|
|  |  |
Supported by :
________________________________________________________
Editorial
Mutiara hikmah
Kita tidak dapat
memaksakan sesuatu yang memang tidak dikehendaki oleh Tuhan, segala sesuatu
adalah suatu ketetapan yang tidak dapat diganggu gugat oleh siapapun.
Jodoh, Rizki, Maut dan Nanasib semua sudah ada ketetapannya dan akan
tetap menjadi rahasia Tuhan selama itu belum nyata terjadi kepada kita.
Tapi apakah kita juga
harus pasif dan apatis dengan semua itu? Jawabannya ‘tidak’.
Kita harus tetap ber-ikhtiar dan berdo’a dan selalu optimis bahwa semua
daya upaya, ikhtiar dan do’a kita akan selalu berhasil dan dikabulkan oleh
Allah, jangan pernah merasa puas dengan usaha yang telah kita lakukan dan juga
jangan pernah merasa bosan. Yang
terpenting adalah ikhtiar yang kita lakukan tetap pada koridor yang digariskan
Allah. Janganlah melakukan ikhtiar
dengan cara yang melawan hukum Allah, apalagi itu nyerempet-nyerempet dengan
dosa dan bahkan menjurus kepada kemusyrikan, naudzubillahi min dza-lik.
Kalau sampai sekarang
ikhtiar dan do’a kita belum terjawab dan ketetapan Allah itu ternyata lain
dengan harapan kita, selalulah positif thinking atau dalam bahasa kerennya
tetaplan khusnudzon (berprasangka baik) kepada Allah.
Kita tidak tahu dan tidak akan pernah tahu rahasia Allah, ada apa dibalik
ketidaksesuaian apa yang kita harapkan dengan apa yang menjadi ketetapan Allah,
yang kita tahu hanyalah bahwa Allah akan selalu memberikan yang terbaik bagi
hambanya.
Tawaqal.
Kata inilah yang paling pas untuk langkah selanjutnya.
Setelah ikhtiar kita lakukan dan do’a telah kita panjatkan,
ber-tawaqal-lah, bahwa kita menyerahkan segala sesuatunya hanya kepada Allah,
karena hanya kepada-Nya lah kita bergantung dan bersandar.
Hanya karena Dialah kita ada dan hidup dengan segala kenikmatan dunia dan
juga mudah-mudahan dengan seizin Allah kenikmatan akhirat juga akan kita
nikmati.
Nimatilah segala
sesuatu yang Allah berikan kepada kita, iman, islam, harta, jabatan, umur,
kesehatan, suami, istri, anak, keluarga dan kenikmatan lainnya.
Semua itu hanyalah karunia Allah yang sewaktu-waktu dapat juga
dicabut/diambil dari kita. Lakukanlah
yang terbaik yang kita mampu, jauhi rasa iri, dengki, rendah diri,
menyombongkan diri, pamer, dan penyakit-penyakit hati lainnya.
Hindarilah berfikir apa yang telah kita dapat dengan prestasi kita, tapi
cobalah berfikir prestasi apa yang telah kita sumbangkan berkaitan dengan apa
yang telah kita dapatkan. Terapkanlah
itu dalam mengabdi kepada Allah, bekerja di suatu lembaga, menjadi anggota
keluarga dan lain-lain.
Yang terakhir marilah
kita selalu berdo’a agar semua ikhtiar dan do’a yang pernah kita lakukan
akan selalu bernilai ibadah. Demikian
semoga Allah meridhoi, amien.
| 
|