Oleh : Muhammad Rizal R
Pak Mardanus
dan keluarganya bicara-bicara santai di teras rumahnya, sore yang cerah ini
memang sangat nyaman untuk bincang-bincang sore sama keluarga sambil menunggu
waktu magrib tiba, apalagi jika ditemani dengan teh manis dan pisang goreng.
Rumah pak Mardanus dengan rumahku saling
berhimpitan, hanya dipisahkan pagar setinggi bahu, jadi apapun yang
didiskusikan pak Marndinus dengan keluarganya pasti akan terdengar dari rumahku
begitupun sebaliknya. Pertama-tama mereka berdiskusi tentang sulitnya bu
Mardanus dalam mencari minyak tanah untuk keperluan dapur, pada sesi itu
diskusi masih dua arah, bu Mardanus menyesalkan bagaimana para elite politik
yang tidak pernah memikirkan rakyat
kecilnya, yang mereka lakukan hanya bagaimana mendapat jabatan pemerintah,
sedangkan rakyat semakin saja
menderita. Begitupun dengan Pak Mardanus melihat di pemberitaan-pemberitaan di televisi dimana kerusuhan dan pengeboman sering kali terjadi sehingga rakyat menjadi resah. Dan akhirnya, semakin lama pembicaraan mereka merembet ke pertikaian partai
politik yang sedang terjadi. Antara Pak Mardanus dengan istrinya berbeda partai, Begitupun dengan
kedua anaknya Abbas dan Hasan, mempunyai partai masing-masing. Maklumlah, dalam
era reformasi ini, setiap orang bebas memilih partai yang mana disukai, tidak
ada intimidasi walaupun itu terjadi dalam suatu keluarga. Akhirnya, adzan
Magrib tiba, dengan sendiri mereka masuk, dan berebut untuk mengambil wudhu,
perdebatan mereka yang telah merembet kemasalah politik berhenti begitu saja, seakan tidak ada beban lagi setelah berdiskusi dengan sedikit ngotot-ngototan, tidak ada “gencatan senjata”
ataupun yang sakit hati.
Melihat
fenomena seperti ini, memang sangat berbeda pada zaman Orde Baru, dimana rakyat disengajai untuk buta politik. Politik itu khusus orang yang
benar-benar terjun dalam Parpol, di luar itu harap harus diam dan jangan sok jago bicara. Sehingga
dampaknya sangat jelas lagi, rakyat tidak mengetahui bagaimana kwalitas dan
kuantitas wakil yang dipilihnya ketika Pemilu. Mereka hanya mengetahui tiga
gambar. Dan tentu saja orang yang paling bodoh pun akan tidak salah ketika
menyoblos salah satu partai. Karena begitu sample dan sederhana. Sample karena
tidak perlu menghapal bagaimana bentuk, warna partai yang akan dipilih dan
sederhana karena hanya tiga buah gambar. Tetapi ketika ditanya siapa yang
mereka pilih sebagai wakilnya, pasti tak ada satupun yang akan mengetahuinya.
Seperti membeli kucing dalam karung, kata aktor politik zaman sekarang.
Dan di era
Reformasi ini, malah kebalikan dari
zaman Orde baru, rakyat tidak bodoh lagi, rakyat tidak bisa lagi dipaksa untuk
mendukung salah satu partai dan rakyat sudah bisa mengetahui bagaimana
kapabilitas dan kualitas dari calon yang akan dipilihnya. Suatu pemebelajaran
politik?. Tunggu dulu.
Dengan sangat
banyaknya orang bicara politik, membuat rakyat menjadi berpikir kritis, dinamis
dan sistematis. Karena begitu banyaknya informasi-informasi yang diserapnya.
Sehingga membuat mereka bingung, mana yang benar dan mana yang salah. Semua
orang berhak untuk mengajukan pembelaan. Sehingga yang terlihat para elite
politik bukannya mengurus negara agar lebih maju akan tetapi malah mengurus partai yang selalu ruwet akibat tingkah
anggotanya.
Selain itu,
filter kepada masyarakat untuk menyaring informasi-informasi masih belum ada.
Semua yang ada di koran dan
ditanyangkan televisi adalah benar, tidak pernah informasi tersebut dicerna
dahulu dengan melakukan pertimbangan-pertimbangan yang matang. Kelemahan inilah
yang banyak dilakukan para elite politik kita, mereka tahu bahwa di zaman
kebebasan ini rakyat berpikir kritis tetapi masih bisa dibodohi dengan
informasi. Maka tidak heran, media cetak maupun elektronik pada zaman reformasi
ini semakin pesat berkembang. Karena mereka saling melomba-lomba untuk
mempegaruhi pemikiran rakyat melalui pemberitaanya.
Sehingga yang
timbul nantinya adalah pertentangan politik di tingkat gresroot. Karena dengan
penyelesupan-penyelesupan pemikiran melalui media massa itu. Jadi di masa yang
akan datang bukan lagi anggota dewan yang ada di gedung MPR/DPR yang
“bertengkar” tetapi sudah menjalar ke bawah. Karena rakyaat sudah merasa pintar
dan mengerti, jadi mereka tidak perlu lagi sikap-sikap dari anggota dewan.
Karena apa? Karena mereka sudah merasa pintar dan tidak buta politik lagi.
Kalau sudah sampai terjadi maka tak ayal pertikaian-pertikaian antar Parpol di
tingkat bawah akan terus berkecamuk.
Sebut saja
para pedagang, petani, supir, buruh, pegawai negeri bahkan sampai-sampai para
kiai yang notebene “menservice” aklak umat turut bicara politik. Mahasiswa pun
yang seharusnya menjadi agent of change sekaligus agent of control juga ikut-ikutan. Menjadi
politikus sekan-akan menjadi seleberitis, siapa yang bisa bicara politik,
dialah yang pandai. Menjadi politikus sama tenarnya menjadi seorang
seleberitis. Bahkan ada juga yang sudah
menjadi seleberitis malah menjadi politikus. Mungkin merasa kurang tenar
menjadi seleberitis maka jadi politikus.
Ketika saya di
gedung MRP/DPR pada sidang istimewa 2001, mata saya sempat tertuju kepada satu
anak kecil dengan kedua orang tuanya
yang sedang melepaskan penat. Mereka duduk-duduk ditratoar sembari membuka makanan mereka, padahal hari itu merupakan bersejarah bagi bangsa ini.Saya bertanya dalam hati kenapa keluarga itu tidak ingin tenar seperti politikus agar bisa terkenal seperti
seleberitis. Kasian!.
(Pekanbaru, 15 Agustus 2001)