Oleh : Muhammad Rizal R
Belakangan ini banyak korang-koran baik dari terbitan ibukota maupun daerah memberitakan masalah media massa yang menampilkan sajian pornografi. Bahkan, berita ini telah dijadikan laporan khusus (lapsus) pada salah satu koran terbitan ibukota. Sehingga beberapa bulan yang lalu artis cantik Sophia Lahtcubha ditangkap karena melanggar Undang-Undang karena mempertontonkan bagian tubuh yang dilarang kepada umum. Setelah itu, demo anti pornografi banyak di lakukan warga ibukota dengan alasan pengeksploitasian wanita.um hawa di Jakarta untuk menyuruh kepada pihak yang berwewenang untuk mengusut kasus tersebut. Banyak organisasi-organisasi yang menuntut agar media massa yang telah menampilkan hal-hal yang porno maupun yang tengah menjajah kesitu ditutup. Akhirnya Depertemen penerangan angkat tangan dan diserahkan kepada kepolisian.
Coba kita lihat saja tampilan-tampilan di media massa terbitan ibukota banyak menampilan hal-hal yang berbau seronok bahkan sering kali membangkitkan syahwat. Wanita yang berpose dengan pakaian ala sekadarnya seakan bertindak wajar untuk tampil dilihat masyarakat umum. Bagi para kuli tinta atau wartawan hal ini suatu lahan yang baru untuk mencari penghasilan. Sehingga berita-berita mengenai politik dan ekonomi tersingkir secara teratur ditinggal pelanggannya. Banyak para orang-orang dibalik koran tersebut merasa "benar" karena menurut mereka pada zaman reformasi telah ada terbuka untuk mereka untuk bebas bersikap, bebas berekspersi dan bebas berbuat semua gue. Belum lagi alasan-alasan lainnya yang membuat seorang nenekpun tertawa terbahak, masak dengan penampilan seronok seperti itu merupakan suatu karya seni. Dimana letaknya otak manusia yang mengatakan seperti itu?.
Tidak terlepas dari permasalahan diatas, sebenarnya yang ditakutkan pada masyarakat kita adalah prilaku untuk menjurus kepada seks bebas (free seks). Dengan adanya tampilan seperti itu, selain tidak mendidik kita akan tidakjauh dari nafsu binatang. Dan yang sangat dikhawtirkan, anak-anak yang dibawah umur bisa membeli media massa ini dan cenderung berpikiran dewasa (baca:cabul). Sehingga perilaku kebarat-baratan seperti seks bebas melanda masyarakat kita, baik itu anak mudanya, orang dewasa dan anak-anak kecil.
Tetapi kalau kita ingin benar-benar telesuri lebih jauh lagi, bukan dari media massa yang menampilkan hal yang seronok yang mempercepat virus seks bebas cepat menyebar, ada dua komponen yang lainnya yang juga membantu mempengaruhi masyarakat Indonesia cenderung untuk melakukan seks bebas, yaitu internet dan VCD yang terutama film yang dikategorikan film blue.
Dua sarana inilah yang hampir merata dimiliki oleh masyarakat kita golongan menengah keatas.
Coba bagaimana internet telah memasyarakat di tengah-tengah kehidupan kita. Adanya Warnet yang hampir disudut-sudut jalan (terutama didaerah Jawa) telah mewarnai kehidupan. Belum lagi banyak disetiap rumah-rumah pribadi dan perkantoran telah dimasuki media yang tanpa batas ini. Dengan uang kurang lebih sekitar lima juta rupiah untuk pembelian seperangkat komputer keluaran terbaru dan plus modem ditambah dengan jaringan telepon dapat mengases internet dari penjuru dunia. Terutama bagi yang maniak dengan berbau porno, mereka dapat mengakses situs-situs yang berbau porno yang kini telah berjumlah ribuan bahkan katanya kini telah mencapai ratusan ribuan dengan berbagai bentuk dan macam gambar.
Di Internet gambar-gambar tersebut lebih fugar dan terkesan berkomediti dibidang itu. Tidak saja orang dewasa yang bisa mempergunakan sarana ini, anak kecilpun pada saat ini telah banyak yang telah mengenal tehnologi ini. dibanggakan, tetapi terlepas dari segi positifnya, mereka juga bisa pergi ke situs-situs yang seharusnya mereka tidak ketahui, hal ini terjadi jika tidak terkontrol oleh orang tua mereka yang seharusnya diawasi setiap saat, tetapi jikalau lengah mereka akan bebas dan tertawa melihat pemandangan yang seharusnya mereka belum lihat.
Dan komponen lainnya yang menyuburkan gejala-gejala seks bebas adalah dengan beredarnya film-film porno ditengah masyarakat kita. Film ini banyak dijual bebas ditengah-tengah masyarakat kita baik yang legal maupun yang ilegal. Dan bahayanya, alat yang termasuk canggih menggunakan tehnologi laser ini telah memasyarakat. Dampak VCD (Video Compex Disk) yang lagi ngetrend setelah mengalahkan laserdisk tidak begitu jauh bahayanya dengan internet, kehadiran VCD telah membuat masyarakat kita bebas menonton film yang tak lepas dari hal yang beraurat. Kalau tahun 80-an sewaktu kaset video beredar hal ini bisa diminalisir peredarannya, salah satunya dengan menggunakan tehnik sensor.
Ketiga komponen itulah yang membuat masyarakat cenderung untuk berprilaku seks bebas, kalau ini tidak tindak lanjuti maka virus seks bebas hasil imporan dari negeri barak akan membudaya pada masyarakat kita. Seks bebas jelas-jelas bertentangan dengan agama, tidak hanya itu seks bebas juga tidak sesuai dengan adat kita. Seks bebas lahir pada masyarakat yang tidak menyukai lembaga perkawinan yang mana diantara mereka (yang menikah) salaing terikat dengan segala peraturan dan tetek bengeknya. Seks bebas juga cenderung mengikuti prilaku binatang yang tidak mempunyai rasa cinta dan kasih sayang. Mereka berbuat seperti itu hanya sekedar mencari kepuasan tanpa dilandasi dengan rasa cinta.
Penemuan internet merupakan angin segar bagi orang-orang barat untuk memyebarkan virusnya kepada masyarakat yang belum terjangkit. Dengan adanya video dan sarana lainnya dipastikan berhasil dalam mencapai targetnya.
Virus inilah yang menyebabkan hancurnya martabat manusia, hancurnya kebudayaan manusia yang jelas manusia tidak mempunyai lagi harga diri dan tidak jauh berbeda dengan binatang, karena seks bebas jugalah lembaga-lembaga perkawinan di negara barat gulung tikar.
Kalau hal ini sudah menjalar atau mewabah pada masyarakat kita, agama hanya berada di KTP dan adat istiadat hanya diperuntukkan orang-orang yang dianggap kolot. Dan yang pasti adat serta budaya ketimuran akan tenggelam dengan sendirinya seiring maraknya prilaku seks bebas.
Untuk membenahi semuanya ini, kita harus berpikir positif dan realitis, kehadiran internet ataupun tehnologi secanggih ataupun harus kita terima dengan lapang dada. Tindakan kita yang paling tepat adalah selain mendekati diri kepada Sang Pencipta juga harus bersikap hati-hati. Kita tentu saja tidak ingin ketinggalan dengan negara lain dalam menguasai tehnologi dan komunikasi. Tetapi dalam melakukannya semuannya itu kita harus bertindak hati-hati.
Internet selain banyak menampilkan segi negatifKita tidak bisa kita tidak bisa menolak kehadiran dua tehnologi ini untuk mengamankan masyarakat kita, kehadiran internet dan VCD ditengah-tengah kita tidak saja ada sisi negatifnya, terlepas dari segi positifnya, internet dan VCD telah mempengaruhi watak masyarakat kita. Di negara barat seperti Amerika dan negara Eropah-Eropah telah terjangkit virus ini, dan telah siap mempengaruhi masyarakat Asia terutama Indonesia, karena bagi mereka kalau kita mengikuti mereka terkesan tidak modern, mereka tidak mengambil tindakan yang salah. Sebaiknya kita harus lagi bertambah iman dan ketaqwaan kita pada masing-masing agama yang kita anut. Jangan sampai virus yang bernama seks bebas yang telah lama terjangkit di negara-negara barat menjalar pada masyarakat kita akan te