|
KOMPLEKS
BERLUMUR KERINGAT DAN LENDIR
Oleh :
NR
Bisnis
syahwat di keremangan metropolitan yang selama ini hanya di dengar
dari hasil nguping ternyata faktanya berbanding terbalik seratus
delapan puluh derajat. Belum lagi membicarakan seksualitas dengan
segala pernik-perniknya malah makin menarik.
Belum lagi dari bisnis
yang berujung urusan ‘lendir’ ini begitu menggiurkan, lantaran
menghasilkan rupiah yang tak sedikit. Beragam bisnis dijalani.
Beragam upaya dihalalkan, baik terang-terangan atau berkedok dan
berlindung di balik sebuah usaha.
Sejauh ini, bicara lahan
maksiat orang akan beramsumsi seputar markas prostitusi, diskotek,
kafe atau hotel-hotel yang menebar beragam kenikmatan. Padahal,
faktanya nyaris tempat-tempat usaha yang diperuntukkan untuk usaha
yang benar-benar dilegalkan telah berubah wujud.
Panti pijat, spa alias
tempat mandi lulur, salon, sauna hingga arena kebugaran, malah
menjajakan berbagai bentuk kreasi kenikmatan kelenjar badani itu.
Di sinilah, seks sebagai
salah satu bentuk kebutuhan biologis, seperti makan dan minum, telah
menjadi sebuah komoditas yang sangat menjanjikan bagi sebagian orang.
Bayangkan, dalam 12 jam, seperti dalam kasus pemijat di tempat
sauna, seorang pelacur dengan mudah mengeruk rupiah sedikitnya lima
juta.
Kenikmatan ditentukan
bukan dengan seberapa ‘dalam’ orang memakai dan merasakan hubungan
intim, tapi lebih ditentukan dengan ukuran variasi dalam menu yang
disajikan. Tak pelak tempat-tempat seperti sauna, spa, body massage
menjadi pilihan alternatif dalam pengembangan proses kemaksiatan.
Di era Ali Sadikin
menjabat Gubernur DKI Jakarta --sekitar dekade 70-80 an--, bisnis
yang berlindung dibalik kebugaran tersebut malah diberi ijin. Tentu
saja Ali Sadikin beralasan bahwa pajak yang akan dikeruk lumayan
tinggi. Kala itu yang mendominasi adalah bisnis sauna dan body
massage dalam arti sesungguhnya.
Jika faktanya kemudian
berbelok menjadi lahan maksiat, urusannya menjadi lain. Bahkan kala
itu gambaran tersebut sudah menjadi rahasia umum. Sayangnya
pemerintah kala itu tetap terkesan diam.
Beberapa nama besar
seperti Cop adalah salah satu bukti. Tetap dengan berkibar dibawah
club kebugaran Cop yang terletak dalam satu lokasi dengan salah satu
bintang empat di kawasan Ancol Jakarta Utara, kala itu cukup menjadi
maskot.
Seks sauna mendominasi
bisnis Cop. Dimana wanita-wanita cantik hanya dengan tarif Rp 250
ribu untuk service di dalam standar room dan Rp. 350 ribu untuk
service di VIP, sudah bisa didapatkan. Kiprah Cop makin menggurita
hingga tahun 1980.
Setelah tahun itu alias
dimana club malam dan diskotek makin bermunculan, bisnis dengan
berlindung dibalik sauna agak melemah. Sebaliknya club malam seperti
cafe dan diskotik makin menjamur.
Untuk mengimbangi makin
melemahnya sauna, para pebisnis yang menggeluti dagangan tersebut
meramu dan memolesnya dengan memasukkan panti pijat dan spa. Namun
tahun 1990- bisnis tersebut tetap kalah laris.
Baru sekitar awal tahun
2000, alias makin banyaknya razia digelar dicafe dan di diskotek,
menjadikan bisnis yang berlindung di balik kebugaran ini kembali
menggeliat. Hanya saja, untuk bisnis dengan kedok sauna mengalami
pergerakan jauh dibanding tahun 1980-an.
Bila pengusaha sengaja
tampil dengan menu utama sauna, tetap dengan tidak meninggalkan
lahan maksiat, namun memilih lebih rapi. Jika di Cop pengunjung yang
datang bisa ngesek langsung di ruang sauna, kini ada kamar khusus
untuk menuntaskan urusan bawah perut. Dengan demikian, sterilisasi
yang dilakuan lebih aman. Hal itu seperti dilakukan PS, yang
bermarkas di jalan Gunung Sahari Raya Jakarta Pusat.
Namun demikian, banyak
juga tempat lain yang hanya menjadikan kedok kebugaran sebagai
pajangan semata. Didalamnya, praktik prostitusi lebih mendominasi.
Lantaran sauna dianggap tidak bonafit, payung yang dipakai adalah
panti pijat.
Tak heran jika mulai tahun
2000 inilah panti-panti pijat menjamur di belantara Jakarta. Bahkan
di sudut-sudut kampung pun, tanpa rasa risih dan sungkan, pengusaha
bisnis tersebut mengembangkan sayapnya.
Tidak hanya itu, beragam
servis malah ditawarkan. Diantaranya merubah body massage yang
umumnya memijat hanya menggunakan bagian tubuh seperti tangan atau
kaki, menjadi memijat dengan payudara.
Yang paling populer adalah
mandi kucing. Dimana laki-laki yang menjadi konsumennya dijilati
seluruh bagian tubuhnya, untuk kemudian berlanjut ke urusan bawah
perut. Beragam menu inilah yang akhirnya membuat bisnis tersebit
makin sumringah. Keberadaannya bahkan mampu menandingi
diskotek-diskotek.
Belum lagi menyoal tarif,
dirasa lebih hemat, lantaran tak perlu lagi menyewa kamar hotel.
“Paraktis, ekonomis dan memuaskan,” demikian rata-rata komentar
laki-laki yang sempat menjajal kenikmatan di pusat kebugaran, baik
spa, body massage hingga tempat pijat kesehatan, yang telah berubah
wujud tersebut.
KOTA INDAH
Merebaknya
bisnis tersebut terasa makin menggila. Bahkan sebuah komplek
pertokoan di Jalan Pangeran Jayakarta disulap menjadi sebuah komplek
yang nyaris menawarkan paket sauna, body massage, Pijat kebugaran
atau pijat kesehatan. Ujungnya tak lari jauh dengan urusan bawah
perut.
Berderet-deret ruko empat
lantai itu dari luar sengaja dibiarkan tak terawat. Didalamnya,
ratusan wanita cantik siap diajak kencan dan terbang dengan kedok
pemijat. Mungkin jika siang hari yang tampak hanya aktifitas
kantoran. Namun bila malam hari, gemerlap lampu dan musik yang
bersahutan menambah suasana komplek tersebut hidup.
Rayuan, kemanjaan, belaian,
dan semacamnya telah menjadi strategi dalam penumpukkan uang, bukan
memberikan rasa damai dan ketentraman batin yang dalam. Situasi
kamar yang indah, musik yang menggairahkan, suara-suara perempuan
yang lembut, tak lebih sebagai bentuk rekayasa yang disajikan untuk
memberikan ketentraman semu.
Di SA misalnya. Sebuah
areal yang berkedok pusat kebugaran ini dari luar memang tak ada
tanda-tanda maksiat. Namun begitu membuka pintu dan melongok
kedalamnya, suasana dentuman musik disco akan menyambut tamu yang
datang.
Penjagaan super ketat
dilakukan oleh para petugas keamanan yang rata-rata mengenakan kaos
ketat warna hitam. Beberapa wanita setengah baya , mengenakan
seragam warna krem --belakangan diketahui adalah para mami ini--
begitu sigap menyambut tamu. Tak kurang dari sepuluh mami ada di
sana.
Sebuah bar melingkar, yang
terletak persis di tengah ruangan menjadi sudut pandang utama.
Disana berjajar wanita-wanita muda dengan dandanan modis. Tidak
perlu repot untuk mendapatkan wanita yang bakal memijat.
Cukup duduk di sofa yang
tersedia, para mami itu akan mendatangkan beberapa anak buahnya.
Namun demikian jika pengunjung ingin melihat langsung wanita-wanita
yang hendak dibukingnya, tersedia pula ‘show room’ tempat anak asuh
binaan para mami ini mejeng.
Hanya saja letaknya agak
tersembunyi alias dibalik bar yang melingkar. Jika dihitung dengan
jari mungkin tak kurang dari 100 wanita cantik tersedia di SA, siap
menservis para tamu yang datang. Mereka rata-rata berbadan bagus dan
nyaris semua berkulit kuning. Kabarnya, untuk dapat bekerja di SA,
para wanita-wanitanya diseleksi secara ketat.
Untuk tarif yang dipatok
adalah Rp. 200 ribu perjam dengan cara pembayaran dilakukan didepan
atau pada kasir yang tersedia disamping bartender. Selanjutnya,
wisata birahi dengan berkedok pijat kesehatan akan dilakukan di
lantai dua dan lantai empat.
Sama halnya di KR, di SA
para wanita pemijatnya terlihat sibuk naik turun. Artinya, satu
wanita dalam satu hari paling sedikit bisa melayani hingga tiga kali
‘naik panggung’. Hal itu tak terlepas dari padatnya pengunjung yang
datang. Nyaris tiap hari tempat tersebut tak pernah sepi.
Hal itu terjadi juga
ditempat lain yang masih satu komplek dengan SA. Diantaranya LA Bar
Massage, PH massage, DV spa & Shiatsu, yang semuanya berlindung
dibalik usaha legal, namun kenyataanya menawarkan aroma kepuasan
bawah perut. Inilah salah satu pernik kehidupan yang turut membuat
Jakarta semarak.*
***
Nila
(19)
CEPAT KO
Oleh :
NR
Bagi
wanita asal Manado ini, menekuni ‘karir’ sebagai pemijat plus di KR
adalah sesuai yang mengasyikkan. “Disini satu hari saya bisa
mendapatkan sepuluh pasien.,” terang Nila. Usut punya usut, wanita
dengan body lumayan bagus ini memiliki trik sendiri dalam memuaskan
tamunya.
“Kalau masih mungkin
menservis tidak harus dengan bersebadan, apa salahnya. Rata-rata
tamu saya sudah KO sebelum ‘main’,” tambahnya bangga. Dengan
demikian wanita berkulit kuning langsat ini mampu naik ring hingga
sepuluh kali.
Belum lagi wajah khas
menadonya yang semi indo, dipadu kulit kuning langsatnya makin
membuat pelanggan ngiler. Hingga wajar saja jika Nila menjadi salah
satu primadona di KR, pusat kebugaran yang lebih menawarkan arena
maksiat ini.
Dari ladang yang digeluti
hampir setahun lalu ini Nila mampu menghidupi satu orang anak hasil
hubungannya dengan sang pacarnya, yang kini telah meninggalkannya.
Mungkin lantaran sakit hati inilah akhirnya gadis berhidung mancung
ini terjun ke jalan gelap berlendit.*
***
Eva (22)
LANGGANAN PEJABAT
Oleh : NR
Eva,
wanita bertubuh bagus yang Senin malam (29) menemani Exo
dikeremangan malam SA, sebuah arena kebugaran yang telah berubah
menjadi rumah bordil.
Wajahnya cantik,
dengan dandanan agak berani. Berbeda dengan di KR yang rata-rata
berbusana seragam warna krem dan mengenakan rok serba mini, lantaran
menjual paha. Di tempat yang dinaungi Eva lebih bebas alias tetap
dengan dandanan modis.
Bahkan teman-teman Eva malah ada yang mengenakan pakaian dengan
bagian punggung nyaris telanjang. “Aku nggak mau neko-neko. Aku
punya pelanggan tetap,” tutur wanita asal Solo ini. Dikatakan bahwa
ia sendiri tak tahu apa kelebihannya, hingga banyak tamu yang
menyukainya. Bahkan menurutnya beberapa pejabat menjadi langganan
tetapnya.
“Mungkin aku
orangnya nggak mau over acting, hingga tamuku malah banyak dan
beberapa diantaranya adalah orang penting (pejabat-red),” lanjut
Eva. Boleh jadi, memang faktor tersebut. Namun melihat tampilannya,
memang tak akan terlihat sama sekali bahwa seorang Eva adalah
pekerja yang bergelimang kemaksiatan. Mungkin ini salah satu nilai
lebih dan menjadikannya ‘barang’ yang banyak diburu hidung belang
hingga pejabat sekalipun.
Ketika disinggung
pejabat kelas mana yang suka dia pijat, wanita itus empat bingung.
“Wah, saya nggak ngerti, kata Mami dia itu pejabat. Ah bodo amat,
mau pejabat apa kek yang penting duitnya banyak,” tukasnya.*
****
Drs. Ary
Wahyono, M. Si, Sosiolog LIPI
'DILEGALKAN SAJA'
Oleh :
Zul
Menurut
Sosiolog Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), Drs. Ary Wahyono,
M.Si, sauna dan body massege yang berkembang di Jakarta saat ini,
rata-rata memang mengantongi izin dari Dinas Pariwisata DKI Jakarta.
Bahkan usaha tersebut ada yang memiliki sertifikat ISO. Konsumennya
kadang-kadang orang asing seperti, Korea dan Jepang. “Mereka
menganggap tradisi mandi uap bagian dari kesehatan,” katanya.
Soal penyimpangan yang
banyak dilakukan, adalah persoalan lain. Faktor penyimpangan itu,
terkait pada persoalan yang kompetitif. Artinya apabila menjalankan
usaha sesuai fungsi, maka tidak akan mendapat konsumen.
Apalagi mandi uap dan body
massage belum populer di budaya kita. Tentunya pengusaha harus
mencari jalan lain jika tidak mau bangkrut. Untuk menyiasati itu
mereka umumnya mempekerjakan wanita-wanita muda, cantik dan mau
memberikan layanan lain. “Itu jalan pintas mencari keuntungan,”
tambah Ary.
Dikatakannya, bahwa di
tempat-tempat sauna tersedia tempat mandi uap khusus suami isteri.
“Asumsinya memang begitu, akan tetapi, kenyataanya, mereka ditemani
para Pekerja Seks Komersial (PSK) yang sengaja dipekerjakan di
tempat itu,” terangnya lagi.
Yang terjadi areal sauna
dan tempat serupa akhirnya lebih mirip tempat praktek prostitusi.
Apalagi akomodasi untuk melakukan hubungan seks sangat mendukung.
Menurut Ary, penyimpangan-penyimpangan yang terjadi
dari usaha tersebut, berkaitan dengan prinsip ekonomi terkait biaya
pengeluaran yang tinggi. Banyak oknum-oknum yang memungut upeti
kepada pengusaha-pengusaha itu. Kadang-kadang setiap malamnya mereka
harus memberi uang pungutan lebih dari lima kali. Disamping pajak
yang harus dibayar ke Pemda DKI Jakarta.
“Jika mereka mencari jalan
instan maka mereka akan ‘kedodoran’ alias bangkrut,” lanjut Ary.
Jadi pengusaha hiburan itu terpaksa melakukan penyimpangan untuk
menutupi ekonomi biaya tinggi menutupi pungutan-pungutan dari para
oknum itu.
Dalam hal ini sebenarnya
Ary Wahyono mendukung tempat-tempat tersebut dilegalkan. Karena
usaha tersebut, disamping menghasilkan pajak juga menampung tenaga
kerja yang cukup banyak. Yang penting bagaimana pemerintah melakukan
penataan sebaik mungkin. Paling tidak meminimalkan dampak negatifnya.
Jadi yang perlu di antisipasi dalam hal ini, dari sisi konsumennya,
bukan sisi usahanya.
Karena usaha itu, ibarat hukum ekonomi. “Ada suplai maka ada
permintaan. Jika ada suplai permintaan tidak ada maka usaha tersebut
akan mati dengan sendirinya,” katanya.* |