|
|
Rebu.
Salah satu yang unik dalam hubungan kekerabatan adat Karo adalah rebu
Yang berarti tidak boleh bercakapan secara langsung.
Jadi jika ingin berkomunikasi harus melalui
perantaraan. Orang - orang yang rebu pada masyarakat karo adalah :
- Mami ras Kela,
Mami adalah panggilan kepada ibu pengantin perempuan oleh
pengantin laki-laki, kela adalah panggilan ibu
pengantin perempuan kepada pengantin
laki - laki.
- Kila ras Permen,
Kila adalah panggilan kepada ayah pengantin
laki-laki oleh pengantin
perempuan,
Permen adalah panggilan kepada pengantin perempuan oleh
ayah pengantin laki-laki.
Orang yang memiliki hubungan erturangku yaitu ibu dari
pengantin perempuan dengan ayah dari pengantin laki- laki.
Dari hubungan rebu tersebut dapat kita lihat betapa
masyarakat Karo benar-benar menghargai setiap hubungan
kekerabatan dan berusaha untuk menghormati kerabatnya
tersebut. Orang yang memiliki hubungan rebu akanselalu menjaga sikap
terhadap teman rebunya. Seseorang akan mendapat aib besar jika
melakukan sesuatu yang tidak benar di depan teman rebunya.
Susah untuk menggambarkan bagaimana seseorang akan merasa sangat
malusekali jika melakukan tindakan yang tidak terpuji di hadapan
teman rebunya karena orang - orang pada jaman sekarang ini
hampir - hampir tidak punya rasa malu.
Masyarakat Karo sekarang banyak yang
tidak memakai hubungan rebu
tersebut karena terasa susah
untuk berkomunikasi. Kita juga tidak
boleh menyalahkan orang yang tidak
mematuhi aturan tersebut karena
pada jaman sekarang orang memang cenderung untuk
melakukan hal - hal yang simpel atau
praktis sehingga budaya yang
dianggap tidak cocok lagi
diabaikan. Untuk mengatasi hal ini kita kembali
kepada pribadi kita masing - masing.
Jika kita merasa bahwa budaya tersebut masih berharga dan berguna
maka kita akan mematuhinya, tapi jika kita merasa
bahwa budaya tersebut sudah tidak cocok lagi maka kita tidak akan
memakainya.
Di pihak manapun kita berada kita tidak dapat saling menyalahkan,karena
masing-masing mempunyai hak untuk menentukan sikapnya. Namun satu hal
yang perlu kita renungkan bahwa aturan tersebut dibuat
nenek moyang kita dahulu bukan tanpa
tujuan. Adalah sangat risih jika seorang laki-laki bergaul akrab
dengan mertua perempuannya ataupun seorang Kila ras Permenna.
Anda dapat saja berkata
bahwa anda tidak mempunyai niat negatif, tetapi nenek moyang
kitadahulu berpikir lebih jauh lagi,
kebetulan kita memang tidak mempunyai niat negatif,
tapi untuk mencegah hal-hal yang tidak diinginkan maka
lebih baik dari sekarang dibuat suatu aturan/adat yang dapat mengontrol
hubungan kekerabatan dalam masyarakat Karo.
Orang yang rebu bukan berarti tidak boleh berkomunikasi sama
sekali. Mereka dapat berkomunikasi tapi melalui perantara.
Misalnya si Mami ingin berkomunikasi, Mami dapat menyuruh anaknya,
kempunya, suaminya atau siapa saja asal hubungannya
tidak rebu sebagai perantara, bahkan jika
kepepet sekalipun jika tidak
ada orang yang dapat dijadikan perantara kita
dapat memakai benda mati atau binatang atau tumbuhan sebagai perantara.
Karena sering terjadi misalnya si Mami mau ke
rumah keluarga anak perempuannya, tetapi ketika
tiba di rumah yang ada cuma
Kelanya dan mereka sudah
sempat saling melihat. Adalah tidak etis jika si Mami pergi
begitu saja meninggalkan Kelanya tanpa sepatah katapun
hanyagara-gara mereka terikat hubungan rebu. Untuk itu si Mami
dapat menggunakan benda mati sebagai perantara untuk berkomunikasi.
Contoh komunikasi antara orang yang rebu:
Komunikasi antara Mami dengan Kela
Misalnya ketika sedang bekerja di sawah ada ibu dan anak
perempuannyabernama Mita dengan Kurak (istri Mita).
Kurak dan Mita mempunyai
dua anak yaitu Jadiate (sulung laki-laki)
dan Sukat ( perempuan ). Ketika hari siang dan
hendak makan Mami berkata:" Enggo ciger ah Mita, iah manken ningen
man Kela ena."
Mita :"
O.. Bapa Jadiate ngadiken lebe, man kita lebe nina nande ah."
Kurak :" Oe...,
kentisik nari ningen man Mami ena."
Ketika sedang makan siang i sapo,
Kurak :" O.. Nande
Jadiate, tambahi nakanndu ningen man Mami ena."
Mita :"
Tambahi nakanndu e Nande."
Mami :" Oe..
ningen man Kela ena, labo aku mbiar."
Komunikasi antara Kila dengan Permen
Suatu hari Bapa Kurak datang ke rumah Kurak untuk mengantarkan nurung
yang didapatnya dari hasil memancing di sungai.
Bapa Kurak :"O.. Kurak ija ko ndai!"
( Hening sejenak, Mita yang sedang sendirian di rumah berusaha untuk
mengenali suara siapa gerangan.)
Bapa Kurak :"O..Kurak rumah kang engko!"
Setelah Mita yakin bahwa itu suara Kilanya maka iya menyahut:
"O.. begu si mada jabu, la ia rumah ningen man Kila ena"
Bapa Kurak tahu bahwa Mita sendirian di rumah, oleh karena itu ia
berkata:
"O.. begu si mada jabu, enda ndai nurung ulihku engkawil, gule kena
ningen man Permen ena." !
Mita
:"Amparken arah lebe ningen man Kila ena."
Bapa Kurak : "O.. begu si mada jabu, enda aku lawes
ningen man Permen ena."
Mita
: "Bujur melala ningen man Kila ena."
Perhatikan bahwa komunikasi antara Kila dan
Permen pada contoh di atas melalui
perantara Begu si mada
jabu yaitu roh yang menjaga
rumah keluarga Kurak.
Jika kejadiannya terjadi di ladang maka perantara Begu
simada jabu dapat diganti dengan Batang kayu si
meganjang, Lau si mbelinatau apa saja yang dianggap
keramat atau memiliki roh. Komunikasi antara orang yang
erturangku.
Suatu hari keluarga Bapa Mita mengadakan syukuran
karena baru rani page. Karena yang mengadakan syukuran
adalah keluarga dari Mita maka sudah tentu Kurak dan Mita sebagai Anak
Beru dan dalam hal ini keluarga Bapa Kurak
juga sebagai Anak Beru.
Sebelum acara tersebut dimulai
mereka harus datang
terlebih dahulu untuk mempersiapkan
segala sesuatunya seperti
memasak, dan menyediakan
tempat duduk. Sementara keluarga yang
duduk dirumah adalah adalah Bapa
Mita dan Nande Mita, anak-anak Bapa Mita yang
laki-laki (termasuk istri dan anak-anaknya jika sudah berkeluarga),
sembuyak Bapa Mita yaitu saudara laki-laki ( termasuk
istri dan anak-anaknya yang laki-laki) dan
kalimbubuBapa Mita yaitu orang tua dari Nande Mita.
Sebagai penyelenggara syukuran Bapa Mita harus memperhatikan
keadaan Anak Beru nya, untuk itu dia akan datang untuk
mengontrol kalau-kalau ada sesuatu yang kurang
sambil menawarkan isap kepada yang laki-laki dan Nande Mita
akan menawarkan belo ras kuhna kepada yang perempuan. Bapa
Mita berkata kepada Bapa Kurak :" Eh.. ............. ngadiken lebe
Silih enda isapta ngisap kam lebe yah."
Bapa Kurak :" Ue.. Silih," berhenti sejenak dan mengambil
rokok yang ditawarkan Bapa Mita.
Bapa Mita : " Uga kai sikurang, me bias nge gulenta
ndai?"
Bapa Kurak : " Bias, bias Silih ula kam mbiar, empat tumba jukut
ndai
gule kami, lenga ka terites ras tulan-tulanna."
Bapa Mita : "O...", sambil memperhatikan anak
berunya yang lain.
Bapa Mita : "O.. Kurak ngadiken lebe, ngisap kam lebe
endi."
Kurak : "Oh.. ue
Ma, kentisik nari, entaku garai lebe ranting e."
Sesaat kemudian Kurak datang dan duduk di dekat Mamanya sambil
mengambil rokok yang ditawarkan. Di pihak perempuan:
Nande Mita : "O.. Nande Kurak ngadi kena lebe, man belo
kita lebe yah."
Nande Kurak : "Ih.. ue eda, enggo luam nakan ah entaku daringken
lebe."
Mita
: "Kai kin si babandu e Nande?"
Nande Mita : "Enda belo Jandi entabeh kel, kutukur ndai
tiga karaben ah,
dilo bibindu ena gelah ras kita man belo."
Mita
: "Bi ngadi kam lebe, man belo ita lebe mari."
Nande Kurak : "Ue Nakku." datang mendekat
dan mengambil belo yang
ditawarkan edanya.
Nande Kurak : "Andiko mejile kel belo ne me eda?"
Nande Mita : "Bagekin kadih, kutukur
ndai bas Nande Lopiga adah."
terjeng ijenda lebe
mejuah-juah man banta kerina
Pa Belo Munte Nari
" Curax surbakti" [email protected]
--------------------------------------------------------------------------------
Semoga
ini sangat Bermanfaat bagi kita semua ! dan Kemajuan Tanahkaro.
|