|
|
Pertumbuhan
Ekonomi Triwulan II
Cenderung Melambat
Kondisi Ekonomi yang Memburuk, Tercermin dari Laju Inflasi yang
Cenderung Meningkat
Jakarta, 12 April
Pertumbuhan ekonomi triwulan II tahun 2001 diperkirakan cenderung
melambat. Penyebabnya adalah berbagai masalah dan faktor risiko yang
dihadapi pada triwulan I tahun 2001 masih terus berlanjut. Selain itu,
kegiatan ekspor dan investasi yang diharapkan menjadi pendorong utama
pertumbuhan ekonomi diperkirakan akan mengalami pertumbuhan yang
melambat.
Hal tersebut dikemukakan Deputi Gubernur Bank Indonesia (BI) Achjar
Iljas, Rabu (11/4), dalam konferensi pers bertopik ''Perkembangan
Ekonomi Moneter dan Perbankan Triwulan I Tahun 2001 Serta Arah Kebijakan
Mendatang''.
Dikatakan, selama triwulan I, nuansa optimistis terhadap kondisi
perekonomian yang terlihat di akhir tahun 2000 ternyata mengalami
perubahan yang memburuk. Beberapa risiko yang sejak awal tahun
diperkirakan dapat memperburuk kondisi perekonomian, ternyata menjadi
kenyataan, seperti kondisi politik dan keamanan dalam negeri yang tidak
stabil, pertumbuhan ekonomi dunia melambat, serta ketidakpastian
hubungan pemerintah dengan Dana Moneter Internasional (IMF).
Laju Inflasi
Kondisi perekonomian yang memburuk tercermin dari laju inflasi yang
cenderung meningkat. Laju inflasi triwulan I tahun 2001 tercatat 2,11
persen atau lebih rendah bila dibanding triwulan IV tahun 2000 yang
mancapai 4,48 persen. Tetapi, apabila dihitung secara tahunan, laju
inflasi triwulan I mencapai 10,62 persen, lebih tinggi bila dibanding
triwulan IV sebesar 9,35 persen.
Kemudian, depresiasi nilai tukar yang cukup tinggi mencapai 5,5 persen
dan telah menembus batas psikologis Rp 10.000 per dolar AS.
Dengan memperhatikan kecenderungan yang ada, kata Achjar, pertumbuhan
ekonomi diperkirakan akan lebih rendah dibanding proyeksi awal tahun
sebesar 4,5 persen sampai 5,5 persen.
''Kinerja ekonomi selama 2001 sangat tergantung kepada kemampuan
pemerintah mengatasi berbagai masalah, seperti menjaga stabilitas
sosial,politik, dan keamanan dalam negeri, serta memulihkan hubungan
dengan IMF,'' kata Achjar.
Di masa mendatang, lanjutnya, BI tetap konsisten dan berhati-hati
menempuh kebijakan di bidang moneter, perbankan, dan sistem pembayaran.
Dalam bidang moneter, BI berupaya mengendalikan pertumbuhan uang primer
dengan menerapkan kebijakan moneter tight-bias.
Kemudian, di bidang perbankan, kebijakan BI diarahkan untuk memulihkan
fungsi intermediasi perbankan dengan tetap menjaga operasi perbankan
sesuai dengan ketentuan prudensial yang berlaku. Selama Januari hingga
Februari 2001, jumlah kredit baru yang disalurkan mencapai Rp 5,9
triliun atau rata-rata Rp 2,95 per bulan. Padahal, pada tahun 2000,
rata-rata kredit yang disalurkan per bulan mencapai Rp 4,2 triliun.
Sedangkan, di bidang sistem pembayaran, kebijakan BI difokuskan pada
langkah-langkah menciptakan sistem pembayaran yang cepat, efisien, dan
aman
|