SELAMATDATANG
Silakan Pilih Menu yang anda Sukai

Riwayat Hidup

Galery Photo

Tentang Ideologi

Tulisanku

Koleksi Website

Teman teman Chating

Isi Buku Tamu

Lihat Buku Tamu

email

Jangan di buka

  • download Script
    Download script ini deh, di jamin enak gunainnya, soalnya kalo lagi chat gue selalu pake script ini, modern, gampang and keren. Pokoknya lain dari yang lain…: Bagi elo yang cowok script ini ada program khusus untuk merayu cewek. Dizamin topcer deh. Oh iya, nama scriptnya Leopard. Pokoke hueanak..

  • 25 Kekeliruan Kalangan Islam
    Suatu tulisan kecil dari Eef Saefulloh Fatah.

  • Surat Untuk Soeharto
    Artikel gue tentang mantan presiden Soeharto yang telah berhasil menerapkan dua watak jelek pada manusia Indonesia…

  • situs pribadi
    Kumpulan situs pribadi kawan-kawan gue. Kalo penasaran buka aja deh, males gue jelasinnya.

  • Arti Sebuah Cinta
    Cerpen gue yang menceritakan tentang seorang pemuda Play Boy yang kena batunya. Bagusloh ceritanya karena ceritanya penuh makna. OK Baca yah, karya asli gue lho !

  • Puisinya Cici
    Kumpulan Puisi Cici, isinya tentang cinta semua. Nggak papa kok, pantas untuk elo simak. Karena isinya tentang cinta, maklum dia lagi masa puber hehehhe (jangan marah yah Cici.
  • Beginilah Yahudi Memperbudak Amerika

    Oleh : Muhammad Rizal R

    Diamnya Amerika Serikat saat anak-anak dan rakyat Palestina dibantai tempo hari, membuktikan keberhasilan Bill Clinton sebagai presiden Amerika paling zionis sepanjang sejarah. Bagaimana asal muasal negeri itu sampai diperbudak Yahudi?

    Sekitar tahun 1947, seorang pejabat pemerintah Amerika Serikat Harry S. Truman yang ketika itu melakukan pembelaan terhadap perjuangan rakyat Palestina. Truman, kala itu, merasa tidak setuju terhadap cara Israel membentuk sebuah negara Yahudi dengan cara mencaplok wilayah Palestina.

    Esok harinya, para pemimpin Yahudi langsung memasang iklan secara besar-besaran di berbagai surat kabar yang isinya mempermalukannya. Truman masih tetap bertahan. Bahkan secara terbuka, dia meminta kepada rakyat Amerika untuk tidak melupakan `semangat juang rakyat Palestina'.

    Reaksi langsung bermunculan beberapa saat setelah Truman berbicara. Kelompok Yahudi New Jersey langsung mengirim surat kawat ke Gedung Putih. “Kebijaksanaan anda tentang Palestina telah memudarkan dukungan kami pada Pemilu 1948 nanti”.

    Truman tahu betul bahwa `pesan' kecil itu adalah sinyal akan datangnya bahaya yang akan mengancam karir politiknya. Apalagi, ketika saat itu, hari menjelang Pemilu sudah dekat. Truman tahu, dua pertiga kaum Yahudi Amerika tinggal dan menyebar di New York, Pensylvania dan Illionis.

    Mempertimbangkan posisinya yang lemah mendekati pemilu —yang kebetulan sangat dekat dengan pengumuman berdirinya negara Israel— Truman akhirnya memanggil pulang semua Duta Besarnya di Timur Tengah untuk dimintai pendapatnya terhadap rencana pemerintah AS untuk mengakui berdirinya negara Israel.

    Tapi, Pinkerton P. Tuck, juru bicara mereka dari Dubes Mesir keberatan bila AS terlalu terburu-buru memberi pengakuan tanpa berunding dengan negara-negara Arab. “Tuan Tuck, mungkin anda benar, tapi suara-suara itu (Yahudi) menentang anda”, jawab Truman menjawab keberatan Dubes AS untuk Timur Tengah.

    Truman tetap dalam pendirian memilih anjuran kawan dekatnya, Ed Jacobson yang Yahudi dan menolak semua usul penasihat kepresidenan dan militernya yang kemudian mengakui berdirinya negara Israel. Pengakuan Truman disambut meriah rakyat Israel. Bahkan pada kunjungan ke Gedung Putih tahun 1949, Ketua Rabbi Israel berkata pada Truman, “Tuhan telah meletakkan engkau di rahim ibumu, supaya engkau menjadi alat untuk menghidupkan kelahiran kembali Israel setelah 2000 tahun”, katanya.

    Di hari pemilihan, Truman mengantungi 74 persen suara Yahudi di seluruh negeri. Kendati tipis, kemenangan telah membantunya. Fotonya menjadi hiasan resmi di berbagai perangko-perangko resmi Israel dan menjadi `pahlawan' di dalam hati sanubari kaum Yahudi.

    Sejak kasus Truman itulah, kaum Yahudi memetik pelajaran berharga. Betapa kekuatan `lobi' melalui `kontak-kontak penting' menjadi sesuatu pelajaran yang sangat efektif dan maha penting.

    Kasus serupa pernah menimpa Presiden AS, George Bush (Februari 1992). Bush —yang kala itu— sedang mengadakan rencana perundingan tentang Timur Tengah di Washington, secara tiba-tiba, pihak Israel sudah mengumumkan gagasan untuk mendirikan pemerintahan sendiri untuk Palestina.

    Pemerintah sendiri yang dimaksud Israel hanya berlaku atas penduduk dan warga Palestina, bukan terhadap wilayah yang telah diduduki Israel. Delegasi Arab, Hanan Asrawi, kala itu, menganggap Israel ingin mengukuhkan penguasaan atas wilayah yang telah dicaploknya secara tidak sah.

    Presiden Bush sangat tersinggung. Bahkan menolak memberikan jaminan pinjaman senilai 10 miliar US dolar kepada Israel bila tidak menghentikan pembangunan perumahan di wilayah pendudukan Palestina. Akibat ulah Bush inilah, lobi Yahudi kemudian marah, tidak peduli Amerika dan Bush sangat besar jasanya pada Israel dan masyarakat Yahudi pada umumnya. Termasuk membantu pengungsian orang-orang Yahudi Ethiopia dan Rusia ke Israel dan pencabutan resolusi PBB 1975 yang menyamakan Zionisme dengan rasialisme.

    Begitu marahnya mereka hingga komunitas Yahudi menyebutnya sebagai “anti-Semit”. Bush akhirnya harus menebus kekalahannya pada pemilihan umum berikutnya, tahun 1991, melawan Bill Clinton, karena terkait erat dengan kemarahan orang-orang Yahudi dan tidak mendukungnya.

    Setelah Bush kalah, ganti Bill Clinton yang ditekan untuk memenuhi kepentingan-kepentingannya. Ketika Clinton sedang menyusun kabinet, para pemimpin Yahudi marah pada Clinton karena dia memilih Warren Christopher sebagai menteri luar negerinya. Ini membuat Clinton memanggil beberapa senator senior Yahudi untuk meminta mereka membujuk para pemimpin kelompok-kelompok Yahudi supaya mendukung pengangkatan itu.

    Ada banyak contoh serupa, memang tidak hanya menimpa Truman, dan Bush semata. Masih ada cerita Presiden Richard Nixon dan Presiden Jimmy Carter, senator AS William Fulbright, Adlai Stevenson III, dan Charles Percy, anggota kongres Paul McCIoskey, Paul Findley, juga Sekretaris negara George Ball yang mengalami tekanan dan kekalahan akibat kemarahan dan kurangnya dukungan dari lobi Yahudi.

    Karena itulah, George Bush Jr, capres dari Partai Republik sekarang, paham bagaimana kekuatan kelompok Yahudi telah menjatuhkan sang Ayah. Karena itulah, jangan heran bila jauh-jauh hari, Bush Jr berusaha menunjukkan niat baiknya pada kelompok Yahudi.

    “Sesuatu akan terjadi bila saya jadi presiden. Segera setelah saya jadi, saya akan memulai proses untuk memindahkan Kedutaan Besar Amerika Serikat dari Tel Aviv ke Yerusalem,” katanya seperti dikutip Jerusalem Post (24 Mei 2000) lalu.

    Tiga Langkah Lobi Gedung Putih

    Lobi Yahudi dan Israel di Amerika memang dikenal ulet dan licik. Keuletannya bisa dilihat dari cara bagaimana mereka mampu mempengaruhi seorang pejabat pemerintahan. Bahkan kalau perlu menekan terhadap pejabat yang bersangkutan. Sudah bukan rahasia bila apa yang dinamakan lobi Yahudi.

    Pengaruh lobi Yahudi semacam menjadi legenda. Terutama peran lobi yang luar biasa pengaruhnya terhadap kebijakan luar negeri AS. Menurut Paul Findley, seorang mantan anggota senat Amerika dalam bukunya They Dare to Speak Out (1985) menulis pengalaman tekanan lobi Yahudi terhadap Gedung Putih.

    Menurut Findley, ada tiga level bagaimana cara Yahudi melakukan lobi dan campur tangan terhadap Gedung Putih. Pertama, secara langsung dengan cara tatap muka. Mereka selalu dikenal sebagai sahabat dekat presiden dan pengaruhnya terbatas hanya pada presiden yang bersangkutan. Kedua, di kalangan pejabat yang dekat dengan presiden. Utamanya penasihat kepresidenan. Level ketiga adalah tekanan pada pejabat-pejabat pemegang departemen penting. Misalnya; Deplu, Dephan, dan Dewan Keamanan Nasional.

    Untuk menjaga kekuatan lobi, tokoh-tokoh Yahudi bahkan dikenal cukup kuat menjaga hubungan dengan satu tokoh pemerintahan dengan calon tokoh pemerintahan berikutnya. Tokoh Yahudi Abraham Feinberg dari New York, seorang penyelenggara jamuan makan malam untuk Kennedy (1960), sudah mempertahankan hubungan eratnya dengan Gedung Putih selama berpuluh-puluh tahun. Dan sejak puluhan tahun pula dia menjadi tamu tetap Gedung Putih pada masa kekuasaan Lyndon B Johnson.

    Sampai tahun 1984, ia mampu mempertemukan Walter Mondale dan Gary Hart, jago-jago dari Partai Demokrat yang sedang bersaing dalam sebuah pertemuan tertutup di apartemennya di New York.

    Ada pula Ephraim Evron. Orang ini dikenal dengan Presiden Johnson bahkan banyak terlihat sering berdiskusi secara pribadi berjam-jam dengan Johnson di ruang Oval, kantor resmi Presiden. Persahabatannya dengan Johnson, sudah dibangunnya semenjak Johnson masih menjadi Senator.

    Pengaruh kaum Yahudi tidak hanya pada hubungan antar pejabat saja, bahkan kegiatan Kongres dan Senat pun tidak luput dari kontrolnya. Bukan hal yang istimewa bila kaum Yahudi mampu menekan Presiden Amerika untuk membela kepentingan negara Israel. Bahkan dukungan untuk yang satu ini dikenal sangat blak-blakan dan sangat membabi buta.

    Padahal harap tahu saja, jumlah warga Yahudi di Amerika Serikat hanya sekitar enam juta orang (Majalah Newsweek hanya menyebut hanya 5,7 juta), atau 2,5% dari populasi nasional penduduk AS, dan hanya 250.000 orang saja yang aktif di sektor politik.. Sebagian besar mereka terkonsentrasi di New York City (1,97 juta), Los Angeles (631.000), Miami (354.000), dan Chicago (265.000).

    Jumlah Kaum Yahudi di AS menurut buku referensi The World Almanac and Book of Facts tahun 2000, ada kira-kira empat juta pemeluk agama Yahudi, yang terbagi atas satu setengah juta anggota Union of American Hebrew Congregations, atau Yahudi Reformasi, sekitar satu juta lebih anggota Union of Orthodox Jews of America, aliran Yahudi ortodoks, dan satu setengah juta lainnya anggota The United Synagogues of Conservative Judaism. Yang terakhir ini adalah aliran yahudi konservatif.

    Jumlah total ini berarti hanya sekitar 2% dari seluruh penduduk AS, tetapi lebih kurang 90% dari semua posisi kunci di pemerintahan Amerika Serikat di pegang kelompok Yahudi. Jadi jangan heran bila kekuatannya jauh di atas jumlah itu.

    Dari segi ekonomi, orang-orang Yahudi Amerika memang jauh lebih makmur dibanding kelompok lain. Rata-rata penghasilan warga AS adalah 39.500 juta dollar per tahun, tetapi orang-orang Yahudi jauh berada di atasnya: 53.300 dollar per tahun.

    Dengan organisasi yang teratur rapi dan kukuh, orang-orang Yahudi mempunyai pengaruh politik yang kuat karena sumbangan-sumbangan dananya yang besar kepada para politikus.

    Seperti telah banyak ditulis media massa Amerika, kecil kemungkinan anggota Kongres AS yang tidak mendapat sumbangan dari masyarakat Yahudi. Untuk yang satu ini, boleh dikatakan sangat tergantung. Bahkan, jarang ada yang berani menentangnya. Mereka sadar benar misalnya tentang apa yang pernah dialami mantan Senator Charles Percy dari Illinois, yang diserang lobi pro-Israel dan kehilangan kursinya di Senat.

    Bahkan seorang senator dari negara bagian yang jarang Yahudinya seperti Senator Patrick Lehy dari Vermont— pernah mendapat dana hampir 87 ribu dollar dari komite-komite aksi politik Yahudi dalam kampanye pemilihannya kembali. Tak heran bila untuk kepentingan itu para calon presiden ataupun yang akan mencalonkan diri kembali menjadi presiden di pemilu berikutnya selalu mendekatkan diri —sekurang-kurangnya, menyenangkan hati— pada kelompok Yahudi.

    “Saya akan memutuskan semua bentuk hubungan dagang dan investasi dengan Iran, serta menangguhkan hampir semua kegiatan ekonomi lain di antara dua negara,” kata Bill Clinton. Kata-kata ini, diucapannya Lima tahun lalu, tepatnya 30 April 1995, di depan peserta jamuan makan malam Kongres Yahudi se-dunia di New York.

    PBB pun bertekuk lutut

    Begitu kuatnya lobi Yahudi, sampai-sampai membuat Persatuan Bangsa-Bangsa (PBB) pun dibuatnya tidak berdaya. Salah satu contoh, ketika Dewan Keamanan (DK) PBB memberikan pernyataan (April 1996) tentang serangan bombardir Israel atas Libanon misalnya, sangat dipengaruhi tekanan Amerika Serikat. Bahkan Dubes AS untuk PBB, Madeleine Albright (yang juga keturunan Yahudi Finlandia itu), konon, sampai mendikte kata per kata pernyataan DK tersebut.

    Jangan heran bila semangat pernyataan tersebut, selain tidak mengikat, juga tidak mengecam serangan keji Israel yang tidak pandang bulu itu. Bahkan, seolah sudah mengetahui apa yang bakal dinyatakan dalam pernyataan DK tersebut.

    Hanya beberapa saat setelah pernyataan itu keluar, Angkatan Udara Israel kembali melakukan serangan bombardir di Ain Helwah, sebuah kamp Palestina dekat Sour dan Sidon di Lebanon selatan. Dan serangan Israel berikutnya atas Lebanon itu (18/4) menewaskan 94 orang.

    Lobi Yahudi di Kongres AS sangat kuat dan hampir sudah menyusup ke mana-mana. Dari 27 ribu staf dan anggota Kongres, 20 ribu di antaranya Yahudi. Dalam Lembaga Keamanan Nasional (National Security Council), 7 dari 11 stafnya adalah orang Yahudi. Clinton secara khusus telah menempatkan di bagian yang vital di Lembaga Kemanan Amerika.

    Misalnya, Sandy Berger, ditempatkan sebagai Kepala Deputi (the deputy chairman of the council); Martin Indyk, sebagai calon duta besar Israel, Don Steinberg, direktur senior dan penasehat kepresidenan untuk wilayah Afrika (the senior director and advicer to the president, is in charge of Africa), Richard Feinberg, sebagai direktur senior dan penasihat kepresidenan untuk wilayah Amerika Latin.

    Stanley Ross, sebagai direktur senior dan penasihat kepresidenan untuk wilayah Asia. Termasuk pula Allan Greenspan (pejabat Federal Reserve Bank) dan Henry Kissinger, mantan Menlu AS yang sampai sekarang masih dihormati di AS dan Eropa.

    Selain orang-orang penting di atas, masih ada beberapa tokoh Yahudi yang masuk dalam pemerintahan Clinton. Sebut saja misalnya; Madeleine Albright (Menteri Luar Negeri), Robert Rubin (Menteri Keuangan), William Cohen (Menteri Pertahanan), Alan Greenspan (Gubernur Bank Sentral), Dan Glickman (Menteri Pertanian), George Tenet (Kepala CIA), Samuel Berger (Kepada Dewan Keamanan Nasional), Evelyn Lieberman (Direktur Radio Suara Amerika), Stuart Eisenstat (Wakil Menlu untuk kawasan Eropa), Charlene Barshefsky (Menteri Perdagangan), Susan Thomases (Kepala Staf Ibu Negara), Gene Sperling (Kepala Dewan Ekonomi Nasional), Ira Magaziner (Kepala Kebijakan Kesehatan Nasional), Peter Tarnoff (Wakil Menteri Luar Negeri), Alice Rivlin (Anggota Dewan Ekonomi), dan masih banyak lagi.

    Dari kebanyakan staf yang bekerja di Gedung Putih dari penasihat kepresidenan sampai tukang sapu semuanya di susupi dan dipegang orang Yahudi. Tidaklah aneh ketika salah satu wartawan dari sebuah harian kaum Yahudi Israel Ma'ariv edisi September 1994 pernah kaget ketika sedang menelpon ke kantor Gedung Putih sang operator menjawab dengan aksen Israel yang sempurna.

    Saya menelpon ke State Department... tiba-tiba mendapatkan seseorang yang mengangkat dan menjawab dalam bahasa Israel (Ibrani) yang sangat kental: “Selamat pagi, apa yang dapat saya bantu?”, katanya.

    Karena itulah, upaya Clinton memasukkan banyak orang Yahudi ke dalam Gedung Putih banyak mendapatkan pujian dari komunitas Yahudi internasional. Arthur L. Schechter, pemimpin komunitas yahudi Houston, Texas yang juga seorang anggota Steering Comittee Yahudi Amerika untuk setiap kampanye Clinton, memuji-muji sikap mantan Gubernur Arkansas itu.

    Dalam sebuah tulisannya yang berjudul “President Clinton: the best president the American Jewish community has ever known (Presiden Clinton: Presiden terbaik yang pernah dimiliki Yahudi Amerika sepanjang masa)“, di sebuah media milik Yahudi, `The Jewish Herald' dengan bangga memuji kebijakan Bill Clinton.

    “Kepresidenan Bill Clinton memulai mengenalkan sebuah potensi besar. Cerdas dan tegas, Clinton telah menjadi presiden bagi komunitas Yahudi dalam sejarah kita”, katanya.

    Poros Washington-Tel Aviv

    Di Amerika, kaum Yahudi memang telah lama bermain sebagai kelompok penekan yang dikomando oleh sebuah organisasi yang bernama Komite Masalah Politik Amerika-Israel (AIPAC: American Israeli Public Affairs Committee). Organisasi yang lazim disebut “The Lobby” ini sangat kuat, organisasi ini dikenal bisa mendukung atau menjatuhkan kandidat politik tertentu di Amerika, tergantung apakah tokoh itu menyokong Israel, pro Arab atau tidak. Ada yang menyebutnya sebagai terkuat kedua setelah Asosiasi Senapan Nasional (NRA), yang menolak pengawasan senjata.

    Sepuluh tahun lalu, “The Lobby” memiliki 50.000 anggota, dengan anggaran 13 juta dollar. AIPAC sendiri bukan sebuah komite aksi politik dalam arti biasanya. Organisasi itu tidak membiayai calon-calon politikus, tetapi bekerja sama erat menyangkut kebijakan dengan sekitar 70 kelompok kepentingan Yahudi.

    New York Times pada tahun 1987 pernah melaporkan bahwa AIPAC telah menjadi kekuatan utama dalam menyusun kebijaksaan Amerika Serikat di Timur Tengah. Organisasi ini telah memiliki kekuasaan untuk mempengaruhi pemilihan kandidat presiden, Pentagon, angkatan bersenjata, Gedung Putih, kementerian luar negeri dan beberapa departemen penting lainnya.

    Pada waktu itu, lobi pro Israel menghabiskan dana lebih dari 11 juta dollar untuk memberikan dana kepada calon-calon anggota Senat dan DPR AS. Demikian. Menurut Sunshine Press Services, sebuah organisasi yang melacak berbagai dana di Capitol Hill.

    Dengan memiliki delapan kantor cabangnya di seluruh kota yang dimonitor di Washington DC, AIPAC bisa menghabiskan US$ 4 milyar sampai US$ 5 miliar dalam setiap pemilu. Lewat organisasi ini pula Yahudi bisa mendikte pemerintah atau calon presiden Amerika Serikat.

    AIPAC dikenal bisa memuluskan atau menjatuhkan kandidat politik tertentu, tergantung apakah calon tersebut mampu memberikan keuntungan yang berlebih-lebihan terhadap Israel. AIPAC secara terbuka mendukung ketentuan yang menjamin lapangan kerja dan keuntungan bagi masyarakat Amerika itu. Tapi, diam-diam AIPAC melobi agar Israel diberi pengecualian, dan berhasil. Jadilah Israel menggunakan bantuan militer Amerika, untuk menciptakan lapangan kerja dan keuntungan di Israel.

    Harap tahu saja, sejak tahun 1949 pemerintah Amerika Serikat telah memberikan bantuan dan keuntungan istimewa terhadap Israel. Bantuan terhadap Israel untuk tahun fiskal 1979 sekitar 4,9 miliar US dollar. Tahun 1980 bantuannya turun sekitar 2,1 miliar US dollar. Tahun 1991 meningkat menjadi 3,7 milyar US dollar. Sejak 1984, Israel juga diizinkan menggunakan sebagai dari kredit-kredit militer luar negeri untuk memperoleh barang-barang militer buatan Israel.

    Tidak seperti negara-negara lain yang mendapat bantuan dari Amerika, Israel tidak harus membelanjakan seluruh dana itu untuk membeli peralatan di Amerika Serikat. Israel juga mendapat tambahan dana 475 juta US dollar untuk membeli hasil indsutri pertahanan buatannya sendiri. Plus dapat membelanjakan dari tambahan dana tahun 1991 sebesar 150 juta Us dollar untuk riset di Amerika.

    Bahkan masih ditambahi lagi sebesar 126 juta US dollar untuk pengembangan sistem pertahanan anti-misil Arrow di Israel. Anehnya, selama bertahun-tahun, sejak 1985 semua bantuan AS terhadap Israel selalu berupa hibah. Yang berarti tidak harus dibayar kembali.

    Karena itulah tidak heran bila komunitas Yahudi sedunia benar-benar mendapatkan angin dan menemukan diasporanya ketika banyaknya dukungan yang telah diberikan Amerika.

    Dalam bukunya yang ditulis dalam bahasa Jerman, “Die Deuttschandakte” (1995), Sekretaris Jendral Kongres Yahudi Se-dunia, Prof Dr Israel Singer mengatakan bila Amerika lah salah satu negara yang telah memberikan keleluasaan pada kaum Yahudi untuk menghasilkan kekuatan di seluruh dunia.

    “Kongres Yahudi Se-dunia telah menghasilkan kekuatan politik dan pengaruh ekonomi yang maha besar. Dan bahkan dapat dikatakan di hampir semua keputusan politik di Amerika Serikat”, kata Singer.

    “Sebuah cap baru bagi kaum Yahudi yang hidup hari ini bahwa keyakinan mengatakan, bahwa Tuhan memberikan kaum Yahudi kekuatan, dan kekuatan itu perlu dilatih dan digunakan. Tidak akan pernah ada perubahan kecuali kita memutuskan untuk membuat sejarah itu di tangan kita sendiri,“ ujar Singer seperti dikutip The Jewis Press 20 Februari 1998.



    Copyright ©2000 fans araph
    Situs web ini milik Pribadi dan bagi Hacker jangan berani-berani mengacaunya. By
    Muhammad Rizal R

    1
    Hosted by www.Geocities.ws

    1