Jam istirahat selalu full booking
HOTEL SELINGKUH ORANG KANTORAN
Oleh : Nr
Sebuah
bangunan empat lantai bertengger unik. Sekilas hanya mirip rumah
tinggal. Namun melongok ke dalamnya 40 kamar tersedia. Bahkan untuk
kebutuhan bawah perut, cukup pencet bel di masing-masing kamar
Deru mobil lalu
lalang, Sabtu siang pekan lalu sepanjang jalan Gajah Mada, Jakarta
Pusat bersahutan bak konser yang memekakkan telinga. Lalu lintas
lumayan padat. Apalagi perempatan Mada, bersebelahan dengan pusat
niaga terbesar di Jakarta Pusat.
Tak jauh dari
perempatan tersebut, Jalan K yang seukuran satu mobil nampak
membentang ke dalam. Di pojok jalan tersebut berdiri bangunan tua
empat lantai yang difungsikan menjadi dua. Bagian depan yang
berhadapan dengan Jalan Gajah Mada, ditandai dengan kaca hitam
berukuran lumayan besar yang di sampingnya terdapat pintu masuk
selalu tertutup. Menurut mereka yang eprnah singgah, arena permainan
itu telah berubah wujud menjadi arena judi.
Sementara bagian
samping, hanya terdapat satu pintu menghadap ke jalan. Sekilas dari
luar, orang akan menebak bahwa bangunan dengan pintu disamping itu
adalah sebuah rumah tinggal. Namun begitu masuk, akan tersaji areal
‘bisnis’.
Masuk dari pintu
tersebut, sebuah ruang tamu berukuran sekitar 4 x 6 meter, dengan
dinding putih yang mulai kusam, berikut sebuah kursi kayu nampak
menghiasi. Persis disamping kanan ruang tamu, tersedia receptionis
yang ditunggui seorang wanita bermata sipit, bertubuh agak subur.
Di belakang
reseptionis ada sebuah ruangan yang separo dinding atasnya
menggunakan kaca hitam. Belakangan diketahui ruangan itu dihuni
penyewa bangunan empat lantai tersebut.
Di samping kiri
ruang tamu terdapat sebuah etalase yang menjual berbagai keperluan
sehari-hari, mulai dari sabun mandi hingga makanan kecil dan minuman
kaleng. Sepertinya, penyewa banguna tersebut memfungsikannya sebagai
mini store.
Mungkin bagi mereka
yang belum pernah menginjakkan kakinya ke tempat tersebut akan
bingung, tempat apa gerangan. Sebab tak secuilpun papan nama
tertempel di dinding depan apalagi di dalamnya. Sepertinya penyewa
tempat tersebut sengaja mendisain tempat tersebut agar tidak banyak
diketahui orang yang mungkin tidak sehati dengan diperuntukkannya
bangunan tersebut.
Usut punya usut,
belakangan diketahui bahwa tempat tersebut adalah sebuah penginapan.
Namun melihat kondisi didalam dan diluarnya, agaknya aneh bila tidak
ada ‘misteri’ dari keberadaan penginapan tersebut.
Saat Exo bertandang
Sabtu siang pekan lalu, suasana penginapan yang lebih dikenal dengan
nama W 63 itu lumayan lengang. Jarum jam menunjuk angka 11.00 wib.
Seorang wanita yang duduk di meja receptionis yang masih kerabat
dari pemilik W63 itu langsung menyambut kedatangan Exo dengan senyum
ramah. “Ada yang bisa dibantu,” tanya wanita tadi.
Setelah tahu maksud
kedatangan Exo ingin menyewa kamar, wanita tadi lantas menyebut
beberapa tipe kamar berikut tarifnya. Harga kamar di sana tergolong
murah, yakni hanya berkisar Rp. 35-85 ribu untuk short time alias
per 12 jam.
Berdalih sedang
menunggu seorang teman, Exo menunggu di ruang tamu yang tersedia.
Ajaib. Ketika jarum jam menunjuk angka 12.00, alias saatnya jam
makan siang, tamu yang datang di sana mulai ramai. Umumnya mereka
datang berpasangan. Namun tak sedikit yang sendiri.
Lewat seorang
karyawan yang tugasnya mirip bell boy, Exo dapat ‘bocoran’. Ternyata
W63 ramai dikunjungi saat jam istirahat kantor. Kebanaykan tamunya
adalah orang kantoran, yang ingin menuntaskan keperluan bawah
perutnya.
Umumnya mereka
datang bersama pasangan yang rata-rata kabarnya adalah teman
kantornya atau pasangan selingkuhannya. Sementara bagi mereka uang
datang sendiri, tujuannya adalah sama, yakni ingin ‘bobo siang’.
Untuk pasangannya,
tidak usah khawatir. Sebab menurut petugas, tadi bahwa di W63 bisa
membantu mencarikan pasangan untuk ‘bobo siang’. Terkait masalah ini,
karyawan tadi tidak mau banyak komentar. “Kalau Bapak mau kita bisa
mengambilkan. Tergantung pesanan, maunya seperti apa,” terang
petugas yang mengenakan kemeja warna putih dipadu celana hitam tadi.
Ditambahkan bahwa
di sana tersedia wanita-wanita muda hingga setengah tua. Untuk
tarifnya, dengan agak malu-malu karyawan tadi menyebut angka antara
Rp. 150-200 ribu untuk short time, tidak termasuk sewa kamar.
Sementara bagi tamu
W63 yang ingin sekedar dipijat, tersedia pula wanita-wanita
pemijatnya. Tarifnya tidak mahal, berkisar antara Rp. 50-75 ribu.
Melongok tarifnya, memang sesuai dengan ukuran pijat, namun tidak
menutup kemungkinan mereka siap diajak ngeseks. Tentu saja tarif
yang dipatok bukan tarif pijat lagi.
PULUHAN KAMAR-- Bila
melihat ukuran ruangan di lantai satu memang tak begitu luas. Namun
di lantai atas tak kurang dari 30 kamar tersedia. Tiap lantai
terdiri dari sepuluh kamar yang berukuran tak lebih dari 3 x 3
meter. Rupanya W63 memanfaatkan bangunan di atas areal permainan
yang telah berubah menjadi areal judi tadi untuk kemudian ‘disulap’
jadi kamar-kamar sewaan.
Di dalam kamar yang lumayan sempit tersebut hanya
ada satu ranjang, sebuah meja kursi sederhana dan sebuah kamar mandi
yang hanya ditutupi plastik. Untuk tarif di atas Rp. 50 ribu
ditambah dengan fasilitas AC dan sebuah televisi 14 inci.
Mungkin lantaran keberadaannya hanya diperuntukkan
untuk mesum, ruang kamarnya di disain hanya untuk keperluan tersebut.
Dengan demikian jelas bahwa di W63 memang sengaja bukan
diperuntukkan untuk tempat istirahat.
Lalu lalang suara langkah kaki orang yang lewat,
yang terdengar hingga ke dalam kamar nyaris tak pernah sepi. Mungkin
saking banyaknya tamu yang datang sekedar ‘buang hajat’, untuk
kemudian ganti tamu yang lain, yang jelas untuk jam-jam istirahat
kantor di sana sangat sibuk.
Menyoal wanita yang
katanya siap didatangkan untuk keperluan ‘bobo siang’, kabarnya W63
mempunyai jaringan dengan seorang germo di daerah Mangga Besar.
Sementara untuk wanita pemijatnya, ‘dirumahkan’ tak jauh dari lokasi
W63.
Menurut sumber Exo yang kerap menggunakan fasilitas
W63, wanita-wanita tersebut sebenarnya berada di W63 alias ditampung
dalam satu ruangan di lantai tiga. Memang sulit untuk mendeteksinya.
Apalagi pengelolanya hanya membolehkan member atau langganan tetap
yang boleh melihat wanita koleksinya.*
|