|
|
![]() |
HOME |
TULISAN BERIKUTNYA => 1 2 3 4 5 STOP |
|
|
|
|
1. Prakiraan penyakit Jika
datangnya epidemi dapat diprakirakan (diramal, diprediksi) dengan jangka
waktu yang cukup untuk melakukan usaha pencegahan, kerugian-kerugian besar
akan dapat dihindarkan. Namun demikian, kebanyakan epidemi, terutama
ditentukan oleh faktor-faktor cuaca yang sukar diprakirakan dan hanya
sedikit penyakit yang sudah diketahui faktor penentunya maka hanya sedikit
penyakit yang dapat diprakirakan epideminya. Sebelum
memulai menyusun sistem prakiraan, terlebih dahulu faktor-faktor yang
membantu perkembangan penyakit perlu diketahui. Selain pengamatan
faktor-faktor cuaca, seperti kelembaban udara, penyinaran matahari, sering
diperlukan pengamatan biologis, seperti kerapatan spora patogen di udara,
populasi vektor serangga dan lain-lain. Makin lengkap data yang tersedia
mengenai hubungan antara intensitas penyakit dengan bermacam-macam faktor
tersebut, cara prakiraan akan semakin tepat. Praktek prakiraan sangat
tergantung dari hasil-hasil penelitian epidemiologi, meskipun penelitian
epidemiologi tidak selalu menghasilkan sistem prakiraan. Sering kali
prakiraan disebut sebagai ‘epidemiologi terapan’ (applied epidemiology) |
|
|
2. Monitoring faktor cuaca yang
mempengaruhi perkembangan penyakit Terdapat sejumlah kesulitan untuk memonitoring faktor-faktor cuaca selama berlangsungnya epidemi penyakit tumbuhan. Kesulitan tersebut muncul dari kebutuhan untuk memonitoring secara terus menerus beberapa faktor yang berbeda (suhu, kelembaban, kebasahan daun, hujan, angin, dan kabut) pada tempat-tempat yang berbeda dalam kanopi tumbuhan pada satu lahan atau lebih. Pada waktu yang lalu, pengukuran dilakukan dengan menggunakan peralatan mekanik, yang hanya dapat mengukur variabel lingkungan secara kasar atau dengan interval yang lama dan data yang tercatat tidak meyakinkan seperti adanya lepotan tintan pada kertas grafik. Pada beberapa tahun belakangan ini, telah dikembangkan beberapa sensor elektronik yang menghasilkan data secara elektrik yang mudah dicatat oleh penghitung data yang dikomputerisasi. Sensor yang terkomputerisasi tersebut menghasilkan penelaahan yang lebih baik tentang hubungan cuaca dengan penyakit dan memudahkan untuk memahami dan menggunakan sistem pengendalian penyakit prediktif pada lahan pertanian. . . . . . . . . . . . |
|
|
3. Sistem peringatan dini ke Petani |
|