Oleh : Muhammad Rizal R
Siang
itu di ibukota negara sangat panas, panas baik suhu maupun politiknya, Sidang
Istimewa yang di gelar wakil rakyat banyak dikatakan illegal, terutama dari
kalangan Nahdatul ulama, PKB dan kaum kekiri-kirian. Tampak puluhan polisi yang
berwajah ramah (tidak sangat lagi) sibuk menjaga pintu gerbang gedung DPR/MPR.
Tidak lupa sekitar tiga puluhan organisasi keamanan negara itu berjejer rapi.
Katanya sebentar lagi ibu Megawati yang dua jam lalu terpilih secara aklamasi
menjadi presiden RI yang ke V. Tepat mobil dinas ibu Megawati memasuki pintu
gerbang, tiba-tiba saja dua orang ibu-ibu dengna penampilan sederhana berlarian
menuju mobil dinas Megawati. Tapi sayang, dua orang polisi mencegah aksi
itu.”Jangan bu…” kata polisi it, wajahnya menyiratkan rasa persahabatan.
“Tidakbisa, saya ingin ketemu ibu Mega, waktu pemilu yang lalu saya memilih
partai dia. Saya hanya ingin mengucapkan Selamat kepada dia atas terpilihnya
menjadi presiden” Kata ibu yang berikat rambut gelang karet warna hijau.
Wajahnya yang coklat legam menunjukan permohonan. “Ibu Mega adalah milik
rakyat, kenapa saya tidak boleh bertemu dengannya” ucap ibu yang satu lagi yang
penampilannya tidak jauh berbeda. “Tidak bisa bu. Ini perintah atasan” Ucap
polisi itu datar. Wajahnya masih tersimpan rasa yang sabar. Karena kedua ibu itu berbadan bongsor dan ingin
mendesak menerobos pagar betis yang dibuat polisi. Sayang, kejadian langka itu
tidak disaksikan Megawati. Mobilnya yang berwarna hitatm metalik lesap melaju
ke dalam dan hilang dikelokan. Kedua ibu itu menjadi lunglai, dan kembali
ketempat duduknya sambil mengedumel kepada kedua polisi itu.
Kejadian itu hanya sekilas, hanya beberapa pasang
mata saja yang menyaksikan. Orang-orang disekitar pintu masuk gedung DPR/MPR
sibuk dengan masing-masing urusannya.
Ah,
jika saja saya menjadi pemimpin bangsa ini, tentu saja sikap itu tidak seperti
itu. Kini khayalan mulai berjalan walau
hari semakin panas, masa bodo….menghayal gratis ini dan tidak masuk penjara.
Pikir aku waktu itu.
Ketika mobilku
(bukan mobil dinas, karena kalau ingin jadi pemimpin harus bermodal) memasuki
pintu gerbang DPR/MPR tentu saya akan menyuruh supirku untuk berhenti. Lalu
turun dan menemui rakyatku. Saya akan menyilahkan para pedagang-pedagang kecil
itu untuk mengucapkan selamat atas pelantikan sebagai pemimpin bangsa ini.
Karena berkat merekalah saya bisa seperti ini. Lalu setelah itu akan mampir ke
tempat pedagang kecil dan memesan makanan. Tentu saja para wartawan akan
mengerubungi dan menanyakan soal pertikaian politik yang sedang terjadi. Apa
komentarku,”Jangan bicara politik, dari kemarin bicara politik terus, mari
bicarakan bagaimana membangun bangsa ini” ucapku. Tentu saja para wartawan
tidak berhenti begitu saja mendengar ucapanku, tetapi sebelum wartawan-wartawan
itu bertanya lebih lanjut lagi, secepatnya aku mempersilahkan kepada semua
orang yang ada di situ untuk memesan makannya. Karena presidenlah yang akan
mentraktir mereka. Tapi ini bukan uang dari hasil perasan keringat rakyat atau
hasil KKN, bukan juga uang negara yang pada sekarang ini sedang mengalami
devisit.
Yah, memang
bener. Aku merayakan pelantikan sebagai presiden dengan rakyatku. Dengan
perayaan yang begitu sederhana dan tidak menghambur-hamburkan uang rakyat di
hotel yang berbintang. Tentu saja para pedagang kaki lima itu akan senang
karena seorang presiden mau membeli makanannya dan berada di tengah mereka dan
wartawan banyak menghujam berbagai pertanyaan lagi dan kali bukan pertanyaan
politik.”Mengapa Anda mau makanan di
tempat seperti ini?” Tanya wartawan yang berjenggot. Lalu jawabku,”Lho jadi
seorang presiden di larang makan di tempat seperti ini. Saya rasa dalam UUD 45
atau TAP MPR ataupun dalam GBHN dan UU tidak ada yang melarangnya, lagian pada
sekarang ini saya sudah kangen ingin makan ditempat seperti ini, karena waktu
muda dulu saya suka makanan seperti ini. Wartawan itu tidak bisa berkutik lagi.
Ternyata wartawan yang selalu di takuti Napoleon Bonaparte tidak segarang yang aku duga. Lalu tanya wartawan
disebelahnya membwa mikrofon di sakah satu televisi swasta,”Apakah Anda sudah
hobby makanan rakyat?” “Yah tentu saja dong” Jawabku cepat.”Ini kan makanan
warisan nenek moyang kita yah harus kita sukai dan nikmati. Saya orangnya tidak
munafik. Saya ini pencinta masakan Indonesia, Malah kalau bisa nanti makanan
seperti gado-gado, lontong, ketoprak, soto, mie ayam dan lain sebagainya
menjadi makanan trend dimasa yang akan datang. Orang-orang kaya mau membeli
makanan seperti ini dan tentu saja makanan ini tidak disajikan seperti ini. Ini
harus disediakan ruangan yang ber AC biar lebih nyaman. Kalau bisa makanan ini
go-internasional. Mosok Amerika dengan KFC, MC Donald, CFC, hamburger dll bisa
tersebar keseluruh penjuru dinia lalu makanan Indonesia yang syarat dengan
nilai gizi yang tinggi tidak bisa. Jadi, nantinya orang-orang barat bisa
mengubah pola makan mereka ke makanan kita. Lagian, par dokter sekarang makanan
fast food banyak diklaim sebagai pemicu penyakit kanker. Tempe di Jepang sedang
dibudidayakan mosok kita yang merupakan penemu tempe diem begitu saja.” Ah ha.
Wartawan lagi-lagi wartawan itu tidak berkutik lagi. Tapi ada satu lagi
wartawan yang bertanya,” Apa anda tidak takut dengan musuh-musuh politik Anda
sekarang ini, karena jabatan Anda sangat rentan, apalagi pada sekarang ini Anda
tidak dikawal ketat,” Ternyata yang bertanya wartawan asing. Biasalah mereka
selalu membuat hati deg-deg-an aja.
“Mengapa perlu takut, jika ada rakyat yang tidak
suka, silakan lakukan apa saja yang menurut mereka suka, saya akan menerimanya
dengan lapang dada. Dan itu tandanya saya telah salah dalam memimpin negara
ini, saya telah mengabaikan mereka, berbohong dan memanfaatkan mereka untuk
kepentingan saya dan partai saya. Bukan kepentingan mereka atau rakyat. Tapi
selama ini, walaupun tanpa kawalan Panpampres tetap juga aman, karena nyawa
adalah di tangan Tuhan bukan Panpenpres. Dan saya yakin rakyat saya tidak akan
tega melakukan itu, karena saya tahu mereka mencintai saya dan saya mencintai
mereka. Tapi sayang, telp genggam saya pada waktu itu berbunyi, dari pengawal
pribadi, katanya saya harus siap-siap untuk dilantik jadi presiden. Ah,
seharusnya yang melantik saya menjadi presiden bukanlah orang-orang di DPR/MPR
itu mereka hanya perwakilan rakyat, tentu saja pada sekarang ini saya berada di
tengah rakyat, kenapa bukan mereka yang melantik saya…kenapa harus mereka….
Ups!ternyata
khayalan saya di buyarkan oleh seorang wartawan ibukota, katanya ada orang demo
mahasiswa di jembatan Semanggi. KARAT, Forbes dan para ganknya.
Sudah lah
jangan menghayal terus, bagusan belajar yang rajin, kalau berhasil nanti siapa
tahu aja khayalan tadi jadi kenyataan. Siapa tahu aja lho!.
(Jakarta, 23 Juli 2001)