Masalah Penanggulangan Asap
Oleh: Muhammad Rizal R
Bencana asap kembali datang. Kali ini disebabkan oleh pembakaran hutan yang di lakukan petani petani kecil yang membuka lahan pertanian maupun yang dilakukan pihak pemegang HPH. Bencana asap di Pekanbaru memang sering kali terjadi, biasanya terjadi di musim kemarau, apalagi pada sekarang ini kota Pekanbaru sudah dua bulan lebih tidak pernah terguyur hujan, dan di perkirakan musim kemarau pada sekarang ini akan lebih panjang dari musim kemarau tahun yang lalu. Menurut pemantauan satelit Pongi yang terletak di Bogor dan FFKCP di palembang, titik api (hot spot) yang menjadi sumber asap banyak di areal PT ADEI Plantation Industry dan PT Jatim Jaya Perkasa, kedua pemegang HPH ini sering kali membakar lahan hutan untuk dijadikan pelebaran perkebunannya. Di tambah dengan pembakaran lahan tidur yang di lakukan masyarakat di pinggiran kota Pekanbaru, yang menyebabkan semakin tebalnya asap menyeliputi kota Pekanbaru.
Bencana asap pada sekarang ini bukanlah yang pertama kali di alami warga Pekanbaru, bencana ini hampir tiap tahunnya terjadi, walau terkadang pada skala kecil. Tetapi pernah tercatat bencana asap yang terparah di akhir tahun 1997 yang menyebabkan propinsi Riau, Jambi, Sumatra Barat sebagian dan Sumatra Selatan terselimuti asap (smog). Bahkan Malaysia, Singapura serta Brunai Darussalam pun complain pada pemerintah Indonesia yang "meekspor" asap itu secara diam-diam yang menimbulkan berbagai permasalahan di negara itu. Untuk mengantisipasi dan terlaksana pemadaman api itu pemerintah Malaysia pada waktu itu mengirimkan satuan mereka yang di sebut dengan Bomba. Pada waktu itu sebanyak 1.054 orang anggota Bomba siap di terjunkan langsung ke lokasi kebakaran baik di Sumatra dan Kalimantan sebagai daerah yang terparah dan banyak ditemukan titik-titik apinya.
GAngguan-gangguan yang di alami masyarakat disinipun pada bencana kali ini tidak bisa dikatakan sedikit, banyak masyarakat yang mulai mengalami gangguan pernapasan dan penyakit di sekitar tenggorakan. Pada sekarang ini tercatat di Rumah Sakit Umum Daerah 25 orang yang menderita saluran pernapasan akibat tercemarnya udara oleh asap. Menurut dalam ilmu kedokteran, masyarakat yang mengalami sesak pernapsan dan gangguan tenggorakan akibat dari masuknya partikel-partikel kecil yang masuk ke dalam tubuh dan mengendap di paru-paru. Partikel-partikel kecil inilah yang di sebut dengan haze yang masuk dengan mudah kedalam saluran pernapasan, sehingga menimbulkan suhu badan meninggi, batuk berdahak (bronkitis) dan Infesi Saluran Pernapasan Akut (ISPA). Mungkin bagi kita yang sekarang ini tidak mengalami gangguan yang di paparkan diatas, kemungkinan dampak akan terjadi pada beberapa tahun kemudian, ini dikarenakan menumpuknya partikel-partikel itu di dalam tubuh sehingga tubuh tidak bisa lagi menetralisir dan menjadi racun (toksin) yang sangat berbahaya bagi kesehatan.
Anak-anak yang beranjak besar merupakan salah satu yang rentan terhadap penyakit di atas. Di karenakan paru-paru pada anak-anak kecil masih tergolong muda dan mudah terinfeksi. Pemda sendiri, harus memprioritaskan penolongan kepada anak-anak kecil, misalnya dengan pembagian masker secara gratis ke setiap-setiap Sekolah Dasar dan SMP. Hal ini bertujuan agar jangan sampai terganggunya proses belajar mengajar.
Selain itu, karena tebalnya asap yang menyelimuti jelas menganggu aktivitas kehidupan manusia. Di sektor lalu lintas udara, misalnya jadwal penerbangan terpaksa ditunda, banyak calon-calon penumpang yang mengeluh sehingga bisnis mereka banyak yang di batalkan, sekolah-sekolah pun jika asap dalam taraf membahayakan banyak yang di liburkan sehingga proses belajar mengajar pun terganggu, keluhan-keluhan kecil pun sering datang seperti jarak pandang yang terbatas dan pernapasan tidak leluasa, terkadang banyak juga yang mengalami iritasi mata. Pada tumbuhan sendiri akibat dari asap yang tebal akan mengurangi produksi hasil oksigen di karenakan terganggunya proses fotosintesis.
Pada sekarang ini, tindakan untuk menimalisir masuknya partikel-partikel itu dengan cara menggunakan masker. Inilah cara yang paling mudah dan efektif yang di lakukan masyarakat untuk menimalisir menanggulangi selain kontrol ke dinas kesehatan. Tetapi, masyarakat Pekanbaru sendiri masih sangat sedikit yang menggunakan itu. Hal ini bisa saja di sebabkan beberapa hal, karena bisa jadi penjualan masker itu masih langka.
Namun ada langkah-langkah yang harus di tempuh Pemda dalam menanggulangi masalah bencana ini yaitu;
pertama, Pemda harus dengan cepat memberikan sumbangan masker kepada masyarakat sebelum jatuhnya korban. Pada sekarang ini di media-media lokal masih mempertanyakan respon Pemda sendiri menangani permasalahan asap, terutama masalah pembagian masker secara gratis kepada masyarakat, pihak Pemda sendiri mengakui bahwa stok yang ada pada sekarang ini tidak lah banyak dan itu juga masih mengharapkan ularan tangan dari pihak swasta.
Kedua, Pemda harus bisa bekerja sama dengan instansi-instansi yang terkait untuk memadamkan titik-titik api. Dalam melakukan pemadaman titik-titik api memang membutuhkan tenaga yang cukup besar. Kemungkinan dari pemda sendiri dan dinas kehutanan akan mengalami kekurangan tenaga. Akan tetapi, pemda juga bisa merangkul mahasiswa untuk bekerja sama dalam memadamkan titik-titik api. Pada bencana asap 1997 pun, banyak mahasiswa di Pekanbaru yang siap di terjunkan untuk memadamkan kebakaran.
Ketiga, Pemda harus bertindak tegas kepada pemegang HPH yang telah melakukan pembakaran, sebab akibat dari di lakukannya itu membuat banyak kerugian terutama pada masyarakat kecil. Bencana asap merupakan bencana kita semua yang di timbulkan oleh perusahaan pemegang HPH, bencana ini akan terus berlangsung jika tidak ada tindakan keras dari Pemda sendiri kepada perusahaan-perusahaan perkebunan. Kalau perlu di cabut izin pendiriannya kepada perusahaan yang membandel.
Keempat, Pemda menggalang kampanye tentang cinta hutan kepada masyarakat dengan cara memberikan pendidikan kepada masyarakat akan pentingnya peranan hutan dalam kehidupan. Pemberian pendidikan tentang pemberdayaan hutan sebenarnya harus mutlak diberikan agar masyarakat mengatahui dan mengerti bagaimana memperlakukan hutan. Selama ini Riau yang sebagian besar terdiri daerah hutan yang luas kurang mendapat perhatian. Dulu sekitar tahun 80-an masih banyak hutan yang belum di jamah tangan manusia, tetapi pada sekarang ini seakan sulit untuk mencari hutan itu lagi. Kini yang mudah di temui hanya pepohonan kelapa sawit yang bejejer rapi. Penulis adalah Redaktur Pelaksana SKK Bahana Mahasiswa Unri