SELAMATDATANG
Silakan Pilih Menu yang anda Sukai

Riwayat Hidup

Galery Photo

Tentang Ideologi

Tulisanku

Koleksi Website

Teman teman Chating

Isi Buku Tamu

Lihat Buku Tamu

email

Jangan di buka

  • download Script
    Download script ini deh, di jamin enak gunainnya, soalnya kalo lagi chat gue selalu pake script ini, modern, gampang and keren. Pokoknya lain dari yang lain…: Bagi elo yang cowok script ini ada program khusus untuk merayu cewek. Dizamin topcer deh. Oh iya, nama scriptnya Leopard. Pokoke hueanak..

  • 25 Kekeliruan Kalangan Islam
    Suatu tulisan kecil dari Eef Saefulloh Fatah.

  • Surat Untuk Soeharto
    Artikel gue tentang mantan presiden Soeharto yang telah berhasil menerapkan dua watak jelek pada manusia Indonesia…

  • situs pribadi
    Kumpulan situs pribadi kawan-kawan gue. Kalo penasaran buka aja deh, males gue jelasinnya.

  • Arti Sebuah Cinta
    Cerpen gue yang menceritakan tentang seorang pemuda Play Boy yang kena batunya. Bagusloh ceritanya karena ceritanya penuh makna. OK Baca yah, karya asli gue lho !

  • Puisinya Cici
    Kumpulan Puisi Cici, isinya tentang cinta semua. Nggak papa kok, pantas untuk elo simak. Karena isinya tentang cinta, maklum dia lagi masa puber hehehhe (jangan marah yah Cici.
  •  

    Tantangan Pers di era Millenium

    Politikus Dan Seleberitis

    Oleh : Muhammad Rizal R

    Pak Mardanus dan keluarganya bicara-bicara santai di teras rumahnya, sore yang cerah ini memang sangat nyaman untuk bincang-bincang sore sama keluarga sambil menunggu waktu magrib tiba, apalagi jika ditemani dengan teh manis dan pisang goreng.

    Rumah pak Mardanus dengan rumahku saling berhimpitan, hanya dipisahkan pagar setinggi bahu, jadi apapun yang didiskusikan pak Marndinus dengan keluarganya pasti akan terdengar dari rumahku begitupun sebaliknya. Pertama-tama mereka berdiskusi tentang sulitnya bu Mardanus dalam mencari minyak tanah untuk keperluan dapur, pada sesi itu diskusi masih dua arah, bu Mardanus menyesalkan bagaimana para elite politik yang tidak pernah memikirkan rakyat kecilnya, yang mereka lakukan hanya bagaimana mendapat jabatan pemerintah, sedangkan rakyat semakin saja menderita. Begitupun dengan Pak Mardanus melihat di pemberitaan-pemberitaan di televisi dimana kerusuhan dan pengeboman sering kali terjadi sehingga rakyat menjadi resah. Dan akhirnya, semakin lama pembicaraan mereka merembet ke pertikaian partai politik yang sedang terjadi. Antara Pak Mardanus dengan istrinya berbeda partai, Begitupun dengan kedua anaknya Abbas dan Hasan, mempunyai partai masing-masing. Maklumlah, dalam era reformasi ini, setiap orang bebas memilih partai yang mana disukai, tidak ada intimidasi walaupun itu terjadi dalam suatu keluarga. Akhirnya, adzan Magrib tiba, dengan sendiri mereka masuk, dan berebut untuk mengambil wudhu, perdebatan mereka yang telah merembet kemasalah politik berhenti begitu saja, seakan tidak ada beban lagi setelah berdiskusi dengan sedikit ngotot-ngototan, tidak ada “gencatan senjata” ataupun yang sakit hati.

    Melihat fenomena seperti ini, memang sangat berbeda pada zaman Orde Baru, dimana rakyat disengajai untuk buta politik. Politik itu khusus orang yang benar-benar terjun dalam Parpol, di luar itu harap harus diam dan jangan sok jago bicara. Sehingga dampaknya sangat jelas lagi, rakyat tidak mengetahui bagaimana kwalitas dan kuantitas wakil yang dipilihnya ketika Pemilu. Mereka hanya mengetahui tiga gambar. Dan tentu saja orang yang paling bodoh pun akan tidak salah ketika menyoblos salah satu partai. Karena begitu sample dan sederhana. Sample karena tidak perlu menghapal bagaimana bentuk, warna partai yang akan dipilih dan sederhana karena hanya tiga buah gambar. Tetapi ketika ditanya siapa yang mereka pilih sebagai wakilnya, pasti tak ada satupun yang akan mengetahuinya. Seperti membeli kucing dalam karung, kata aktor politik zaman sekarang.

    Dan di era Reformasi ini, malah kebalikan dari zaman Orde baru, rakyat tidak bodoh lagi, rakyat tidak bisa lagi dipaksa untuk mendukung salah satu partai dan rakyat sudah bisa mengetahui bagaimana kapabilitas dan kualitas dari calon yang akan dipilihnya. Suatu pemebelajaran politik?. Tunggu dulu.

    Dengan sangat banyaknya orang bicara politik, membuat rakyat menjadi berpikir kritis, dinamis dan sistematis. Karena begitu banyaknya informasi-informasi yang diserapnya. Sehingga membuat mereka bingung, mana yang benar dan mana yang salah. Semua orang berhak untuk mengajukan pembelaan. Sehingga yang terlihat para elite politik bukannya mengurus negara agar lebih maju akan tetapi malah mengurus partai yang selalu ruwet akibat tingkah anggotanya.

    Selain itu, filter kepada masyarakat untuk menyaring informasi-informasi masih belum ada. Semua yang ada di koran dan ditanyangkan televisi adalah benar, tidak pernah informasi tersebut dicerna dahulu dengan melakukan pertimbangan-pertimbangan yang matang. Kelemahan inilah yang banyak dilakukan para elite politik kita, mereka tahu bahwa di zaman kebebasan ini rakyat berpikir kritis tetapi masih bisa dibodohi dengan informasi. Maka tidak heran, media cetak maupun elektronik pada zaman reformasi ini semakin pesat berkembang. Karena mereka saling melomba-lomba untuk mempegaruhi pemikiran rakyat melalui pemberitaanya.

    Sehingga yang timbul nantinya adalah pertentangan politik di tingkat gresroot. Karena dengan penyelesupan-penyelesupan pemikiran melalui media massa itu. Jadi di masa yang akan datang bukan lagi anggota dewan yang ada di gedung MPR/DPR yang “bertengkar” tetapi sudah menjalar ke bawah. Karena rakyaat sudah merasa pintar dan mengerti, jadi mereka tidak perlu lagi sikap-sikap dari anggota dewan. Karena apa? Karena mereka sudah merasa pintar dan tidak buta politik lagi. Kalau sudah sampai terjadi maka tak ayal pertikaian-pertikaian antar Parpol di tingkat bawah akan terus berkecamuk.

    Sebut saja para pedagang, petani, supir, buruh, pegawai negeri bahkan sampai-sampai para kiai yang notebene “menservice” aklak umat turut bicara politik. Mahasiswa pun yang seharusnya menjadi agent of change sekaligus agent of control juga ikut-ikutan. Menjadi politikus sekan-akan menjadi seleberitis, siapa yang bisa bicara politik, dialah yang pandai. Menjadi politikus sama tenarnya menjadi seorang seleberitis. Bahkan ada juga yang sudah menjadi seleberitis malah menjadi politikus. Mungkin merasa kurang tenar menjadi seleberitis maka jadi politikus.

    Ketika saya di gedung MRP/DPR pada sidang istimewa 2001, mata saya sempat tertuju kepada satu anak kecil dengan kedua orang tuanya yang sedang melepaskan penat. Mereka duduk-duduk ditratoar sembari membuka makanan mereka, padahal hari itu merupakan bersejarah bagi bangsa ini.Saya bertanya dalam hati kenapa keluarga itu tidak ingin tenar seperti politikus agar bisa terkenal seperti seleberitis. Kasian!.

    (Pekanbaru, 15 Agustus 2001)

    Hosted by www.Geocities.ws




    Copyright ©2000 fans araph
    Situs web ini milik Pribadi dan bagi Hacker jangan berani-berani mengacaunya. By
    Muhammad Rizal R

    Hosted by www.Geocities.ws

    1