Colek pantat masuk bui
BELA PACAR DISIRAM AIR
KERASOleh : Zul
Toha
punya hoby colek pantat,
hingga teman-teman satu pabrik memberi julukan monster pencolek
pantat. Selasa malam nasibnya apes datang. Saat beraksi, korbannya
melapor ke pacarnya. Pertengkaran pun terjadi. Bukannya minta maaf,
pria itu malah menyiram lawannya dengan air keras.
Selasa malam (23/9)
suasana pabrik sandal PT Kristajaya Indosal, kawasan Gudang 47,
Jalan Polgar Kapuk, Cengkareng Jakarta Barat lumayan ramai lantaran
karyawan pabrik itu bubaran kerja.
Mereka nampak
berdesakan keluar dari mulut pintu pabrik. Tak ketinggalan M. Toha
(25), warga Gang Empang RT 1/3 Polgar Kapuk, Cengkareng Jakarta
Barat. Bagi Toha, bubaran kerja adalah saat yang paling mengasyikkan.
Duda satu anak ini
punya hobi unik, yakni suka menggoda karyawati. Bahkan di kalangan
teman-temannya, dia dapat julukan monster pencolek pantat. Hampir
tiap bubar kerja, dia selalu memburu pantat. Namun pada Selasa malam,
petualangannya berakhir dipenjara.
Malam itu, seperti
biasa Toha membidik karyawati yang hendak diganggu. Sedang asyik
memilih calon mangsanya, matanya tertuju pada Rini (19), karyawati
yang memiliki pantat lumayan bahenol. Tanpa banyak cingcong,
tangannya beraksi mendarat ke pantat warga RT 01/01 Polgar Kapuk,
Cengkareng itu.
Merasa ada yang ‘mengganggu’, Rini berteriak. “Heh, kalau lu berani
jangan dari belakang. Coba di depan orangnya,” tantang Rini.
Mendengar ucapan itu, Toha malah naik pitam.
Sejurus kemudian ia mendatangi Rini. Tanpa diduga, tangannya
langsung mencekik leher Rini dan mendorongnya ke kerumunan karyawan
lain. Untung saja Rini mampu menahan keseimbangan dengan bergelayut
di pundak temannya.
Melihat Toha emosi, Rini
tak berani membalas. Ia hanya mampu mengancam akan mengadukan
perbuatan Toha pada Uci, pacarnya. Mendengar ancaman itu Toha
bukannya takut, malah balik menantang, “Siapa takut,” kata Toha.
Malam itu juga Rini
langsung meluncur ke tempat kontrakan Uci di Jalan Jamblang, RT 01/1
No 32 A, Poglar Kapuk, Jakarta Barat. Kepada pacarnya, gadis itu
mengadukan perbuatan Toha. “Dia (Toha) juga mencekik dan mendorong
saya,” ucap Rini sambil menangis.
Tentu saja pengaduan
kekasihnya itu membuat hati Uci panas. Malam itu juga bersama tiga temannya,
Uci mencari keberadaan Toha di warung milik Ulia (43), yang berada
di depan pabrik. Di warung yang biasa di pakai nongrong itu, Toha
tidak nampak.
Ihwal Uci mencarinya
sempat terdengar oleh Toha. Rabu malam ( 24/9), dengan maksud mau
menjelaskan duduk perkaranya, sekaligus mau minta maaf, Toha sengaja
datang ke warung Ulia. Kebetulan malam itu Uci kembali datang.
MERASA TERDESAK-- Benar saja, malam itu Uci datang. Keduanya bertemu di dekat warung
milik Ulia. Wanita setengah baya pemilik warung itu merasa tidak
enak dan memilih menutup warung. Tak lama berselang keduanya
terlibat adu mulut. Tak kuat menahan emosi, Uci bermaksud
melayangkan tinjunya. Namun dengan sigap, Toha mengeluarkan plastik
yang berisi air keras, yang sebelumnya telah dipersiapkan dari rumah.
Selanjutnya ia menyiramkan ke tubuh Uci.
Siraman itu sempat ditangkis Uci, hingga akhirnya muncrat mengenai
muka dan lengannya. “Saat itu saya tidak merasakan apa-apa. Saya
hanya melihat baju dan celana saya kok berlubang,” kenang Uci yang
ditemui Exo Jumat malam (26/9). Merasa ada yang aneh Uci mengambil
langkah seribu, dan pulang ke kontrakannya.
Ia membersihkan bagian
tubuhnya yang kena cairan tadi dengan air. Namun yang didapat
kulitnya justru melepuh. “Saya kaget, tiba-tiba tubuh saya melepuh
dan membengkak. Rasanya panas dan perih,” lanjut Uci. Melihat ada
yang tidak beres, Uci berteriak minta tolong.
Terikannya didengar
beberapa warga, yang selanjutnya berdatangan ke kontrakannya. Mereka
kaget. Atas anjuran salah seorang warga, Uci akhirnya dilarikan ke
Rumah Sakit Atmajaya, Pluit, Jakarta Utara.
Sementara warga lain yang
tahu naas menimpa Uci, beramai-ramai mencari Toha. Kebetulan pelaku
masih berada di depan warung. Malam itu, Toha jadi bulan-bulanan
massa. Untung saja seorang sesepuh kampung mampu mengendalikan
amarah warga. Toha akhirnya diserahkan ke Polsek Cengkareng.
IPTU
Supriyanto, SH, Kanit Reskrim Polsek Cengkareng ketika ditemui Exo
Sabtu (27/9) membenarkan kejadian tersebut. Kepada petugas yang
memeriksanya, Toha mengakui segala perbuatannya. Untuk sementara,
jenis air keras yang digunakan menyiram tubuh Uci sedang dalam
pengujian.
Kepada Exo yang menemuinya dibalik jeruji besi Polsek Cengkareng,
Toha mengaku menyesal. “Saya tidak akan mengulangi perbuatan ini
lagi. Saya kapok mas. Saat itu saya sedang panik, takut dihajar
pacarnya Rini,” ungkap Toha sambil menangis.
Ditambahkan bahwa kala itu
dirinya tidak bermaksud mencelakakan korban. “Saya bukan mau
mencelakai orang. Karena merasa terdesak dan rasa takut yang
berlebihan saya bawa air keras itu untuk menjaga diri. Saya orangnya
penakut, ” lanjut Toha.
Dengan alasan untuk
menjaga diri, laki-laki yang hanya tamatan SD ini mengaku menyiapkan
air keras setengah liter di rumah. “Kalau ada yang menganggu, baru
saya siram dengan air itu,” tuturnya. Air keras itu sendiri menurut
Toha dibelinya dari sebuah toko bangunan sejak tahun 1997.
Kini toha hanya bisa
pasrah. Meski demikian ia masih berharap agar hukumannya tidak
terlalu berat. Alasannya, apa yang diperbuat hanya untuk membela
diri.*
***
Rini (19)
DEMI KEKASIH
Oleh : Zul
Kulit di wajah Uci terlihat masih dipenuhi bercak hitam. Tangan
kirinya terbalut perban. Saat Exo bertandang Jumat (26/9), di rumah
kontrakannya, ia masih terbaring lemas. Rini, kekasihnya terlihat
setia menemani.
“Waktu itu sebenarnya
ingin mengingatkan saja. Nggak tahunya harus menerima kenyataan
seperti ini,” papar laki-laki asal Cikandek, Serang, Banten itu. Uci
mengaku tidak menyesal. Semua yang dilakukan merupakan pengorbanan
untuk kekasihnya.
Malam itu Uci hanya ingin
menanyakan kenapa Toha mengganggu Rini. Namun Toha malah membuatnya
kesal, sehingga emosinya mendidih. Ia hanya bermaksud memberi
pelajaran, namun Toha malah mengayunkan tangannya kewajah Uci. Ia
berusaha menghindari pukulan itu.
Toha yang turut
emosi lantas mengambil kantong plastik, dan langsung menyiramkan ke
tubuhnya. Untung saja ia sempat menangkis, hingga mengenai bagian
muka dan lengannya.
Dalam kasus ini, baik Uci maupun Rini, minta agar Toha diberi
hukuman seberat-beratnya. “Kalau bisa dia (Toha-red) dihukum
seberat-beratnya. Biar Toha sadar bahwa perbuatanya sangat
membahayakan orang lain,” lanjutnya.
Rini sendiri, saat
dimintai komentar tentang naas yang menimpa kekasihnya, terlihat
malu-malu berbicara. “Saya juga minta Toha dihukum seberat-beratnya,”
tuturnya Rini. Meskipun demkian, ia mengaku tak mersa dendam dengan
Toha.
Lantas bagaiamana
mengenai luka yang diderita kekasihnya? “Saya tidak mempersoalkan
wajah Kang Uci bagaimana. Yang jelas saya sangat mencintainya,”
katanya seraya tertawa.
Bahkan Rini
mengungkapkan bahwa keduanya sepakat ingin segera melangsungkan
pernikahan setelah lebaran haji tahun depan. “Kami tak mau lama-lama
seperti ini,” tambah Rini*
***
Ulia (43)
FIRASAT BURUK
Oleh : Zul
Saat kejadian, Ulia (43), pemilik warung sekitar Tempat Kejadian
Perkara (TKP), mengakui bahwa Selasa malam atau sehari sebelum
kejadian, Uci dan tiga temannya memang mendatangi warungnya untuk
mencari Toha. Namun, malam itu kebetulan Toha ada.
“Keempat pemuda itu tanya Toha masuk siang atau malam. Kalau itu
kebetulan seharian Toha nggak mampir ke warung, jadi saya bilang
nggak tahu. Saya hanya katakan kalau masuk siang pasti sudah pulang.
Tapi kalau masuk malam sekarang sudah masuk kerja,” kata Ulia.
Setelah diberi
penjelasan, mereka pergi. Namun besok malamnya, Uci kembali mencari
Toha di warungnya. Kebetulan Toha sedang makan.. Takut terjadi
apa-apa, sebelum masuk ke dalam, Ulia langsung keluar warung dan
memberitahu Uci dan ketiga temannya bahwa Toha tidak ada.
“Saya punya firasat tidak enak, maka saya bilang sama Tohga agar
menghindar. Tapi Toha bukan menghindar, malah menghampiri Uci,”
terang Ulia.
Selanjutnya dari kejauhan dia melihat mereka saling tuding. Adu
mulut terjadi. Takut terjadi apa-apa Ulia memilih menutup warungnya.
“Saya takut, apalagi warga sudah berkerumun di depan warung,” tambah
Ulia.
Dari dalam warung, selanjutnya Ulia mendengar ada orang yang dipukul,
lantas tak lama kemudian ada suara orang menjerit minta tolong. Ulia
sendiri tidak tahu persis, yang jelas suara teriakan tersebut bukan
milik Toha, karena ia hafal betul dengan suara Toha.
Tak lama kemudian ia mendengar kembali suara orang dipukuli. Kali
ini ia memberanikan diri membuka pintu warungnya. Ia terkejut, kali
ini bukan Uci dan Toha yang saling pikul, namun ia melihat Toha
tengah dikeroyok warga. “Sambil memukuli, saya lihat orang kampung
menyeret Toha ke arah jalan,” kata Ulia.
Warga yang tidak puas terus mengamuk dan memukuli Toha. Aksi mereka
baru berhenti ketika petugas dari Polsek Cengkareng datang.*
|