|
Karyaku |
||||
| Home | Baca Juga : Karya Makalah | |||
|
(klik disini untuk melihat gambar-gambar panel] Aplikasi ini saya buat terinspirasi dari sulitnya prosedur penilaian tingkat kesehatan yang telah berjalan atau telah digunakan oleh pengawas BPR sebelumnya. Aplikasi ini sebetulnya hanya modifikasi dari sistem/aplikasi yang ada dari proses yang "fully manual" menjadi "semi automatically". Karena proses secara manual perlu keahlian yang cukup bahkan mungkin harus advance dalam pengoperasian lotus-123 karena transfer data series (keragaan) data keuangan BPR yang di-input setiap bulan ke dalam aplikasi utama penilaian tingkat kesehatan BPR relatif rumit. Oleh karena itulah proses otomatisasi diperlukan, selain untuk memudahkan bagi operator, mempercepat proses dari input hingga mencetak hasil, juga dapat mengurangi tingkat kesalahan akibat keslahan proses manual (human error). Program aplikasi ini menggunakan bahasa pemprograman macro-lotus berbasis DOS, yaitu Lotus-123 versi 3 dengan WYSIWYG (what you see is what you get) diaktifkan. Dengan 'command-command' standard Lotus yang dirangkaikan dan dipadukan dengan formula-formula pengolahan data, aplikasi dapat memberikan response atas input yang diberikan oleh operator/program-user, sehingga aplikasi dapat memberikan hasil pengolahan yang optimal baik dalam bentuk soft-file maupun dalam bentuk hard-copy. Saya sebagai project-leader dan sekaligus mini-programmer, merasa puas karena dari hasil spread-test terhadap keandalan aplikasi, dinyatakan valid dan akurat. Meskipun secara non formal, aplikasi ini telah diakui oleh pejabat-pejabat yang berwenang di UBPR (sekarang DPBPR) dan dapat digunakan sebagai alat bantu kerja di lingkungan DPBPR dalam rangka penilaian tingkat kesehatan BPR untuk wilayah pengawasan kantor pusat. Kepuasan saya itu bertambah menjadi kebanggaan tatkala aplikasi itu akan disosialisasikan dan direkomendasikan untuk digunakan juga di KBI-KBI. Tidak tanggung-tanggung sosialisasi dilakukan di dua tempat (kota) dengan dipimpin oleh Bp. Heru Soepraptomo (Direktur, sekarang setingkat Deputi Gubernur). Untuk wilayah barat Indonesia, sosialisasi diadakan di kota Padang (KBI-Padang) dengan peserta dari KBI-KBI di wilayah Sumatera dan kalimantan, dan untuk wilayah Timur Indonesia dikota Denpasar (KBI-Denpasar) diikuti ileh KBI-KBI di wilayah, meminjam istilah pak Heru, KATIMIN (kawasan timur indonesia). Betapa bangganya pada saat itu, seorang PE satu rombongan dan termasuk tim-imti dalam sebuah sosialisasi. Memang selanjutnya, namaku jadi di kenal oleh rekan-rekan pengawas BPR di KBI-KBI, karena selain sosialisasi itu banyak pertanyaan yang menyangkut sistem juga karena, harus saya akui, bahwa memang banyak kelemahan dalam program aplikasi itu, sehingga kurang 'user-friendly' dan beberapa kali ngadat. Oleh karena itulah mereka sering berhubungan telepon ke UBPR untuk menanyakan hal-hal super teknis menyangkut program aplikasi. Memang agak merepotkan, tapi itulah sisi lain dari sebuah kebanggaan. Meskipun secara formal telah disosialisasikan, belakangan saya ketahui bahwa penggunaan aplikasi itu ternyata "illegal", karena sesuai dengan ketentuan yang ada, penggunaan sebuah alat bantu, terlebih itu adalah sebuah aplikasi komputer, bahkan produknya adalah hasil perhitungan tingkat kesehatan BPR yang menentukan nilai raport dari kinerja sebuah BPR, seharusnya didukung oleh perangkat hukum yang memadai. Saya tidak tahu itu merupakan sebuah keteledoran dari pejabat-pejabat yang berwenang saat itu atau memang aplikasi itu dianggap sebagai aplikasi sementara yang akan digantikan dengan aplikasi yang lebih baik dan permanen, saya tidak tahu. Apapun itu alasannya pada saat itu, pada kenyataannya aplikasi itu mampu bertahan setidaknya dalam kurun waktu 5 tahun (1997-2002). Di negeri ini, waktu lima tahun merupakan satu periode kepemimpinan rezim Pemerintah dan juga satu periode kepempinan seorang Gubernur BI. Hal tersebut di atas-lah yang akhirnya menjadi pertanyaan dari pemeriksa intern (DPI), apa dasar hukum digunakannya aplikasi????? kalau saja pertanyaan itu ditanyakan kepada saya, jawaban saya pasti juga merupakan pertanyaan : "saya harus tanya kepada siapa pak??????" dengan tanda tanya yang buwessaar. Hal lain yang juga akhirnya mengganggu pikiran saya adalah munculnya pertanyaan-pertanyaan yang seolah meragukan bahwa aplikasi itu karya saya. Pertanyaan paling menyodok tapi itu bermanfaat dan produktif bagi saya adalah dati tim pewawancara promosi / penerimaan peserta PCPM (pendidikan calon pegawai muda). Karena di awal wawancara saya diberikan kesempatan untuk memaparkan latar belakang pekerjaan saya dan apa yang telah saya perbuat untuk lembaga, maka dengan tanpa ragu saya kemukakan apa yang telah saya persembahkan seperti tersebut di atas. "Tapi kalau melihat data perkembangan konduite Saudara dari awal hingga akhir, tidak terlihat bahwa anda telah menghasilkan sebuah karya yang berguna, karena paling tinggi hanya SDH+, seharusnya ada dong yang DAH??". Saya kaget mendengar pertanyaan itu, karena tidak pernah terlintas sedikitpun dipikiran bahwa hasil karya saya harus dihargai demikian atau begini-begitu. Dalam benak saya, penilaian terhadap saya adalah hak dari atasan saya yang menilai dan saya tidak punya keinginan untuk menolak atau membantah. Saya juga tidak pernah perduli nilai apa yang didapat orang lain. Dari pertanyaan tersebut di atas, timbullah dialog sebagai kira-kira berikut: Saya (S) : Saya tidak pernah peduli pak dengan kondite, yang saya lakukan hanya tanda-tangan saja, Pewawancara (P) : Salah dong, seharusnya ada protes kalau ada yang tidak sesuai, kemukakan fakta-faktanya. S : Saya kira akan percuma saja pak, P : Percuma bagaimana? S : Belum tentu protes saya di dengar dan dikabulkan, saya takut kecewa P : ya... kecewa itu khan hal yang biasa, setidaknya anda telah berusaha, S : Memang pak, tapi kalau saya kecewa akhirnya akan kontra produktif, saya akan malas berkarya dan akhirnya akan mengganggu kreatifitas saya P : Memangnya ada karya apa lagi setelah aplikasi tersebut yang dihasilkan oleh Saudara? S : Ada pak, namanya program aplikasi penyusunan lampiran laporan hasil pemeriksaan. Meskipun skalanya lebih kecil dan tidak se-complicated program penilaian TKS-BPR, namun juga secara informal teman-teman KBI juga menggunakan program tersebut. Kemudian pewawancara mengalihkan pembicaraan ke hal lain. [ end of todays narratives - may be add ]
Maaf narative program ini belum siap di-published....... {tunggu tanggal lainnya}
|
||||