sementara Andrian bermain di halaman rumah barunya yang luas
dan indah.
Kehidupan mereka pun berubah 360o, Andrian dibesarkan dengan
layak, namun sayangnya semenjak ayahnya duduk di kursi DPR,
ayah dan ibunya tidak memberikan kasih saying yang cukup
kepada Andrian.
“Aku sangat sedih dengan kondisi ini, aku bahkan lebih dari
anak yatim piatu yang tidak memiliki Ayah dan Ibu,”
begitulah keluhan yang diucapkannya ketika hendak makan
malam.
Hari berlalu seperti air mengalir, dan Andrian telah dewasa.
Dia masuk ke salah satu Universitas terkenal di Kota
kelahirannya.
“Akhirnya kamu sudah besar sekarang nak, ikuti jejak Bapakmu
ini yang sudah sukses,” Bapaknya berkata sambil menasehati
Andrian yang sekarang menjadi pemimpin Organisasi Tolak
Korupsi di Universitasnya.
Setalah sekian lama duduk di kusrsi DPR, masalah pun mulai
timbul, Ayahnya terjebak kasus korupsi yang dilakukan
bersama kawan-kawannya di kursi DPR. Perlahan kasus tebuka
ke publik, beberapa anggota DPR tebukti memanipulasi data
penyaluran beras kepada orang miskin di kabupaten terpencil.
Berbeda dengan anaknya yang sibuk menolak korupsi dengan
organisasi yang dipimpinnya. Sementara ayahnya sendiri
melakukan hal tersebut.
Anak yang dikandung Ratih terus tumbuh dan berkembang, “Jaga
anak kita baik-baik.” Continue
reading
1
2
3 4



