EDISI>>01-02-03-04-05-06-07-08-09-10-11-12-13-14-15-16-17-18-19-20-21-22-23-24-25-26-27-28-29- 30-31>>

::LIPUTAN::

::BACAAN PALING EKSOTIS::

::ARTIKEL::

CLOSE UP #06

=> Isu Exo
=> Close Up
=> Intim
=> Gaya
=> Curhat
=> Potret
=> Jelajah
=> Bollystar
=> Exobolly
=> Terawang
=> Modus
=> Blitz
=> Gemar
=> Rona
Aturan
Langganan
Pesan CD
Pesan Bundel
Crew Redaksi
Saran Anda
Tarif Iklan

KOMPLEKS BERLUMUR KERINGAT DAN LENDIR

Oleh : NR

Bisnis syahwat di keremangan metropolitan yang selama ini hanya di dengar dari hasil nguping ternyata faktanya berbanding terbalik seratus delapan puluh derajat.  Belum lagi membicarakan seksualitas dengan segala pernik-perniknya malah makin menarik.

Belum lagi dari bisnis yang berujung urusan ‘lendir’ ini begitu menggiurkan, lantaran menghasilkan rupiah yang tak sedikit. Beragam bisnis dijalani. Beragam upaya dihalalkan, baik terang-terangan atau berkedok dan berlindung di balik sebuah usaha.

Sejauh ini, bicara lahan maksiat orang akan beramsumsi seputar markas prostitusi, diskotek, kafe atau hotel-hotel yang menebar beragam kenikmatan. Padahal, faktanya nyaris tempat-tempat usaha yang diperuntukkan untuk usaha yang benar-benar dilegalkan telah berubah wujud.

Panti pijat, spa alias tempat mandi lulur, salon, sauna hingga arena kebugaran, malah menjajakan berbagai bentuk kreasi kenikmatan kelenjar badani itu.

Di sinilah, seks sebagai salah satu bentuk kebutuhan biologis, seperti makan dan minum, telah menjadi sebuah komoditas yang sangat menjanjikan bagi sebagian orang. Bayangkan, dalam 12 jam, seperti dalam kasus pemijat di tempat sauna, seorang pelacur dengan mudah mengeruk rupiah sedikitnya lima juta.

Kenikmatan ditentukan bukan dengan seberapa ‘dalam’ orang memakai dan merasakan hubungan intim, tapi lebih ditentukan dengan ukuran variasi dalam menu yang disajikan. Tak pelak tempat-tempat seperti sauna, spa, body massage menjadi pilihan alternatif dalam pengembangan proses kemaksiatan.

Di era Ali Sadikin menjabat Gubernur DKI Jakarta --sekitar dekade 70-80 an--, bisnis yang berlindung dibalik kebugaran tersebut malah diberi ijin. Tentu saja Ali Sadikin beralasan bahwa pajak yang akan dikeruk lumayan tinggi. Kala itu yang mendominasi adalah bisnis sauna dan body massage dalam arti sesungguhnya.

Jika faktanya kemudian berbelok menjadi lahan maksiat, urusannya menjadi lain. Bahkan kala itu gambaran tersebut sudah menjadi rahasia umum. Sayangnya pemerintah kala itu tetap terkesan diam.

Beberapa nama besar seperti Cop adalah salah satu bukti. Tetap dengan berkibar dibawah club kebugaran Cop yang terletak dalam satu lokasi dengan salah satu bintang empat di kawasan Ancol Jakarta Utara, kala itu cukup menjadi maskot.

Seks sauna  mendominasi bisnis Cop. Dimana wanita-wanita cantik hanya dengan tarif Rp 250 ribu untuk service di dalam standar room dan Rp. 350 ribu untuk service di VIP, sudah bisa didapatkan. Kiprah Cop makin menggurita hingga tahun 1980.

Setelah tahun itu alias dimana club malam dan diskotek makin bermunculan, bisnis dengan berlindung dibalik sauna agak melemah. Sebaliknya club malam seperti cafe dan diskotik makin menjamur.

Untuk mengimbangi makin melemahnya sauna, para pebisnis yang menggeluti dagangan tersebut meramu dan memolesnya dengan memasukkan panti pijat dan spa. Namun tahun 1990- bisnis tersebut tetap kalah laris.

Baru sekitar awal tahun 2000, alias makin banyaknya razia digelar dicafe dan di diskotek, menjadikan bisnis yang berlindung di balik kebugaran ini kembali menggeliat. Hanya saja, untuk bisnis dengan kedok sauna mengalami pergerakan jauh dibanding tahun 1980-an.

Bila pengusaha sengaja tampil dengan menu utama sauna, tetap dengan tidak meninggalkan lahan maksiat, namun memilih lebih rapi. Jika di Cop pengunjung yang datang bisa ngesek langsung di ruang sauna, kini ada kamar khusus untuk menuntaskan urusan bawah perut. Dengan demikian, sterilisasi yang dilakuan lebih aman. Hal itu seperti dilakukan PS, yang bermarkas di jalan Gunung Sahari Raya Jakarta Pusat.

Namun demikian, banyak juga tempat lain yang hanya menjadikan kedok kebugaran sebagai pajangan semata. Didalamnya, praktik prostitusi lebih mendominasi. Lantaran sauna dianggap tidak bonafit, payung yang dipakai adalah panti pijat.

Tak heran jika mulai tahun 2000 inilah panti-panti pijat menjamur di belantara Jakarta. Bahkan di sudut-sudut kampung pun, tanpa rasa risih dan sungkan, pengusaha bisnis tersebut mengembangkan sayapnya.

Tidak hanya itu, beragam servis malah ditawarkan. Diantaranya merubah body massage yang umumnya memijat hanya menggunakan bagian tubuh seperti tangan  atau kaki, menjadi memijat dengan payudara.

Yang paling populer adalah mandi kucing. Dimana laki-laki yang menjadi konsumennya dijilati seluruh bagian tubuhnya, untuk kemudian berlanjut ke urusan bawah perut. Beragam menu inilah yang akhirnya membuat bisnis tersebit makin sumringah. Keberadaannya bahkan mampu menandingi diskotek-diskotek.

Belum lagi menyoal tarif, dirasa lebih hemat, lantaran tak perlu lagi menyewa kamar hotel. “Paraktis, ekonomis dan memuaskan,” demikian rata-rata komentar laki-laki yang sempat menjajal kenikmatan di pusat kebugaran, baik spa, body massage hingga tempat pijat kesehatan, yang telah berubah wujud tersebut.

KOTA INDAH
Merebaknya bisnis tersebut terasa makin menggila. Bahkan sebuah komplek pertokoan di Jalan Pangeran Jayakarta disulap menjadi sebuah komplek yang nyaris menawarkan paket sauna, body massage, Pijat kebugaran atau pijat kesehatan. Ujungnya tak lari jauh dengan urusan bawah perut.

Berderet-deret ruko empat lantai itu dari luar sengaja dibiarkan tak terawat. Didalamnya, ratusan wanita cantik siap diajak kencan dan terbang dengan kedok pemijat. Mungkin jika siang hari yang tampak hanya aktifitas kantoran. Namun bila malam hari, gemerlap lampu dan musik yang bersahutan menambah suasana komplek tersebut hidup.

Rayuan, kemanjaan, belaian, dan semacamnya telah menjadi strategi dalam penumpukkan uang, bukan memberikan rasa damai dan ketentraman batin yang dalam. Situasi kamar yang indah, musik yang menggairahkan, suara-suara perempuan yang lembut, tak lebih sebagai bentuk rekayasa yang disajikan untuk memberikan ketentraman semu.

Di SA misalnya. Sebuah areal yang berkedok pusat kebugaran ini dari luar memang tak ada tanda-tanda maksiat. Namun begitu membuka pintu dan melongok kedalamnya, suasana dentuman musik disco akan menyambut tamu yang datang.

Penjagaan super ketat dilakukan oleh para petugas keamanan yang rata-rata mengenakan kaos ketat warna hitam. Beberapa wanita setengah baya , mengenakan seragam warna krem --belakangan diketahui adalah para mami ini-- begitu sigap menyambut tamu. Tak kurang dari sepuluh mami ada di sana.

Sebuah bar melingkar, yang terletak persis di tengah ruangan menjadi sudut pandang utama. Disana berjajar wanita-wanita muda dengan dandanan modis. Tidak perlu repot untuk mendapatkan wanita yang bakal memijat.

Cukup duduk di sofa yang tersedia, para mami itu akan mendatangkan beberapa anak buahnya. Namun demikian jika pengunjung ingin melihat langsung wanita-wanita yang hendak dibukingnya, tersedia pula ‘show room’ tempat anak asuh binaan para mami ini mejeng.

Hanya saja letaknya agak tersembunyi alias dibalik bar yang melingkar. Jika dihitung dengan jari mungkin tak kurang dari 100 wanita cantik tersedia di SA, siap menservis para tamu yang datang. Mereka rata-rata berbadan bagus dan nyaris semua berkulit kuning. Kabarnya, untuk dapat bekerja di SA, para wanita-wanitanya diseleksi secara ketat.

Untuk tarif yang dipatok adalah Rp. 200 ribu perjam dengan cara pembayaran dilakukan didepan atau pada kasir yang tersedia disamping bartender. Selanjutnya, wisata birahi dengan berkedok pijat kesehatan akan dilakukan di lantai dua dan lantai empat.

Sama halnya di KR, di SA para wanita pemijatnya terlihat sibuk naik turun. Artinya, satu wanita dalam satu hari paling sedikit bisa melayani hingga tiga kali ‘naik panggung’. Hal itu tak terlepas dari padatnya pengunjung yang datang. Nyaris tiap hari tempat tersebut tak pernah sepi.

Hal itu terjadi juga ditempat lain yang masih satu komplek dengan SA. Diantaranya LA Bar Massage,  PH massage, DV spa & Shiatsu, yang semuanya berlindung dibalik usaha legal, namun kenyataanya menawarkan aroma kepuasan bawah perut. Inilah salah satu pernik kehidupan yang turut membuat Jakarta semarak.* 

***

Nila (19)
CEPAT KO

Oleh : NR

Bagi wanita asal Manado ini, menekuni ‘karir’ sebagai pemijat plus di KR adalah sesuai yang mengasyikkan. “Disini satu hari saya bisa mendapatkan sepuluh pasien.,” terang Nila. Usut punya usut, wanita dengan body lumayan bagus ini memiliki trik sendiri dalam memuaskan tamunya.

“Kalau masih mungkin menservis tidak harus dengan bersebadan, apa salahnya. Rata-rata tamu saya sudah KO sebelum ‘main’,” tambahnya bangga. Dengan demikian wanita berkulit kuning langsat ini mampu naik ring hingga sepuluh kali.

Belum lagi wajah khas menadonya yang semi indo, dipadu kulit kuning langsatnya makin membuat pelanggan ngiler. Hingga wajar saja jika Nila menjadi salah satu primadona di KR, pusat kebugaran yang lebih menawarkan arena maksiat ini.

Dari ladang yang digeluti hampir setahun lalu ini Nila mampu menghidupi satu orang anak hasil hubungannya dengan sang pacarnya, yang kini telah meninggalkannya. Mungkin lantaran sakit hati inilah akhirnya gadis berhidung mancung ini terjun ke jalan gelap berlendit.*       

***

Eva (22)
LANGGANAN PEJABAT

Oleh : NR

Eva, wanita bertubuh bagus yang Senin malam (29) menemani Exo dikeremangan malam SA, sebuah arena kebugaran yang telah berubah menjadi rumah bordil.

Wajahnya cantik, dengan dandanan agak berani. Berbeda dengan di KR yang rata-rata berbusana seragam warna krem dan mengenakan rok serba mini, lantaran menjual paha. Di tempat yang dinaungi Eva lebih bebas alias tetap dengan dandanan modis.

Bahkan teman-teman Eva malah ada yang mengenakan pakaian dengan bagian punggung nyaris telanjang. “Aku nggak mau neko-neko. Aku punya pelanggan tetap,” tutur wanita asal Solo ini. Dikatakan bahwa ia sendiri tak tahu apa kelebihannya, hingga banyak tamu yang menyukainya. Bahkan menurutnya beberapa pejabat menjadi langganan tetapnya.

“Mungkin aku orangnya nggak mau over acting, hingga tamuku malah banyak dan beberapa diantaranya adalah orang penting (pejabat-red),” lanjut Eva. Boleh jadi, memang faktor tersebut. Namun melihat tampilannya, memang tak akan terlihat sama sekali bahwa seorang Eva adalah pekerja yang bergelimang kemaksiatan. Mungkin ini salah satu nilai lebih dan menjadikannya ‘barang’ yang banyak diburu hidung belang hingga pejabat sekalipun.

Ketika disinggung pejabat kelas mana yang suka dia pijat, wanita itus empat bingung. “Wah, saya nggak ngerti, kata Mami dia itu pejabat. Ah bodo amat, mau pejabat apa kek yang penting duitnya banyak,” tukasnya.*

****

Drs. Ary Wahyono, M. Si, Sosiolog LIPI
'DILEGALKAN SAJA'

Oleh : Zul

Menurut Sosiolog Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), Drs. Ary Wahyono, M.Si, sauna dan body massege yang berkembang di Jakarta saat ini, rata-rata memang mengantongi izin dari Dinas Pariwisata DKI Jakarta. Bahkan usaha tersebut ada yang memiliki sertifikat ISO. Konsumennya kadang-kadang orang asing seperti, Korea dan Jepang. “Mereka menganggap tradisi mandi uap bagian dari kesehatan,” katanya.

Soal penyimpangan yang banyak dilakukan, adalah  persoalan lain. Faktor penyimpangan itu, terkait pada persoalan yang kompetitif. Artinya apabila menjalankan usaha sesuai fungsi, maka tidak akan mendapat konsumen.

Apalagi mandi uap dan body massage belum populer di budaya kita. Tentunya pengusaha harus mencari jalan lain jika tidak mau  bangkrut. Untuk menyiasati itu mereka umumnya mempekerjakan wanita-wanita muda, cantik dan mau memberikan layanan lain. “Itu jalan pintas mencari keuntungan,” tambah Ary.

Dikatakannya, bahwa di tempat-tempat sauna tersedia tempat mandi uap khusus suami isteri. “Asumsinya memang begitu, akan tetapi, kenyataanya, mereka ditemani para Pekerja Seks Komersial (PSK) yang sengaja dipekerjakan di tempat itu,” terangnya lagi.

Yang terjadi areal sauna dan tempat serupa akhirnya lebih mirip tempat praktek prostitusi. Apalagi akomodasi untuk melakukan hubungan seks sangat mendukung.

Menurut Ary, penyimpangan-penyimpangan yang terjadi dari usaha tersebut, berkaitan dengan prinsip ekonomi terkait biaya pengeluaran yang tinggi. Banyak oknum-oknum yang memungut upeti kepada pengusaha-pengusaha itu. Kadang-kadang setiap malamnya mereka harus memberi uang pungutan lebih dari lima kali. Disamping pajak yang harus dibayar ke  Pemda DKI Jakarta.

“Jika mereka mencari jalan instan maka mereka akan ‘kedodoran’ alias bangkrut,” lanjut Ary. Jadi pengusaha hiburan itu terpaksa melakukan penyimpangan untuk menutupi ekonomi biaya tinggi menutupi pungutan-pungutan dari para oknum itu.

Dalam hal ini sebenarnya Ary Wahyono mendukung tempat-tempat tersebut dilegalkan. Karena usaha tersebut, disamping menghasilkan pajak juga menampung tenaga kerja yang cukup banyak. Yang penting bagaimana pemerintah melakukan penataan sebaik mungkin. Paling tidak meminimalkan dampak negatifnya. Jadi yang perlu di antisipasi dalam hal ini, dari sisi konsumennya, bukan sisi usahanya.

Karena usaha itu, ibarat hukum ekonomi. “Ada suplai maka ada permintaan. Jika ada suplai permintaan tidak ada maka usaha tersebut akan mati dengan sendirinya,” katanya.*

=> Rilexo
=> Cerbung
=> Noji
=> Cinexo
=> Etalase
=> Gaul
=> Kelambu
=> Exolusi
=> Amor
=> Mbak Dona
=> Horoskop
=> Poster
=>
Bintang Exo

hubungi redaksi - webmaster - pasang iklan
Copyright 2004 exotica23.tk (pt angkasa media utama) All Rights Reserved

Hosted by www.Geocities.ws

1