SALJU DI MUSIM PANAS by MUHAMMAD CHAIDIR
Itulah kata-kata yang diucapkan Rama setiap hari, ketika ia
hendak pergi mencari nafkah untuk persiapannya menghadapi
kelahiran anaknya.
Sembilan bulan berlalu dengan penuh perjuangan yang
dilakukan pasangan suami istri ini. Akhirnya saat-saat yang
dinantikan tiba, anak mereka lahir ke muka bumi ini dengan
sempurna.
Andrian sempat merenung di malam hari sambil meneteskan air
mata, karena memikirkan Ayahnya, hatinya terguncang.
Keesokan harinya, terjadilah sebuah pertengkaran hebat.
“Aku malu Ayah…, Aku malu…, kenapa Ayah melakukan hal yang
kotor itu, apakah Ayah tidak memikirkan ketika kita masih
miskin, cukup berat penderitaan mereka, ditambah Ayah
mengambil hak mereka,” kata Andrian sambil meneteskan air
mata.
“Kurang ajar kamu, sudah tau ayahmu lagi kesusahan, kamu
malah menambah kesusahan, kalau kamu tidak mau tinggal lagi
di rumah ini, pergi saja!” kata Ayah sambil menunjukkan
kemarahannya.”
“Pergi saja kamu dari rumah ini, Ibu tidak menganggap kamu
anak ibu lagi, pergi.... pergi!” sahut sang Ibu dengan
cetukan keras.
“Baiklah, aku akan pergi dari rumah ini, aku tidak sudi
makan uang haram, hak yang bukan milik kita,” Andrian pun
langsung menuju ke kamar dan pergi dari rumah.
Setelah beberapa lama, tiada yang tau kemana Andrian pergi,
sementara nasib bapaknya sangat menyedihkan, dia harus
mempertanggungjawabkan perbuatan zalim yang telah
dilakukannya di penjara. Ibunya yang kemudian menjadi miskin,
dan meninggalkan bapaknya. Entah kemana keluarga ini
berpisah, tiada satu orang pun yang tau.
Kini Andrian berjuang untuk hidupnya, seiring waktu berjalan,
tantangan yang dihadapinya semakin besar, namun semangatnya
sangat kuat, sama seperti semangat ayahnya ketika bangkit
dari kemiskinan. Mungkin sang Ayah salah memilih jalan dan
terjerumus dalam lingkaran setan. Andrian terus bekerja
dengan penuh kejujuran. Dan pada akhirnya dia menemukan
pendamping hidupnya.
SELESAI 1 2
3 4



