Oleh : Muhammad Rizal R
Ketika itu ibukota lagi
mencekam. Maklum dugaan banyak orang
Jakarta akan rusuh karena elite politik sedang “berolah raga” tegang urat.
Ketika bus yang saya tumpangi
(bus jurusan Kp Rambutan – Grogol) kebetulan bertemu dengan seorang remaja .
Dia berdiri tepat di sebalah. Kesan pertama sudah jelas sekali, pakain kumal,
wajah kecut dan mata cekung. Tangan
kanannya memegang sebuah kantong plastik Sugus yang tak kalah kumal dengan
pemiliknya.
Dugaan
yang kuat pada waktu itu adalah anak ini pasti seorang pengamen jalanan.
Maklumlah, di zaman serba susah dan mahal ini, pengamen usia muda mudah di
jumpai di perempatan jalan. Apalagi
kota besar seperti Jakarta.
Ternyata
dugaan saya meleset, Aminin (nama anak itu) (14 th) bukanlah pengamen seperti
yang sering saya saksikan, tapi dia seorang peminta-minta, padahal dari segi
fisik dan umur dia masih kuat bekerja. Ternyata, yang menyebabkan Aminin jadi
peminta-minta adalah ada bekas jahitan di perutnya. Kira-kira panjangnya 10- 15
cm. Mengerikan memang!. Menurut pengakuan Aminin, jahitan di perutnya akibat
tusakan preman Jakarta. Apalagi bekas
tusukan itu mengalami penggelembungan yang amat besar. Hampir mirip tumor. Dan setiap penumpang bus dikasih tahu lukanya.
Dia sekarang menjadi peminta-minta karena untuk biaya operasi ususnya yang
mengalami kebocoran. Malangnya lagi, Aminin di ibukota yatim piatu. Kedua orang
tuanya telah meninggal akibat kerusuhan Mei 1998.
Dapat
kita bayangkan bagaimana kerasanya anak belia itu. Melihatnya saja sudah sangat
prihatin dengan kehidupan yang dihadapinya. Hidup di ibukota dengan luka tusuk
diperutnya.
Dalam perjumpaan itu, tepat
dengan momentum sejarah dan hari nasional. Dikeluarnya dekrit presiden, Sidang Istimewa dan Hari Raya Anak
Nasional. Ironis memang, ketika para elite politik sibuk mengurusi negara,
ketika anggoota dewan bicara tentang bagi-bagi kekuasaan, ketika yang duduk di
DPR/MPR cerita tentang masa depan negeri ini, ternyata masih ada anak kecil
yang perkasa yang mau bermanidkan keringat untuk menyambung tali-tali
kehidupannya. Justru, bpaak-bapak yang katanya pembela rakyat kecil, pembela
kaum lemah, pembela wong cilik atau sederatnyamalahh mendapat fasilitas yang
berlebihan dari negara. Seharusnya para anggota dewan harus menutup muka karena
malu dikalahkan oleh seoarang anak
kecil yang berani berjuang keras melawan
perihnya ibukota karena Aminin bisa hidup saat ini bukanlan dari perasan
dari saudara sebangsanya sendiri. Dia bisa hidup memang takdir yang
menghendaki.
Dan
mungkin bagi Aminin, Hari Anak Nasional merupakan hari yang naas baginya. Hari
Anak Nasional, tidak pernah menyentuh anak-anak jalanan kalangan Aminin. Hari
Anak Nasional, hanya untuk anak-anak yang orang tuanya mempunyai materi yang
lebih cukup untuk memanjakan anak-anaknya untuk membeli barang-barang yang belum tentu berguna.
Padahal masih ada sekitar kurang lebih 10 juta Aminin lainnya di tanah air ini
yang hidup memprihatinkan. Tapi tidak pernah disentuh dari kalangan manapun
juga. Begitupun dengan pers di Hari Anak Nasional, hanya segelintir meliput
tentang anak jalanan. Pers hanya mengangkat seputar anak-anak yang bahagia
karena kekayaan orang tuanya, kesukses anak-anak sebagai artis dan lain-lain. Tidak mengangkat masalah penderitaan anak jalanan yang berjuang untuk
hidup akibat dampak krisis ini. Hari Anak Nasional bukalah obat pelipur lara di
hari-hari derita. Hari Anak Nasional malah mempelebar kesenjangan sosial,
karena semakin banyak orang tua membawa anak-anaknya pergi ke mall, supermarket
untuk membeli barang atau makanan yang bisa membuat kalangan Aminin ngiler.
Hari Anak Nasional juga menambah sakit derita Aminin karena tak satupun dari
orang-orang berada sudi menanggung sedikit penderitaannya, tangisannya,
kelaparannnya, kehampaannya, kekerasaanya.
Teruskan
perjuanganmu Aminin, tunjukan bahwa kamu juga bisa seperti mereka. Tunjukkan
kepada dunia bahwa kamu kelak juga bisa tersenyum. Suatu Saat Nanti.
(Jakarta, 23Juli2001)