|
Beginilah Yahudi Memperbudak
AmerikaOleh : Muhammad Rizal R
Diamnya Amerika Serikat saat anak-anak dan rakyat Palestina
dibantai tempo hari, membuktikan keberhasilan Bill Clinton sebagai
presiden Amerika paling zionis sepanjang sejarah. Bagaimana asal muasal
negeri itu sampai diperbudak Yahudi?
Sekitar tahun 1947, seorang pejabat pemerintah Amerika Serikat Harry S.
Truman yang ketika itu melakukan pembelaan terhadap perjuangan rakyat
Palestina. Truman, kala itu, merasa tidak setuju terhadap cara Israel
membentuk sebuah negara Yahudi dengan cara mencaplok wilayah Palestina.
Esok harinya, para pemimpin Yahudi langsung memasang iklan secara
besar-besaran di berbagai surat kabar yang isinya mempermalukannya. Truman
masih tetap bertahan. Bahkan secara terbuka, dia meminta kepada rakyat
Amerika untuk tidak melupakan `semangat juang rakyat Palestina'.
Reaksi langsung bermunculan beberapa saat setelah Truman berbicara.
Kelompok Yahudi New Jersey langsung mengirim surat kawat ke Gedung Putih.
“Kebijaksanaan anda tentang Palestina telah memudarkan dukungan kami pada
Pemilu 1948 nanti”.
Truman tahu betul bahwa `pesan' kecil itu adalah sinyal akan datangnya
bahaya yang akan mengancam karir politiknya. Apalagi, ketika saat itu,
hari menjelang Pemilu sudah dekat. Truman tahu, dua pertiga kaum Yahudi
Amerika tinggal dan menyebar di New York, Pensylvania dan Illionis.
Mempertimbangkan posisinya yang lemah mendekati pemilu —yang kebetulan
sangat dekat dengan pengumuman berdirinya negara Israel— Truman akhirnya
memanggil pulang semua Duta Besarnya di Timur Tengah untuk dimintai
pendapatnya terhadap rencana pemerintah AS untuk mengakui berdirinya
negara Israel.
Tapi, Pinkerton P. Tuck, juru bicara mereka dari Dubes Mesir keberatan
bila AS terlalu terburu-buru memberi pengakuan tanpa berunding dengan
negara-negara Arab. “Tuan Tuck, mungkin anda benar, tapi suara-suara itu
(Yahudi) menentang anda”, jawab Truman menjawab keberatan Dubes AS untuk
Timur Tengah.
Truman tetap dalam pendirian memilih anjuran kawan dekatnya, Ed
Jacobson yang Yahudi dan menolak semua usul penasihat kepresidenan dan
militernya yang kemudian mengakui berdirinya negara Israel. Pengakuan
Truman disambut meriah rakyat Israel. Bahkan pada kunjungan ke Gedung
Putih tahun 1949, Ketua Rabbi Israel berkata pada Truman, “Tuhan telah
meletakkan engkau di rahim ibumu, supaya engkau menjadi alat untuk
menghidupkan kelahiran kembali Israel setelah 2000 tahun”, katanya.
Di hari pemilihan, Truman mengantungi 74 persen suara Yahudi di seluruh
negeri. Kendati tipis, kemenangan telah membantunya. Fotonya menjadi
hiasan resmi di berbagai perangko-perangko resmi Israel dan menjadi
`pahlawan' di dalam hati sanubari kaum Yahudi.
Sejak kasus Truman itulah, kaum Yahudi memetik pelajaran berharga.
Betapa kekuatan `lobi' melalui `kontak-kontak penting' menjadi sesuatu
pelajaran yang sangat efektif dan maha penting.
Kasus serupa pernah menimpa Presiden AS, George Bush (Februari 1992).
Bush —yang kala itu— sedang mengadakan rencana perundingan tentang Timur
Tengah di Washington, secara tiba-tiba, pihak Israel sudah mengumumkan
gagasan untuk mendirikan pemerintahan sendiri untuk Palestina.
Pemerintah sendiri yang dimaksud Israel hanya berlaku atas penduduk dan
warga Palestina, bukan terhadap wilayah yang telah diduduki Israel.
Delegasi Arab, Hanan Asrawi, kala itu, menganggap Israel ingin mengukuhkan
penguasaan atas wilayah yang telah dicaploknya secara tidak sah.
Presiden Bush sangat tersinggung. Bahkan menolak memberikan jaminan
pinjaman senilai 10 miliar US dolar kepada Israel bila tidak menghentikan
pembangunan perumahan di wilayah pendudukan Palestina. Akibat ulah Bush
inilah, lobi Yahudi kemudian marah, tidak peduli Amerika dan Bush sangat
besar jasanya pada Israel dan masyarakat Yahudi pada umumnya. Termasuk
membantu pengungsian orang-orang Yahudi Ethiopia dan Rusia ke Israel dan
pencabutan resolusi PBB 1975 yang menyamakan Zionisme dengan rasialisme.
Begitu marahnya mereka hingga komunitas Yahudi menyebutnya sebagai
“anti-Semit”. Bush akhirnya harus menebus kekalahannya pada pemilihan umum
berikutnya, tahun 1991, melawan Bill Clinton, karena terkait erat dengan
kemarahan orang-orang Yahudi dan tidak mendukungnya.
Setelah Bush kalah, ganti Bill Clinton yang ditekan untuk memenuhi
kepentingan-kepentingannya. Ketika Clinton sedang menyusun kabinet, para
pemimpin Yahudi marah pada Clinton karena dia memilih Warren Christopher
sebagai menteri luar negerinya. Ini membuat Clinton memanggil beberapa
senator senior Yahudi untuk meminta mereka membujuk para pemimpin
kelompok-kelompok Yahudi supaya mendukung pengangkatan itu.
Ada banyak contoh serupa, memang tidak hanya menimpa Truman, dan Bush
semata. Masih ada cerita Presiden Richard Nixon dan Presiden Jimmy Carter,
senator AS William Fulbright, Adlai Stevenson III, dan Charles Percy,
anggota kongres Paul McCIoskey, Paul Findley, juga Sekretaris negara
George Ball yang mengalami tekanan dan kekalahan akibat kemarahan dan
kurangnya dukungan dari lobi Yahudi.
Karena itulah, George Bush Jr, capres dari Partai Republik sekarang,
paham bagaimana kekuatan kelompok Yahudi telah menjatuhkan sang Ayah.
Karena itulah, jangan heran bila jauh-jauh hari, Bush Jr berusaha
menunjukkan niat baiknya pada kelompok Yahudi.
“Sesuatu akan terjadi bila saya jadi presiden. Segera setelah saya
jadi, saya akan memulai proses untuk memindahkan Kedutaan Besar Amerika
Serikat dari Tel Aviv ke Yerusalem,” katanya seperti dikutip Jerusalem
Post (24 Mei 2000) lalu.
Tiga Langkah Lobi Gedung Putih
Lobi Yahudi dan Israel di Amerika memang dikenal ulet dan licik.
Keuletannya bisa dilihat dari cara bagaimana mereka mampu mempengaruhi
seorang pejabat pemerintahan. Bahkan kalau perlu menekan terhadap pejabat
yang bersangkutan. Sudah bukan rahasia bila apa yang dinamakan lobi
Yahudi.
Pengaruh lobi Yahudi semacam menjadi legenda. Terutama peran lobi yang
luar biasa pengaruhnya terhadap kebijakan luar negeri AS. Menurut Paul
Findley, seorang mantan anggota senat Amerika dalam bukunya They Dare
to Speak Out (1985) menulis pengalaman tekanan lobi Yahudi terhadap
Gedung Putih.
Menurut Findley, ada tiga level bagaimana cara Yahudi melakukan lobi
dan campur tangan terhadap Gedung Putih. Pertama, secara langsung dengan
cara tatap muka. Mereka selalu dikenal sebagai sahabat dekat presiden dan
pengaruhnya terbatas hanya pada presiden yang bersangkutan. Kedua, di
kalangan pejabat yang dekat dengan presiden. Utamanya penasihat
kepresidenan. Level ketiga adalah tekanan pada pejabat-pejabat pemegang
departemen penting. Misalnya; Deplu, Dephan, dan Dewan Keamanan Nasional.
Untuk menjaga kekuatan lobi, tokoh-tokoh Yahudi bahkan dikenal cukup
kuat menjaga hubungan dengan satu tokoh pemerintahan dengan calon tokoh
pemerintahan berikutnya. Tokoh Yahudi Abraham Feinberg dari New York,
seorang penyelenggara jamuan makan malam untuk Kennedy (1960), sudah
mempertahankan hubungan eratnya dengan Gedung Putih selama berpuluh-puluh
tahun. Dan sejak puluhan tahun pula dia menjadi tamu tetap Gedung Putih
pada masa kekuasaan Lyndon B Johnson.
Sampai tahun 1984, ia mampu mempertemukan Walter Mondale dan Gary Hart,
jago-jago dari Partai Demokrat yang sedang bersaing dalam sebuah pertemuan
tertutup di apartemennya di New York.
Ada pula Ephraim Evron. Orang ini dikenal dengan Presiden Johnson
bahkan banyak terlihat sering berdiskusi secara pribadi berjam-jam dengan
Johnson di ruang Oval, kantor resmi Presiden. Persahabatannya dengan
Johnson, sudah dibangunnya semenjak Johnson masih menjadi Senator.
Pengaruh kaum Yahudi tidak hanya pada hubungan antar pejabat saja,
bahkan kegiatan Kongres dan Senat pun tidak luput dari kontrolnya. Bukan
hal yang istimewa bila kaum Yahudi mampu menekan Presiden Amerika untuk
membela kepentingan negara Israel. Bahkan dukungan untuk yang satu ini
dikenal sangat blak-blakan dan sangat membabi buta.
Padahal harap tahu saja, jumlah warga Yahudi di Amerika Serikat hanya
sekitar enam juta orang (Majalah Newsweek hanya menyebut hanya 5,7 juta),
atau 2,5% dari populasi nasional penduduk AS, dan hanya 250.000 orang saja
yang aktif di sektor politik.. Sebagian besar mereka terkonsentrasi di New
York City (1,97 juta), Los Angeles (631.000), Miami (354.000), dan Chicago
(265.000).
Jumlah Kaum Yahudi di AS menurut buku referensi The World Almanac
and Book of Facts tahun 2000, ada kira-kira empat juta pemeluk agama
Yahudi, yang terbagi atas satu setengah juta anggota Union of American
Hebrew Congregations, atau Yahudi Reformasi, sekitar satu juta lebih
anggota Union of Orthodox Jews of America, aliran Yahudi ortodoks,
dan satu setengah juta lainnya anggota The United Synagogues of
Conservative Judaism. Yang terakhir ini adalah aliran yahudi
konservatif.
Jumlah total ini berarti hanya sekitar 2% dari seluruh penduduk AS,
tetapi lebih kurang 90% dari semua posisi kunci di pemerintahan Amerika
Serikat di pegang kelompok Yahudi. Jadi jangan heran bila kekuatannya jauh
di atas jumlah itu.
Dari segi ekonomi, orang-orang Yahudi Amerika memang jauh lebih makmur
dibanding kelompok lain. Rata-rata penghasilan warga AS adalah 39.500 juta
dollar per tahun, tetapi orang-orang Yahudi jauh berada di atasnya: 53.300
dollar per tahun.
Dengan organisasi yang teratur rapi dan kukuh, orang-orang Yahudi
mempunyai pengaruh politik yang kuat karena sumbangan-sumbangan dananya
yang besar kepada para politikus.
Seperti telah banyak ditulis media massa Amerika, kecil kemungkinan
anggota Kongres AS yang tidak mendapat sumbangan dari masyarakat Yahudi.
Untuk yang satu ini, boleh dikatakan sangat tergantung. Bahkan, jarang ada
yang berani menentangnya. Mereka sadar benar misalnya tentang apa yang
pernah dialami mantan Senator Charles Percy dari Illinois, yang diserang
lobi pro-Israel dan kehilangan kursinya di Senat.
Bahkan seorang senator dari negara bagian yang jarang Yahudinya seperti
Senator Patrick Lehy dari Vermont— pernah mendapat dana hampir 87 ribu
dollar dari komite-komite aksi politik Yahudi dalam kampanye pemilihannya
kembali. Tak heran bila untuk kepentingan itu para calon presiden ataupun
yang akan mencalonkan diri kembali menjadi presiden di pemilu berikutnya
selalu mendekatkan diri —sekurang-kurangnya, menyenangkan hati— pada
kelompok Yahudi.
“Saya akan memutuskan semua bentuk hubungan dagang dan investasi dengan
Iran, serta menangguhkan hampir semua kegiatan ekonomi lain di antara dua
negara,” kata Bill Clinton. Kata-kata ini, diucapannya Lima tahun lalu,
tepatnya 30 April 1995, di depan peserta jamuan makan malam Kongres Yahudi
se-dunia di New York.
PBB pun bertekuk lutut
Begitu kuatnya lobi Yahudi, sampai-sampai membuat Persatuan
Bangsa-Bangsa (PBB) pun dibuatnya tidak berdaya. Salah satu contoh, ketika
Dewan Keamanan (DK) PBB memberikan pernyataan (April 1996) tentang
serangan bombardir Israel atas Libanon misalnya, sangat dipengaruhi
tekanan Amerika Serikat. Bahkan Dubes AS untuk PBB, Madeleine Albright
(yang juga keturunan Yahudi Finlandia itu), konon, sampai mendikte kata
per kata pernyataan DK tersebut.
Jangan heran bila semangat pernyataan tersebut, selain tidak mengikat,
juga tidak mengecam serangan keji Israel yang tidak pandang bulu itu.
Bahkan, seolah sudah mengetahui apa yang bakal dinyatakan dalam pernyataan
DK tersebut.
Hanya beberapa saat setelah pernyataan itu keluar, Angkatan Udara
Israel kembali melakukan serangan bombardir di Ain Helwah, sebuah kamp
Palestina dekat Sour dan Sidon di Lebanon selatan. Dan serangan Israel
berikutnya atas Lebanon itu (18/4) menewaskan 94 orang.
Lobi Yahudi di Kongres AS sangat kuat dan hampir sudah menyusup ke
mana-mana. Dari 27 ribu staf dan anggota Kongres, 20 ribu di antaranya
Yahudi. Dalam Lembaga Keamanan Nasional (National Security
Council), 7 dari 11 stafnya adalah orang Yahudi. Clinton secara khusus
telah menempatkan di bagian yang vital di Lembaga Kemanan Amerika.
Misalnya, Sandy Berger, ditempatkan sebagai Kepala Deputi (the
deputy chairman of the council); Martin Indyk, sebagai calon duta
besar Israel, Don Steinberg, direktur senior dan penasehat kepresidenan
untuk wilayah Afrika (the senior director and advicer to the president,
is in charge of Africa), Richard Feinberg, sebagai direktur senior dan
penasihat kepresidenan untuk wilayah Amerika Latin.
Stanley Ross, sebagai direktur senior dan penasihat kepresidenan untuk
wilayah Asia. Termasuk pula Allan Greenspan (pejabat Federal Reserve
Bank) dan Henry Kissinger, mantan Menlu AS yang sampai sekarang masih
dihormati di AS dan Eropa.
Selain orang-orang penting di atas, masih ada beberapa tokoh Yahudi
yang masuk dalam pemerintahan Clinton. Sebut saja misalnya; Madeleine
Albright (Menteri Luar Negeri), Robert Rubin (Menteri Keuangan), William
Cohen (Menteri Pertahanan), Alan Greenspan (Gubernur Bank Sentral), Dan
Glickman (Menteri Pertanian), George Tenet (Kepala CIA), Samuel Berger
(Kepada Dewan Keamanan Nasional), Evelyn Lieberman (Direktur Radio Suara
Amerika), Stuart Eisenstat (Wakil Menlu untuk kawasan Eropa), Charlene
Barshefsky (Menteri Perdagangan), Susan Thomases (Kepala Staf Ibu Negara),
Gene Sperling (Kepala Dewan Ekonomi Nasional), Ira Magaziner (Kepala
Kebijakan Kesehatan Nasional), Peter Tarnoff (Wakil Menteri Luar Negeri),
Alice Rivlin (Anggota Dewan Ekonomi), dan masih banyak lagi.
Dari kebanyakan staf yang bekerja di Gedung Putih dari penasihat
kepresidenan sampai tukang sapu semuanya di susupi dan dipegang orang
Yahudi. Tidaklah aneh ketika salah satu wartawan dari sebuah harian kaum
Yahudi Israel Ma'ariv edisi September 1994 pernah kaget ketika
sedang menelpon ke kantor Gedung Putih sang operator menjawab dengan aksen
Israel yang sempurna.
Saya menelpon ke State Department... tiba-tiba mendapatkan seseorang
yang mengangkat dan menjawab dalam bahasa Israel (Ibrani) yang sangat
kental: “Selamat pagi, apa yang dapat saya bantu?”, katanya.
Karena itulah, upaya Clinton memasukkan banyak orang Yahudi ke dalam
Gedung Putih banyak mendapatkan pujian dari komunitas Yahudi
internasional. Arthur L. Schechter, pemimpin komunitas yahudi Houston,
Texas yang juga seorang anggota Steering Comittee Yahudi Amerika
untuk setiap kampanye Clinton, memuji-muji sikap mantan Gubernur Arkansas
itu.
Dalam sebuah tulisannya yang berjudul “President Clinton: the best
president the American Jewish community has ever known (Presiden
Clinton: Presiden terbaik yang pernah dimiliki Yahudi Amerika sepanjang
masa)“, di sebuah media milik Yahudi, `The Jewish Herald' dengan
bangga memuji kebijakan Bill Clinton.
“Kepresidenan Bill Clinton memulai mengenalkan sebuah potensi besar.
Cerdas dan tegas, Clinton telah menjadi presiden bagi komunitas Yahudi
dalam sejarah kita”, katanya.
Poros Washington-Tel Aviv
Di Amerika, kaum Yahudi memang telah lama bermain sebagai kelompok
penekan yang dikomando oleh sebuah organisasi yang bernama Komite Masalah
Politik Amerika-Israel (AIPAC: American Israeli Public Affairs
Committee). Organisasi yang lazim disebut “The Lobby” ini
sangat kuat, organisasi ini dikenal bisa mendukung atau menjatuhkan
kandidat politik tertentu di Amerika, tergantung apakah tokoh itu
menyokong Israel, pro Arab atau tidak. Ada yang menyebutnya sebagai
terkuat kedua setelah Asosiasi Senapan Nasional (NRA), yang menolak
pengawasan senjata.
Sepuluh tahun lalu, “The Lobby” memiliki 50.000 anggota, dengan
anggaran 13 juta dollar. AIPAC sendiri bukan sebuah komite aksi politik
dalam arti biasanya. Organisasi itu tidak membiayai calon-calon politikus,
tetapi bekerja sama erat menyangkut kebijakan dengan sekitar 70 kelompok
kepentingan Yahudi.
New York Times pada tahun 1987 pernah melaporkan bahwa AIPAC telah
menjadi kekuatan utama dalam menyusun kebijaksaan Amerika Serikat di Timur
Tengah. Organisasi ini telah memiliki kekuasaan untuk mempengaruhi
pemilihan kandidat presiden, Pentagon, angkatan bersenjata, Gedung Putih,
kementerian luar negeri dan beberapa departemen penting lainnya.
Pada waktu itu, lobi pro Israel menghabiskan dana lebih dari 11 juta
dollar untuk memberikan dana kepada calon-calon anggota Senat dan DPR AS.
Demikian. Menurut Sunshine Press Services, sebuah organisasi yang
melacak berbagai dana di Capitol Hill.
Dengan memiliki delapan kantor cabangnya di seluruh kota yang dimonitor
di Washington DC, AIPAC bisa menghabiskan US$ 4 milyar sampai US$ 5 miliar
dalam setiap pemilu. Lewat organisasi ini pula Yahudi bisa mendikte
pemerintah atau calon presiden Amerika Serikat.
AIPAC dikenal bisa memuluskan atau menjatuhkan kandidat politik
tertentu, tergantung apakah calon tersebut mampu memberikan keuntungan
yang berlebih-lebihan terhadap Israel. AIPAC secara terbuka mendukung
ketentuan yang menjamin lapangan kerja dan keuntungan bagi masyarakat
Amerika itu. Tapi, diam-diam AIPAC melobi agar Israel diberi pengecualian,
dan berhasil. Jadilah Israel menggunakan bantuan militer Amerika, untuk
menciptakan lapangan kerja dan keuntungan di Israel.
Harap tahu saja, sejak tahun 1949 pemerintah Amerika Serikat telah
memberikan bantuan dan keuntungan istimewa terhadap Israel. Bantuan
terhadap Israel untuk tahun fiskal 1979 sekitar 4,9 miliar US dollar.
Tahun 1980 bantuannya turun sekitar 2,1 miliar US dollar. Tahun 1991
meningkat menjadi 3,7 milyar US dollar. Sejak 1984, Israel juga diizinkan
menggunakan sebagai dari kredit-kredit militer luar negeri untuk
memperoleh barang-barang militer buatan Israel.
Tidak seperti negara-negara lain yang mendapat bantuan dari Amerika,
Israel tidak harus membelanjakan seluruh dana itu untuk membeli peralatan
di Amerika Serikat. Israel juga mendapat tambahan dana 475 juta US dollar
untuk membeli hasil indsutri pertahanan buatannya sendiri. Plus dapat
membelanjakan dari tambahan dana tahun 1991 sebesar 150 juta Us dollar
untuk riset di Amerika.
Bahkan masih ditambahi lagi sebesar 126 juta US dollar untuk
pengembangan sistem pertahanan anti-misil Arrow di Israel. Anehnya, selama
bertahun-tahun, sejak 1985 semua bantuan AS terhadap Israel selalu berupa
hibah. Yang berarti tidak harus dibayar kembali.
Karena itulah tidak heran bila komunitas Yahudi sedunia benar-benar
mendapatkan angin dan menemukan diasporanya ketika banyaknya dukungan yang
telah diberikan Amerika.
Dalam bukunya yang ditulis dalam bahasa Jerman, “Die
Deuttschandakte” (1995), Sekretaris Jendral Kongres Yahudi Se-dunia,
Prof Dr Israel Singer mengatakan bila Amerika lah salah satu negara yang
telah memberikan keleluasaan pada kaum Yahudi untuk menghasilkan kekuatan
di seluruh dunia.
“Kongres Yahudi Se-dunia telah menghasilkan kekuatan politik dan
pengaruh ekonomi yang maha besar. Dan bahkan dapat dikatakan di hampir
semua keputusan politik di Amerika Serikat”, kata Singer.
“Sebuah cap baru bagi kaum Yahudi yang hidup hari ini bahwa keyakinan
mengatakan, bahwa Tuhan memberikan kaum Yahudi kekuatan, dan kekuatan itu
perlu dilatih dan digunakan. Tidak akan pernah ada perubahan kecuali kita
memutuskan untuk membuat sejarah itu di tangan kita sendiri,“ ujar Singer
seperti dikutip The Jewis Press 20 Februari 1998.
|